Kein Schwein und kein Alkohol, bitte…


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Tue Aug 5, 2008 6:24 pm)

Ferizal Ramli2„No alcohol, please”, itu adalah kalimat yang „tersulit” yang harus
saya ucapkan jika dinner bersama customer. Tentu saja itu harus
dinyatakan secara santun demi sebuah empatik dari mereka yang „ndak
paham” kenapa saya tidak menyentuh Alkohol dan tidak makan Schwein
(boso njowone: Genji, cara Jakarte-nye: Babi).

Cilokone, karena profesinya sebagai „pengamen” (baca: SAP Konsultan),
terpaksalah presentasi, meeting dan dinner (atau dugem :p), adalah
sebuah keseharian…

XXXXX

Sahabat saya saat kuliah dulu, orang Turki, juga seorang Proyek
Manager dan Senior Consultant brilyant dari perusahaan prestisius Cap
Gemini di Paris punya cara hidup yang unik. Dia tidak minum Alkohol
setetespun, tidak makan Schwein karena tradisi keluarganya yang
relijius, tapi setiap malam berganti dari pelukan Blondine mata biru
satu ke pelukan Blondine mata biru lainnya 🙂
„Bajingan casanova pecinta yang cool flamboyant!”, begitu saya
menjuluki dia 😀

Suatu hari saya tanya;
„Erdem, bagaimana mungkin ente ndak mau makan Schwein karena itu
dilarang, tapi tiap malam selalu Abenteuerleben (hidup berpetualang)
berganti-ganti Blondine?”
„Meskipun ente ndak makan Schwein, berpetualang dari pelukan Blondine
satu ke Blondine lainnya itu perilaku „Schwein” tahu!”, kata saya
menggoda ngakak :))

Enteng dia menjawab:
“Ja, richtig! Das ist ein „Schwein”!
“Deswegen esse ich kein Schwein, weil ich ein „Schwein” bin!”
„ „Schwein” frisst kein Schwein!”
(Ya, betul! Itu (seperti) Schwein!)
(Karena itu saya tidak makan Schwein, karena saya seorang „Schwein”)
(„Schwein” tidak (mungkin) makan Schwein)…,

Balas dia sambil ngakak tanpa salah. Layaknya seorang Don Juan sejati,
yang romatis royal menggesekan platinum credit card-nya, tapi selalu
penuh kalkulasi akurat seperti anak kecil nakal yang tahu dimana ada
mangga matang milik tetangga yang bisa dicuri tanpa ketahuan, lalu
dingin tanpa perasaan bersalah berpindah dari Blondine satu ke lainnya =))

XXXXX

Kalau urusan makan Schwein pas dinner itu ndak terlalu masalah. Kita
bisa lihat daftar menu, lalu cari aman pilih menu fish. Tapi untuk
urusan alkohol ini agak ribet. Mosok semua pada minum liquer atau
wein, saya sendirian pilih coca cola? Consultant SAP, minum coca cola
pas dinner dengan customer, apa kata dunia? ha…, ha… =))

Yang pertama saya lakukan mulailah “berbohong putih” (ha…,ha… mana ada
berbohong putih, bohong yah bohong).
„Saya alergi alkohol”, itu adalah alibi yang paling aman untuk tidak
minum alkohol. Tidak akan ada kesalahpahaman setelah itu.

Kedua, baru kita lihat apa yang dipesan oleh customer kita…

Jika dia pesan bir biasa, maka saya akan pesan mineral water biasa

Jika dia pesan sejenis Vodka atau gin, maka saya akan pesan sparkling
mineral water biasa.

Jika dia pesan sejenis Wein seperti Champagne, maka saya harus pesan
“San Pelligrino”, air putih bermineral dari negeri Spagetti.

Jika dia pesan Cognag, wah mereka ini mau main pake tarikan kelas atas
nih (pikir saya dalam hati), maka saat itu dengan menggertakan kedua
jemari tangan kalem memesan minuman andalan saya “Sparkling Perrier,
Mounssiur”, kata saya sambil senyum ke pelayan minuman.

XXXXX

Sebenarnya persoalan minum apa saat dinner itu bukan perkara sederhana
terutama buat kita yang tidak menyentuh alkohol. Jenis minuman tidak
beralkohol itu amat terbatas. Dalam posisi yang limited ini bagaimana
kita harus bisa membuat positioning diri kita yang nota bene mewakili
kredibilitas perusahaan, terlihat elegance di mata customer, adalah
suatu tantangan tersendiri.

Adik saya, yang baru saja menyelesaikan dua masternya dibidang
Marketing dan Tourism, kebetulan praktek kerja di Hotel Kempiski,
Hamburg dan sedang memulai riset Doktor di bidang Hotel dan Tourism,
memberi tips tentang perlunya kita mengenal minum-minum sekelas wein
atau liquer model champagne atau cognag tapi tidak berakohol. Sebagai
penyelarasan citra untuk kita yang tidak menyentuh alkohol saat dinner
dengan customer.

Saya tidak ingat nama-2 nya yang begitu sulit untuk dihapal. Tapi ada
dua yang terpenting yang saya ingat “San Pelligrino” mineral water
dari Italia akan saya gunakan jika partner bisnis saya memilih wein
atau Champagne. Dan saya akan memesan “Perrier” mineral water dari
Perancis, jika mereka memesan Cognag.

“klein Hinweis aber große Wirkung”
(Tips kecil tapi memberi dampak besar) dari sang adik saat ber-dinner
ria dengan para partner bisnis dan customer…

Salam,
Dari Lembah Sungai Spree,

Ferizal Ramli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s