Sekolah Berfasilitas Bagus beda Indonesia dan Jerman!

18 Apr

(Saya menulis tulisan ini karena baru saja menyimak berbagai sekolah SD elit Internasional di Indonesia)

Di Jakarta atau banyak kota besar terdapat banyak sekolah dengan fasilitas amat bagus seperti sekolah-sekolah berlabel Internasional, sekolah Al Azhar, dan sekolah-sekolah bagus negeri lainnya yang masuk sekolah negeri unggulan yang punya fasilitas sempurna.

Pertanyaannya siapa yang berhak menikmati fasilitas bagus di sekolah bagus di Indonesia?
Jawabnya saya yakin hanya anak orang kaya atau minimal anak orang dari kalangan memengah ke atas yang bisa menikmatinya. Mereka-mereka lah yang punya uang yang bisa sekolahkan anaknya ke sekolah yang punya fasilitas bagus. Akibatnya, mereka pulalah yang akhirnya masuk ke Universitas elit di Indonesia. Anak orang miskin akan sulit masuk sekolah bagus dan sulit tembus Univ elit. Jadilah masa depan mereka akan tetap miskin selamanya.

Sistem sekolah kita telah membuat orang yang terlahir dari keluarga miskin akan menjadi anak miskin seumur hidupnya berserta tujuh turunannya. Jadi inilah sejatinya kemiskinan struktural yang dibuat oleh sistem pendidikan kita. Kemiskinan yang merupakan kutukan karena bagusnya fasilitas pendidikan di sekolah justru malah diperuntukkan pada orang kaya dan berada.

Ijinkan saya bercerita sedikit tentang sebuah sekolah dasar dan menengah di tepat jantung kota Harburg (selevel Kotamadya) bagian dari negara kota Hamburg. Nama sekolah itu adalah Maretstraße-Schule
(lihat link gambarnya: http://www.abus.com/var/ezflow_site/storage/images/media/images/schule_maretstrasse/344127-1-ger-DE/schule_maretstrasse_slide.jpg).

Ini beberapa contoh kecil yang menarik untuk tahu dalamnya:
1. Bangunan dari Gedung Sekolah Maretstraße itu tidak kalah bagusnya dengan Gedung MM UGM yang begitu mewah menonjol di lingkungan Kampus UGM.

2. Mereka punya berbagai Program pengembangan anak yang benar-benar disubsidi oleh Pemerintah Hamburg dengan nama “Feuer Vogel” atau “Burung Api” yang prinsipnya akan mencerdesakan anak didiknya menjadi tangguh bahkan tidak cuma anak didik, para orang Ibu dari murid yang imigran dikursuskan B. Jerman secara gratis. Jadi, tidak cuma anaknya yang dididik, Ibunya pun didik oleh sekolah :)

Kursus musik di sekolah ini gratis dimana klo mau ambil kursus gitar misalkan, tersedia gitar yang banyak berlebihan dan dipinjamin boleh bawa pulang selama sang murid ambil kursus gitar. Begitu juga dengan kursus-2 musik lainnya.

3. Murid di kelasnya cuma 15 orang dan per kelas diajar oleh 2 guru yang siap selalu membantu murid-muridnya. Bayangkan murid cuma 15 orang dibimbing 2 guru :)

4. Muridnya sekolah sampai sore dan itu gratis kecuali cuma bayar uang makan siang yang amat murah sekali cuma 1 Euro per hari dengan porsi enak dan boleh nambah bagi anak kita (untuk cacatan jika anda makan Kebab Turki paling tidak anda harus rogoh kocek 3,5 Euro). Itu pun kalau dari keluarga tidak mampu digratiskan untuk bayar uang makan siang.

Ini sebuah fasilitas yang luar biasa yang hanya bisa diimbangi oleh sekolah amat mahal di Indonesia dan pasti dari keluarga kaya Indonesia yang bisa sekolahkan anaknya di sekolah yang fasilitasnya begitu bagus.

Tapi kelebihan Sekolah Maretstrße belum seberapa!

Yang paling ISTIMEWA adalah seluruh fasilitas tersebut diberikan pada orang MISKIN! Dikarenakan letak sekolah tersebut di tempat “kumuh” untuk ukuran kota Hamburg, maka murid-murid yang masuk sekolah tersebut adalah murid-murid dari keluarga miskin dan terbelakang menurut versi pemerintah kota Hamburg.

Pemerintah Hamburg langsung waspada! Jika fasilitas sekolahnya cuma standard sama dengan sekolah negeri lainnya maka murid di sekolah Maretstraße akan tertinggal kualitasnya dibandingkan sekolah lainnya. Jadilah oleh Pemerintah Hamburg, itu sekolah difasilitasi dengan berbagai Program agar sang murid dari keluarga terbelakang ini bisa mendapatkan kesempatan sama dengan murid lainnya.

Pemerintah Hamburg juga waspada bahwa kesuksesan murid itu amat ditentukan oleh orang tuannya terutama Ibunya. Oleh karena itu pun, Ibu dari orang tua murid difasilitasi dengan berbagai macam pendidikan dan program pengembangan diri agar si Ibu dari kalangan bawah ini juga terangkat kapasitas intelektualnya.

Aku pikir seperti itulah sistem pendidikan yang benar. Fasilitas yang bagus dan berlebihan itu seharusnya justru diberikan atau minimal dikasih akses buat masyarakat miskin untuk menikmatinya sehingga dia bisa maju dalam belajar. Bukan malah masyarakat miskin dilarang mendapatakan fasilitas sekolah yang bagus, dan justru si kaya yang menikmatinya. Kalau fasilitas bagus pendidikan hanya bisa dinikmati oleh orang kaya dan orang miskin tidak berhak menikmatinya maka ini lah yang namanya Kutukan Kemiskinan Turunan dari Sistem Pendidikan kita!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Sharing Cerita tentang Berbagi pengalaman setelah Studi di Jerman

15 Apr

Kuucapkan Selamat Berjuang buat Adik Kandung atas Amanah yang Kamu Emban sebagai Pembantu Rektor II di Perguruan Tinggi Perminyakan di Balikpapan

Ini untuk kedua kalinya kamu dipercaya mengemban amanat Pimpinan setelah sebelumnya menjadi Pembantu Rektor III.

Kuingat saat itu pertengahan tahun 2008, sesaat setelah kamu menyelesaikan Master of Business Administration in International Business dari Hochschule Bremen Jerman dan Master of Arts in Global Marketing dari Universidad de Valencia Spanyol, kamu pun bergabung di Atlantic Kempinski Hotel Hamburg. Hanya, seperti biasa kamu selalu memutuskan langkah-langkah yang amat membuatku, meskipun aku kakak kandungmu, tetap saja takjub.

Kuingat kata-katamu:
“Uda, 10 tahun sudah hidupku kuhabiskan di luar negeri. Semua belahan benua pernah aku tinggali dari Ujung Benua Amerika sampai Benua Hitam Afrika pun, sudah pernah aku bermukim disana”.

“Uda, memang begitu berat rasanya harus tinggalkan negeri Jerman yang indah ini serta pekerjaanku di Hotel terbaik di kota Hamburg ini. Bagiku, Jerman adalah negara yang paling sejahtera dari banyak negara yang pernah aku tinggali. Hamburg adalah salah satu kota terindah dan ternyaman dari berpuluhan kota dunia yang pernah aku tinggali”.

“Tinggal di Jerman adalah sebuah impian Uda. Tapi Yaya (begitu adikku kalau memanggil namanya sendiri kalau bicara denganku) memutuskan untuk tidak lanjutkan “mimpi” ini. Yaya ingin balik ke Indonesia. Memulai hidup baru dari bawah dengan berbagai kesahajaan dan tantangannya yang tidak kalah kerasnya dari pada pertarungan global brutal dan frontal di Eropa”.

“Hanya, di Indonesia itu sesungguhnya surga dakwah yang menyenangkan untuk mengisi hari-hari kita sampai umur kita berakhir. Di Jerman jika kita berkarya akan dihargai sebagai prestasi kerja belaka. Di Indonesia jika kita berkarya dengan tulus maka akan dinilai sebagai sebuah dedikasi ibadah karena itu bisa memberi manfaat pada banyak orang”.

“Uda, Yaya pulang ke Indonesia uda. Uda tetap di Jerman dulu dan pelajari sebanyak mungkin yang uda bisa raih. Setelah itu pulang Uda. Yaya, Mama dan Adik-adik pasti akan senang menyambut kepulangan uda jika saatnya uda harus pulang. Jerman yang indah ini bukan milik hati kita. Cepat atau lambat Uda harus pulang yah…”

Begitulah kira-kira ucapan dari adik kandungku yang cantik, tinggi besar ini dan selalu kukuh dengan keyakinannya.

Ah, aku masih ingat saat-saat kita bersama di Jerman meskipun penuh dengan “pertarungan visi, gagasan, ide, strategi dan prinsip” ternyata itu sesungguhnya sebuah dialektika intimasi yang amat indah.

Selamat bertugas adikku. Kita pasti sama-sama ingat bahwa berkarya di Indonesia itu sesungguhnya adalah dakwah dan ibadah!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Konflik segitia: Rusia-Eropa-AS mana teman dan mana lawan?

13 Apr

Diawali dengan hitungan NATO yang anggap Ukraina sangat strategis sehingga perlu dirangkul NATO serta masuk ke EU. NATO dan EU pun membujuk agar Ukraina meninggalkan sekutu lamanya Rusia dan beralih ke NATO dan EU.

Ukraina sendiri terpecah yang bagian Barat lebih suka ke NATO dan EU serta yang Timur lebih suka ke Rusia. Jadilah, konflik tajam dan berdarah.

Rusia seperti juga NATO memandang Ukraina adalah strategis bagi kepentingannya apalagi Ukraina sekutu lamanya yang terpenting selama ini. Jadilah, saat Ukraina rusuh maka Rusia pun mendukung Ukraina Timur dalam hal ini Crimea untuk gabung ke Rusia.

EU dan AS pun meradang karena ikut campur Rusia dalam konflik Ukraina. Lalu terjadilah saling ancam dan akhirnya saling jatuhkan sanksi dan akan meluas menjadi perang ekonomi.

Nah, di titiik perang Ekonomi inilah menjadi menarik sebenarnya siapa lawan dan siapa kawan?

Awalnya peta konfliknya adalah Rusia melawan EU dan AS. Tapi tampaknya Rusia menggunakan senjata yang justru akan membuat EU sangat mungkin malah berpaling berdekatan ke Rusia dan “tinggalkan” Amrik.

Alasan kenapa EU malah akhirnya bisa “berbalik” ke Rusia dan membangun aliansi dagang dengan Rusia semakin akrab, adalah sebagai berikut:

Pertama, alasan Fundamentalis. Secara energi EU benar-benar amat tergantung pada Rusia. Rusia bisa hentikan pasokan energinya. Jika senjata energi ini digunakan maka Jerman sang pemimpin EU akan paling terpukul karena kebutuhan energi besar dari Rusia, disisi lain Jerman sendiri punya tanggung jawab membantu negara2 EU yang belum pulih dari krisis sama sekali seperti Yunani, Portugal, termasuk Spanyol dan Italia. Saat ini Jerman berada di puncak tertinggi prestasi ekonominya sehingga dia bisa menjadi penyanggah saat EU krisis. Apa yang terjadi jika industri Jerman “ambrol” karena krisis energi akibat boikot energi dari Rusia? Ini akan membuat krisis EU masuk labirin panjang.

Tentu saja senjata energi ini juga akan memukul Rusia karena gasnya juga tidak laku terjual. Sekarang tinggal kuat2an saja apakah EU atau Rusia yang paling kuat bertahan.

Kedua, alasan Pragmatis. Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa EU bersatu dalam EURO dengan segala ongkos yang harus dibayarnya itu dengan satu tujuan nyata: Ingin mengimbangi dan mengalahkan mata uang USD dalam perdagangan internasional.

Saat ini Rusia menggunakan senjata ekonomi yaitu pembayaran tanpa USD dollar perdagangan internasional. Rusia sangat mungkin saat dagang dengan EU pakai Euro. Lha bukan kah dengan strategi ini justru Euro akhirnya menjadi mata uang terkuat di dunia dan hegemoni dunia akan dipegang Euro, bukan USD lagi.

Kalau ini terjadi, dimana mata uang Euro menggantikan USD sebagai mata uang internasional maka akan mudah bagi Bank Central Eropa lepas dari krisis EU. Bank Central EU akan lebih leluasa mencetak uang sebanyak2nya untuk bailout. Cara “dirty dan ugly” ini terbukti sukses besar dilakukan US selama ini untuk mengatasi krisis di negaranya.

Dari 2 alasan ini jika EU bisa berdamai dengan Rusia justru “Perang Ekonomi” ini malah menguntungkan posisinya mengalahkan rival ekonomi bebuyutannya yaitu US. Bagi Eropa sesungguhnya rival ekonominya bukan Rusia tapi US. Jadi, justru “perang ekonomi” ini malah membuat EU bisa membuat posisinya menguntungkan mengambil alih kepemimpinan US.

Disisi lain, jika EU tetap bersama US dan melawan Rusia maka yang terpukul adalah EU. Dalam perang ekonomi ini pukulan Rusia dengan senjata pasokan energinya memukul Eropa langsung di jantung kehidupannya. Sementara US “asyik-asyik” aja menikmati EU dan Rusia berperang paling-paling membantu EU dengan membekukan asset Rusia di Amrik. Lha bagaimana jika Rusia membalasnya dengan menasionalisasi perusahaan EU yang di Rusia? Padahal begitu banyak perusahaan Jerman dan EU beroperasi di Rusia. Apakah EU tidak semakin babak belur?

Orang Eropa juga sudah tahu bahwa yang membuat US saat ini bisa memimpin dunia sekarang ini, karena Eropa sering kali menjadi korban atas perang di benuanya sendiri. Jadi, akan kah Eropa mau “berdarah-darah” lagi dalam perang Ekonomi ini sementara US akan menikmati “keuntungan” ganda yaitu Eropa sebagai rival ekonomi-nya lumpuh, sementara Rusia sebagai rival militernya terpuruk.

Eropa pasti berhitung tidak mau ini terjadi. Masalahnya, Eropa punya dilemma moral. Mosok dia akan biarkan saja Putin berbuat sesuatu terhadap Ukrania di depan mata Eropa? Bisa remuk wajah harga diri bangsa Eropa.

Nah, jika perang ekonomi ini benar2 ingin terus dilangsungkan maka tinggal pinter-pinter Putin dan Rusia menjaga “muka bangsa Eropa”, jika Putin berhasil maka pecundang dalam perang ekonomi ini adalah US :)

Terkecuali jika ini semua cuma panggung sandiwara belaka… ah, dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah… :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Anies Baswedan!

5 Apr

153573_620

Anda adalah inspirasi bagi bangsa ini. Saya berharap SBY dan Partai Demokrat diberi hidayat besar sehingga memajukan anda menjadi calon Presiden dari Partai Demokrat, seperti Megawati dan PDIP memajukan Joko Widodo.

Ada 2 sikap anda yang saya amat hormati seperti yang terlampir dalam lampiran berita Kompas ini http://nasional.kompas.com/read/2014/04/05/1949342/Tak.Mau.Jadi.Bagian.Masalah.Anies.Tolak.Jadi.Cawapres.Prabowo,

yaitu:

1) Anda menolak secara tegas untuk bersama dengan Prabowo dikarenakan anda TIDAK mau menjadi bagian dari masalah.

Memang benar mereka-mereka yang pernah menjadi masalah dalam urusan kriminal baik tragedi kemanusiaan ataupun tragedi lumpur adalah musuh bersama bangsa ini yang tidak perlu ragu untuk menjaga jarak dengan mereka. Sikap tegas anda dalam melihat benar dan salah merupakan sebuah karakter terhormat pribadi seorang pemimpin. Pesan anda jelas buat rakyat Indonesia: “Pemimpin itu bukan bagian dari masalah, pemimpin itu harus menjadi solusi atas masalah!”

2) Anda menghormati orang-orang baik seperti Joko Widodo, sekalipun mereka adalah lawan politik anda. Respek anda tetap diberikan pada orang baik yang menjadi lawan politik anda. Ini adalah contoh politik beretika.

Bagi saya, kesemuaan ini adalah sebuah sikap politisi yang terpuji!

Harusnya Partai Demokrat paham akan hal ini. Partai Demokrat harus tidak boleh melakukan kecurangan dalam konvensi yang hanya ingin memuluskan jalan Ipar Sang Raja Partai padahal rakyat tidak menginginkan si Ipar maju. Harusnya Partai Demokrat menyadari jika Partai Demokrat memajukan anda sebagai Calon Presiden maka inilah keuntungan ganda baik bagi bangsa dan bahkan buat Partai demokrat itu sendiri:

1. Rakyat akan disuguhi “pesta demokrasi” dengan kontestan 2 Putra Terbaik Bangsa ini dimana Anies Baswedan dari Partai Demokrat dan Joko Widodo dari Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia. Inilah anugerah pilihan indah yang akan diterima oleh bangsa Indonesia: memilih pemimpi PALING BAIK dari yang TERBAIK!

2. Ini bentuk nyata itikad baik Partai Demokrat dalam mengurangi dosa besarnya yang selama ini telah mengkhianati rakyat dengan perilaku korupnya. Partai Demokrat akhirnya memberikan sesuatu yang terbaik buat Bangsa Indonesia dengan memajukan orang baik seperti Anies Baswedan untuk pemimpin bagi bangsa Indonesia.

Saatnya SBY menyadari pemerintahannya yang 5 tahun ini penuh dengan cerita gagal dan kekeliruannya, dia tutup dengan memajukan orang terbaik dan terbersih untuk menjadi Calon Presiden disiapkan “bertarung secara terhormat” melawan Joko Widodo!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Kenapa saya pilih PDIP?

5 Apr

Anies-Baswedan-Jokowi-Bima-Arya-di-Paramadina

Sahabat saya bicara pada saya seperti ini:

“Fer, yang kutahu kamu besar dari keluarga Islam Minang yang kuat, dengan tradisi politik Masyumi bahkan dalam keadaan status ayahmu PNS Pertamina di masa rejim ORBA, keluarga besarmu dan kamu pun tetap coblos Partai Kabah sebagai bentuk konsistenmu memilih Partai Islam. Di saat ditekan ORBA pun tetap Partai Islam. Lha kenapa sekarang malah pindah Partai Nasionalis?”

Jawabku:
1. Aku ingin Indonesia lebih baik. Aku pilih Jokowi, meskipun dia punya banyak kekurangan tapi saat ini dia yang terbaik dicalonkan dari calon yang ada dibandingkan Ical, Prabowo dan Wiranto.

Sesungguhnya Pilihan yang terbaik menurutku adalah Anies Baswedan. Sayang belum ada Partai yang memajukannya sementara untuk maju jadi Presiden harus diajukan Partai.

2. Aku pilih PDIP karena aku ingin PDIP bisa menang besar dalam pileg sehingga bisa mulus ajukan Jokowi serta bisa bangun pemerintahan yang kuat yang tidak terlalu banyak berkompromi dengan politisi Senayan.

Jika saja PD (Partai Demokrat) hari ini ajukan Anies Baswedan sebagai calon Presidennya maka aku pilih Partai Demokrat!

3. Dua alasan diatas adalah alasan dasar kenapa aku pilih PDIP atau malah mungkin PD jika dia mengajukan Anies Baswedan yang nota bene kedua Partai itu adalah Partai Nasionalis.

Tapi aku punya alasan tambahan kenapa pilih Partai Nasionalis saat ini, bukan Partai Islam paling tidak pada hari ini entah 5 tahun lagi, yaitu jika Partai Nasionalis itu kalau salah atau korup maka aku dan masyarakat Indonesia mudah mengkritisinya.

Jika Partai Islam yang salah, bahkan sudah jelas-jelas ketangkap tangan korupsi oleh KPK, saat aku mengkritisinya maka aku akan dijejali Ayat-Ayat Suci Al Quran yang mereka kutip seenaknya untuk membela pimpinan Partai Islam yang korup, mereka juga nuduh aku (dan masyarakat lain) yang mengkritisi perilaku korup Presiden Partainya sebagai si penyebar Ghibah bahkan tuduhan sebagai tukang fitnah lengkap dengan kutipan Ayat Quran seenaknya yang mencela aku. Begitu mudah obral Ayat-2 Suci untuk membela pimpinannya yang jelas2 tertangkap tangan korup.

Pola perilaku “primitif berpolitik” dalam obral kutip Ayat Suci semaunya untuk kepentingan membela pimpinannya yang korup ini, membuatku sadar bahwa saat ini Partai Islam terlalu sulit untuk diajak membangun pemerintahan yang akuntabilitas.

Dengan Partai Nasionalis jika mereka lalai tinggal kita kritisi dan pressure secara bersama, jika korup tinggal kita bongkar kasusnya. Kita tidak akan dapat tuduhan konspirasi Yahudi, penyebar Ghibah dan Tukang fitnah, yang mirip jaman Rejim Orba klo kita kritisi lalu dapat tuduhan simpatisan PKI/Komunis. Dengan Partai Nasionalis jika mereka salah maka rakyat bebas mengkritisinya sehingga akan semakin terbangun tradisi pemerintah yang akuntabilitas.


Ini adalah alasanku pribadi yang setiap orang bisa berbeda tapi paling tidak aku punya alasan dan pertimbangan matang saat memilih…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe di hari Pemilu di KJRI Hamburg

Kutunaikan Kewajibanku sebagai Warna Negara

2 Apr

1986464

Kutunaikan Kewajibanku sebagai Warna Negara

Indonesia tanah tumpah darahku!
Islam agamaku!
Kabah kiblatku!
PDIP pilihanku!*
Jokowi presidenku!**

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli
*coblos gambar caleg PDIP-nya
**apalagi jika Anies Baswedan wapres-nya; KECUALI jika Anies Baswedan maju, Anies lah Presidenku!

BERTAPA: Ada 100k halaman buku yang harus kutelan!

1 Apr

bukuasia

Setelah belasan tahun menjadi praktisi, kusadari saat ini aku butuh memperdalam dan mempertajam penguasaan teori.

Seorang praktisi tanpa teori maka dia akan mandeg, menjadi kelas pekerja. Dia seperti mesin tangguh yang teruji tapi kehilangan orientasi navigasi, miskin gagasan inovasi dan garing dalam visi. Business as usual menjadi hari-hari dalam hidupnya.

Seorang praktisi yang bersedia rendah hati, susah payah berjuang menelan teori-teori fundamental, hasil-hasil riset termuktahir, gagasan-gagasan inovasi akan membuatnya mampu memperluas horizon cakrawala dan membangun paradigma.

Ingatkah kita pada cerita film silat saat kanak-kanak kita dulu, dimana seorang pendekar sejati yang terbiasa bertarung di berbagai medan pertempuran pada akhirnya dia butuh bertapa sunyi untuk memperdalam kitab wasiat ilmu persilatan: Penyempurnakan spirit dari jurusnya sehingga menjadi pendekar kelas wahid!

Teori tanpa eksekusi adalah sebuah wacana belaka.
Eksekusi tanpa landasan teori adalah kerja-kerja rutin belaka.

Teori (bersatu dengan hasil riset dan pemikiran inovatif) yang disinerjikan dengan pengalaman praktis yang dimiliki akan terangkai menjadi mozaik-mozaik dedikasi yang bermuara menjadi karya MASTERPIECE.

Hidup bukan semata-mata berwacana.
Hidup bukan juga hanya bekerja.
Hidup sesungguhnya adalah menghasilkan sebuah karya nyata yang bermanfaat!

Sekarang saatnya untuk bertapa memperdalam teori agar kelak tiada lagi kerja rutin, yang ada adalah MEMBANGUN KARYA MASTERPIECE !

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 129 pengikut lainnya.