Oleh: ferizalramli | Januari 2, 2009

Dr. Anies Rasyid Baswedan, MS – Rektor Universitas Paramadina Mulya

Ferizal Ramli3(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Mon May 21, 2007 6:15 pm)

Dr. Anies Rasyid Baswedan, MS., diangkat menjadi Rektor Universitas
Paramadina Mulya menggantikan tokoh besar Nurcholis Madjid. Saya
tertegun. Kembali cerita dari sahabat saya tentang Anies Baswedan
memenuhi memori ini. Cerita ini pula yang membuat saya optimis suatu
ketika orang-2 jujur akan memimpin bangsa ini. Menyelamatkan kita
dari keterpurukan…

XXXXX

Dari kesaksian seorang sahabat. Sebut saja sahabat kita itu: Faraz
Ramadhan. Dia mantan pimpinan senat mahasiswa UGM dari kelompok hijau
(bukan hijau militer lho, kalo pinjem kata Clifford Geertz; kelompok
hijau santri :) ).

Cerita Faraz jujur kepada saya tentang Anies Rasyid Baswedan…

Tahun 1994 kalau tidak salah, mahasiswa Yogya demo di bunderan.
Menentang pembredelan Detik, Tempo dan satu lagi saya lupa namanya.
Mahasiswa menolak kesewenangan pembredelan itu. Mereka demo menentang!

Saat itu 1994, Wak Dhe (Uwak Gede) dari pada Haji dari pada Muhammad
dari pada Soeharto sedang represif-2 nya. Setiap demo langsung
dihadapi oleh lars senapan militer.

Siang terik. Jam menunjukkan pukul 13.30. Mahasiswa yang sudah capek
berdemo sejak pagi, bersiap ingin membubarkan diri.

Tiba-tiba komandan militer kasih perintah melalui pengeras suara
kepada mahasiswa:
“Dalam 30 menit lagi anda harus bubar!”
“Jika tidak, maka kami yang akan membubarkan dengan paksa!!!”

Mendapat perintah represif tsb, justru membangkitkan semangat
perlawanan mahasiswa. Bukannya bubar, massa mahasiswa bersatu
merapatkan barisan. Mereka bertekad tidak mau bubar. Siap melawan.

Papan batu hijau muda bertuliskan “Selamat Datang di Kampus
Universitas Gadjah Mada”, terletak tepat ditengah „Bunderan”
dijadikan D’ Alamo, benteng perlawanan massa mahasiswa. Sementara
batalyon pasukan militer berjejer rapi, profesional jali, di depan RS
Panti Rapih. Hanya berjarak 100 meter persis di depan D’ Alamo -nya
mahasiswa.

Pukul 13.45. Suasana semakin heroik. Keberanian menggelora di dada.
Idialisme tinggi membubung menembus lapisan awan tertinggi. Seakan
seluruh mahasiswa siap menyerahkan selembar nyawa di badan.

Tapi benarkah demikian? Pukul 13.55, berarti 5 menit sebelum
deadline, Faraz dengan cemas melihat kebelakang. Kaget dia tidak
percaya dengan penglihatannya!

Bambang Nursanto Suryolaksono (bukan nama sebenarnya, tokoh aktivis
FE UGM), atau aktivis gadis Amoy Rekena (juga bukan nama sebenarnya,
tokoh aktivis Fisipol UGM), dan lain-2 nya sedang lari sipat tukang
menyelamatkan diri. Seluruh pimpinan aktivis dari kelompok nasionalis
dan sosialis lari. Wuss…, wuss…, wuss…, kabur nyaris tak terdengar.
Mereka tidak memperdulikan nasib mahasiswa lain yang berhadapan
langsung dengan lars senapan.

Faraz cemas. Dia sadar hanya dia dan Anies Baswedan lah yang berada
di garis terdepan. Memang mereka bersama ribuan massa mahasiswa. Tapi
mereka itu massa mengambang. Bukan tokoh aktivis. Sementara para
tokoh aktivis lain sudah lari menyelamatkan diri.

Faraz menoleh, bertanya pada Anies seniornya:
“Anies, semua pimpinan aktivis dari kelompok nasionalis dan sosialis
kabur. Cuma kita yang berada digaris depan. Kenapa kita tidak ikut
lari?” —tanya Faraz dengan suara bergetar menahan takut tak
terkira.

(Iyalah Faraz cemas. Saat itu bukan jaman pasca reformasi Bung! Laras
senjata di depan mata. Acaman hidup mati riil hanya berjarak beberapa
jengkal)

Anies senyum tenang menoleh dengan kalem:
“Raz, kita ini pemimpin”.
„Kita tidak boleh lari meninggalkan mereka (massa mengambang —
red)”.
„Mereka berdemo dengan keberanian di dada karena mereka percaya pada
kita”.
„Haruskah kita meninggalkan mereka ketika ancaman hidup mati di depan
mata?”

Faraz diam sambil lirih menjawab: „Bener Nis, tapi aku takut sekali”.

„Justru pada saat seperti inilah kita harus percaya bahwa Allah SWT
pasti melindungi kita”. „Yang membedakan kita dengan mereka (para
pemimpin mahasiswa yang lari —red) cuma satu, yaitu: Iman!” —
jawab Anies dengan tegas!

Berbagai cita rasa bercampur aduk antara takut, cemas, malu di dada
Faraz.

Sadar bahwa Faraz sangat tertekan, Anies kembali senyum bicara:
„Raz, kalau kamu mau lari, larilah sekarang”.
„Mumpung belum terlambat”.
„Aku sangat memahami keputusanmu untuk lari”.
„Tapi aku tetap akan bertahan disini”.
„Dan aku akan berterima kasih jika kamu juga tetap disini bertahan
bersamaku”.
Begitu lah Anies menutup pembicaraan. Selanjutnya seluruh fokus dan
konsentrasinya diarahkan untuk menghadapi lawannya, —se-Batalyon
pasukan tembur yang siap membantai!

Keberanian dan ketulusan Anies menginspirasi si Faraz. Dengan sisa-2
keberanian terakhir disertai doa-2 terakhirnya, Faraz tegak membatu
di samping Anies. Dia memutuskan untuk bertahan apapun yang terjadi,
um jeden Preis!

Tepat pukul 14.00, dalam satu komando; „Bantai!”, maka gerak pasukan
topan badai menyerbu.
Bukannya lari, Anies malah maju kedepan beberapa langkah.
Berteriak dia mengusir:
„Hey, ini kampus mahasiswa! Keluar kalian semua! Kalian tidak pantas
masuk kampus ini!!!”

Tapi apalah arti teriakan Anies itu dalam telinga „pasukan robot-2
pembunuh profesional”. Detik berikutnya, Anies, Faraz, dan seluruh
mahasiswa terjungkal di garis depan. Sahabat-2 Anies dari kelompok
hijau, yang berada di „Gelanggang Mahasiswa” segera maju
menuju „Bunderan” untuk memperkuat barisan dan
mencoba „menyelamatkan” Anies. Sayang keberanian dan ketulusan itu
justru dibayar mahal dengan percikan darah.

Hari itu, Anies Rasyid Basewedan terjungkal kena popor senapan. Tapi
hari itu juga membuktikan bahwa keteguhan Anies untuk mempertahankan
kebenaran tidak pernah terjungkal meskipun berhadapan dengan laras
senapan dan nyawanya adalah taruhannya…

Teriringi Doa dan Harapan saya semoga sahabat Anies sukses memimpin
Universitas Paramadina Mulya untuk mewujudkan cita-cita luhur dari
Alm. Nurcholis Madjid.

Dari kesunyian lembah Sungai Elbe,

Ferizal Ramli


Beri tanggapan

Your response:

Kategori