Hancurnya neo kapitalis Amrik!- Der Bankencrash-eine Chance für Deutschland


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Tue Sep 30, 2008 10:24 pm)

Ferizal Ramli3Der Bankencrash – eine Chance für Deutschland
Finanzgiganten gehen Bankrott, Börsenkurse rauschen nach unten, das
US-Rettungspaket für die Banken ist vorerst gescheitert. Trotzdem gibt
es keinen Grund zur Panik, sagt Wirtschaftsexperte Thomas Straubhaar:
Deutsche Konzerne und Banken sind stärker als viele glauben. Spiegel
http://www.spiegel.de/wirtschaft/0,1518,581198,00.html.

(Kebangkrutan Perbankan – Chance buat Jerman)
Raksasa keuangan menuju kebangkrutan. Indeks Bursa menukik ke bawah.
Paket penyelamatan Amrik untuk perbankan gagal disetujui. Bagaimanapun
tidak ada alasan untuk panik (buat Jerman), kata pakar Ekonomi Thomas
Straubhaar: Perusahaan dan Perbankan Jerman jauh lebih kuat dari pada
yang dipercayai oleh banyak orang.

Banyak orang yakin bahwa “kebangkrutan” perbankan Amrik pasti akan
menyeret dunia menuju kebangkrutan juga. Bagi saya, keyakinan itu
terlalu Amrik sentries. Terlalu menganggap Amrik dan Neo Kapitalis-nya
adalah kekuatan maha dashyat yang mempengaruhi “hitam putih” dunia.

Benarkah demikan?

Ternyata keyakinan bahwa Amrik itu penentu “hitam putih”-nya ekonomi
dunia sangat mungkin keliru jika berkaca pada Jerman (dan mungkin
Jepang dan Negara kuat lainnya)

Pertama, lihatlah headline diatas dari Spiegel. Jerman malah
menganggap „kebangkrutan” Amrik adalah „berkah” buat mereka. Jadi
siapa bilang kehancuran ekonomi Amrik akan menyeret orang lain. Ada
memang yang terseret model ekonomi high cost Indonesia tapi banyak
juga Negara yang malah dapat berkah. Perekonomian kuat yang sangat
sedikit toleran dengan moral hazard tidak akan terlalu terpengaruh
oleh kebangkrutan Amrik.

Saya kutip berapa tulisan dari sahabat Maemun dari Hannover dengan
sumber majalah terkemuka Spiegel:
Menteri Keuangan Jerman – Steinbruck, di Bundestag menyatakan:
“Amerika tak kan lagi digdaya dalam hal Finanz”. “Krisis Finanz saat
ini, tak kan mampu menyembuhkan keadaan finanz USA seperti sebelum
krisis”. “Pasar finanz ke depan menjadi lebih multipolar, dan
menjadikan amerika menjadi negara “biasa” saja.” (spiegel.de, 25
september 08, 16.31)

Suntikan dana segar US$ 700 milyar yang tengah diajukan kehadapan
kongres, -meski pakar ekonomi seperti Hans-Werner Sinn (ekonom jerman
dari Münchner Wirtschaftsforschungsinstituts) atau Bert Rürup (pakar
pasar modal dari Frankfut Allgemeine) meragukan efek bantuan itu-,
mungkin saja, bisa sedikit memperlambat keterpurukan yang sudah
didepan mata.

Kedua, keyakinan bahwa dunia akan membantu perekonomian Amrik adalah
sebuah keyakinan yang terlalu GR. Alasan apa yang membuat dunia perlu
menolong Amrik?

Saya kasih tahu sebuah fakta penting tujuannya agar jangan terlalu GR
bahwa dunia akan membantu Amrik. Contoh pada negara bagian Bayern di
Jerman, Hypo Real Estate Bank München mengalami kerugian karena
memiliki asset pada Bank Amrik yang bankrut. Minister Präsident
(Gubernur) Bayern dianggap bertanggung jawab atas kerugian tsb.

Hari ini dalam pemilu, partai CSU, partai Sang Gubernur yang selama
ini selalu mayoritas mutlak mengalami penurunan drastis yang
menyebabkan Gubernur dan Ketua Partai mengundurkan diri. Rakyat Bayern
dan Jerman tidak sudi jika mereka harus kehilangan uangnya (dari pajak
dan dana pensiun) untuk urusan moral hazard di Amrik.

Dengan fakta seperti ini, apakah anda akan berpikir rakyat dari negara
maju seperti Jerman dan Eropa lainnya dan juga Jepang misalkan mau
mengorbankan uangnya untuk membantu perekonomian Amrik yang moral hazard?

Ketiga, Anda yakin bahwa kehancuran perbankan Amrik akan menyeret
lainnya? Mari kita lihat dua data ini.
Program penyelamatan Amrik untuk perbankan USD 700 billion. Program
penyelamatan perbankan Jerman atas dampak kebangkrutan Amrik “cuma”
Euro 35 billion. Artinya, Jerman dan banyak negara Eropa lain tidak
terkena dampak yang terlalu parah. Mereka tetap eksis.

Bahkan seperti yang dikatakan oleh Thomas Straubhaar diatas, ini
adalah peluang Jerman untuk menjadi raksasa perbankan dunia. Artinya,
ini juga sangat mungkin menjadi peluang Jepang atau negara lain untuk
mengambil alih dominasi Amrik. Jadi, siapa bilang kehancuran ekonomi
Amrik itu berarti kehancuran buat yang lain?

Bagi banyak negara yang mengelola perekonomiannya dengan konservatif,
justru ini adalah bentuk legitimasi bahwa perekonomian itu harus
dibangun oleh prinsip prudent.

Moral point-nya: Saatnya bagi kita (Indonesia) untuk mulai melupakan
cerita-2 indah neo kapitalis dengan privatisasinya, free fight
market-nya, dan jargon-2 gombal lainnya. Saatnya untuk membangun
perekonomian dengan prinsip-2 prudent dan jauh dari moral hazard.

Salam,
Dari Tepian Lembah Sungai Isar
München,

Ferizal Ramli

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s