Dr. Purwadi Kaya Pribadi sahabat saya


Tulisan ini kudedikasikan pada Dr. Purwadi sahabat lamaku yang begitu amat mengispirasi hidupku… (Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Fri Oct 13, 2006 10:29 am)

Purwadi, adalah sahabat yang sangat saya hormati. Santun, tepo selero, tulus, lugu, ikhlas, tabah, cuek, khas pribadi wong Yogya yang sangat njawani. Lahir dari keluarga sangat miskin, dalam arti miskin secara absolut, tapi kaya dalam citra dan harga diri.

Ciri khasnya pasti: aktivitasnya hanya sekitar kampus, kemana-mana pake sepeda ontel butut, sendal Lily, tas kresek penuh buku, baju batik lusuh, kaca mata besar tidak modis sama sekali dengan tangkai bengkok karatan. Plus kebisaannya yang selalu nembang lagu-lagu jawa merdu dan mendalang.

Rasanya saya kenal dekat dengannya. Tapi kelak baru saya sadari bahwa saya tidak cukup dekat untuk memahami maknanya. Di agak akhir dekade 1990-an wajahnya terpampang dalam headline Tabloid Adil (dulu tabloid tersebut punya reputasi nasional, tapi entah sekarang). Tidak kalah gaya dengan Adji Massaid dengan Moge-nya, Dr. Pribadi pun berpose di atas sepeda ontel-nya.

Judul besarnya: „Dengan Sepeda Ontel meraih gelar Doktor“. Keterkejutan saya justru menyadarkan saya bahwa saya selama ini tidak cukup mengenalnya secara dekat. Tidak disangka diantara rekan sesama aktivis kampus ternyata dia yang paling cepat menyelesaikan S-3 sementara yang lain baru sibuk persiapan pendadaran skripsi. Biasalah, aktivis selalu telat lulus harap maklum. Tapi Pribadi memang berbeda; minim fasilitas justru minim juga waktu studinya. Sahabat saya lainnya yang baru saja kemarin lulus doktor spesialis SDM bilang; Pribadi adalah salah satu dari sedikit orang yang dengan modal sangat minim tapi berhasil „memelentingkan“ prestasinya.

Pernah suatu ketika saya bertemu di kampus dengannya. Dari sepeda motor, tegur saya: „Di, sampeyan mau kemana?“ sambil menyamakan kecepatan sepeda motor dengan kecepatan kayuhan sepeda ontelnya.
„Toko buku Gramedia, katanya kalem dengan senyum khas njowonya“.
„Yo wes, tak bonjengin. Kita ke Gramedia bareng“, sambil saya rem itu sepeda motor.
Okay katanya, lalu digeletakin begitu saja sepeda ontelnya di pinggir jalan kampus, cuek langsung mboceng ke motor saya.
“Lho sepeda ontelmu ndak dikunci?” tanya saya dalam kaget.
“Ora opo-opo. Ndak mungkin dicuri. Lagian seluruh Satpam kampus juga tahu kok bahwa kereta kencana itu hanya milikku seorang”, katanya enteng.

Persahabatan saya dengan pribadi menjadi semakin dekat ketika tiba-tiba musibah menimpa keluarga saya sehingga nasib ini mengharuskan terjerumus menjadi mahasiswa miskin secara absolut. Karena sesama miskin absolut maka lahirlah perasaan senasib dan sepenanggungan. Seolah dia tahu akan kerisauan hati saya, Pribadi menghibur: „Fer, sampeyan ndak perlu khawatir ndak bisa makan. Percayalah Gusti Allah bersama kita. Para MalaikatNya dengan cara kegemarannya sendiri pasti deh akan kirim rejeki ke kita. Bahkan kita bisa makan enak, gratis dan bergizi tiap hari“, begitu katanya meyakinkan.

„Lho caranya piye?“ kata saya ndak percaya, tidak mampu menyembunyikan rasa cemas. Iyalah cemas. Yang namanya mulut ini butuh 3 x sehari disumpal je. Kalau uang Rp 100 untuk naik bis kota aja ndak punya piye arep makan enak tiap hari? (catatan: waktu itu untuk makan nasi sayur telur Rp 400 di Warung Sederhana namanya). „Jaket Alma Mater-mu itu tiket untuk dapat makan gratis, enak dan begizi“, katanya terkekeh-kekeh…

Kelak saya baru tahu. Sebuah kampus dengan 61 jurusan plus program Pasca Sarjana, ditambah Pusat Studi, puluhan unit kegiatan ternyata jika di rata-rata setiap hari selalu ada seminar gratis. Jadi, yang dibutuhkan cuma datang ke bagian Humas kampus lalu minta jadwal seminar gratis selama 1 bulan. Lalu cepat samber itu jaket alma mater, trus hadir ke ruang seminar. Santai serius menikmati berbagai sudut pandang pemikiran dan ide-2 segar baru dari para pembicara untuk amunisi berdebat kalo pas demonstrasi.  Tentu saja berusaha akrab saja dengan nara sumber atau pembicara yang biasanya Professor, Direktur Perusahaan, Gubernur atau Menteri sekalian menjalin hubungan personal  sambil tetap tersenyum dan tidak lupa terus menuju ke meja makan, ha…, ha…

Tapi Purwadi lebih heroik lagi. Biasanya dia akan menjadi panitia Seminar. Membantu panitia dengan tekun sampai acara selesai, sampai seluruh tugas kepanitiaan berakhir. Lalu jika acara selesai maka pasti ada saja “sisa-sisa konsumsi”. Tekun oleh Purwadi dikumpulkan itu “sisa-sisa konsumsi” untuk dibawa pulang. Tapi oleh Purwadi bukan dikonsumsi sendiri melainkan dibagi-bagikan ke temen-2nya yang punya persoalan yang sama: tidak punya uang untuk makan. Saya begitu tertegun, bagaimana mungkin dalam posisi begitu terjepit, sahabat saya Purwadi masih bisa memberi dan membantu. Purwadi masih bisa berada dalam posisi tangan diatas!

Sudah 5 tahun lebih saya tidak bertemu dengannya. Tapi saya ingat betul keinginannya untuk membimbing kandidat doktor baru agar meneliti sejarah Islam di seluruh Indonesia. Dia ingin setiap seorang kandidat doktor bertanggung jawab meriset 1 propinsi tentang sejarah dan perkembangan Islam. Harapannya, akan muncul ensiklopedia Islam nusantara yang terdokumentasi secara ilmiah dari Sabang sampai Merauke.

Sayang saya tidak tahu perkembangan selanjutnya. Tapi terlepas berhasil atau tidak, tampaknya membuat “ensiklopedi Islam Indonesia” merupakan sesuatu yang sangat layak untuk diperjuangkan oleh siapapun juga yang mampu melakukannya.

Salam,
Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

8 thoughts on “Dr. Purwadi Kaya Pribadi sahabat saya

  1. Pencerahan benar tulisan ini kang. Jadi pengen tau kelanjutan mimpi Dr.Pribadi nih kang… klo sy bermimpi di indonesia punya perpustakaan terbesar di dunia yg isinya lengkap dari berbagai jaman dan negara. Full akses dan tidak ketinggalan kayak perpus2 di kampusku ato perpusda yg sempat aku kunjungi bbrp waktu lampau…da lama gak ke perpus, denger nama perpus saja, rasa2nya kok membayangkan akan dikelilingi buku2 tua yg berdebu dan membuat alergi…hikss…coba kalau bayangannya kayak perpus harry potter…hehe…

    wassalam,
    ri2

    *membayangkan sejarah dan perkembangan islam di indonesia dibukukan…tentunya perjalanan yg sangat panjang yaa untuk detil per prov. Sangat menarik.

    my YM. rye_bt@yahoo.com

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Perpustakaan itu sebenarnya nyawa dari kehidupan intelektual masyarakat. Mestinya, selain Puskesmas maka Perpustakaan Desa juga perlu dibangun. Tapi kita selalu terbentuk alasan klasik: tidak ada biaya.
    Beberapa teman saya dengan idialismenya sendiri membangun taman bacaan di rumahnya. Minimal bisa membuat para anak-2 dan remaja di RT-nya menjadi gemar membaca. Saya bayangkan jika itu dilakukan banyak orang pasti akan banyak sekali taman bacaan swadaya yang bisa mencerdaskan masyarakat…

    Salam hangat,
    FR

    • Kang Purwadi tinggal di Minomartani, dengan istrinya. Sempat membuat ISBUJA Istitut Budaya Jawa. Beberapa kali mengisi acara TVRI mestinya ya tentng Budaya Jawa, menulis buku (ada kale sampai 60 buku),

  2. Cerita yang inspiratif Fer, sama inspiratifnya dengan cerita Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Seperti lagunya Nidji “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukan dunia…” he..he..

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Terima kasih Mas Yan. Mimpi itu sebuah kekuatan. The power of dream. Dengan mimpi kita bisa mewujudkan suatu yang mustahil menjadi nyata. Laskar Pelangi adalah inspirasi dari kekuatan mimpi…

    Salam hangat,
    FR

  3. sepertinya saya pernah tau seseorang dengan ciri2 tersebut, dan kalau ga salah pernah bersebelahan di bis / kereta perjalanan dari nganjuk ke jogja, sepanjang perjalanan beliau bercerita banyak, ttg budaya , cita2 dan jawa. saya ngga tau pasti apakah beliau ini yang dimaksud. beliau banyak menulis tentang budaya jawa bahkan dalam bahasa jawa kuno.

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Yah beliau orang Ngajuk🙂

  4. aku turut bersaksi atas keunikan Dr. Purwadi. Saat makan pagi di boulevard kampus sekitar tahun 2002 lalu, anakku dihadiahkan satu tembang jawa yang indah dari Dr. Purwadi.

  5. Inspirative sekali Pak Ferizal; waktu kuliah dulu sering melihat Bapak Purwadi dengan kereta kencananya melinats di jalanan kampus; bikin penasaran, waktu itu tahun2 akhir 90-an. Ternyata mimpinya sungguh besar dan Tuhan tunjukkan kekuatan mimpi.
    Terimakasih

  6. Wah Mas, jadi ingat Mas Pur yang sederhana ini, aku seangkatan dengan beliau bahkan lulusnya pun bareng, tapi sungguh luar biasa, justru beliau yang lebih sukses karena mimpinya. Dan pernah bilang sama aku, Mbakayu (biasa manggil aku karena aku orang Tegal) kalau aku jadi orang sukses aku mau punya istri lebih dari satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s