Kekalahan yang Menginspirasi


(Tulisan ini dipublikasikan pertama kali saat membuat laporan Piala Dunia di Jerman pada Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli3Masih ingat film monumental “Band of Brother”, seri terakhir “Why we fight?” Bagian yang menceritakan saat-saat kekalahan Jerman dalam PD II? Tom Hanks sang sutradara dan Stephen Ambrose penulis cerita, begitu tepat mendeskripsikan bagaimana orang Jerman menerima kekalahannya. Di salah satu sudut bangunan yang hancur. Sekelompok kecil pasukan Airbone Amerika, pasukan elit dari “Easy Company” terperangah membisu, mengawasi dari kejauhan ketika rakyat Jerman dengan gigih membangun kembali reruntuhan akibat kerusakan perang. Dalam tekanan kekalahan yang yang menyakitkan, rakyat Jerman tersebut tetap optimis membangun kembali puing-puing kehancuran.

Optimisme dalam diam. Mulut mereka terkunci rapat. Dari wajahnya tampak mereka menanggung beban berat atas kekalahan. Tapi tangan-tangan tetap trampil bekerja. Selangkah demi selangkah, reruntuhan disingkirkan, barang berharga yang masih tersisa dikumpulkan, lalu mulailah membangun kembali. Yang membuat sulit dipercaya, semua itu dilakukan hanya beberapa saat setelah mereka menerima kekalahan. „Why we fight“ jelas tidak bisa menutupi kekagumannya terhadap orang Jerman. Seakan mewakili kekaguman kita semua, komandan „Easy Company” sambil geleng-geleng kepala bilang: „yang dibutuhkan orang Jerman untuk bangkit kembali dari kekalahan cuma iringan musik „Beethoven“. Itu sudah cukup! „Beethoven“ disini bukanlah musik dari sebuah lagu secara harafiah. „Beethoven“ adalah suatu spirit dengan pesan kuat, bahwa betapapun pahitnya sebuah kekalahan, dunia belum kiamat. Masih ada hari besok. „Das Leben muss weiter gehen!“. Hidup harus terus berjalan…

Orang Jerman itu bener-bener rasionalis dingin dan „berjarak“. Mereka bisa membedakan dengan jelas antara perasaan dan realita. Buat masyarakat Indonesia yang terbiasa hidup dengan penuh „warna“ —dimana hiruk pikuk saling menyalahkan selalu terjadi jika mengalami kekalahan, maka sikap orang Jerman ini benar-benar menginspirasi.

Sebelum bertanding semua orang Jerman begitu berharap tim kesebelasan kesayangannya memang. Semua orang begitu bersemangat mendukung timnya. Tidak pernah lelah memberi dukungan sepanjang  pertandingan. Tiba-tiba gol untuk Italia secara dramatis terjadi di saat-saat terakhir.  Beberapa  detik pada saat gol terjadi, semua orang tercenung dalam diam. Sunyi. Mereka jelas tidak siap untuk menerima tragedi ini. Tapi cuma beberapa detik. Setelah itu semua semangat mendukung lagi, meskipun waktu tinggal menit-menit terakhir. Mereka tetap bertahan, tetap punya harapan mungkin saja tim kesayangnya bisa membalas. Sayang itu tidak terjadi, malah tim Jerman kecolongan lagi 2-0.

Yang menarik, setelah mereka kalah. Tidak ada satupun dari pendukung Jerman (paling tidak di Alun-alun St. Pauli, kota Hamburg), dimana ratusan ribu orang menonton bersama jalannya pertandingan, membuat keonaran atau kerusuhan. Tidak ada satupun yang marah, ngamuk ataupun  kecewa berlebihan.

Seperti santai saja menerima kekalahan. Bahkan ketika supporter Italia sepanjang jalan di kota Hamburg merayakan kemenangan sambil mengejek. Mereka, para pendukung Jerman, menanggapinya tanpa reaksi. Seperti tidak terganggung dengan ejekan pendukung tim lawan. Diam, tenang, tidak membalas dan tidak marah. Realita pahit diterima secara wajar apa adanya. Bayangkan jika ini terjadi pada pertandingan sepak bola liga Indonesia misalkan. Bisakan para supporter yang kalah menerima ejekan dari supporter tim pemenang dengan tenang, tanpa mengamuk? Kalau di Jerman, mereka terbiasa melakukannya. Meskipun itu terjadi di kandangnya sendiri, semua ejekan atas kekalahannya diterima secara terbuka. Kalem saja. Para supporter Jerman cuma bilang, yah nanti pada tahun piala dunia 2010 kita balas lagi.

Luar biasa, masih sempat-sempatnya mereka bisa bilang tahun 2010 akan kita balas. Itukan masih 4 tahun lagi. Bagaimana mungkin begitu optimis menanti 4 tahun lagi, sementara detik ini juga kekalahan yang menyakitkan harus ditelan?

Di titik inilah, kultur masyarakat Jerman begitu mengagumkan. Pekerja keras, terus berjuang sampai titik terakhir. Rasionalis dingin, menerima kekalahan dengan wajar. Dan yang paling pantas untuk dihormati adalah sikap tetap optimis bahwa besok atau lusa pasti bisa merebut kemenangan lagi.

Sekarang, masyarakat Jerman kembali tenggelam pada kesibukan sehari-hari. Tidak ada yang berubah. Semua berjalan seperti biasa. Para professor dan saintis kembali asyik bergelut di lab. Para insinyur sibuk dengan kreasi inovasinya. Bursa saham Frankfurt seperti biasa dengan aktivitas akusisi dan konsolidasinya. Para pelajar pun bersekolah seperti biasa. Tentu saja disana sini para pelajar tersebut saling berbagi kesedihan atas kekalahan pahlawannya. Tapi ratapan kesedihannya dilakukan secara natural. Tidak ada anarkis disana. Paling-paling yang berbeda di seluruh pelosok kota Jerman: tidak ada lagi pesta perayaan kemenangan. The party is over!, dan semua orang bisa menerima kenyataan ini. Hanya televisi dan radio saja yang masih gencar menyiarkan berita kekalahan tim kesebelasan Jerman. Mungkin mental seperti inilah yang menyebabkan orang Jerman begitu mudah bangkit dari kekalahan dua kali perang dunia dan menjadi negara super power dalam waktu singkat.

Kekalahan memang bukan untuk disesali. Kekalahan itu sejatinya adalah sebuah inspirasi…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s