Beda UGM dan ITB


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Fri Nov 24, 2006 1:30 pm)

Ferizal Ramli4Tulisan ini berbau (B)SARA: ((B)ukan menyangkut) Suku, Agama, Ras (tapi menyangkut) Almamater. Jadi, sebelum sampeyan membaca tulisan SARA ini, sampeyan ndak perlu terlalu serius lah. Ini cuma tulisan ngawur ora mutu kok… 🙂

+++

Karena terlalu lama merantau saya begitu berbunga-bunga bertemu dengan seorang gadis sawo mateng, pribumi, sebangsa dan setanah air.

Penuh antusias saya bertanya: „Mbak sampeyan dari Indonesia ya? Sampeyan asalnya dari mana?”

Jawab si mbak: “Saya lulusan ITB – Teknik Industri!”, dengan mantap, penuh percaya diri serta bola mata menantang seperti BJ Habbibie.

(Weleh, weleh saya pikir si mbak berasal dari kampoang Pariaman seperti ambo, atau dari Bantul podo karo garwo kulo (garwo: anak mertua), eh jebole di Indonesia itu ada juga yang namanya kabupaten “Teknik Industri ITB” toh)

+++

Konon ceritanya 2 insinyur muda brilyant alumnus terbaik dari UGM dan ITB diterima di perusahaan konsultan pertambangan elit Schlumberger. Mereka ditugaskan di pedalaman Kalimantan untuk melakukan eksplorasi kandungan minyak.

Setelah berbulan-bulan bertugas tibalah saat liburan. Sang insinyur muda lulusan ITB dengan B. Inggris lancar, penuh PeDe, nemui Bossnya orang bule. Dia minta ijin agar diperbolehkan pake mobil kantor. Sang Boss mengijinkan trus memberikan kunci mobil. Si insinyur sambar itu kunci trus ngeloyor. Beberapa menit kemudian dia balik lagi ke Boss. Dia bilang, dia mau tukar mobil. Dia butuh mobil yang paling bagus dan baru soalnya mau ngapelin gadis desa tercantik anak Pak Lurah.

Beberapa hari kemudian insinyur muda alumnus UGM dengan B. Inggris medok logat njowo nemui Boss Bulenya mau pinjam mobil juga. Belajar dari pengalaman beberapa hari yang lalu, sang Boss Bule kasih kunci mobil yang terbaru dan terbagus. Mantuk-2 matur nuwun si insinyur ambil itu kunci dan pergi ke halaman parkir. Beberapa menit kemudian si insinyur balik ke Boss-nya minta tukar mobil. Dia minta mobil yang terjelek.

Si Boss bingung dan bertanya kenapa minta mobil yang terjelek. „Sir, lha wong saya baru mau belajar nyetir kok. Kalau mobil bagus nanti takut rusak“, jawab sang insinyur UGM dengan lugu.

+++

Ini terjadi ditahun 90-an. Para aktivis UGM diundang oleh sejawatnya para aktivis ITB untuk hadir dalam pekan OPSPEK mahasiswa baru ITB. Pada saat pembukaan OPSPEK salah seorang tokoh aktivis mahasiswa senior ITB memberikan semangat kepada calon mahasiswa baru.

Dengan lantang, gagah berani sang tokoh aktivis berpidato: “Adik-adik kalian adalah mahasiswa terbaik pilihan. Kalian adalah mahasiswa terpandai di republik ini. Kalian harus menunjukkan prestasi terbaik kalian. Apabila kalian tidak mampu menjadi yang terbaik maka pindah saja ke UGM!”.

Temen-temen aktivis UGM cuma bisa melongo ?!?!?!

+++

Jangan sampeyan pikir aktivis UGM tidak berusaha untuk menanamkan sikap ke-kemlingthi-an (kemlingthi: over confident) kepada mahasiwa baru.

Suatu hari di tahun 90-an disaat hari pertama OPSPEK tiba, terpampanglah spanduk besar di depan halaman audiotorium, ujung jalan Boulevard. Bunyi tulisannya membuat dada para mahasiswa baru menyesak penuh kebanggaan.

Tertulis gagah: “Selamat Datang Para Calon PEMIMPIN!”.

Keesokan paginya, para calon mahasiswa baru terperangah membaca tulian pada spanduk tsb telah berubah. Seorang (atau banyak orang) yang ndak suka dengan spanduk tersebut, menghapus huruf “N” pada akhir kalimat.

Terbaca sekarang: “Selamat Datang Para Calon PEMIMPI!”.

„Payah, ora iyo diajak kemlingthi, ya sudah spanduk tersebut diturunkan saja“, kata salah seorang tokoh aktivis kampus biru.

Iklan

9 thoughts on “Beda UGM dan ITB

  1. hahaha,,,
    Lucu…dasar wong UGM…hahaha

    memang kehidupan sosial budaya Bangsa ini sangat UNIK….mungkin peribahasa ini cocok menjadi jembatannya…
    “dimana bumi dipajak, disitu langit dijunjung”

  2. Universitas Gajah Mbandung hehehe…
    Bagus tulisannya mas, memang karakternya ITB dibuat over confidence berlebihan saat ospek. Tetapi anak ITB pada era 90-an juga banyak anak kampung dari berbagai pelosok negeri. (Saya alumni angkatan 90-an). Di dunia kerja menurut saya kekompakan almamater UGM jauh lebih baik daripada ITB, mungkin karena dulu dididik terlalu over convidence sifat individualisme-nya terlalu tinggi, susah bekerja team di dunia kerja. (walau tentunya tidak semua). Kalau secara teamwork almamater menurut saya UGM jauh lebih baik dari ITB, juga anak-anak Jogja lainnya seperti UPN atau STTNAs. Kalau individual saya no comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s