Filipina, Warisan dari Tradisi yang Salah


(Artikle ini pertama kali dipublikasikan pada pertengahan 2006 di Harian Jurnal Nasional)

Ferizal Ramli3Filipina punya karakteristik unik. Bahasa pengantar resminya Inggris. Dengan penguasaan B. Inggris, warga Filipina mudah mendapat posisi, promosi, menjadi ekspartriat dan go international bekerja di luar negeri. Di Asia, kemampuan ini hanya bisa diimbangi oleh warga India atau Pakistan. Tidak mengherankan apabila Filipina paling banyak mengirim tenaga kerja keluar negeri dibanding negara Asean lainnya. Filipina juga memiliki sumber daya alam yang memadai. Singkatnya, Filipina adalah negara kaya akan berbagai potensi; alam dan SDM, tapi penduduknya tetap saja miskin. Lantas apa yang salah dengan Filipina?

Amerika sebagai mantan penjajah, memiliki pengaruh besar bagi perkembangan bangsa Filipina. Amerika melakukan berbagai perubahan signifikan bagi Filipina. Sistem pendidikan dan demokrasi dibangun, B. Inggris menjadi bahasa nasional, sistem administrasi publik dibuat serta berbagai transformasi „America way“ lainnya dikembangan ke masyarakat Filipina.

Sayangnya, menurut Constantino (1974), sistem pendidikan yang diajarkan oleh Amerika adalah “mis-education” bagi bangsa Filipina. Pendidikan Amerika membuat de-Filipinanisasi bagi generasi mudanya. Mereka menempatkan kultur, nilai, gaya hidup Amerika sebagai ukuran superior yang harus dirujuk. Cerita tentang kejayaan kepahlawan Amerika serta keunggulan institusi Amerika mengobsesi generasi muda, menempatkan model „America society“ sebagai bentuk ideal bagi kehidupan masyarakat Filipina. Hasil akhirnya, Filipina menjadi pasar yang bersahabat bagi membajirnya produk-produk “made in America”.

Warisan sistem demokrasi Amerika juga mendapat catatan kritis oleh Abueva, seperti yang dikutip oleh Buendia (1994). Bagi Abueva, hal terpenting yang dapat dipelajari dari sistem demokrasi yang diajarkan oleh Amerika adalah; “hanya bangsa Filipina lah yang paling tahu tentang sistem politik dan ekonomi yang tepat buat rakyatnya“. Filipina lah yang harus menentukan sendiri model terbaik buat bangsanya.

Saat itu, Abueva melihat adanya perselingkuhan politik antara Amerika dengan elit Filipina dalam mengimplimentasikan demokrasi. Amerika membentuk format aliansi dengan para tuan tanah, membangun oligarki politik serta menerapkan sistem administrasi terpusat. Pusat mengatur segalanya tapi oleh pusat sebagian besar penduduk yang miskin di daerah pedesaan dibiarkan begitu saja. Para elit politik yang terpilih, biasanya pro Amerika, akan meletakan kepentingan bangsa Filipina dibawah bayangan kesepakatan sang elit tadi dengan Amerika.

Warisan sistem demokrasi yang salah dari Amerika ini terus membudaya di Filipina meskipun negara tersebut telah meraih kemerdekaannya. Buendia mencatat akibat warisan salah ini maka lahirlah model politik „neo-colonial politics“, dimana pemimpin politiknya berorientasi pada kepentingan global. Ada juga „patronage politik“ dan „elitis politik“ yang biasa terjadi pada daerah pertanian dimana para tuan tanah atau sedikit elit masyarakat saja yang bisa menjadi pemimpin politik. Selain itu dikenal juga „politik kupu-kupu“, politik tanpa idiologi yang jelas. Akibatnya model ini melahirkan tokoh politik yang pragmatis dan opportunis.

Pada akhirnya sistem politik yang rancu diatas membuat masyarakat frustasi. Mereka memimpikan lahirnya seorang „Robin Hood“ yang menyelamatkan rakyat. Muncul lah model „politik personalitas“ dimana tokoh yang berhasil mengindentifikasi sebagai pahlawan rakyat akan dipilih oleh masyarakat. Contoh gamblangnya adalah Joseph Estrada, mantan bintang film „Robin Hood ala Filipina“ yang terpilih menjadi presiden. Sayangnya Estrada harus mengakhiri karir politiknya secara dramatis di penjara akibat korupsi.

Dampak dari mis-education dan „perselingkuhan demokrasi“ inilah yang mungkin menjadi problem besar bagi Filipina dewasa ini. Kemajuan Filipina menjadi bangsa yang kuat tersendat sekalipun berbagai berbagai potensi sudah dimilikinya. Mestinya Indonesia mengambil hikmah penting dari pengalaman ini.

Iklan

One thought on “Filipina, Warisan dari Tradisi yang Salah

  1. Q ad tUgaZ ne, Sruh presentasi_in tentang Sistem Pemerintahan and hal_HAL laen tentang Negara Philipina.. Bs Tolong bantu bkin RefrensiNya Gak…???? PLiZZZZZ……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s