Kedigdayaan Amrik: Waham, Mitos dan Realitas…


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Mon Sep 22, 2008 2:55 pm)

Ferizal Ramli1Para ekonom amitaran (atau mendadak acting jadi ekonom) begitu
terpesona dengan cerita-2 mitos kebesaran Amrik. Seakan Amrik adalah
bangsa yang jaya ratusan tahun. Seakan Amrik adalah bangsa pemenang
yang teruji sejak ratusan tahun?

Benarkah demikian?

Amrik: Antara Mitos dan Realitas

Realitasnya Amrik baru diperhitungkan sebagai kekuatan penting di
dunia setelah PD II. Dalam PD I, Amrik itu dianggap “anak bawang”
alias bau kencur. Alias ndak masuk hitungan. Rivalitas dalam PD I
adalah rivalitas untuk mempertahankan Pax Britania melawan ambisi
Mittelmächte- Jerman untuk menguasai dunia. Amrik ndak masuk hitungan
saat itu!

Sebelum PD II, Amrik adalah bangsa barbar yang kalahan. Satu-2nya
perang “beradab” yang dimenangkan Amrik cuma perang kemerdekaan yang
kemenangannya dibantu Napoleon. Saat Amrik berambisi menguasai Canada,
Amrik mengalami kekalahan perang yang amat telak dan memalukan.

Sisanya kebesaran Amrik cuma cerita barbar saja: Pemusnahan ras Indian
dari muka bumi, deskriminasi ras kulit hitam, pengiriman radioaktif
buat wanita/anak-2 tidak berdosa di Hiroshima dan Nagasaki, pengiriman
Bom Napaln buat wanita/anak-2 tidak berdosa di seluruh Vietnam,
pembuatan kamp-2 penyiksaan di Guantanamo dan Abu Ghuraib, perang
serakah untuk mengusai minyak di Irak yang korban terbanyaknya wanita
dan anak-2, dsb.

Realitasnya, Amerika baru mulai menjadi pemain utama dunia hanya 50
tahun terakhir. Serta baru 20 tahun terakhir menjadi “penguasa” dunia.
Artinya, kedigdayaan Amrik atas supermasi ekonomi, politik dan militer
itu baru teruji seumur jagung.

Jika anda mau mengacu pada kajian Paul Kennedy “The Rise and Fall of
the Great Powers”, kedigdayaan Amrik itu belum teruji jika
dibandingkan dengan kedigdayaan Roma tau Persia atau yang paling
modern adalah Pax Britania. Padahal sejarah mencatat bangsa tersebut
jatuh dengan begitu mudahnya…

Tidak bisakah anda melihat realitas ini?

Amrik: Antara Waham Kebesaran dan Realitas

Para ekonomi amatiran pencinta dongeng-2 neo klasik seperti kanak-2
yang mimpi dengan cerita “angin surga” HC Andersen, begitu yakin bahwa
Amrik itu bangsa kuat. Sampeyan terlalu banyak di-“cekokin” CNN, News
Week dan Times jika begitu percaya Amrik itu bangsa kuat.

Saya kasih sudut pandang baru:

Pertama, sebagai sebuah negara Amrik itu „finish”!
Pernahkan sampeyan tahu berapa hutang luar negeri Amrik? Tidak pernah
dipublikasikan. Jika sampe dipublikasikan bisa mati berdiri semua itu
rakyat Amrik. Jangankan angka sensitif seperti hutang luar negeri,
variable-2 ekonomi normal saja seperti Investasi atau Produktivitas
aja Amrik pake data palsu yang hedonis (versi Donald Kalf: „Eropa
Wirtschaft wird gewinnen). Jadi, sebagai sebuah negara Amrik itu sudah
finish karena ndak akan mampu membayar hutang luar negerinya (Das Ende
des Kapitalismus, Elmar Alvater)

Kedua, Rakyat Amrik yang sejahtera itu cuma “mitos”!
Sebagai sebuah bangsa yang bercita-cita membangun kesejahteraan
rakyatnya, tampaknya cita-2 itu jauh panggang daripada api. Indeks
pemerataan kesejahteraan (indeks gini) Amrik juga berada jauh di level
negara maju lainnya.

Indeks pemerataan kesejahteraan Amrik itu cuma selevel Filipina.
Bahkan bangsa Indonesia yang amburadul ndak karuan saja, indeks
pemerataannya pendapatannya lebih baik dari pada bangsa Amrik.
Kesenjangan sosial masyarakat di Amrik itu satu kluster dengan
kesenjangan sosial di negara-2 terbelakang.

Ketiga, karena sebagai negara Amrik sudah finish sebagai rakyat adalah
bangsa yang miskin maka satu-2nya yang tersisah cuma waham-2 kebesaran
MNC Amrik. Perekonomi Amrik itu cuma di-„topang” oleh kertas-2 dhobos
(boong-2 an) harga saham yang didalamnya penuh dengan manipulatif:
„cute accounting” dan „cookings books”.

Satu-2nya yang tersisa dari kekuatan Amrik itu cuma nama-2 besar
perusahaan Amrik yang kesan-nya setiap tahun untung besar. Kemudian
perusahaan-2 inilah yang menjalani roda perekonomian Amrik sehingga
terlihat digdaya. Tapi benarkah mereka digdaya?

Lha nilai perusahaan Amrik itu cuma ditentukan oleh kertas-2 saham
yang „ndak berarti”. Anak semester-1 Accounting juga tahu bahwa nilai
saham itu bisa di-dongkrak” dengan metode: „Cute Accounting” atau
“Cooking Books”. Alias bisa menyulap harga saham perusahaan boong-2 an.

Terus untuk terlihat bahwa perusahaannya selalu sukses, kembali
berbohong lagi. Lalu berbohong, lalu berbohong, sampai akhirnya
kebohongan itu tidak bisa ditutupi. Dan akhirnya hancur lah itu
perusahaan-2 raksasa yang besar cuma karena kertas boong-2 an.

Lah, sampeyan pikir dengan moral hazard seperti ini, sampeyan percaya
ekonomi Amrik mampu bertahan?

Salam,
Dari Tepian Lembah Sungai Spree

Ferizal Ramli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s