Diplomasi Percaya Diri Kamerad Putin


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada pertengahan 2006 di Harian Jurnal Nasional)


Ferizal Ramli4Tahun 1976, Pemikir Perancis Emmanuel Todd, “The fall final: An essay on the decomposition of the Soviet Sphere”, meramalkan kejatuhan Soviet hanya masalah waktu. Tahun 1991, ramalan Todd terbukti. Ditandai dengan melepaskan diri 11 negara mantan Soviet menjadi negara merdeka, berakhir lah kejayaan yang telah berlangsung selama 70 tahun (tahun 1922-1991).

Soviet berubah menjadi Rusia. Bagi dunia saat itu, lahirnya Rusia menjadi bukti nyata kekalahan Soviet dalam perang dingin melawan barat. Selama lebih dari satu dekade Rusia dipandang sebelah mata. Berbagai persoalan ekonomi pasca kejatuhan Soviet membuat Rusia harus low profile jika berhadapan dengan Amerika dalam diplomasi internasional. Rusia butuh barat, tapi barat khususnya AS tidak butuh Rusia.

Itu Rusia sepuluh tahun lalu. Awal Mei tahun ini, Presiden Putin penuh percaya diri mengkritik Amerika. “Kamerad Serigala tahu kapan dia akan makan, …dan dia makan tanpa mau mendengar”. Putin menyentil perilaku serakah Amerika. Seperti Srigala, Amerika mengeksploitasi negara lain dengan berbagai cara, kalau perlu dengan perang. Pernyataan Putin menandakan babak baru hubungan Rusia dan Amerika.

Apa yang melatarbelakangi keberanian diplomasi Putin? Energi lah senjata diplomasinya. World Energy Outlook 2004 mencatat bahwa Rusia adalah pemilik cadangan gas alam terbesar di dunia. Selain itu juga memiliki cadangan batu bara nomor 2 terbesar dan nomor 7 untuk minyak bumi.

Beruntung bagi Rusia, ketegangan di Timur Tengah yang berlangsung lebih dari 3 tahun ini membuat harga minyak melonjak. Ekspor Rusia terus meningkat. Hasil dari minyak dan gas alamnya saja mencapai seperempat dari Gross Domestic Product-nya.

Peningkatan ekspor menyebabkan cadangan devisa Rusia juga melonjak. Pergerakannya bukan lagi dalam hitungan tahun melainkan secara signifikan dalam hitungan bulan berubah. Cadangan devisa Rusia saat ini menyalip Korea Selatan. Besarnya peningkatan cadangan devisa Rusia bahkan dalam rentang 6 bulan sudah lebih besar dari total cadangan devisa yang Indonesia miliki saat ini.

Tabel: Perbandingan Cadangan Devisa dalam rentang waktu 6 bulan

Negara

Akhir Februari 2006

Akhir Juli 2006

Peningkatan Cadangan

Rusia

$ 197,9 Miliar

$ 243,2 Miliar

$ 45,3 Miliar

Indonesia

*$ 33,3 Miliar

**$ 40,8 Miliar

$ 7,5 Miliar

Taiwan

$ 257,0 Miliar

$ 260,4 Miliar

$ 3,4 Miliar

India

$ 136,6 Miliar

$ 156,6 Miliar

$ 20,0 Mliar

Korea Selatan

$ 215,9 Miliar

$ 224,3 Miliar

$ 8,4 Miliar

Sumber: The Economist

* Data bulan Januari 2006

** Data bulan April 2006

Selain untuk meningkatkan cadangan devisa, Putin secara cerdik memanfaatkan faktor energi untuk memelentikan pertumbuhan ekonominya. Pada saat dia pertama kali menjadi orang nomor satu di Kremlin, pertumbuhan ekonomi Rusia -5,3%. Tapi saat ini Rusia tumbuh rata-rata 6,5% per tahun. Ini menjadi aspek penting yang membuat ekonomi Rusia tangguh. Rusia tidak tergantung lagi pada barat.

Tabel: Pertumbuhan GDP Rusia dari tahun ke tahun

1998

1999

2000

2001

2002

2003

Pertumbuhan GDP Real

-5,3%

6,3%

10%

5,1%

4,7%

7,3%

Sumber: Goskomstat

Putin bahkan menggunakan energi ini tidak cuma untuk membangun perekonomian. Secara jitu, Putin menggebuk “musuh”-nya dengan senjata yang sama. Ukraina pernah merasakan dampaknya. Presiden Yuschenko yang sangat pro barat mendapat pelajaran penting dari Putin. Pasokan kebutuhan energi Ukraina yang selama ini disuplai dari Rusia sempat dihentikan. Putin ingin mengingatkan bahwa Ukraina tidak bisa hidup tanpa Rusia sementara Rusia tetap jalan dengan atau tanpa Ukraina. Tujuannya untuk memberi tahu terhadap siapa Ukraina harus memberi hormat.

Kembali diplomasi energi digunakan Rusia ketika berhadap dengan Jerman. Sadar bahwa Jerman salah satu raksasa Eropa apalagi hubungannya dan Jerman sangat mesra pada saat Schrörder jadi kanselir dulu, Putin menerapkan strategi berbeda. Jerman dirangkul. Baru-baru ini Putin dan Kanselir Merkel menandatangani perjanjian keamanan pasokan energi dari Rusia ke Jerman. Manuver ini menempatkan Jerman minimal di posisi netral, tidak pro Amerika, ketika Rusia suatu ketika harus berhadapan dengan AS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s