Perang Dagang, Indomie dan Memperbanyak Jago Kandang

12 Okt

Indomie Korban Perang Dagang?

Ijinkan saya ceritakan tentang perang dagang industri mobil di Amrik mungkin ini relevan dengan kasus Indomie baru-2 ini yang di Razia di Taiwan

Saya pernah di Wawancara-i langsung oleh VOA (Voice of America) dari Kantor pusat mereka di Washington tentang pendapat saya atas Kasus Produk Gagal Toyota yang harus ditarik dari peredaran di Amrik, kira-2 6 bulan lalu. Alasannya secara jaminan keselamatan mobil Toyota tidak aman dan menyebabkan banyak kecelakaan.

Saya katakan pada mereka (VOA) bahwa temen-2 saya para insiyur di BMW bilang itu Senat Amrik bias terhadap Toyota. Jika sebuah Produk Mobil di-cek satu persatu secara detail maka tidak ada produk yang TIDAK cacat!

Jika dia mau cek Fiat atau Produsen Perancis atau Korea maka Produknya jauh lebih rendah kualitasnya dari Toyota! Kita-2 yang di BMW aja jungkir balik siang malam untuk bisa bersaing dengan Toyota di pasar Amrik. Ndak logis itu keinginan Senat Amrik agar Toyota ditarik dan Presiden Direktur Toyota minta maaf ke Senat atas alasan ada kecacatan di produknya. Jika betul Amrik taruh standard fair untuk semua seperti yang dilakukan pada Toyota maka semua produk mobil termasuk Ford, Chrysler, GM sangat mungkin harus ditarik juga! Dikarenakan kualitas keselamatannya pasti jauh dibawah Toyota.

Toyota diperkirakan korban perang dagang Amrik yang mau melindungi industri mobilnya dari gempuran Toyota. Toyota betul-2 perkasa disana yang nyaris tanpa lawan dari Ford, Chrysler dan GM. Itu ibarat PSSI lawan Uruguay di kandang Senayan! PSSI kalah telak baru-2 ini! Ilustrasinya sederhana. Yah, ndak fair agar PSSI memang lalu wasitnya tanpa alasan mendasar keluarkan kartu kuning buat 5 orang pemain Uruguay misalkan saja dan kasih tendang pinalti buat Indonesia. Nah, jika kasus extra-ordinary ini sampai terjadi maka harus diselidiki fakta sebenarnya.

Sama dengan kasus Indomie, mestinya pada kasus Indomie, tim Indonesia (Department teknis terkait) turun tangan disini. Mereka harus bisa pastikan apakah benar Indomie itu bersalah atau korban dari perang dagang oleh Taiwan? Jadi, pastikan hak-2 Indomie itu dapat perlakuan fair dari Taiwan. Saat Toyota diperlakukan keras oleh Senat AS maka para politisi dan Pemerintah Jepang tidak tinggal diam. Mereka men-support Toyota.

Jika Indomie itu KORBAN dari Perang Dagang maka INDOMIE harus kita “selamatkan”.

Alasanya terlepas Indomie bahan bakunya import (Gandum), tetap saja Indomie sudah berhasil membuat vallue added dari Gandum menjadi Nuddle. Tidak cuma itu, value added-nya berhasil di-ekspor ke LN bahkan menembus Eropa! Kita bisa dengan mudah menemukan Indomie membanjiri Jerman, Perancis apalagi Belanda juga berbagai negara Asia lainnya.

Tidak ada 1 pun industri di Indo yang sanggup merambah pasar internasional sehebat Indomie. Jadi, Indomie itu asset bangsa bahkan kalau kita ingat bagaimana seluruh rakyat Indonesia berkorban sampai harus menerima monopoli tunggal dari hulu ke hilir industri gandum dan tepung untuk kelompok Salim demi Indomie, maka rasanya tidak terima jika Taiwan berlaku tidak fair dalam hal ini. Kita membesarkannya susah payah dan penuh air maka jika Taiwan berlaku curang (sekali lagi jika Taiwan curang), saya pikir Indo harus bersikap tegas!

Jadi, pada titik ini faktanya Indomie adalah asset yang menguntungkan kita yang susah payah telah kita bangun. Jadi, harus “dibela” jika memang Indomie dicurangi.

Perdagangan Internasional atau Pasar Domestik?

Sebenarnya dalam konteks ekspor dan Perdangangan Indonesia itu targetnya sederhana saja: ciptakan value added dari bahan mentah menjadi setengah jadi saja sudah sebuah prestasi.

Artinya, kita jangan ekspor kayu glondongan tapi setengah jadinya misalkan Ubin Kayu. Kita jangan ekspor kelapa sawitnya tapi sudah kasih value added misalkan menjadi minyak. Itu saja sudah lebih dari cukup.

Nyatanya, industri kita secara umum hampir selalu cuma meng-ekspor bahan mentah. Artinya, kegiatan perdangannya internasional kita lebih didasarkan pada industri eksploitasi kekayaan alam, bukan industri pengolahan. Apalagi industri manufaktur teknologi tinggi, secara umum itu masih jauh dari kita.

Kita ekspor bahan mentah lalu negara yang menerima eksport kita mengolahnya menjadi bahan jadi lalu dieskpor kembali ke kita untuk kita konsumsi.
Ini artinya kita rugi 2 kali:
Rugi pertama, kekayaan alam kita tereksploitasi
Rugi kedua, value dari ekspor bahan mentah kita lebih rendah dari value import produk jadi dari negara lain yang nota bene bahan mentahnya berasal dari kita. Kita nombok disini…

Nah, pada titik ini Indofood sudah 1 langkah lebih maju. Indofood import bahan mentah tapi dia eksport produk jadi. Meskipun tidak ideal tapi Indofood jauh lebih baik dari produk eksport lainnya.

Bagi saya sebenarnya orientasi industri kita itu harus dikayuh untuk mencapai:

1. Industri kita itu levelnya secara umum harus bisa ditingkatkan dari level cuma eksploitasi kekayaan alam menjadi level bisa mengolah hasil kekayaan alam tersebut!

Jika ada produk yang di-ekspor yah harus produk yang sudah diolah oleh industri dalam negeri dan punya value added. Jangan lagi tebang hutan lalu kayu gelondongannya di-ekspor.

2. Semua produk-2 yang Indo punya kelebihan mutlak mestinya harus mampu kuasai pasar dalam negeri. Tanah kita subur! Ini artinya industri domestik untuk Produk Pertanian dan Perikanan harus dikuasai oleh pemain Domestik! Lha kita punya keunggulan mutlak kok disana. Jangan lagi Beras atau Gula harus import.

3. Industri manufaktur itu lebih fokus ke penguasaan pasar domestik. Itu industri tekstil, mainan anak kecil, termasuk alat-2 Rumah tangga yang tidak butuh teknologi maju itu harus dikuasai oleh industrik dometik. Jangan lagi dikuasai Cina.

Lupakan lah dulu sektor manufaktur untuk eksport ke manaca negara. Untuk apa? Lha wong pasar domestik itu besarnya minta ampun kok. Jadi jago kandang aja. Yang penting seluruh sudah kandang itu dikuasai oleh Jagoan dari lokal (baca: industri domestik). Ini adalah kekuatan hebat.

Jika struktur ini kita bangun dengan orientasi diatas maka diminta atau tidak diminta itu yang namanya para pengusaha tangguh tanah air akan muncul seperti cendawan di musim hujan. Ini sunahtullah kok. Nantinya akan banyak jago kandang tangguh yang menguasai pasar domestik dimana jago asing keok di kandang kita. Setelah itu tinggal masalah waktu untuk menjadi pemenang dalam perdagangan global.

Dari Tepian Lembah Sungai Isar,

Ferizal Ramli

http://ekonomi.kompasiana.com/group/bisnis/2010/10/12/perang-dagang-indomie-dan-memperbanyak-jago-kandang/

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 162 pengikut lainnya.