Oleh: ferizalramli | Januari 2, 2009

Benarkah Universitas itu tidak bisa menghasilkan Pengusaha?


(Artikel ini pertama kali dipublikasikan pada Fri Aug 22, 2008 10:59 pm)

Ferizal Ramli3Tulisan ini saya buat sebagai uneg-2 atas tulisan “sesat”-nya Purdi E
Chandra (Pendiri Primagama) bahwa pengusaha itu tidak butuh kuliah,
bahwa kuliah itu mencetak para karyawan. Ujung-2nya dia (si Purdi)
mungkin mau bilang Enterpreur University lah tempat yang tepat untuk
mencetak pengusaha.

Saya pikir statement Purdi itu menyesatkan sehingga perlu diluruskan…

XXX

Mengapa saya tidak percaya Enterpreneur University karya si Purdi?

Ada 4 alasan yang mendasar yang membuat saya tidak percaya Purdi.
Tentu saja saya bisa salah. Silahkan dikoreksi, saya akan terima
koreksi dari sampeyan atau temen yang lain.

Tapi ijinkanlah saya menulis keraguan saya tentang kredibilitas
statement Purdi bahwa pengusaha itu tidak perlu kuliah. Bahwa kuliah
itu hanya mencetak para karyawan. Saya meragukan keseriusan Purdi saat
mengatakan hal itu.

Pertama, Purdi tidak konsisten dengan gelar akademiknya. Kemana-2
Purdi selalu membangga-banggakan bahwa kesuksesannya sebagai pengusaha
karena dia memilih D.O. dari kampusnya. Jadi, secara implisit Purdi
mau mengatakan bahwa kuliah itu tidak penting. Kuliah cuma mencetak
para karyawan.

IRONISnya (tolong di-stabilo saya menulis kata IRONIS dengan huruf
besar), Purdi selalu mencantumkan gelar akademiknya Purdi E Chandra,
SE., MBA.
Silahkan lihat dalam Blog Primagama:
http://mylinklife.wordpress.com/2007/12/28/jadi-pengusaha-tak-harus-pintar/

Setahu saya, MBA itu gelar akademis dari luar negeri. Jika Purdi
lulusan MBA maka dia harus kuliah diluar negeri. Setahu saya Purdi
ndak pernah kuliah di LN. Lha di UGM aja D.O. kok mana sempat dia
keluar negeri. Jadi, saya khawatir gelar itu gelar palsu.

Jika itu gelar palsu alias gelar dari Universitas Rumah Toko maka
Purdi adalah contoh ironis yang anomali antara perkataan dan perbuatan.

Kedua, Purdi selalu melecehkan kredibilitas Universitas tapi lutjunya
dia sendiri menggunakan nama Universitas untuk memperkuat “jual
kecap”-nya. Dia menggunakan nama Enterpreuner University (EU), dan
jelas Universitas menjadi “brand” jualnya.

Ini mengingatkan saya dengan model Ahmadyah. Ajarannya menyimpang dari
Islam tapi tetap ngaku-2 berlabel Islam biar punya nilai jual.

Purdi juga, menyimpang dari kaidah Universitas tapi ngaku-2
Universitas plus diperparah dengan pake nama ke-Inggris-2 an.

Kenapa harus pake nama Inggris? biar keren? biar punya nilai jual?
Lutju, content hakiki dari universitas dilecehkan si Purdi tapi label
dari universitas digadang-gadang pake bahasa Inggris segala lagi.

Saya khawatir ini contoh marketing yang tidak percaya diri dari
pengusaha yang senang shortcut. Content universitas dengan tradisi
akademik yang rumit dibuang, tapi label universitas dipake secara
vulgar….

Ketiga, sampai saat ini mana sih lulusan EU yang sukses? Klo cuma
bisnis sembako kecil-2 an atau warnet atau fotocopi-an, yah ndak usah
sekolah di EU.

Tetap sebuah prestasi memang jika ada yang sukses buka warnet
misalkan, hanya itu bisa diraih kok ndak perlu kuliah dan bayar ke
Purdi melalui EU-nya. Malah buang-2 duit dan membuat si Purdi makin
kaya aja…

Tapi sekali lagi, mana ada lulusan EU yang bisa jadi pengusaha minimal
level Yogya aja? EU itu berdiri kurang lebih 10 tahun lho, mosok belum
menghasilkan pengusaha tangguh bahkan level Yogya aja ndak kecapai?

Keempat,
Saya tidak menemukan (silahkan koreksi jika saya salah), universitas
di dunia ini yang tugasnya cuma mencetak pengusaha. Unversitas itu
misi-nya adalah meningkatkan pengetahuan dari mahasiswanya dengan
transfer ilmu, riset dan berinteraksi dengan kultur akademik yang
inherrent didalamnya beserta jaringan para alumninya.

Nah, dari sana akan terhasilkan para intelektual, pekerja profesional,
pengusaha, innovator, pemimpin, dsb, dsb… Jadi misi Universitas itu
universal bukan cuma mendidik pengusaha.

Ini terjadi kok di Universitas-2 elit dunia. Jika misi universitas
tersebut salah, seperti kata Purdi, maka Eropa atau Amrik atau Jepang
tidak akan menghasilkan pengusaha-2 tangguh. Nyatanya negara yang
Universitasnya majulah yang paling banyak perusahaannya menguasai
kapital dunia.

Tentu saja boleh-2 saja sebuah Universitas fokus pada titik berat
pengembangan kewirausahaan. Itu sah jika memang itu adalah strenght
point-nya. Tapi itu bukan berarti bahwa universitas yang menekankan
pada kewirausahaan pasti akan lebih baik dari universitas yang
menekankan untuk mencetak alumninya menjadi birokrat misalkan.

Jadi, adalah gombal jika Purdi bilang bahwa universitas itu tidak bisa
mencetak para pengusaha. Lha wong banyak pengusaha-2 besar yang jauh
lebih hebat dari Purdi itu lulusan universitas ternama kok. Dan
Universitasnya tidak perlu bernama Enterpreur University. Mereka
alumnus universitas normal saja kok…

Salam,

FR


Tanggapan

  1. hahaha……..bener juga seh bang….

  2. purdi ini sepertinya orang yang keblinger dengan prestasinya hehehehe……….mas, ferizal, beberapa waktu lalu di kompas juga ada kutipan pernyataan entrpreneur baru yang bergelut di bidang batik fraktal (kebetulan batik ini lagi terkenal), kata beliau, anak SMK lebih hebat dari lulusan itebeh beybeh hahahaha…………kira2 orang begini tipe keblinger juga ngga ya?

    Salam kenal !

  3. klo kita cuma berkomentar sudah pasti pendapat kita yang paling benar, tapi dalam kenyataannya bagaimana? lihat saja lebih baik mana orang yang berkomentar dengan orang yang dikomentari. belum tentu lebih baik, salam persaudaraan. ambil hikmah dari semuanya.

    XXX
    Komentar saya:

    Kang sampeyan out of context! Tidak ada yang mengklaim kebenaran. Yang ada adalah memberikan sudut pandang :)

    Salam,

    FR

  4. Bro, ambil psitifnya aja. Saya alumni EU Sby. Saat ini omzet advertising saya 6M/th, omzet franchise sya 90jt/bln.belum dr bisnis kayu dll. Saya contoh yg berhasil dr EU.

  5. Ambil yang baiknya buang yang buruknya


Beri tanggapan

Your response:

Kategori