India Terbang Bersama IT


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada akhir 2006 di Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli1Can India fly? Dapatkah India terbang menjadi negara industri maju? Ini adalah pertanyaan yang menggelitik the Economist mengenai masa depan India. Jawabnya: India pasti bisa terbang. Pertanyaan pentingnya adalah seberapa tinggi India mampu terbang.

Satu dekade yang lalu, dunia masih memandang India sebagai negara yang terbelit dalam kemiskinan. Pendudukan besar yang terbelakang, ketidakpastian situasi politik, ketimpangan pendidikan, persoalan AIDS, konflik berkepanjangan dengan negara tetangga, merupakan citra India beberapa tahun yang lalu.

Image India secara dratis berubah saat ini. India adalah negara industri IT terhormat. Laju pertumbuhan industri software-nya tidak tertahankan lagi, tumbuh seperti deret ukur. Dari tahun ke tahun meningkat dengan akselerisasi. Laporan NASSCOM 2004-2005 menyatakan, India menguasai lebih dari dua per tiga pasar Offshore IT (pengembangan software) dan menguasai setengah dari pasar BPO (Business Process Outsourcing) dunia. Total pasar software yang dikuasai India saat ini mencapai 16,5 Miliar dolar AS.

Tabel 1: Pertumbuhan Industri software India

Tahun

Penjualan

Share Ekspor

Share Domestik

1995

$ 1,9 Miliar

67%

33%

1996

$ 2,4 Miliar

64%

36%

1997

$ 3,3 Miliar

63%

37%

1998

$ 5,0 Miliar

63%

37%

1999

$ 7,8 Miliar

67%

33%

2000

$ 10,8 Miliar

74%

26%

2001

$ 14,0 Miliar

77%

23%

2002

$ 16,3 Miliar

78%

22%

2003

$ 16,5 Miliar

n/a

n/a

Sumber: NASSCOM

Peluang India untuk meningkatkan keuntungan dalam produk software masih terbuka lebar. Pasar dunia yang tergarap untuk IT offshore dan BPO baru mencapai sekitar 17 miliar dan 11 miliar dollar AS. Diperkirakan pasar potensial keduanya pada tahun 2010 bisa mencapai 165 miliar untuk offshore dan 135 miliar untuk BPO. Artinya, ini peningkatan lebih dari 900% dan 1.200% untuk 15 tahun kedepan. Kesempatan besar bagi India untuk memelentingkan keuntungannya dalam industri software.

Tetapi kemajuan industri software India bukan berarti bebas dari catatan kelemahan. D’Costa, “the Indian Software Industry in the Global Division of Labour (2004)”, menggarisbawahi ada 2 kelemahan utama dari industri IT India. Pertama, tidak terintegrasi dengan dengan sektor hardware. Apabila dibandingkan Cina yang menjadi raksasa industri hardware, total ekspor India dalam industri IT (software dan hardware) tertinggal jauh. Kelemahan kedua India adalah tidak terbangunnya pasar dalam negeri. Penduduk India merupakan nomor dua terbesar di dunia yang berarti captive market besar bagi Industri software-nya. Sayang itu tidak digarap secara optimal. Kedua kelemahan tersebut menjadikan India hanya menjadi pemain di ceruk (niche player) dalam persaingan IT dunia.

Tabel 2: Perbandingan Ekspor IT 2002

Negara

Ekspor

China (tanpa Hong Kong)

$ 40.837 Juta

Hong Kong

$ 5.155 Juta

India

$ 1.245 Juta

Sumber: World Bank 2002

Apabila pengalaman India menjadi media berkaca buat pengembangan industri IT Indonesia maka ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, pengembangan industri hardware tidak boleh ditelantarkan. Cina memperoleh keuntungan besar dari ekspor IT dibandingkan India karena fokus mengembangkan industri hardware.

Selanjutnya untuk pengembangan industri software, Indonesia tidak boleh bertumpu pada produk Microsoft saja. Belum hilang dalam ingatan bagaimana pemerintah menunjuk ITS dan ITB sebagai pusat pengembangan Microsoft. Penguasaan Microsoft memang menjadi nilai tambah bagi individu yang bersangkutan untuk bersaing dalam pasar global, berkarir di perusahaan multi nasional dan menjadi ekspatriat. Tapi itu tidak memberi dampak positif optimal bagi industri IT Indonesia. Ahli-ahli yang terlatih dengan standar software Microsoft malah berperan menjadi agen pemasaran yang baik bagi perusahaan bersangkutan.

Kasus India memberi pelajaran berharga bahwa pengembangan pasar domestik adalah suatu keharusan. Implementasi dari strategi ini justru yang diinginkan oleh Microsoft. Perusahaan tersebut akan menguasai pasar software Indonesia. Sebaliknya, Indonesia akan dapat apa dari pengembangan riset Microsoft ini?

Sebaiknya Indonesia mengembangkan juga kajian teknologi open source (gratis, tidak ada biaya lisensi bagi para penggunanya) seperti pemrograman Java, data base mySQL atau sistem operasi Linux. Universitas lain seperti UGM, UI atau IPB dilibatkan dalam kajian ini sekaligus menjadi konkruen buat ITB dan ITS. Harapannya, akan terjadi kompetisi sehat bagi pembangunan industri software di Indonesia baik itu software paten Microsoft maupun open sources seperti Java, mySQL ataupun Linux.

Iklan

2 thoughts on “India Terbang Bersama IT

  1. mampir dulu ah…

    disebutkan bahwa industri hardware memainkan peranan penting dalam kemajuan IT sebuah negara.
    jika benar demikian, Indonesia masih tertinggal jauh.

    software terkait dengan computer science atau informatics, dan SDM di negeri tercinta kita ini rasa-rasanya cukup mampu. akan tetapi, untuk hardware, sisi ini sangat terkait dengan electrical & electronics engineering dan jumlah SDM yang tertarik menggeluti ini semakin sedikit di Indonesia, plus industrinya yang bisa dibilang mati suri.

    hmm… jadi bagaimana ya nasib perkembangan hardware di Indonesia ke depannya pak?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s