Oleh: ferizalramli | Januari 2, 2009

Study di Jerman, siapa takut …?!!!

(Artikel ini dipublikasikan pertama kali di pertengahan tahun 2002)

Ferizal Ramli4Secara umum hampir semua universitas di Jerman berkualifikasi excellent. Standart kualitas pendidikan tinggi di Jerman sangat ketat sehingga kualitas antara universitas satu dengan lainnya relatif sama. Memang benar untuk beberapa universitas tertentu memiliki program yang sangat prestisius dan menjadi unggulan tetapi bukan berarti universitas yang bersangkutan lebih unggul (top rangking) dari universitas lain dalam segala bidang. Sebagai contoh: RWTH Aachen (tempat studi-nya Pak Habbibie) memiliki program unggulan pada bidang mekanika dan elektronika, tetapi untuk bidang Manajemen RWTH Aachen kalah populer dibandingkan FHTW Reutlingen. Begitu juga FH Furtwangen (berdasarkan majalah focus) merupakan universitas terbaik untuk bidang komputer dan TI, tetapi untuk bidang lainnya bisa jadi FH Furtwangen kalah populer dari universitas lain. Jadi, bagi anda yang berminat studi di Jerman memilih perguruan tinggi bukanlah suatu pertimbangan yang penting tetapi yang lebih perlu diperhatikan adalah memilih jurusan yang sesuai dengan prospek karir dan masa depan anda.

Sistem pendidikan di Jerman relatif berbeda dengan sistem pendidikan di Indonesia atau di negara-negara Anglo-Saxon (USA, UK dan Australia). Di Jerman ada 3 katagori perguruan tinggi:

  • Univerität dan Technische Universität (TU). Sistem pendidikan di universität relatif lebih berorientasi pada teori dan research. Prosentasi untuk pengajaran teori mencapai 80%-90% dari kurikulum mata pelajarannya.
  • Fachhochschule (FH) dalam Bahasa Inggris dikenal dengan University of Applied Science. Di universitas ini orientasi kurikulum antara teori dengan praktek relatif berimbang. Prosentase perbandingan antara teori dengan praktek sekitar 60% teori dan 40% praktek plus internship di perusahaan.
  • Berufsakademie (BA) dalam Bahasa Inggris di kenal dengan University of Cooperative Education. Universitas ini merupakan bentuk kerja sama antara perguruan tinggi dengan industri (seperti KADIN-nya Jerman). Orientasinya sangat praktis yaitu 60% dari kurikulumnya adalah praktikum dan intership di perusahaan.

Nah, pada saat memilih perguruaan tinggi hendaknya perlu juga dipertimbangkan jenis perguruan tinggi mana yang sesuai dengan minat studi calon mahasiswa.

Untuk lebih jelasnya maka para calon mahasiswa disarankan untuk membuka website: www.hochshulkompass.de

PROGRAM INTERNATIONAL

Banyak para calon mahasiswa terpaksa mengurungkan niatnya untuk studi di Jerman karena terkendala dengan keharusan menguasai Bahasa Jerman. Kendala tersebut tampaknya saat ini lebih mudah diatasi bagi calon mahasiswa. Dalam 5 tahun terakhir ini perguruan tinggi di Jerman banyak yang melakukan inovasi dengan membuka program internasional khususnya untuk jenjang Master (S-2). Dalam program internasional tersebut perkuliahan dilakukan dalam 2 bahasa yaitu Bahasa Jerman dan Bahasa Inggris. Biasanya pada semester awal perkuliahan menggunakan B.Inggris, baru di semester akhir menggunakan B.Jerman. Komposisi seperti ini akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya.

Tetapi tentu saja bahasa tetap merupakan persoalan serius jika ingin studi di perguruan tinggi luar negeri. Bukan merupakan rahasia umum bahwa kemampuan rata-rata Bahasa Inggris mahasiswa Indonesia relatif rendah. Bahkan secara bergurau seorang kolega yang menjadi Manager Personalia di Mitsubishi Heavy Industry pernah mengatakan bahwa kemampuan Bahasa Inggris Insinyur Indonesia tuh lebih rendah dibandingkan dengan Bahasa Inggris-nya TKW (pembantu) asal Filipina. Kita boleh saja tersinggung dengan pernyataan tersebut. Tetapi jika mau jujur ungkapan tersebut seratus persen benar adanya. Tingkat
kemampuan rata-rata Bahasa Inggris mahasiswa Indonesia relatif rendah. Bagi para calon mahasiswa yang ingin studi di luar negeri persoalan bahasa
merupakan kendala serius yang perlu diantisipasi sejak dini.

Persoalan bahasa akan sedikit bertambah rumit apabila ingin studi di Jerman. Selain persyaratan Bahasa Inggris yang excellent yang dinyatakan dengan TOEFL minimal 550, juga disyaratkan mempunyai sertifikat kursus B.Jerman untuk level dasar (Grunstuffe) dari Gothe Institut. Memang kualifikasi B.Jerman yang dituntut hanyalah tingkat dasar tetapi untuk lulus sertifikat tingkat dasar tetap dibutuhkan waktu belajar sekitar 6 bulan. Sebagai catatan untuk di Yogyakarta terdapat lembaga kursus yang bersertifikat Gothe Institut. Lembaga tersebut berlokasi di dekat Tugu dan didirikan oleh Persatuan Guru Bahasa Jerman.

KEUNTUNGAN STUDI DI JERMAN

Beberapa keuntungan penting studi di Jerman adalah sebagai berikut:

  • Kualifikasi tenaga pengajar yang tinggi. Pengalaman Penulis selama studi di FH Furtwangen menunjukan bahwa untuk Program Master of Computer Science in Software Business Consulting (M.C.Sc.) dibimbing oleh 15 orang Professor-Doktor yang rata-rata mereka memiliki pengalaman sebagai Consultant di berbagai perusahaan multinasional. Menjadi sangat menarik adalah Dosen Professornya sebanyak 15 orang sementara mahasiswanya ‘hanya’ 30 orang. Tentu saja dengan rasio seperti ini kualitas akademiknya sangat terjamin.
  • Fasilitas yang lengkap dan modern. Mahasiswa dapat mengakses fasilitas perpustakaan secara ‘on line’ dengan buku, jurnal, majalah yang sangat lengkap baik dalam bentuk ‘hard copy’ maupun CD Room. Selain itu mahasiswa juga memiliki akses internet bebas selama 24 jam per hari dan gratis.
  • Lingkage Industri. Dukungan industri terhadap perguruan tinggi sangat besar. Pada kasus FH Furtwangen misalnya, di semester 3 seluruh mahasiswa program M.C.Sc. akan kerja praktek di perusahaan selama 6 bulan. Selama kerja praktek tersebut para mahasiswa akan mendapatkan gaji dan seluruh biaya hidupnya dijamin oleh perusahaan. Dan tentu saja bagi mahasiswa yang cemerlang ‘tidak akan pernah lagi’ datang ke kampusnya kecuali hanya untuk pendadaran thesis, karena mereka sudah secara otomatis dipromosikan menjadi karyawan tetap perusahaan dimana mahasiswa yang bersangkutan kerja praktek.
  • Biaya kuliah yang sampai saat ini gratis atau relatif rendah.
  • Adanya program internasional sehingga memudahkan untuk menyelesaikan studi sekaligus menguasai B.Jerman.

BIAYA KULIAH (TUITION FEE)

Hampir semua perguruan tinggi di Jerman membebaskan kewajibanya mahasiswanya dalam membayar uang kuliah. Tetapi tentu saja ada program-program tertentu yang menetapkan biaya kuliah biasanya Program MBA (Master of Business Adminitration). Untuk Program MBA bea kuliahnya berkisar antara Euro 4,000 s.d Euro 20,000 tergantung dari kebijakan masing-masing perguruan tinggi yang bersangkutan, meskipun tetap ada yang menyelenggarakan MBA gratis seperti di FH Pforzheim atau FH Ingolstadt.

Hanya saja kebijakan untuk kuliah gratis di Program Internasional bisa saja suatu hari akan berubah. Dari tahun ke tahun peminat calon mahasiswa untuk studi di program internasional semakin meningkat. Jadi, dimungkinkan jika suatu ketika perguruan tinggi di Jerman akan menerapkan biaya kuliah bagi mahasiswanya khususnya untuk program internasional. Sebagai contoh di FH Furtwangen hingga tahun 2002 ini perkuliahnya gratis, tetapi mulai tahun ajaran 2003 akan menetapkan biaya kuliah untuk Program Master of Computer Science (M.C.Sc.) in Software Business Consulting sekitar Euro 4,500. Memang biaya kuliah tersebut relatif rendah jika dibandingkan dengan universitas di USA, UK atau Australia. Jika di-kurs dalam rupiah ‘paling hanya’ Rp 40 juta-an. Hampir sama dengan biaya kuliah di MM UGM atau dua kali lebih mahal dari biaya kuliah di MM UPNVY. Tetapi jika dibandingkan dengan biaya kuliah di UK (Inggris) yang rata-rata berkisar diatas Rp 150 juta-an untuk program umum dan Rp 200 juta-an untuk program MBA, maka biaya kuliah di Jerman tetap relatif murah. Meskipun begitu, tetap saja terbuka peluang bagi kita untuk dapat mendaftar di perguruan tinggi yang menerapkan kuliahnya gratis tanpa biaya kuliah.

Ketentuan biaya kuliah tersebut diatas sama sekali tidak berlaku untuk program Master yang seratus persen menggunakan B.Jerman. Seluruh program master yang diselenggarakan dalam B.Jerman (bukan program internasional), biaya studinya gratis. Ketentuannya adalah dibutuhkan lulus test sertifikat B.Jerman dari Gothe Institut untuk level intermediate, ZMP (Zentrale Mittelstufenprüfung)Level.

Persyaratan untuk Mendaftar di Perguruan Tinggi Jerman

Ada beberapa persyaratan administrasi untuk mendaftar studi di Jerman pada Program Internasional. Beberapa persyaratan penting yang
perlu dipersiapkan adalah:

  • Foto kopi legalisir Ijasah S-1 dalam B.Inggris atau B.Jerman.
  • Foto kopi legalisir Transkrip Nilai dalam B.Inggris atau B.Jerman
  • TOEFL B.Inggris 550
  • Sertifikat B.Jerman minimal level Grundstuffe
  • Dua surat rekomendasi dari Dosen tempat mahasiswa menyelesaikan studi S-1 dalam hal ini dosen UPNVY.
  • Surat pengalaman kerja minimal 2 tahun.

Khusus untuk surat rekomendasi dari dosen disarankan untuk mendapatkan rekomendasi dari dosen yang memiliki kualifikasi akademik minimal Doktor (S-3) dan akan lebih baik lagi Professor. Sebagai catatan hampir seluruh dosen di Jerman mempunyai kualifikasi Professor-Doktor, sehingga apabila calon mahasiswa hanya direkomendasikan oleh dosen yang berkualifikasi S-2 maka nilai rekomendasi tersebut akan minimalis. Rekomendasi dari dosen yang berkualifikasi S-2 tetap punya nilai strategis apabila dosen yang bersangkutan memiliki jabatan struktural penting di lingkungan universitas atau fakultas.

BEASISWA

Dimungkinkan bagi calon mahasiswa untuk mendaftar bea siswa DAAD.Persayaratan penting untuk mendapatkan bea siswa DAAD adalah Dosen atau Pegawai Negeri Sipil. DAAD memang memberikan bea siswa untuk umum tetapi proporsi bea siswa untuk umum tersebut jumlahnya sangat terbatas. Untuk di Indonesia kantor DAAD beralamatkan di Gedung Summitmas II, Jl. Sudirman, Jakarta. Hanya untuk catatan penting tidak mudah untuk mendapatkan bea siswa dari DAAD.

Kesempatan mendapatkan bea siswa akan besar jika mahasiswa sudah berada di Jerman. Banyak lembaga non profit atau yayasan yang bersedia memberikan bea siswa. Syaratnya adalah nilai semester yang baik. Dengan demikian ‘apply’ bea siswa di Jerman baru dimungkinkan apabila kita telah studi minimal selama satu semester.

BIAYA HIDUP (LIVING COST), KERJA DAN ‘FREE FALL’

Biaya hidup di Jerman relatif bervariasi. Untuk biaya hidup di kota besar relatif lebih mahal dari pada biaya hidup di kota kecil. Sebagai gambaran biaya hidup di kota besar berkisar antara Euro 600 s.d Euro 800 per bulan. Sedangkan biaya hidup di kota kecil berkisar antara Euro 450 – Euro 600. Perbedaan biaya hidup antarra kota besar dan kota kecil memang relatif ’significant’. Tetapi keuntungan studi di kota besar adalah dimungkinkan untuk medapatkan kerja part time yang pendapatannya relatif lumayan besarnya.

Kemungkinan kerja sambil kuliah merupakan alternatif yang menarik.Sebagaimana kita ketahui bersama, sangat sulit sekali bagi calon mahasiswa untuk mendapatkan bea siswa di Indonesia. Untuk itu banyak mahasiswa yang mengambil alternatif kuliah sambil kerja mengingat sistem imigrasi di Jerman memungkin untuk itu. Pada banyak kasus para rekan mahasiswa dari India atau Cina banyak yang datang untuk studi di Jerman dengan uang saku sangat ‘pas-pasan’ bahkan hanya cukup untuk biaya hidup 3 bulan. Modal mereka hanya tekad dan nekad. Pola seperti ini biasanya disebut dengan ‘free fall’ (terjun bebas) berjuang sampai ‘titik darah penghabisan’ di negeri orang. Mereka siap hidup prihatin dan ’strugle’ dengan kuliah sambil kerja, syukur-syukur mendapatkan bea siswa.

Pola ‘free fall’ ini akan lebih mudah diterapkan jika mahasiswa tinggal di kota besar karena mudah untuk mendapatkan pekerjaan part time. Banyak diantaranya yang sukses dengan pola ‘free fall’ meskipun tetap ada saja yang gagal. Terlepas dari beratnya tantangan yang mesti diatasi, pola ‘free fall’ tetap merupakan alternatif yang menarik bagi calon mahasiswa yang memiliki tingkat ‘adrenalin’ dan confident yang tinggi tetapi kemampuan financial resources-nya terbatas. Moral point yang penting dalam hal ini mengapa pola ‘free fall’ tidak dicoba ? Toh banyak sekali mahasiswa yang sukses dengan pola free fall.

Jangan pikirkan pengorbanan dan tantangan yang mesti akan dihadapi, tetapi fokuskan pikiran tentang masa depan gemilang yang siap menyabut dikemudian hari dengan penuh senyum tentu saja….

SEKILAS TENTANG PENULIS

Penulis adalah Ferizal Ramli. Alumni Fakultas Ekonomi UPNVY, Jurusan Manajemen, Angkatan tahun 1990. Pernah bekerja di Singapura dan Malaysia serta mendapatkan bea siswa studi di Program M.C.Sc., FH Furtwangen. Selama studi di almamater UPNVY tercinta, penulis juga aktif di kegiatan kampus, berpartisipasi mendirikan KOPMA dan pernah menjadi Ketua Umum KOPMA UPNVY yang pertama periode 1994-1996. Saat ini Penulis berdomisili di Jerman.

Alamat lengkap penulis:
Am Großhausberg no: 02-07-10
D-78120
Furtwangen im Schwarzwald, Germany.
E-Mail: rferizal@hotmail.com dan framliz@yahoo.com


Tanggapan

  1. wah…jadi terinspirasi kuliah di jerman :) )
    semoga nanti bisa kuliah di sana

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Okay, tunggu apa lagi? Saya tunggu sampeyan di Jerman. Jika sampeyan butuh informasi atau butuh sesuatu bantuan, pastikan saya mengetahuinya. Meskipun saya belum tentu bisa bantu, tapi saya akan berusaha untuk menjadi teman diskusi buat sampiyan.
    Selamat berkarya dan salam hangat

    Ferizal

  2. Assalammu’alaikum wrwb,

    Anak saya Aisyah di sekolahnya (SD) memilih bhs Jerman sbg bhs tambahan pilihan. Sayang hanya 3 anak yg memilih Jerman akhirnya Aisyah ikut bhs Perancis. Semoga nanti dia bisa kuliah di Jerman. Mumpung Yunani masih sesama EU.

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Wa’alaikumsalam Wr Wb,
    Saya ikut berharap semoga putri Ibu bisa sekolah yang setinggi-tingginya. Memang harus mulai dari sedini mungkin putri/a kita diajarkan B. Asing. Itu benar sebuah awal yang baik buat masa depannya. Hanya klo boleh saya sarankan, alangkah baiknya jika putra/i kuliah di Jerman setelah lulus Sarjana. Banyak sekali yang lulusan SMU langsung ke Jerman mengalami cultur shock sehingga banyak yang gagal menyelesaikan kuliahnya…
    Doa saya semoga Putri Ibu bisa kuliah setinggi mungkin

    Wassalam,
    FR

  3. wah lengkap banget ni bos…
    salam kenal, saya Akhmad Arifin Hadi
    saya kuliah di HS Anhalt program Master of Landscape architecture.

    XXX
    Tanggapan saya:
    Salam kenal juga Mas Akhmad,
    Selamat menempuh study-nya semoga sukses dan selamat berjuang untuk menghasilkan karya nyata

    Salam dari München

    Ferizal

  4. mas… kalo university di prancis bagaimana? apakah sama dengan di jerman kualitasnya?
    matur nuwun.

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Mas Adi,
    Menurut saya Universitas di Eropa itu punya standard yang jelas. Mereka punya kualitas yang relatif bagus dan dimonitor secara ketat oleh pemerintahnya. Bagi saya secara umum Univ di Jerman, Inggris, Perancis, Belanda, Swiss adalah negara-2 favorit Eropa. Selain itu Universitas dari Skandinavia, Austria dan Belgia juga favorit. Untuk studi tertentu di Spanyol dan Italia juga cukup baik terutama bidang budaya dan parawisata.

    Hanya jika saya mau prefer maka saya lebih memilih Jerman atau Inggris. Kedua Universitas di negara tsb reputasinya sangat terkenal di Indonesia, dan di Jerman kualiah relatif gratis, sementara di Inggris kita bisa memperdalam B. Inggris kita sampai kualifikasi native. Perancis jelas bagus hanya lulusan Perancis jaringannya di Indonesia tidak terlalu luas dan untuk tinggal di Perancis tanpa bisa berbahasa Perancis adalah suatu mimpi buruk.

    Salam hangat,

    FR

  5. Jadi ingat novel Sang Pemimpi (buku ke dua dari tetralogi Laskar Pelangi, karyanya Andre Hirata)
    Sesuatu yang mustahil bisa jadi kenyataan.

    Novel itu benar2 membangkitkan semangat utk meraih mimpi menjadi sesuatu yang nyata.

    Kira2 sudah baca belum mas ???????
    di jerman ngak ada kali ya novel nya bujang Andre.

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Mbak/Mas maaf saya belum kenalan…
    Saya sudah baca trilogi epik apik dari Laskar Pelangi. Saya setuju sekali bahwa kekuatan mimpi itu bisa merubah sesuatu yang “mustahil” menjadi nyata.
    Jadi, saat nyalah kita mempunyai mimpi. Lalu merubah mimpi menjadi cita-cita lalu menurunkannya ke dalam visi lalu ke misi lalu merumuskan sebuah tujuan. Kemudian kita turunkan dalam kertas kerja berupa perencanaan, dan tanpa ragu kita wujudkan menjadi kenyataan. Bukankah itu kekuatan sebuah mimpi?

    Salam hangat,
    Ferizal Ramli

  6. jadi tertarik tapi s3 nya ajaa…
    thks banget mas info nya :)

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Klo gitu tinggal diwujudlkan impian tersebut. Semoga sukses selalu dan salam hangat…

  7. Hallo bung feri…
    Sedikit tanggapan, krn hal ini jg saya alami pribadi.
    Saat ini mungkin memilih perguruan tinggi di jerman menjadi pertimbangan penting, krn berhubungan dg studi akhirnya…

    Hal ini saya alami. Uni hannover termasuk jagoan jerman di bidang teknik mesin, tp bukan di bidang energi. Bahkan sejak 2005 hingga skrg ada institut (Inst,Verbrennungstechnik) yg vakum krn tdk ada Prof.
    Sekilas mungkin tdk relevan, tp ternyata jadi batu sandungan buat student.
    Kurikulum di sini, student hrs memilih Masterarbeitnya sesuai dg bid.peminatan. Untuk projektarbeitnya boleh di luar bidang asal tetap di bidang teknik mesin.
    Otomatis banyak student yg terpaksa hrs menunggu berbulan2 utk mendptkan kesempatan.

    Setelah saya perhatikan,memang daerah Niedersachsen mengkonsentrasikan risetnya di bid. mekanik atau produksi ,sementara Hessen dskt riset di bid. energi.

    Pihak uni jelas hanya bisa menyarankan utk mencari alternativ lain, misalnya ke perusahaan2, tp buat Foreign spt kita…jelas luarbiasa sulitnya,krn jg berhadapan dg birokrasi..blon lagi faktor bahasa dan mental..

    Danke atas perhatiannya, mudah2an saya ndak sia2 kasih komen…:)

    XXX
    TANGGAPAN SAYA:

    Mas Josua,
    Terima kasih untuk tambahan infonya. Saya setuju, seorang cari mahasiswa harus mendapatkan informasi secara detail. Disarankan seorang calon mahasiswa perlu untuk bertanya pada seniornya. Artinya, bagi calon mahasiswa di Indonesia sebaiknya berusaha mengontak mahasiswa Indonesia di universitas yang akan dimasuki sehingga bisa mendapat informasi yang detail dan pasti.

    Yang kedua bagi saya titik terpentingnya adalah Bahasa. Meksipun kuliah kita dalam B. Inggris tapi minimal B. Jerman lulus ZD (dasar) akan lebih baik jika ZMP (intermediate). Jika bahasa Jerman kita sangat rendah maka ini amat berpengaruh pada performance kuliah kita…

    Salam hangat dari München,
    FR

  8. mas boleh tanya2 lebih jauh melalui Yahoo Messenger gt? kebetulan saya berminat mengambil program MBA di Anhalt University.. mohon sarannya untuk program MBA yg bagus dimana terima kasih

  9. Nah ini baru info yang okeh untuk studi ke Jerman, soalnya harus pinter2x cari info ttg Jerman tp mas g sebutin uang jaminannya (deposit) ? Nah ini loh yang bikin guwedee pengeluaran finansial kita klo ga salah 7516 euro-an weleh-weleh, sekedar tambahan aja (sapa tahu ngebantu hue he he) bisa buka situs:

    http://kharisma.de/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=0&Itemid=58

    http://forum.brawijaya.ac.id/index.php?action=vthread&forum=2&topic=317&page=0#msg61457

    http://www.progressprima.co.id/ina/index.php?option=com_content&view=article&catid=40&id=61&Itemid=54

    http://www.gamexeon.com/forum/free-chatz/1723-informasi-untuk-siswa-slta-yang-ingin-study-ke-jerman.html

    good luck !!!

  10. salam kenal mas.
    assalamuallikum wwb.
    mas. posisi sekarang saya lulusan S2..M.Si.. saya pengin banget ambil doktor di jeman..kira2 memungkinkan nda?apa yg harus saya persiapkan dan lakukan..terimakasih..wassalam

  11. Mas, anak saya baru mulai studkol di Zittau. Dia ambil Tehnik Mesin, untuk kuliahnya sebaiknya di terusin di zittau aja, atau pindah ke universitas lain? mana yang bagus, dengan living costnya tidak terlalu tinggi? Makasih ya.

  12. Salam kenal saya Arfa gunawan
    sekarang saya sudah lulus S1 hukum, pengin ngambil S2 di jerman studi hukum bisnis atau hukum ekonomi kira2 yang bagus atau unggulannya dimana ya mas?, karena aku lihat dari tulisannya mas, walaupun semuanya bagus tetapi ada yang unggulan tergantung jurusan atau majornya. Terimakasih

  13. mau nanya nih.. kalo jurusan kedokteran gt di jerman bagus ga sih? hehe thanks :)

  14. Terima kasih Mas Ferizal atas info yang bermanfaat ini. Kemarin saya mengikuti seminar tentang study abroad di kampus saya, IPB. Saya jadi termotivasi untuk benar-benar mewujudkan impian saya melanjutkan S2 di luar negeri, awalnya saya menganggap itu hanya impian yang masih jauh. Saya sendiri sekarang sudah semester 6 jurusan Agribisnis. Benar Mas, bahasa adalah kendala utama saya. Bahasa Inggris saya masih cenderung pasif, apalagi bahasa Jerman. Menurut Mas bagaimana, apakah lebih baik saya kuliah di Inggris saja agar saya lebih fokus belajar bahasa Inggris? Namun saya tertarik di Jerman karena banyak kesempatan kuliah gratis di sana. Terima kasih Mas.

  15. Ass.wr.wb,
    salam kenal mas ferizal,

    saya lululusan s1 tek. perminyakan upnvy..saya butuh informasi mengenai s2 tek. perminyakan di jerman, kira-kira univ apa yg bgs jd pilihan?
    sekedar informasi, skarag sy sdg mgurus beasiswa dr pemda daerah asal saya utk melanjutkan studi, salah satu pilihannya adl ke jerman (seandainya nanti lolos seleksi panitia)..terus terang sy masih kkrangan info terkait studi d jerman, mohon bantuannya..trims.

    oia, trus terang sy jd kagum skaligus bangga pas tau mas ferizal juga alumni upnvy dulunya, skali lg slm kenal..

    regard,

    haekal

  16. terimakasih ya informasinya.
    saya sebenarnya semenjak tamat SMA pengin ke jerman.
    sekarang udah lulus S1 teknik mesin,
    sekarang udah kerja sebagai PNS di kabupaten Aceh singkil.
    bisa gak ya, dari jurusan teknik mesin ngambil S2 nya jurusan lain , misalnya seperti di Program M.C.Sc., FH Furtwangen???
    thanks ya

  17. Ass. . Saya esty,saya baru saja lulus sma thn ini,saya ingin sekali bisa mendapatkan beasiswa ke jerman,,kalau ada kabar soal beasiswanya,kasih tau ke email saya. . Tesima kasih

  18. salam kenal pak ferizal.
    saya berencana lanjut s2 bidang infomatika. dan tertarik untuk kuliah di fh furtwangen. tq

  19. Wah ini tulisan lama. Sekarang sekolah di jerman mbayarne juga mahal booq !

  20. Sekali lagi klo mau studi di Jerman mendingan pinter2x cari informasi (ga hanya satu sumber) dan jangan terpengaruh oleh kuliah di Jerman gratis yang pada kenyataannya kuliah di Jerman tidak gratis lagi melainkan sdh dikenakan tuition fee tergantung masing2x uni.
    berikut ini links yang dpt (mungkin) menjadi bahan pencarian informasi perihal studi di Jerman :

    http://kharisma.de/index.php?option=com_content&task=blogcategory&id=0&Itemid=58

    http://forum.brawijaya.ac.id/index.php?action=vthread&forum=2&topic=317&page=0#msg61457

    http://www.progressprima.co.id/ina/index.php?option=com_content&view=article&catid=40&id=61&Itemid=54

    http://www.gamexeon.com/forum/free-chatz/1723-informasi-untuk-siswa-slta-yang-ingin-study-ke-jerman.html

  21. wah pak, saya mohon bimbinganya,
    saya juga ingin kuliah di sana
    inginya di stuttgatr universtatt dan belajar tentang FPGA, saya ingin sautu saat nanti bisa setup teknologi semiconductor di Indonesia,
    mohon bimbinganya,saat ini saya bekerja di perushaan swasta….ngumpulin dana dulu…
    mohon saran dan kritiknya pak….

  22. bang bagaimana caranya untuk dapet beasiswa ke jaerman????

  23. ass.
    salam kenal pak ferizal..

    saya pengen study abroad.especially to german.
    saya sudah lama memimpikan untuk bisa pergi sekolah disana.
    yang mau saya tanyakan, apakah yang membuat kualifikasi penerima beasiswa ke jerman sanat susah??
    lalu jika kita kerja “part time” itu bukannya akan membuat kuliah sedikit terganggu???.bagaimana caranya agar kuliah tidak terganggu,tapi juga bisa kerja part time seperti itu..??

    terimakasih.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori