Buyback BUMN dan Nasionalisme Kesiangan


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Sun Oct 12, 2008 2:28 pm, saat ada indikasi SBY akan melakukan “buy back”)

Ferizal Ramli2Presiden Megawati termasuk presiden yang menjual BUMN. Dimasa Megawati
banyak BUMN yang dijual, yang paling monumental Telkom. TIDAK ada satu
pun data ekonomi yang menunjukan bahwa MSP itu TIDAK terlibat dalam
penjualan BUMN. MSP terlibat dalam penjualan BUMN.

Lantas bagaimanakah dengan pemerintahan SBY? Dalam catatan Kompas dan
Tempo 2006, dimasa SBY menyetujui menjual 85% BUMN tuntas dijual ke asing.
Artinya, Presiden SBY termasuk presiden yang paling bertanggung jawab
atas hilangnya BUMN kita ke asing.

Lihat link ini:
http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/02/23/brk,20060223-74375,id.html

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0612/09/ekonomi/3156828.htm

Menjadi membingungkan tiba-2 saja pemerintahan SBY, hari ini (Rabu
kemarin) bilang atas nama nasionalisme maka BUMN yang milik asing itu
akan kita beli kembali. Kita lakukan buyback dari dana APBN 4 Trilyun
plus dari dana-dana lainnya. Jadi, totalnya bisa lebih dari 4 Trilyun.

Lah bukankan yang ber-sahwat menjual BUMN ke asing, lha SBY tho? NASIONALISME apa maksudnya dengan Program Buyback itu?

Kita harus kritis melihat fakta ini:
1. SBY mengikuti jejak MSP dalam menjual BUMN ke asing. Jika demi nasionalisme harusnya SBY TIDAK ikut menjual BUMN apalagi BUMN “angsa emas” penghasil profit.
2. Saat ini investor asing pemilik BUMN itu ndak punya uang. Mereka
pasti akan jual obral saham BUMN mereka. Jadi, ndak usah tergesa-gesa
beli. Nanti harganya pasti akan murah. Tidak percaya?

Mari kita lihat pergerakan USD terhadap rupiah? Kenapa Dollar naik?
Apakah karena dollar menguat? Jawabnya, ndak mungkin karena dollar
menguat, karena perekomian AS hancur. Logika dari mana dollar bisa
menguat?

Dollar naik bukan karena dia menguat tapi karena terjadi peningkatan
permintaan dalam negeri terhadap dollar secara drastis. Begini
kronologis logikanya:

1. Investor Asing yang menguasi saham BUMN 85% itu adalah INVESTMENT
BANK AMRIK.
2. Saat ini ekonomi Amrik hancur dan para investment banking itu BUTUH
CASH
3. Sebagian besar investor di BEI (Bursa Efek Indonesia) itu adalah
INVESTMENT BANK AMRIK
4. Lalu mereka jual saham obral yang mereka miliki di BEI, ini yang
menyebabkan INDEKS BEI TURUN DRASTIS.
5. Nah, hasil dari penjualan saham BEI itu dalam bentuk Rupiah,
sementara Investment Bank butuh DOLLAR. Akibatnya, permintaan Dollar
menjadi tinggi. Ini yang menyebabkan DOLLAR NAIK.
6. Jadi, dollar naik karena Investment Bank Amrik panik butuh uang dan
obral saham BUMN dan saham lainnya, lalu dana rupiah yang diterima
dari penjulan saham ditukarkan ke Dollar untuk digunakan di dalam
negeri Amrik.

Kesimpulannya:

Pertama, Mau bursa saham hancur kek, mau tutup kek, itu tidak
berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional.

Kedua, Ekonomi AS itu sudah hancur lebur. Investment Banking AS mau
atau tidak mau, suka atau tidak suka pasti akan obral jual saham
kepemilikan BUMN Indonesia.
Atau malah mungkin sang pemilik
(Investment Banking) akan mendeklarasikan kebangkrutan kok. Lah klo
Investment Bank ini bangkrut, lah baru saham BUMN kita kuasai.

Ketiga, atau lupakan saja itu BUMN. Toh SBY juga telah menjualnya. Menjadi lutju jika
sekarang SBY bicara tentang nasionalisme. Ini namanya nasionalisme
kesiangan.

Keempat, sekarang kita harus serius menghadapi ancaman rush perbankan!
Jika rush terjadi, maka demi Allah SWT, mungkin sebagian besar dari
warga milis akan jadi pengangguran.

Bagaimana rush bisa terjadi?

Jika para investment bank berhasil menjual sahamnya maka uang tadi
akan ditukar ke US dollar. Lalu permintaan US dollar sangat tinggi.
Agar Dollar tidak jebol mengarah angka psikologis (diatas Rp 12.000)
maka pemerintah butuh cash. Pemerintah butuh dana untuk intervensi.
Jika pemerintah tidak punya dana dan tidak sanggup men-cover
permintaan dollar maka dollar akan melambung mungkin sampai lebih
12.000 atau bahkan 15.000.

Pada saat itulah masyarakat akan panik. Lalu akan mengambil uangnya
dari bank. Bank-2 Indonesia yang sebenarnya saat ini sehat wal’afiat
segera kelimpungan karena terjadi rush. Lalu berguguranlah para bank
tsb. Lalu kredit di sektor riil akan hancur. Terjadilah krisis moneter
tahap kedua yang tidak terelakan.

Inikan yang tidak boleh terjadi…!

Bagaimana cara menghindari supaya tidak terjadi rush?

Pertama, biarkan saham-2 di pasar modal berguguran. Itu dana asing
kok. Semakin rendah harga saham maka semakin kecil dana rupiah yang
asing peroleh dari penjualan saham. Semakin kecil juga kemampuan
mereka menukar ke US Dollar. Akibatnya, cadangan US Dollar dalam
negeri tidak tertekan.

Kedua, Buyback BUMN justru saat ini menyebabkan harga saham menjadi
“stabil”. Para investor asing malah memiliki dana segar dan dana itu
untuk ditukar ke US Dollar. Ini malah menyebabkan dollar melambung.
Jadi, Buyback BUMN dengan dana minimal 4 Trilyun itu adalah blunder
dan keliru. Ini akan menyebabkan kita mudah jatuh ke krisis.

Pertanyaan pentingnya:

Jika Buyback BUMN itu keliru kenapa kok pemerintah mau melakukannya?
Jawabnya: Sayang sekali saya tidak punya data valid. Tapi hypothesis
logis saya SBY dan JK itu „DIBISIKI” oleh Aburizal Bakrie.

Saya tidak tidak bisa riset langsung tentang data valid seberapa jauh
peran Aburizal terhadap rencana buyback. Tapi ijinkan saya buat
analisa logis. Pihak yang paling DIUNTUNGKAN oleh buyback BUMN adalah
BAKRIE.

Saham Bakrie melorot habis. BUYBACK, apalagi jika Bakrie berhasil
meyakinkan bahwa saham-2 yang dibeli adalah saham Bakrie, akan membuat
B-A-K-R-I-E TERSELAMATKAN…

Dari titik inilah saya menilai, dilihat dari sudut apapun buyback
merugikan. Pihak yang paling diuntungkan dari buyback adalah Bakrie
Brothers milik Menteri Aburizal Bakrie. Untuk itulah kita perlu
menolak Buyback saham BUMN…

Dari pada mikirin bursa saham sebaiknya mulai memikirkan Daya TAHAN
Perbankan dan pertumbuhan sektor RIIL

Salam,
Dari tepian lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Iklan

One thought on “Buyback BUMN dan Nasionalisme Kesiangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s