Sebenarnya sebagai Presiden terpilih dengan suara mayoritas SBY punya kesempatan besar untuk menegakkan kejujuran dan kebenaran dalam memberantas korupsi kronis di negera ini. Adalah KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) saat ini sebagai institusi terdepan dalam pemberantasan korupsi. Selama ini prestasi KPK adalah nyata dalam pemberantasan korupsi. Apabila SBY terus mendukung eksistensi dari KPK maka kemajuan pemberantasan korupsi akan memberikan dampak yang baik bagi bangsa Indonesia. Negeri yang berkubang korupsi ini akan mucul menjadi wajah yang lebih jernih dan bersih.

Hanya sayangnya, alih-2 SBY mendukung eksistensi KPK yang terjadi justru sikapnya sampai saat ini malah anomali. SBY membiarkan Polri dan juga Kejaksaan Agung mengkebiri KPK. Pimpinan KPK ditahan Polri untuk sebuah alasan yang tidak pernah bisa dijelaskan bahkan oleh Polri sendiri. Ini jelas bentuk kesewenang-wenangan Polri. Ini bentuk hukum rimba dari penguasa. Hanya saja, atas kesewenang-wenangan kekusaan ini, SBY bukannya segera bertindak untuk mencegahnya malah mendiamkan, menutup mata dan telinga.

Penangkapan para pimpinan KPK yang nota bene garda terdepan pemberantasan korupsi ini justru memberikan indikasi nyata matinya nurani di negara kita. Penangkapan KPK ini juga seperti „ancaman“ langsung kepada BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang saat ini sedang mengaudit adanya kemungkinan penyalahgunaan dana 7 Trilyun Bank Century. Pesannya jelas, jika BPK berani macam-macam maka akan ditangkap seperti KPK. Jika BPK berani mengeluarkan hasil audit yang „tidak menguntungkan“ penguasa maka akan di-KPK-kan! Sangat mungkin kejadian KPK ini dijadikan intimidasi psikologis pada siapapun yang berani melawan korupsi. Ini jelas merupakan kematian hati nurani dan kejujuran pada bangsa ini.

Dalam kondisi ini maka dimungkinkan ada dua skenario yang bisa berjalan yang menarik dicermati untuk dianalisa:

Skenario pertama, Polri berhasil dengan teknik kesewenang-wenangannya. Pimpinan KPK tetap di Penjara. Pihak lain seperti BPK menjadi tertekan dan terancam melihat dipenjaranya para pimpinan KPK. Ini menjadi intimidasi nyata bahwa mereka (BPK atau lainnya) pun bisa di-KPK-kan (di penjara) oleh Polri untuk sebuah alasan yang tidak ada alasannya. Akibatnya, semua komponen bangsa takut melawan korupsi dan akhirnya korupsi berjalan normal tanpa hambatan sama sekali. Benarkah ini yang diinginkan SBY?

Skenario kedua, masyarakat melawan tindakan kesewenangan ini. Biasanya para mahasiswalah yang berada pada garda terdepan. Sangat dimungkinkan kejadian penguasaan Gedung DPR oleh mahasiswa terulang lagi. Apabila BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) seluruh Indonesia bersatu dan berkumpul di Trunojoyo dan mengepung MABES Polri memprotes kesewenang-wenangan maka akan terjadi nurani idialisme Mahasiswa yang membela KPK akan berhadapan dengan kesewenang-2an Polri. Ini bisa menjadi bola liar buat Polri dan pemerintah SBY jika tidak cepat diselesaikan secara bijak.

Sangat dimungkinkan akan berkembang pada terjadinya pembangkangan sipil terhadap institusi Polri sebagai bentuk solidaritas memperjuangkan nurani. Akibatnya, masyarakat tidak tunduk lagi pada Polri. Mereka tidak ikuti aturan Polri lagi. Mereka tidak menghormati Polri sebagai institusi hukum. Akibatnya bisa fatal. Bisa terjadi kekacauan hukum di Indonesia. Skenario kemungkinan terjadinya pembangkangan sipil jangan dianggap sepele. Dalam banyak kasus di banyak negara, kekuasaan yang didemostrasikan secara sewenang-wenang bisa membuat masyarakat menjadi tergerak untuk melawannya secara bersama-sama. Ini juga bisa mengancam kelangsungan pemerintahan SBY dan berarti kerugian bagi seluruh bangsa Indonesia. Apakah seperti inikah yang diinginkan SBY?

Berangkat dari kekhawatiran itulah maka sebaiknya SBY segera bersikap. SBY harus berpihak pada nurani dan kebenaran. SBY adalah presiden pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Terpilihnya SBY jelas sebagai wujud cintanya masyarakat pada SBY. Jika SBY menunjukkan pada masyarakat bahwa SBY berpihak pada nurani maka masyarakat yang telah memilih SBY beberapa waktu lalu akan lega dan bahagia. Mereka tidak salah memilih…

Tapi jika SBY tetap diam dan membiarkan kesewenangan ini terjadi maka orang tua kita sering memberi nasehat: ”Gusti Allah itu boten sare…”

Dari tepian lembah Sungai Isar

—Ini coretan iseng berseri. Untuk seri-1-nya silahkan klik: http://ferizalramli.wordpress.com/2009/01/10/pertarungan-gigant-sap-oracle-benturan-antara-aji-pamungkas-inovasi-versus-racun-pamungkas-akusisi/

Pertarungan Standard Software SAP lawan Oracle tampaknya akan menjadi pertarungan abadi waktu lama. Ini seperti pertarungan Airbus versus Boeing atau Euro versus US Dollar. Sejarah nanti akan mencatat siapakah sebenarnya akan menjadi jawara sejati dalam perseteruan di tanah perdikan standard software ini. Hanya yang menarik untuk dicatat adalah, kedua jawara ini menggunakan strategi pertarungannya amat sangat berbeda. Jurus-2 yang dikeluarkan oleh SAP bertolakbelakang dengan yang digunakan oleh Oracle.

SAP mengandalkan kekuatan ginkang-nya untuk membuat magic yang akhirnya dikenal dengan NetWeaver. Layaknya konsep sihir, NetWeaver telah berhasil menyihir lawan-2nya dan juga para stakeholder akan pesona integrasi dari platform teknologi. Tapi apa sih sebenarnya NetWeaver itu?

NetWeaver itu adalah konsep visioner SAP yang tujuannya mengintegrasikan seluruh aspek yang terkait dalam IT, yaitu: manusia, informasi, proses dan aplikasi teknolgi ke dalam sebuah platform. Diharapkan dengan NetWaever maka inovasi SAP tidak akan terhenti.

Filosofis kerja dari platform NetWeaver itu begini: Jika SAP mengembangkan aplikasi baru untuk memenuhi dinamika bisnis maka aplikasi tsb akan dibangun di atas basis platform NetWeaver. Terus, setiap ada inovasi penemuan baru semua itu kembali dibangun di atas platform NetWeaver. Jadi, NetWeaver itu ibarat sebuah orkestra yang mensinerjikan keempat aspek IT diatas dan merupakan hasil inovasi terus-menerus sehingga menghasilkan tools komplit terintegrasi untuk menyelesaikan semua persoalan IT yang berhubungan dengan bisnis.

Granted! Excellent! Dari definisi-nya saja NetWeaver itu ibarat magic yang menyihir kita semua. Bayangkan jika seorang konsultan IT presentasi di depan para customer-nya tentang NetWeaver dengan bahasa “ndaki-ndaki” seperti itu, apa ndak tersihir itu para customer? :)

Tapi sebelum kita membahas secara detail apa itu NetWeaver, saya harap anda semua tidak perlu ragu akan kedahsyatan dari konsep ini. Kharisma dari NetWeaver membuat para pesaing SAP juga tidak mau kalah untuk mencontohnya. Tercatat IBM mengembangkan platform IBM WebSphere dan Microsoft mengembangkan platform Microsoft .Net untuk mengimbangi NetWeaver.

Jadi. meskipun desain metode diantara mereka (NetWeaver, WebSphere dan .Net) berbeda sesuai karakteristik keunggulan masing-2 software provider tetapi filosofisnya sama. Mereka ingin membangun platform IT ter-integrasi untuk berbagai aplikasi.

Hanya tampaknya teknik magic SAP ini “tidak” diikuti oleh lawannya Oracle. Untuk melawan magic SAP, Oracle menggunakan jurus lamanya yaitu aji pamungkas racun akusisi. Setelah berhasil mengakusisi secara spektakuler JD Edward, Siebel dan Peoplesoft, kembali Oracle juga mengakusisi SUN Microsystem. Ini berarti Oracle berhasil mengkombinasikan kekuatannya menjadi satu. Oracle kuat di database. JD Edward di Financial Application. Siebel di Logistics application. Peoplesoft di Human Resources Application. Plus SUN di operation system.

Sihir Inovasi versus Racun Akusisi

Sebenarnya dalam Kitab Persilatan yang tertulis dalam Serat “Corporate Strategy”, ada 2 strategi terkenal untuk memenangkan kompetisi yaitu ekspansi internal dan ekspansi eksternal.

Contoh gampangnya ekspansi internal itu adalah dengan mengembangkan produk baru yang lebih inovatif, bisa juga dengan perluasan pasar baru. Pengembangan produk baru dan perluasan pasar ini didasarkan pada kemampuan internal perusahaan. Jadi, seluruh SDM perusahaan, hasil riset, penemuan, pembuatan networking baru semuanya harus dilakukan secara parallel sehingga perusahaan bisa melakukan ekspansi internal.

Pembuatan platform teknologi visioner NetWeaver dari SAP adalah contoh dari pengembangan produk baru dalam perspektif strategi ekspansi internal. Kelemahan dari strategi ini adalah progress-nya relative lambat tapi keunggulannya adalah terbangun sebuah sistem bisnis yang solid.

Sementara ekspansi eksternal dilakukan dengan cara mengakusisi competitor-nya atau bisa juga mengakusisi supplier (upstream) atau distributor-nya (downstream) yang nota bene adalah partner bisnisnya. Tujuannya sama dengan ekspansi internal, yaitu bisa menghasilkan produk berkualitas dan menguasai pasar yang selama ini dikuasai oleh perusahaan yang diakusisi. Ekspansi eksternal itu relatif mudah. Asal punya uang maka beli saja competitor, supplier (upstream) atau distributor (downstream) yang dibutuhkan.

Contoh kasus Oracle:
Oracle mengakusisi JD Edward, Siebel dan Peoplesoft berarti mengakusisi kompetitornya yang diharapkan secara otomatis customer ketiga ERP tersebut menjadi customer Oracle. Ini berarti Oracle bertujuan ingin mengembangkan pangsa pasarnya.
Oracle mengakusisi SUN (upstream-nya) tampaknya ingin mengintegrasikan antara aplikasi database Oracle dengan system operasi SUN. Ini berarti Oracle bertujuan ingin meningkatkan performa dari product-nya.

Keunggulan dari strategi ekspansi eksternal ini adalah asal punya uang maka mudah dilakukan. Tinggal beli saja (baca: akusisi) perusahaan yang menguntungkan untuk diakusisi. Gampangkan?

Hanya tentu saja ini mengandung kelemahan. Ternyata menyatukan dua atau lebih perusahaan yang punya budaya dan tradisi berbeda itu tidak semudah menempelnya “lalat dengan borok”, yang keduanya diciptakan untuk saling mencintai. Dalam akusisi tidak jarang yang terjadi malah kesemerawutan organisasi perusahaan yang malah menyebabkan kemunduran.

Yang perlu di-stabilo adalah tidak ada perusahaan yang semata-mata menggunakan strategi ekspansi internal saja atau strategi ekspansi eksternal saja. Umumnya perusahaan menggunakan kombinasi keduanya. Hanya persoalan pada proporsinya saja. Ada yang lebih menitikberatkan pada ekspansi internal dan ada juga yang sebaliknya.

—Kita lanjutkan kapan-2 tentang anatomi SAP NetWeaver lebih detail lagi—

Fortsetzung folgt alias to be continued alias bersambung…
(Tulisan ini terinspirasi cerita Silat Pedang Nagasasra dan Sabukinten karya SH Mintaredja)

Dari awal Musim Gugur di Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Catatan Pengatar:

Diskursus ini adalah penggugatan terhadap pola doktrinasi dan pembodohan (klo sahabat saya menyebut-nya kekacauan berpikir) dari Harun Yahya tentu saja termasuk kehidupannya yang kontroversial terlibat skandal: pemerasan, narkoba dan sex. Tulisan ini mendapatkan tanggapan serius dari Bung Syailendra Yunus dan dari Bung Nasirin Achlan (sayang Bung Nasirin ini lebih suka bicara ke-Araf-Arafan dalam diskusi dari pfada B. Indonesia).

http://www.facebook.com/video/video.php?v=1161646475477&ref=mf
http://www.facebook.com/video/video.php?v=1161646475477&ref=share

(Ferizal Ramli):
Gaya Harun Yayah itu sama. Dimulai dengan kajian-2 yang terlihat ilmiah nanti akhirnya akan meloncat pada kesimpulan yang “ajaib”.

Dalam video ini juga anda akan tahu bagaimana awalnya anda di-”doktrin” dengan visual-2 menarik dengan pesan jelas bahwa semuanya diluar tubuh anda adalah persepsi. Lalu muncul kata pamungkas khas Harun Yahya: yang sejati adalah Ruh!

Dari mana Harun Yahya bisa tahu ada Ruh (soul) dalam manusia? Lihat saja film itu kembali dari mana kata Ruh itu datang sebagai kesimpulannya? Tidak ada satupun ilmuwan yang dikutip oleh Harun Yahya dalam film itu menyebutnya kata ruh!

Jika Harun Yahya mau menampilkan kesimpulan akhirnya adalah ruh maka dia harus dari awal mempresentasikanm hasil penemuan saintifiknya tentang ruh. Jelas Harun Yahya tidak punya penjelasan kecuali sepanjang film itu dia cuma bercerita tentang persepsi otak.

Harun Yahya BELUM pernah menghasilkan penemuan apapun. Apa penemuan Harun Yahya sebagai ilmuwan buat umat manusia? Saya belum pernah dengar Harun Yahya sebagai penemu.

Yang saya pernah dengar, Harun Yahya terlibat skandal narkoba, skandal sex dan berbagai skandal lainnya. Catatan kriminal Harun Yahya sama sekali tidak memancarkan moral Islam.

Maaf sekali saya sama sekali bukan penggemar Harun Yahya… :)

Salam,

FR

XXX

(Syailendra Yunus)
@ Bung Rizal: Yang menarik dari komentar bapak menurut saya justru ada pada bagian akhir, yaitu tentang “catatan kriminal” HY yang dikatakan oleh bung rizal tidak “memancarkan moral islam”…

Nah, atas dasar penilaian tersebut saya jadi berfikir, catatan apa yang harus saya buat untuk menilai “keislaman” bung rizal sehubungan dengan komentar yang diberikan?

Bung Rizal… Kesimpulan yang diambil HY itu tidak meloncat karena sebelum mengambil kesimpulan, HY sudah memaparkan fenomena mimpi yang terjadi saat manusia tidur…

Sebagian besar masyarakat barat (termasuk bung rizal ?), memang tidak percaya akan adanya ruh. Dzat yang keberadaannya justru menjadi sebab-sebab kemuliaan bagi manusia.

Keberadaan dzat itulah yang menyebabkan mengapa Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada manusia sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.

Tanpa ruh, tidaklah mungkin Allah memerintahkan malaikat-Nya bersujud kepada “jasad” yang berwujud manusia, yang Allah ciptakan.

Ilmu, itulah menjadi sebab-sebab “kemulian” manusia… Tanpa ruh, jasad yang berwujud manusia tidak akan pernah memiliki ilmu. Mengapa? Karena jasad tersebut tidak bisa berinteraksi secara mandiri dengan jasad-jasad lain di luarnya…

Ruh-lah yang menyebabkan mengapa jasad yang berwujud manusia dapat berinteraksi dengan dunia di luarnya, melalui pendengaran, penglihatan dan hatinya (lihat QS. 32:9)… Terbentuknya persepsi manusia tentang dunia di luar dirinya berawal dari sini…

Nah, berawal dari mengimani QS. 32:9, kesimpulan “ajaib” bisa diambil oleh HY… Kesimpulan tersebut selamanya akan tetap menjadi “barang ajaib” bagi orang di dalam hatinya tidak mengimani ayat-ayat Allah…

Itulah sedikit catatan yang bisa saya berikan agar menjadi bahan renungan bagi kita semua…

XXX

(Ferizal Ramli)
@Bung Syailendra: saya ndak punya persoalan dengan keberadaan ruh. Saya mengimaninya. Saya percaya Al Qur’an. Jadi, TIDA ADA hubungannya antara ketidakpercayaan saya pada Harun Yahya itu sama dengan Al Qur’an. Kutipan Kang Syailendra tentang Al Qur’an tidak relevan dengan kritikan saya terhadap pola pikir Harun Yahya. Itu dua masalah yang sama sekali berbeda.

Saya cuma mengatakan bahwa Video Harun Yahya diatas tidak mendidik. Itu proses doktrinasi pembodohan. Seperti paparan argumentasi saya diatas: Harun Yahya tidak punya konsep apapun tentang ruh.

Dalam video diatas Harun Yahya cuma bicara tentang konteks persepsi akibat kerja panca indera dan otak. Harun Yahya sama sekali tidak tahu apa-2 tentang Ruh. Cuma satu kalimat terakhir dalam video: “inilah kerja ruh”. Bagi saya, itu terdengar “ini lah doktrin khas Harun Yahya”…. Read more

Saya pikir apa yang dilakukan Harun Yahya pembodohan. Sekali lagi, Saya tidak menolak keberadaan ruh. Yang saya tolak, cara Harun Yayah mendoktrin. JIka HR mau bicara ruh maka dia harus menjelaskan kertas kerja penemuannya tentang konsep ruh. Bukan kutip-2 konsep barat tentang IPTEK kerja otak dan panca indera, atau terkadang kutip-2 film-2 BBC, lalu dibuat narasi sesuai kegemaran Harun Yahya sendiri.

Ngomong-2 apa sih hasil penemuan dari Harun Yahya sehingga dia merasa kredibel bicara tentang sains?

Klo Bung Syailendra meragukan ke-Islaman saya hanya karena saya meragukan moral Harun Yahya yah silahkan. Tapi saya meragukan moral Harun Yahya dengan indikator jelas, Harun Yahya tercatat terkena berkali-2 skandal, yaitu skandal narkoba, sex termasuk pemerasan. Silahkan ikuti saja berbagai cerita skandal Harun Yahya tentang hal itu. Itu fakta nyata kok…

XXX

(Ferizal Ramli)
@ Kang Syailendra: sekali lagi, TIDAK ADA statement saya yang menolak Ruh. Saya menolak pola doktrin pembodohan Harun Yahya. Tolong dibaca lagi tulisan saya :)

Harun Yahya bukan saintis. Apa karya penemuannya? Apa keahlian Harun Yahya sehingga dia merasa bisa komentar apapun dari mulai teori Evolusi, genetika, bio teknolgi, alam semesta sampai pada teori otak, dsb?

Hanya Dhukun yang merasa bisa berbicara tentang semua hal. Ilmuwan hanya bisa bicara pada bidang yang dikuasainya saja :)

Salam,

FR

XXX

(Nasirin Achlan):
Wa yas-aluunaka ‘anir ruuhi, qulir ruuhu min amri robbiy, wa maaaa uutiytum minal ‘ilmiy illa qoliylaa. Al Isro ayat 85

XXX

(Ferizal Ramli):
Betul Al Isro ayat 85. Lantas atas dasar apa Harun Yahya bisa menghubungkan fenomena mimpi, persepsi kerja otak dan panca indera dengan ruh? Sudah jelas ruh itu adalah rahasia Allah SWT. Berarti konsep ruh itu adalah iman atau tidak iman. Titik!

Lah kok Harun Yahya malah buat spekulasi macem-2 atas nama sains?

XXX

(Nasirin Achlan):
Barangkali..kalaupun ada spekulasi ya ‘qolil’ hanya sampai tingkat dhon saja, tidak mencapai kebenaran, celakanya : Inna ba’dho dhonni ismun, spekulasi itu boleh jadi masuk dalam kedosaan, ayo kita cari tema lain Bapak2..Mohon maaf, Wassalam-kang nasir

XXX

(Eko Frimarsanto Mulyo):

sudahlah , itu khan ijtihad versi Harun Yahya, sebaiknya menjadi pemancing bagi kita untuk berijtihad juga menangkap fenomena disekitar kita, sangat mungkin dengan cara yang lebih baik, hasil studi kita bisa lebih baik dari Harun Yahya apalgi jika dilakukan oleh mereka yang mempunyai kredibilitas yang tinggi dibidang sains…

Terkadang juga butuh berabad-abad untuk memahami bahkan hanya satu ayat dalam Al Qur’an, contoh surah Az-Zariyat ayat 1 ; (tafsir versi Depag) Demi angin yang menerbangkan debu… para pakar sains saat ini mulai memahami tafsir debu tadi sebagai yang halus dari yang halus, zat yang bahkan lebih halus dari atom.., partikel terhalus ini mempunyai peran penting dalam gravitasi dan lain-lain…ini saya dapat saat mendengarkan khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB, kebetulan yang memberi khutbah seorang dosen ITB,menurut paparan beliau, pemaknaan tafsir yang terbatas seperti debu tadi membuat kemajuan sains di dunia Islam saat ini agak mundur, dibanding para saintis Islam berbad yang lalu, yang menjadi pionir dibidang optk, astronomi, kimia dan geometri serta aljabar… karena mereka memikirkan dengan serius apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al Qur’an…

Negeri kita butuh lebih banyak mereka yang mau mengkaji serius ayat-ayat Allah , lihatlah betapa banyak kerusakan di negeri kita karena saling beradu nalar dan logika…Satukan pengetahuan dan energi kita untuk kemajuan ummat….

XXX

(Nasirin Achlan):
Alhamdulillah…Allah Maha Agung dan Maha Mulia, kita syukuri karunia berbangsa satu bangsa Indonesia, Bapak2 kita di sana lagi menggodok calon2 Menteri, mudah2 an Ulul Amri kita sholeh2 supaya bersinergi dgn ulama lebih mudah, kiranya jika negeri ini dikendaki baik oleh Allah maka kita akan diberi-Nya Ulul Amri yg amanah, bekerja dg baik dan semangat. Amin

XXX

(Gatut Heru Susanto)
Saya setuju dengan pendapat dan cara berpikir Bung Ferizal Ramli. Video ini adalah doktrinasi pembodohan dan sangat dangkal.

XXX

(Ferizal Ramli)
@Kang Eko: sampeyan sebagai seorang yang punya tradisi sains dari salah satu Institusi terbaik di Indonesia, bolehkah saya mengajukan tanya pada sampeyan:

Apa yang membuat anda tidak perlu memberikan catatan kritis tentang Harun Yahya?

Alasan Pertama:
Apakah premis-2 Harun Yahya dalam Video tsb memenuhi kaidah silogismen sehingga ini cuma persaoalan perbedaan pola pandang saja dalam ijtihad, makanya ndak perlu dikritisi? Benarkah video Harun Yahya memenuhi struktur silogisme menurut anda? Benarkan presmis-2 dalam video itu sesuai konsisten dengan kesimpulan yang ditampilkan? Benarkah tidak ada loncatan logika ajaib dari video itu?

atau

Alasan Kedua:
Apakah karena Harun Yahya begitu genjar pake back-up argumentasi: “ini Qur’an lho, klo anda tidak setuju dengan saya (baca tidak setuju dengan Harun Yahya) maka anda berarti tidak setuju dengan Al Qur’an!”

Kang Eko, saya khawatir keseganan anda untuk mengkritis pembodohan besar-2 an yang dangkal (kata “dangkal” ini saya pinjam dari Kang Gatut) dari Harun Yahya itu karena takut dituduh orang anda telah menentang Al Qur’an. Itu kekhawatiran saya pada sampeyan :)

Jika alasan yang kedua ini yang sampeyan gunakan untuk tidak mengkritisi Harun Yahya maka saya mengucapkan selamat buat Harun Yahya yang telah sukses melakukan proses pembodohan besar-2 buat umat Islam.

Salam hangat dan Salam kenal buat anda Kang Eko.

Ferizal Ramli

XXX

(Eko Frimarsanto Mulyo):

saya tidak dalam kapasitas yang mumpuni untuk mengkritisi pendapat beliau secara lebih mendalam, riset beliau sama sekali bukan bidang saya.bahkan (maaf) bahasa ilmiah tingkat tinggi yang mas Ferizal gunakan pun ada yang belum saya pahami ..apalagi memahami secara utuh logika cara berpikirnya Harun Yahya…

bagi saya karya Harun Yahya itu harus dikritisi oleh mereka yang benar-benar serius menekuni bidang ini….memiliki pengetahuan mendalam dibidang ini,

saya sama sekali tidak akan keberatan dianggap takut dianggap menentang Al-Qur’an atau belum memahami Al-Qur’an …,namun saya juga tidak akan serta merta mengikuti pendapat mereka yang membawa – bawa Al Qur’an , jika dari pengetahuan yang saya miliki , saya anggap ada yang salah …
karena bagi saya , untuk belajar memahami Al-Qur’an kita harus membuka hati kita selain nalar kita….

Lebih baik kita gunakan energi dan pengatahuan kita untuk kemajuan ummat negeri kita, …

XXX

(Ferizal Ramli)
@Kang Eko: I got your point. Saya ambil hikmahnya dari opini sampeyan. Terima kasih.

XXX

(Eko Frimarsanto Mulyo):
sama-sama mas Ferizal, maaf jika masih banyak keterbatasan pengetahuan saya untuk memberi komen yang memuaskan atas pertanyaan mas Ferizal…

XXX

(Syailendra Yunus):
@ Bung Rizal: Tentang ruh Allah mengatakan demikian: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi “pengetahuan” melainkan sedikit” (QS. 17:85).

Pengetahuan yang ”sedikit” itu tidak akan diperoleh bila ayat-ayat Allah (ayat tertulis dan ayat tidak tertulis), tidak di baca dan dipahami secara terintegrasi.

Ayat tertulis adalah teks yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat-ayat tidak tertulis adalah segala sesuatu yang dikatakan dalam teks tersebut yang menempati sistem ruang dan waktu.

Gerak, sikap, ucapan dan perbuatan Nabi saat merespon petunjuk, himbauan, perintah dan larangan Allah, itu juga termasuk ayat tidak tertulis…

Konsep dasar tentang sistem ruang dan waktu juga harus dipahami dengan cara yang sama agar ”pengetahuan” yang terbentuk bisa berjalan konsisten.

Semua tuntutan di atas harus dipenuhi bila tidak maka pengetahuan yang terbentuk dalam diri seseorang tidak akan berjalan konsisten dengan Iman yang sudah diikrarkannya… Terbentuknya paham sekular dikalangan orang-orang yang mengaku beriman, itu berawal dari sini…

Bung Rizal. Untuk memahami keberadaan ruh, yang anda imani itu… maka seluruh ayat-ayat Allah yang terkait baik tertulis (di dalam Al-Qur’an) maupun tidak tertulis (yang menempati ruang waktu), itu harus anda pahami secara terintegrasi.

QS. 17:85 , 32:9, adalah contoh dari sekian banyak ayat-ayat tertulis yang terkait dengan ruh…. dan fenomena seperti: tidur, mimpi, mati, mendengar, melihat, merasakan dsb… adalah sebagian dari ayat-ayat tidak tertulis yang terkait dengan kerja ruh… ini harus dipahami secara terintegrasi..

Konsep tentang materi (obyek), ini juga harus dipahami secara terintegrasi, agar manusia tidak tertipu, menganggap semua yang tampak sebagai hakekat (mutlak)…. Satu anggapan yang sangat bodoh, bila dilihat kacamata sains maupun Al-Qur’an…

Tidak ada satupun sainstis yang hidup setelah perioda Isaac Newton (1678), bisa ”memastikan” hakekat wujud materi (obyek). Mereka semua sudah sepakat bahwa seluruh obyek materi (yang tampak oleh manusia), itu memiliki sifat dualisme, disatu sisi sebagai ”gelombang” namun disi lain sebagai”partikel”, meskipun fenomena ini hanya dapat terdeteksi dalam skala atom.

Sifat dualisme dari semua obyek yang tampak, itulah akan mengaburkan pandangan manusia terhadap hakekat obyek. Manusia dengan persepsinya tidak akan bisa memastikan apa, mengapa dan bagaimana sebenarnya hakekat di balik wujud yang memperdengarkan suara, menampakan rupa, memberikan rasa kepadanya…. Nah, disinilah ayat-ayat Allah (tertulis dan tidak tertulis) itu berfungsi mengarahkan “persepsi” manusia, agar mereka tidak tertipu.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)”.

Bung Rizal… Sebagai orang yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, seharusnya anda tidak terburu-buru mengatakan bahwa HY melakukan pembodohan… Sudahkah pengetahuan yang anda miliki itu dibangun sesuai dengan kriteria yang telah saya sebut di atas? Kalau belum, berarti anda sendirilah yang sebenarnya (ma’af) tengah melakukan pembodohan tersebut, tapi anda tidak sadar…

Bung Rizal, anda sudah saya tag di tiga catatan saya di bawah ini… saya tunggu komentar anda.

http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=141773048234

http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=145393958234

http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=145007858234

Terimakasih…

XXX

(Ferizal Ramli):
Bung Syailendra: kesalahan terbesar anda adalah menganggap bahwa HY adalah “wakil” Tuhan dan apa yang dikatakan benar. Akibatnya, anda bermain dengan kata “sedikit ilmu yang diberikan Allah tentang ruh”. Itu jadi justifikasi pembelaan anda.

Baca tulisan saya, mana yang terrburu-2 menyimpulakan HY. Aalasn yang saya kemukakan jelas kok. Ini saya ulangi lagi:

Pertama, HY itu cuma seniman, ahli buat film. Latar Belakang Akademisnya adalah sutradara. Dia tidak pernah terlibat dalam kegiatan sainstis sama sekali.

Apa lab yang dimilikinya? dia bicara tentang genetika sel misalkan kapan dia terlibat dalam penelitian DNA?
Dia bicara tentang Alam semesta, kapan dia terlibat dalam penelitian tahuan di depan teleskop raksasa untuk menghasilkan kesimpulan?

Prof. DR. T. Jakob, ahli evolusi, dia yang terlibat polekmik dengan ilmuwan Barat tentang teori evolusi, blio menghabiskan seluruh hidupnya untuk meneliti mata rantai evolusi. Nah, pendapat blio tentang evolusi yah saya dengar.

Klo HY? kapan belajar dan meneliti tentang evolusi? Beritahu saya Kang Syailendra penemuan apa yang dihasilkan oleh HY tentang mata rantai evolusi? Penemuan apa? Hanya orang bodoh yang mau denger pendapat HY tantang evolusi.

HY itu tidak pernah terlibat kegiatan sains, HY itu seniman pembuat film. Silahkan lihat latar belakang hidupnya. Klo ilustrasi di Indonesia dia bukan sekolah di MIPA ITB atau UGM atau UI. Dia lulusan Institut Seni Indonesia.

Kedua, HY tidak menghasilkan penemuan apapun. Mana penemuan HY? Sebutkan? Yang dilakukan HY cuma kutap-kutip pendapat Barat, lalu di-paskan dengan ayat Al Qur’an sesuai kegemaran pribadi.

Bung Syailendra, jawab pertanyaan saya: apa penemuan HY sehingga anda yakin HY adalah seorang ilmuwan? 100% saya aykin anda ndak punya jawaban. Tapi 100% saya yakin adan tetap bersiteguh HY adalah seorang ilmuwan.

Bahkan untuk melakukan hal mem-pas-2-kan antara fenomena alam dengan makna ayat Al Qur’an, seseorang harus memenuhi sebuah kualifikasi yaitu: ahli tafsir! HY bukan lah ahli tafsir. Jadinya, saat mem-pas-kan fenomena alam dengan ayat Qur’an, HY itu pake kaca mata kuda tentang teks, karena dia bukan ahli tafsir.

Ketiga, tidak ada ilmuwan yang bisa bicara semua hal, dari mulai teori Evolusi, genetika, alam semesta, konsepsi otak, bio science, dsb, dsb. Hanya Dhukun yang bisa membual semua hal. Saintis hanya bisa 1 hal saja yang dia tekuni seumur hidupnya.

Saya punya sahabat saintis, anda bisa lihat di list FB saya, namanya Johny Setiawan, Direktur Astronomi Marx Planc Institut di Jerman. Dia adalah penemu planet Baru di Galaksi kita. Jika ada bicara dengan dia maka anda akan dapat ilmu banyaK, tapi cuma tentang astronomi. Di luar itu, dia akan bilang saya tidak menguasai.

Sahabat saya yang lain, A. Rusdy salah satu Professor termuda di Nanyang Inst of Tech. Dia ahli Fisika materi. Dia cuma tertawa saat saya tanya konsep materi-nya HY yang begitu dikagumi Kang Syailendra. Jawab dia sama dengan yang saya, hanya Dhukun yang merasa mengerti banyak hal.

Keempat, mbok Yao, lihat dong Video-nya kembali dengan jujur. Dimana logika ruh-nya? lha wong dia cuma kutap-kutip pendapat Barat kok. Lantas tiba-2 lari ke ruh???

Itu spekulasi. Cuma karena bawa-2 nama Al Qur’an saja, jadinya anda semua teriak: Subhanallah!
(Nyuwun sewu) Apanya yang Subhanallah? lha wong HY itu ngawur kok saat buat kesimpulan. Kesimpulan itu ndak nyambung. Klo pake metodologi berpikirnya HY, orang bisa kasih kesimpulan apapun disana sesuai dengan kesukaannya…

Klo Ki Gendeng Pamunkas akan jawab itu Wewe Gombel, bukan ruh!
Klo si Nietzsche tokoh besar eksistensialis akan dengan selorah bilang itu adalah kobodohan, bukan ruh
Klo si Marx akan bilang itu komunis, bukan ruh

Logika yang muncul dalam video tsb antara premis dengan kesimpulan ndak nyambung! Yang membuat anda melihat video itu ilmiah karena anda sudah diberi tahu Al Qur’an bahwa ada ruh di dalam tubuh anda.

Jadi, meskipun video itu ngawur maka anda bersetuju dengan kesimpulan HY. Saya tidak menolak ruh, tapi cara pikir ngawur dari HY ini menggiring kita menjadi FATALIS bodoh.

Kelima, HY itu pribadi yang terlibat skandal baik Sex (klo Kang Syailendra ndak paham arti Sex maka saya tulis gede-2: ZINAH), narkoba dan pemerasan. Lihat dong cerita skandalnya HY. Mosok anda menutup mata tentang hal ini?

Salam,

FR

XXX

(Abu Abela):
…..Seru…. tapi maaf saya sekedar menyimak “akan kemana semua ini”…….. ilalloh au ila syai in aakhor……

XXX

(Nasirin Achlan):
Ana muwafiq ‘ala ro’yika Akhi Abu..saya juga menyimak, cuma lama2 saya ga paham….

XXX

(Ferizal Ramli):
Ndak paham, atau ndak sesuai dengan keinginan? Itu dua hal yang berbeda lho? :)

Bagaimana Kang, dimana ndak pahamnya? Saya bersedia berdiskus secara dalam dengan anda semua. Tapi namanya diskursus itu bukan lah sesuai keinganan atau tidak sesuai keinginan. Diskursus itu adalah logika untuk mencari yang benar, minimal mendekati yang benar…

Thesis saya: HY ndak kredibel sebagai ilmuwan. Alasan sudah saya kemukan. Ndak pahamnya dimana? :)

Okya, kalimat Arab ente ajaif semua. Knafa ente ndak fake fahasa Jawa atau Sunda aja Fak Dhe atau fahasa Indosefha, memangnya masyarakat kita orang Araf? Ataukah itu fentuk legitimasi keulamaan seseorang? :)

Salam hangat Fak Dhe semua :)

XXX

(Nasirin Achlan):
Syukran ‘ala hudhurikkum fi hadzal diskursus ya Akhinal Kirom Sayyid Farizal Ramli…syukran ‘ala musa’adatikum, wa syukran ilaa Akinal Kirom Sayyid Syailendra..insya Alloh bi do’aikum ane sa afham ‘alaa ha-ulaik diskursus ‘anil ‘aql wa ruuh…Jayyid jiddan ya Sayyid….Nastamir….

XXX

(Ferizal Ramli):
@Kang Nasirin:

Kaifa antum bi lughotul Arabiyah? Ma katabtum kal ghozwul fikri? he, he, he…:)

Syukron katsiron jiddan, jiddan, Ya Syech Nasirin wa ahukum Syech Syailendra, ala asrikum fi hadal “diskurus”. Hadal hasan, hasanal jiddan. Ana adukum fis salamikum, li hasanikum, li ilmikum, li jasadikum wa ruhukum. Addua lakum: Innallaha SWT maakum. Wassalam

Ich bedanke mich bei Ihnen beide Herr Syaleindra und Herr Nasirin für Ihre Zeit, dass wir zusammen gesprochen haben. Das was einfach wunderbare Zeit. Ich wünsche dir alles Gute. Gott sei mit Ihnen.

My old fellow, for your time that you spent with me, it was wonderful. It’s a great honour that I have an opportunity to discuss with you, brother. God bless you!

Ano, Hontouni arigatou gozai masu. Watashi wa subete no saikou no kibou. Kami no shukufuku!

Weleh-weleh, artine boso Endonesha ne opo yo? He, he, he…

Wassalam semua dan mohon maaf jika saya melakukan ke-khilafan

FR

XXX

(Syailendra Yunus)
@ Bung Rizal: Dari mana anda bisa mengatakan saya menganggap HY “wakil” Tuhan? Itu ngawur, coba baca ulang komentar saya di atas…

Sebagai orang yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, anda seharus merasa punya kewajiban untuk membaca dan memahami ayat-ayat Allah baik yang tertulis maupun tidak tertulis, secara terintegrasi. Jangan berhenti sebatas “ya saya mengimaninya”. Sementara aktivitas yang anda lakukan baik dalam berfikir, berkata maupun berbuat, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengimani Al-Qur’an.

Bung Rizal… Kata-kata skandal, sex, narkoba, pemerasan selalu anda ulang-ulang… Anda terlalu banyak menyerang pribadi HY. Di dalam islam, kalau anda mengatakan seseorang ber zinah tapi anda tidak menghadirkan 4 orang saksi, berarti anda sudah melakukan kesalahan besar… Inilah sebabnya mengapa dari awal saya tidak mau terseret untuk mengomentari masalah tersebut, tapi anda tidak mengerti dengan bahasa isyarat saya…

Bung Rizal… Soal kutap-kutip penemuan orang lain itu adalah persoalan biasa. Anda tahu bagaimana awal teori relatistivitas dibuat Einstein?…. Sekiranya Einstein tidak mengutip temuan Isaac Newton, Einstein tidak akan bisa menyusun teori relativitasnya…

Saya tidak tahu siapa HY, yang saya tahu adalah karya-karyanya. Kalau di dalam karya tersebut ada kebenaran mengapa saya harus pusing memikirkan, apakah yang bersangkutan tersebut ilmuwan atau bukan. Anda ternyata lebih senang menilai orangnya bukan menilai apa yang dikatakannya… Seandainya pola fikir anda tersebut saya pakai, mungkin dari awal saya tidak mau melayani anda berdiskusi, karena anda sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang sains.

Dari pada diskusi ini terus berkepanjangan, saya ingin bertanya. Setelah menguraikan panjang lebar tentang fenomena mendengar, melihat dan merasakan… lantas kesimpulan apa yang harus diambil. Apakah yang mendengar, melihat, merasakan dan yang berfikir itu adalah otak itu sendiri? Silahkan jawab pertanyaan ini…

(Ferizal Ramli):
Wah, wah, kembali sampeyan salah paham:

Dari 5 point kritik saya, 4-nya tidak ada hubungan dengan Pribadi. Hanya 1 yang terakhir itu hubungan dengan pribadi dan itu TIDAK menyerang. Itu fakta hukum :) Kenapa sih begitu sulit menerima fakta hukum yang gamblang?

Kutip mengutip jika dalam kajian ilmu sosial itu biasa. Itu adalah kompilasi. Karl Marx melakukan study pustaka untuk itu.

Tapi dalam sains eksakta kok pake study pustaka? he, he, he…
Sains itu butuh data emprik. Butuh experience. Jika HY berbicara sebagai sainstis maka dia harus berbicara berdasarkan data empiriknya.

Jika dia melakukan kompilasi dengan ayat Al Qur’an maka dia harus seorang ahli Tafsir sehingga dia bisa benar-2 merumuskan antara kutipan pemikiran orang barat dengan tafsir-nya tentang Al Qur’an. Untuk titik ini maka HY harus memposisikan dirinya bukan sebagai saintis tapi sebagai ahli tafsir.

Saya sudah memberikan argumentasi bahwa HY tidak memenuhi kualifikasi sebagai saintis. 4 dari 5 point saya adalah bicara tentang keberatan saya bahwa HY seorang saintis.

Saya juga ndak pernah dengar HY sebagai ahli tafsir.

Akhirnya, saya simpulkan bahwa opini HY tentang sains dan Al Qur’an itu tidak kredibel.

XXX

(Ferizal Ramli):
Tentang tanggung jawab saya sebagai orang beriman, Kang Syaleindra salah memaknai.

Kritik saya terhadap kredibilitas HY adalah bentuk keimanan saya. Saya meluruskan kesalahan methodologis dari HY. Saya tidak ingin orang Islam terjebak dalam doktrin pembodohan yang dilakukan HY. Sampeyan pikir mengamalkan iman itu caranya cuma dengan copy-paste ayat Qur’an lalu dikirim kemana-2? Itu bisa saja bentuk pengamalan iman. Tapi saya ndak pilih cara itu.

Jika saya menulis tentang Ekonomi maka nafas keimanan saya sebagai orang Islam akan terasa di sana. Saya jelas memilih sikap berbeda dengan HY yang saya kritik habis karena ybs bicara segala hal tanpa kompetensi ilmu yang jelas. Saya mengamalkan iman saya saat saya bicara tentang Ekonomi. Disitu lah pengetahuan Islam saya, saya tulis.

Lha kenapa saya jadi “tertuduh” tidak mengamalkan iman saya terhadap ayat Al Qur’an?

XXX

(Ferizal Ramli):
Kenapa saya menolak Harun Yahya karena cara doktrinya
menyebabkan pembodohan. Harun yahya itu fenomena inferior kompleks umat Islam. Dia kutip-2 pemikiran ilmuwan agnostik, lha diaku-2 ini adalah sesuai Al Qur’an. Ini mentalitas inferior kompleks!

Kedepan, persoalan polekmik umat Islam itu bukan kristenisasi supermi atau misionaris. Persoalan umat Islam kedepan itu adalah berhadapan dengan para agnostik yang mereka itu adalah ilmuwan-2 yang hasil penelitiannya sering dikutip oleh Harun Yahya tapi justru mereka ndak percaya Al Qur’an dan menolak Al Qur’an.

Itu sebabnya metode doktriner Harun Yayah yang sering me-refer ilmuwan Agnotik, saya tolak. Kan aneh, Harun Yahya kutip pemikir agnostik sesuai Al Qur’an sementara ilmuwan Agnostik mentertawakan Al Qur’an.

Tentu saja secara pribadi Harun Yahya juga pribadi yang terlibat skandal: pemerasan, sex dan narkoba. Kan lutju jika kita mempercayai pribadi yang kontroversial?

XXX

(Herry Cahyanto)
Untuk Ferizal Ramli … Terlepas dari HY terlibat sekandal pemerasan dan lain … Apa Pak Ferizal Ramli pernah bertemu langsung dengan HY dalam diskusi ilmiah atau sudah mengenal lebih dekat pribadi hidup HY [ bila HY masih hidup ]

Cobalah untuk mengenal pribadi HY dari komnitas beliau di turki, karena kita umat Islam dilarang menuduh seseroang tanpa kita tahu sendiri… bukan dari buku atau kata orang [ apa lagi dapat menjatuhkan karakter seseorang ],

Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik [ orang yang kurang ilmu, tidak mempunyai dasar yang kokoh baik orang dari orang muslim atau bukan ] membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS 49:6

XXX

(Herry Cahyanto)
Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba

http://media-islam.or.id/2009/09/07/mewaspadai-berita-orang-fasik-dan-adu-domba/

XXX

(Ferizal Ramli)
@Kang Herry: saya membaca karya HY dan mengikuti banyak video-nya. Tanggapan saya bukan spontan. Saya tahu banyak tentang HY. Itu sebabnya saya bisa menunjukkan pada anda semua bahwa:

- HY itu belum pernah melakukan penemuan apapun
- HY itu bukan saintis. Ini bertolak belakang dengan yang dikatakan oleh Bung Syailendra. Nyatanya, HY itu adalah seniman dan entertaiment film sesuai dengan latar belakang akademisnya.
- HY pun terlibat kehidupan kontroversial… Read more… Read more

Cara bung Syailendra mengatakan bahwa HY adalah saintis besar selevel Isaac Newton menunjukkan pengetahuan Bung Syailendra tentang HY sangat minim.

Journal ilmiah penemuan apa yang telah ditulis HY sehingga HY dibilang ilmuwan besar Islam? Buku-buku HY itu adalah cuma buku-2 populer kok yang setengah saintifik dan terkadang agak fiksi yang banyak mengandung spekulasi. Baca aja bukunya…

PS.
HY itu masih hidup. Dia orang Turki dan HY itu cuma nama samaran. Itu bukan nama aseli.

XXX

(Ferizal Ramli)
@Kang Herry: he, he, he…lha wong diberi tahu malah menulis mewaspadai orang fasik. Lha skandal HY itu terbuka jelas kok. Itu ke pengadilan kok malah dibilang fasik dan adu domba :)

XXX

(Herry Cahyanto)
Pak Ferizal Ramli yang di Rahmati Allah SWT….

Ijinkan saya bertanya…

Ilmu yang disadur oleh HY mengajak kita kepada ke Islaman atau ke pada permusuhan, atau kepada memecah belah umat Islam atau membenci sesama manusia … ?

Terlepas dari buruknya pribadi HY menurut anda, toh jika itu memang benar kita Ambil yang Baik-Baik saja dari HY…

“Ambilah Hikmah dari siapa saja walaupun itu datangnya dari orang kafir sekalipun …”

Hanya Allah SWT yang Maha Benar…

XXX

(Hasannudin M. Kholil)
Good point Pak Ferizal. Saya setuju. Sudah tertulis jelas dalam Al-Qur’anul Karim bahwa soal ruh adalah rahasia Allah Azza wa Jalla, dan tidaklah manusia diberi pengetahuan atasnya kecuali hanya sedikit.

Oeh karena itu, mengapa juga HY harus memaksakan diiri untuk menjelaskannya. Terlebih-lebih jika penjelasan yang dipaksakan itu tanpa didasari oleh pengetahuan dan kompetensi yang cukup.

XXX

(Hasannudin M. Kholil)
@ Pak Herry: Saya memberi catatan khusus soal HIKMAH dan keterkaitannya dengan video HY ini.

Saya menghargai usaha HY untuk berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam ke seantero bumi.

Tapi berdakwah juga ada caranya, ada “manhaj” nya, tidak boleh ngawur, tidak boleh asal bunyi. Berdakwah tetaplah harus dengan hikmah. Seperti yang ditegaskan oleh Syaikh Shalih ibnu Abdullah Ibnu Humaid bahwa “mafhum al-hikmah fi ad-dakwah”, menyampaikan dakwah dengan cara hikmah.

Apa itu HIKMAH? Secara bahasa, hikmah berasal dari akar kata “hakamah” yang berarti tali kekang. Oleh karenanya, orang yang mempunyai hikmah senantiasa terkendali dan terjaga dari perbuatan tercela. Sedangkan menurut istilah, hikmah artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Secara umum, hikmah adalah semua perkataan yang melahirkan perbuatan yang benar, mengandung kebenaran.

Kita memang diperintahkan mengambil hikmah meskipun itu berasal dari orang kafir (atau dari non muslim.) Ajaran ini tanpa sadar telah lama kita laksanakan yang terwujud dalam pemakaian : listrik, televisi, internet, fesbuk, handphone, pesawat terbang, dll.
Itu adalah produk atau hikmah sebagai hasil kerja keras dan riset yang mendalam bahkan sampai menghabiskan umur mereka. Mereka mengabdi pada ilmu untuk melahirkan hikmah. Karena risetnya dilakukan secara mendalam, maka teori dan produk yang dilahirkannya tidak ngawur, tidak serampangan.

Makanya ketika kita naik pesawat dari jakarta ke Padang misalnya, kita percaya bahwa pesawat yang beratnya ratusan ton ini bisa terbang dan mampu mengantarkan kita ke sana.
Makanya ketika kita mencolokkan kabel ke dinding, kita percaya bisa menanak nasi, membuat kopi, membuat jus, mengeringkan rambut, dan menonton TV.

Itulah hikmah: Perkataan, teori, dan produk yang melahirkan kebenaran.

Nah berangkat dari paparan itu, sekarang saya mau bertanya sama Antum wahai Akhi, Pak Herry Cahyanto:

Apakah dengan segala cacat bawaan yang dimiliki, seperti yang telah diuraikan panjang lebar oleh Akhi Ferizal di atas, dapatkah konsep HY tentang ruh ini bisa disebut sebagai HIKMAH??

Menurut saya ini bukan HIKMAH, ini adalah pembodohan.

Salam hangat

XXX

(Ferizal Ramli)
Sekarang pertanyaan saya pada anda Kang Syailendra dan Kang Herry:

@ Kang Syailendra: Ini yang anda pernah tulis
“Apa yang dilakukan Isaac Newton dan Harun Yahya itu pada dasarnya sama. Mereka sama-sama membangun paradigma berfikir yang baru, yang belum pernah dibangun dan digunakan manusia sebelumnya. Isaac Newton menjadi pioner bagi munculnya pengetahuan “sains modern”, sedangkan Harun Yahya menjadi pioner bagi munculnya pengetahuan “islam modern”… Ajaran islam inilah yang diharapkan mampu memberikan jawaban atas semua tantangan yang dihadapi oleh umat islam di zamannya. September 28 at 9:11am”

Komentar saya, anda tulis bahwa HY itu selevel Isaac Newton. Anda tuh sebenarnya tahu HY ndak sih? Anda pernah tahu penemuan HY tidak? anda perlihat baca tulisannya di jurnal ilmiah tidak?

Cobalah jujur pada nurani anda. Cara anda mengatakan HY sejajar dengan Newton membuat saya tahu persis bahwa anda TIDAK tahu apapun tentang HY. Pengetahuan anda NOL besar tentang HY. Anda adalah korban doktrin inferior kompleks yang menyedihkan.

Jika anda orang awan saya maklumi tapi seorang intelektual dari latar belakang sains seperti anda mengatakan HY sejajar Newton, itu akan membuat orang yang tahu siapa itu HY akan tertawa. HY itu seniman kang, pembuat film dan penulis buku populer setengah sains. Dia bukan saintis :)

Kang Syailendra, dakwa itu harus membuat mata hati kita terbuka dan menjadi cerdas. Jika, anda terbodohkan karena sebuah dakwah maka itu adalah dakwah yang keliru. Itu perlu diluruskan. Inilah bentuk ijtihad saya sebagai orang muslim yang beriman. Semoga anda bisa mengambil hikmah gugatan saya tentang HY.

@Kang Herry: pertanyaan anda sudah terjawab secara gamblang oleh Kang Hasan. Semoga anda bisa ambil hikmah-nya.

Sekarang ini pertanyaan saya, apa tujuan anda menulis tentang fasik dan adu domba? Apakah anda pikir saya seorang yang fasik, seorang yang ingin mengadu-domba? Anda ndak punya pengetahuan apapun kok tentang HY. Anda ndak bisa menunjukkan dimana salahnya tulisan saya, mengapa tiba-2 anda jadi nulis tentang fasik?

Salam,

Ferizal

XXX

(Anam Zulfiqar Alhabsyi):
Bucailisme a la HY menurut saya kemunduran. Setidaknya kritik yang dilakukan Sardar pada dekade 80-an terhadap Maurice Bucaille, menjadikan catatan2 HY tampak mundur dua dekade. Malah HY lebih jauh membahas ‘ideologi’ yang menjadikan metodologi berpikir menjadi tidak runtut. Kalau ini dianggap sebagai paradigm shift, maka pasca modernism lebih teratur dan bertanggung jawab daripada HY. Jadi Ferizal menurut saya bukan pembodohan, tapi memang kekacauan berpikir (fallacy)

XXX

(Ferizal Ramli):
@Kang Anam: Bucailisme, yah itu terminalogi yang paling tepat. HY itu bukan pembodohan tapi kekacauan berpikir, kembali sampeyan lebih akurat lagi memposisikan siapa itu Harun Yahya…

XXX

(Syailendra Yunus)
@ Bung rizal: Menyebarnya karya HY di dunia islam dan eropa dengan cara yang spektakuler, mengundang sisnis banyak pihak. Upaya menjatuhkan HY sering kali dilakukan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Upaya tersebut semakin hebat setelah beliau meluncurkan karyanya yang menentang teori Darwin. HY bahkan diberitakan dijebloskan dalam penjara kurang lebih tiga tahun lamanya.

Bung rizal: Berdasarkan cerita di atas, saya jadi bertanya. Mengapa sejak dari awal, yang anda permasalahkan itu adalah kredibilitas, kualifikasi, status (ilmuwan atau tidak), skandal, metodologi pengambilan kesimpulan dsb., yang menurut saya hal itu sama sekali tidak terkait dengan esensi (kebenaran) yang disampaikan oleh HY.

Mungkin bung rizal belum paham betul apa yang disebut dengan kebenaran.

Kalau dalam sains kita menemukan istilah kebenaran ilmiah, itu bukan berarti kebenaran mutlak… Mengapa? Karena fakta mengatakan bahwa tidak ada satupun sainstis yang hidup setelah perioda Isaac Newton, bisa ”memastikan” hakekat suatu obyek (materi)…. ini fakta bung rizal, bukan mengada-ada …

Para sainstis itu dengan jujur mengatakan bahwa seluruh obyek (materi) yang “tampak” oleh kita itu, memiliki sifat dualisme, disatu sisi dia tampil sebagai ”gelombang” namun disi lain dia tampil sebagai”partikel”… Nah, kalau secara hakekat obyek tidak bisa dipasti wujudnya, bagaimana kita bisa memastikan bahwa kebenaran yang diperoleh secara ilmiah itu adalah mutlak?.

Bung Rizal: Sains modern yang ada saat ini dapat saya ibaratkan seperti bayi yang baru bisa mengenali lingkungannya hanya melalui indera matanya…

Ada tiga tahap pertumbuhan intelektualitas manusia dari lahirnya. Tahap pertama, manusia mengenal dunia hanya melalui pendengarannya. Tahap kedua, manusia mengenal dunia melalui pendengaran dan penglihatannya, dan Tahap ketiga, manusia mengenal dunia melalui pendengaran, penglihatan dan qolbunya….Silahkan amati bagaimana proses tumbuh kembang bayi hingga dewasa…

Tahap lain di luar tahap tersebut di atas adalah tahap penyempurnaan, yakni manusia mengenali dan memahami dunia di luar dirinya sesuai dengan hakekatnya (tersurat maupun tersirat). Inilah tahap tertinggi dari pertumbuhan intelektualitas manusia…

XXX

(Syailendra Yunus)
(Bung Rizal:) Sebagai muslim yang lama bergelut dangan sains dan Al-Qur’an. Saya melihat posisi sains saat ini tengah memasuki gelombang ke dua… Gelombang pertama terjadi pada tahun 1678 saat setelah Isaac Newton mempublikasikan karyanya yang berjudul “Prinsip-prinsip matematika mengenai filsafat alamiah” yang lebih dikenal dengan sebutan “Principia”.

Ke datangan gelombang pertama ini membuat manusia jadi yang sebelumnya buta menjadi “melek” materi. Disinilah muncul istilah “kekebaran ilmiah”, sebuah simbol kebenaran yang nyaris di “tuhan-kan” oleh banyak kalangan, termasuk sebagian umat islam yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Era transisi gelombang kedua yang mulai terjadi abad 21 ini di tandai dengan tumbuhnya kesadaran manusia akan hakekat di balik materi…. Vester, yang karya menjadi rujukan HY, adalah salah satu pelopor bergulirnya gelombang ke dua ini.

Di era gelombang ke dua tersebut akan bangkitan semua ajaran spiritualme yang ada di dunia, selanjutnya memasuki gelombang ketiga, disitulah era dimana Allah akan memenuhi janji-Nya. Allah akan memenangkan ajaran-Nya di atas ajaran-ajaran lainnya..

Seiring dengan bergulirnya gelombang tersebut di atas. Hujjah demi hujjah secara bertahap selalu di turunkan Allah kepada manusia, baik yang ada di timur maupun di barat. Hujah tersebut diturunkan Allah dalam rangka menyempurnakan rencana-Nya…

Bung rizal: Di ruang waktu dimana saya berdiri saat ini, saya selalu berusaha untuk bersikap obyektif dalam menerima atau tidak menerima sebuah karya. Saya tidak mempermasalahkan siapa yang membuatnya, karena bagi saya, kebenaran itu tidak lain adalah “hujjah” yang di turunkan Allah dalam rangka memenangkan ajaran Allah itu sendiri.

Sikap saya tersebut di atas tentu saja terbentuk atas dasar pengetahuan yang saya miliki, yang kedalamannya mungkin berbeda dengan saintis lainnya… Coba perhatikan dengan seksama bagaimana saya membangun konsep tentang ruang waktu, sebagaimana dalam tulisan yang sudah saya kirim kepada anda….

Sekiranya pengetahuan saya sama dengan para saintis lainnya, tentu saja konsep tersebut tidak akan pernah saya buat… Buat apa repot-repot nulis tentang konsep ruang dan waktu, lha wong konsep ruang waktu yang ada saat ini saja sudah diterima masyarakat…

XXX

(Syailendra)
Bung Rizal: Kita hidup hanya dalam hitungan beberapa tahun, sedangkan bergulirnya satu perioda gelombang yang saya katakan di atas, membutuhkan ratusan tahun… Apakah anda perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk bisa berkata benar?

Bung Rizal: Ilmu pengetahuan yang benar adalah ilmu pengetahuan yang dibangun dengan bersumber pada ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat tertulis maupun ayat-ayat tidak tertulis.

Ayat tertulis adalah seluruh teks yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat-ayat tidak tertulis adalah segala sesuatu yang dikatakan dalam teks tersebut yang menempati sistem ruang dan waktu. Gerak, sikap, ucapan dan perbuatan Nabi saat merespon petunjuk, himbauan, perintah dan larangan Allah, itu juga termasuk ayat tidak tertulis…

Ilmu pengetahuan yang benar adalah ilmu pengetahuan yang “mengintegrasikan” seluruhan ayat-ayat Allah yang terkait. … Sudahkah Bung rizal berpijak di atas ilmu tersebut?. Kalau belum, mengapa anda begitu yakin mengatakan bahwa HY dengan Videonya telah melakukan pembodohan?

Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan sedangkan ilmu pengetahuan yang anda miliki untuk mengomentari masalah tersebut masih sangat rapuh (baru berada pada tahap gelombang pertama)…

Sekali lagi, cobalah lihat esensinya (hakekatnya), jangan mempermasalahkan kredibilitas, kualifikasi, status (ilmuwan atau tidak), skandal, metodologi pengambilan kesimpulannya dsb…

Terimakasih…

XXX

(Ferizal Ramli)
Wah bung Syailendra, sampeyan terlalu banyak baca buku konspirasi sehingga mengatakan bahwa HY dijatuhkan :)

Hanya yang menarik dari sampeyan ternyata, sampeyan itu belum mengikuti karya-2 HY thoh? sehingga mengatakan HY itu sejajar dengan Isaac Newton. Walah-2 pengetahuan sampeyan tentang sains perlu di up grade Kang.

HY mempublikasikan apa karya ilmiahnya? Apa yang ditemukan HY? :)

HY itu bukan gelombang kebangkitan spiritual, tapi gelombang Bucalisme, yaitu gelombang kekacauan berpikir yang methodologi-nya loncat-2 dan kutip-2 ilmuwan agnostik Barat (semua tulisan HY itu mengutip ilmuwan Barat yang agnostik, TIDAK percaya Islam) lalu di-pas-pas-kan dengan ayat Qur’an menurut pengertian HY yang nota bene HY pun ndak kuasai tafsir Qur’an.

Ini bukan gelombang kebangkitan berpikir kaum muslim. Ini gelombang kekacauan berpikir kaum muslim karena inferior kompleks dari penemuan ilmuwan barat. Ini namanya Bucalisme, kekacauan berpikir akibat inferior kompleks yang membuat kita malah mundur. Karena HY tidak bisa menemukan apa-2 lalu di-aku-2 penemuan orang Barat itu sesuai Al Qur’an.

Sampeyan juga masih tanya lagi argumen saya knapa saya katakan pembodohan padahal sudah saya jelaskan berkali. Baik saya ulangi:

Lihat video itu baik-2, HY bicara tentang panca indera, kerja otak, persep dan mimpi, lalu disitu meloncat pada kesimpulan bahwa ada dalam tubuh kita yang eksis yaitu: ruh!

Dari mana bisa simpulkan itu ruh?
Klo pake metodologi berpikirnya HY, orang bisa kasih kesimpulan apapun disana sesuai dengan kesukaannya…

Klo Ki Gendeng Pamunkas akan jawab itu Wewe Gombel, bukan ruh!
Klo si Nietzsche tokoh besar Fundamentalis akan dengan selorah bilang itu adalah kobodohan, bukan ruh
Klo si Marx akan bilang itu komunis, bukan ruh

Logika yang muncul dalam video tsb antara premis dengan kesimpulan ndak nyambung! Itu kekacauan berpikir HY.

Anda tahu ruh itu bukan karena premis tentang panca indera, otak, persepsi dan mimpi. Yang membuat anda tahu dalam tubuh anda ada ruh karena diberi tahu Al Qur’an bahwa ada ruh di dalam tubuh anda.

XXX

(Ferizal Ramli)
@Kang Syailendra:

###Sampeyan menulis: “Kalau dalam sains kita menemukan istilah kebenaran ilmiah, itu bukan berarti kebenaran mutlak… Mengapa? Karena fakta mengatakan bahwa tidak ada satupun sainstis yang hidup setelah perioda Isaac Newton, bisa ”memastikan” hakekat suatu obyek (materi)…. ini fakta bung rizal, bukan mengada-ada ..”

Komentar saya: itu betul. 100% setuju. Itu sebabnya mengambil penemuan sains apalagi yang belum jelas lalu di-pas-pas-kan ke ayat Al Qur’an adalah sebuah kesalahan. Itulah yang dilakukan HY.

Kenapa juga keimanan anda harus di-stumuslus dengan mem-pas-pas-kan pemekiran tertentu ilmuwan barat?
___

###Sampeyan menulis: Upaya tersebut semakin hebat setelah beliau meluncurkan karyanya yang menentang teori Darwin. HY bahkan diberitakan dijebloskan dalam penjara kurang lebih tiga tahun lamanya.

Komentar saya: yang menentang teori Darwin itu bukan cuma HY. HY termasuk yang terlambat menentang itu. HY bukan orang yang pertama menentang itu. HY dipenjara karena persoalan kriminal.

XXX

(Anam Zulfiqar Alhabsyi)
saya urun rembug sedikit: (1) menyebar dengan cara spektakuler bukan menjadi dasar kebenaran. kalau demikian neo nazi juga menjalar loh di eropa. (2) pergantian gelombang pengetahuan itu mengacu pada Kuhn terjadi manakala terjadi anomali dan terjadi paradigm shift. Nah teriakan untuk paradigm shift sudah didengungkan oleh Sardar di era 80-an meski gagal. Kemudian kaum perennial juga mendengungkan di 90-an. Semenjak Penrose dan Hawking masih hidup, yang masih paradigma fisika modern, tidak ada shift yang berarti di dunia sains. Setidaknya tidak ada penemuan berarti di dunia sains. Kalau teknologi mungkin banyak apalagi terkait pasar. (3) alternatif sains yang digagas islam perenial, alih-alih dianggap islam sesat dan dianggap antek2 yahudi. hal ini didukung wahabisme-bucailisme semacam HY.

XXX

(Ferizal Ramli)
@Kang Syailendra: saya stabilo pernyataan Kang Anam. Tidak ada penemuan sains modern yang membuat gelombang perubahan berarti saat ini.

HY TIDAK menemukan apa-2. Dia cuma kutip pendapat ilmuwan agnostik lalu di-pas-pas-kan oleh Al Qur’an. Bahasa-nya Mas Anam, itu kekacauan berpikir yang berasal dari sindroma inferior kompleks.

Jadi aneh ketika sampeyan bilang HY itu sejajar dengan Sir Issac Newton yang berhasil membuat gelombang perubahan.

XXX

(Nanang Purwanto)
saya sangat setuju sekali dengan point yang ini
“Sudah jelas ruh itu adalah rahasia Allah SWT. Berarti konsep ruh itu adalah iman atau tidak iman. Titik!”

beriman kepada sesuatu yang gaib merupakan akidah dalam islam. ruh merupakan sesuatu yang gaib dan setiap muslim wajib mengimaninya tanpa ada rasa ragu. ini juga salah satu sifat Allah SWT.

Kang Fer: saya baru tau kalo HY memiliki pengalaman masa lalu yang nggak bagus, thanks infonya

XXX

(Ridwan Muchtar)
makanye jgn main2 dengan Ruh…ruh urusan tuhan,terkadang kita sering memahami Alquran hanya dgn terjemahan saja dan berdasarkan akal fikiran kita yg penuh nafsu dn para ulama mengatakan bahwa ketika memahami Alquran seenak e Udeledewe maka di hukumi fasik tentu sesuai dalil ,bukan ahli bengkel bongkar mesin ya ujung2nya memperbaiki malah menghancurkan.
syarat memahami Alquran banyak x bisa ilmu nahu,tata bahasa,jurumiah dll. dan tentunya hatinya tidak penuh nafsu(melakukan sesuatu bukan disebakan karna perintah Allah)
padahal kita sudah ada mentahnya yaitu kitab2,tafsir dari ulama yg melakukan sesuatu sudah dibimbing O Allah Swt.
dan manusia tidak akan pernah bisa melawan nafsunya jika dia belum mempelajari ilmu tentang KE MAK’RIFATAN.
smoga kang Ferizal Ramli & Kel serta kita bersama selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Swt. AAAAMIIIn

XXX

(Azhar Ardi)
kalau sy membaca informasi yang ditulis Bang Feri tentang HY, brarti tokoh ini hanya jago kandang, tapi jago kandang2 tradisional. HY, kalau begitu tidak akan bisa menembus dinding Scientist2 Eropa, akan ditertawakan, letoy sebelum bertanding. karena untuk meng-argumentasi para scientist2 itu hanya bisa ditembus dengan riset dan penemuan. pangsa pasar Harun Yahya, mungkin SD-SMU. sdngkan Lulusan sarjana yang terbiasa dengan Hipotesa1,2 dll tapi masih belum jeli melihat kesimpulan2 HY, hakekatnya masih SD..*hanya komentar*

XXX

(Rian Hermana)
Terimakasih,bang fer,saya sendiri takut saat liat harun yahYA main ilmu gathuk.Takut dianggap jadi pakem.Soale kalo soal membahas alam dunia sakisine,ya setiap hari ada yg baru.Pengetahuan d dunia ini dinamis,dulu org kata hutan penyumbang oksigen terbesar,sekarang penyumbang karbondioksida terbesar.Terimakasih krn mengkritisi dgn cara yg baik.

XXX

(Freeman Arithuk)
gothak gatuk……ketika suatu fenomena dicocok-cocokkan dengan presepsi yang diyakini benar…..maka prinsip-prinsip ilmiah akan terabaikan……dan hal itu masih bisa disanggah…..tapi kalo thuk ghotak ghatuk itu mereka anggap sebagai kebenaran mutlak……abaikan…..karena percuma berbicara dan mengkritik mereka…….

XXX

(Sopril Amir)
Wah Ferizal dengan argumen yang solid muncul lagi.
Mbok sering-sering.

XXX
(Syailendra Yunus):

RENUNGAN:

Tanpa berpijak pada dasar keilmuan sebagaimana yang saya katakan di atas, maika seseorang akan merasa dirinya melakukan kebaikan padahal (pada hakekatnya) yang dilakukannya adalah kerusakan… tapi dia tidak sadar:

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:11-12)

Tanpa berpijak pada dasar keilmuan sebagaimana yang saya katakan di atas, maka seseorang akan merasa dirinya pintar, padahal (pada hakekatnya) dia bodoh… tapi dia tidak tahu.

Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. 2:13)

XXX

(Ferizal Ramli)

@Kang Syailendra: Terima kasih untuk ayat Qur’an-nya. Untuk renungan juga pada anda, sahabat Nasirin dan semuanya…

Saya jadi teringat sahabat Nasirin yang setiap bicara selalu menggunakan bahasa Arab. Saya sudah memohon agar memakai bahasa Indonesia, blio malah meresponnya menunjukkan dominasi Bahasa Arab-nya tanpa Bahasa Indonesia sama sekali. Padahal blio sadar bahwa tidak semua audiens itu bisa Bahasa Arab.

Kita semua tahulah bahwa bahasa Arab sdr. Nasirin itu agak belepotan. Hanya yang benar-2 membingungkan kenapa harus menunjukkan show Bahasa Arab kepada kita?

Apakah sahabat Nasirin berpikir dengan bahasa Arab berarti blio lebih baik ke-iman-nanya?
Apakah seseorang berpikir jika dia copy paste Al Qur’an tentang ayat-2 Iman pasti dia lebih beriman?

Berangkat dari hal itu semoga kutipan ayat Qur’an anda tentang keimanan itu terbebas dari keinginan untuk menunjukkan bahwa sampeyan merasa lebih beriman dari orang lain hanya karena perbedaan sudut pandang…

Salam hangat, senang berdiskusi dengan anda dan jika ada kekeliruan mohon dimaafkan

Ferizal Ramli

Oleh: ferizalramli | Oktober 10, 2009

Pemeringkatan Universitas: Mitos atau Realitas?

Sumber: http://www.topuniversities.com/university-rankings

(Quote: Ranking universitas itu bukanlah apa-2. Itu sama sekali “TIDAK” berguna. Tanggung jawab kita masing-2 untuk berkarya buat negeri ini dengan penuh dedikasi itulah yang jauh lebih memberikan manfaat…)

XXX

Terlepas setuju atau tidak setuju dengan metodologi pemeringkatan tetap saja setiap ada publish peringkat universitas dunia menyebabkan masyarakat Indonesia ikut larut menyimakanya. Di Indonesia yang paling hangat didiskusikan adalah ranking dari THES-QS dan dari Webo (Webometrics Ranking of World Universities).

Dalam sejarah pemeringkatan universitas versi THES-QS, UGM dan UI saling mengalahkan untuk jadi nomor 1. Pada tahun 2009 ini UI dipilih oleh THES menjadi yang terbaik di Indonesia. ITB selama THES mempublish rankingnya belum pernah sekalipun menjadi yang terbaik.

Untuk ranking WeBo, UGM selalu nomor 1 sepanjang tahun dan nyaris tidak bisa diimbangi oleh universitas lainnya. Tercatat hanya 1 kali ITB berhasil mengalahkan UGM. Selebihnya UGM terlalu superlatif untuk bisa diimbangi dalam ranking versi Webo oleh Universitas lainnya di Indonesia.

Mungkin inilah salah satu sebabnya ranking versi THES-QS menjadi lebih menarik buat masyarakat Indonesia dibandingkan Webo, karena persaingan antara UGM dan UI sangat kentara di THES dan saling mengalahkan.

Berikut ini ranking terbaru versi THES:

University Ranking 2009:
World Asia Intitusi
201 50 UI
250 63 UGM
351 80 ITB
— 119 IPB
— 130 Unair
— 171 Undip
— 171 UNS
— 191 Unibraw

KRONOLOGIS ranking THES-QS dari tahun ke tahun:

Tahun 2004
(Saya ndak punya datanya)

Tahun 2005
UGM 341
ITB 408
UI 420

Tahun 2006
UI 250
ITB 258
UGM 270

Tahun 2007
UGM 360
ITB 369
UI 395

Tahun 2008
UI 285
ITB 315
UGM 316

XXX

ANATOMI RANKING 2009 di Universitas Asia per kelompok Ilmu

Subject Ranking:
Art and Humanities
14 UGM
15 UI
50 ITB

86 IPB
92 Unair
96 Undip

Life Sciences & Biomedicine
16 UGM
29 UI
50 ITB

59 Unair
90 Undip
92 IPB

Natural Sciences
27 ITB
37 UGM
58 UI

70 IPB
98 Undip

Social Science
18 UI
25 UGM
50 ITB

64 Unair
71 Undip
88 IPB
90 Unibraw

IT & Engineering
21 ITB
44 UI
51 UGM

86 Undip
87 IPB

XXX

ANATOMI RANKING 2009 di Universitas Asia per Kriteria Penilaian

Ranking University by Criteria:

Academic Peer Review:
24 UGM
28 UI
38 ITB

Recruiter Review
31 UI
46 ITB
49 UGM

Student to Faculty Ratio
67 UI
191 ITB
250 UGM

Citations per Paper
81 UGM
169 UI
189 ITB

International Faculty Review
158 UGM
272 UI
319 ITB

International Student Review
181 UGM
264 ITB
325 UI

Student Exchange Inbound
135 UI
144 UGM
— ITB

Student Exchange Outbound
73 UI
212 UGM
— ITB

Catatan: Untuk ranking berdasarkan criteria ini jangan kaget banyak universitas negeri atau swasta yang mengalahkan reputasi UGM, UI dan ITB, meskipun secara umum ketiga Universitas tersebut tetap yang terbaik.

XXX

Kritik tentang pemeringkatan THES-QS

Menurut saya pribadi, ranking THES atau Webo sama sekali “TIDAK” memancarkan kualitas yang sejati dari sebuah Universitas. Pemenangnya by design selalu Universitas dari English Speaking countries.

Padahal klo benar-2 kajian ilmu yang dinilai maka hasilnya bisa sama sekali berbeda, misal:

- dalam kajian Pemenang penghargaan internasional seperti Nobel, saya kira Jerman hanya kalah dari AS.
- dalam banyaknya publikasi ilmiah, maka Jerman hanya terkalahkan oleh Amrik, sementara Universitas di Amrik puluhan bahkan ratusan ribu sementara di Jerman paling cuma 300 biji saja.
- dalam kajian paten penemuan maka Jepang cuma kalah dari Amrik dan Jerman dibawah Jepang dan Amrik.
- dalam kajian para alumni-nya menduduki posisi penting baik di perusahaan maupun di Negara. Tentu saja negara-2 seperti Jerman dan Jepang mesti punya reputasi terhormat karena selain Amrik, Jerman dan Jepang lah pemilik MNC (Multi National Company) terbanyak di dunia.

Posisi Perancis pun dalam banyak hal seimbang dengan Inggris dan nyaris sama dengan Jerman dalam hal paten, publikasi ilmiah dan ilmuwan pemenang nobel misalkan.

Tapi mengapa Universitas dari Jerman, Perancis dan Jepang yang nota bene tidak berhasa Inggris, justru kalah dengan Universitas dari Australia, Singapura, Kanada misalkan?

Jika melihat prestasi-2 negara diatas mestinya sulit buat Universitas dari Aussie atau Canada mengimbangi Jerman, Jepang atau Perancis.

Jadi, ranking ini dalam kajian kualitas adalah “dhobos besar” (saya tulis dalam tanda kutip) yang by design untuk kepentingan Universitas di English speaking countries.

Tapi buat saya pribadi yang lulusan UGM, saya S-U-K-A (saya tulisan dengan huruf besar dan sambil tersenyum) sekali dengan rangking THES dan Webo, he,he,he… :d

UGM itu NDESO dan alumninya terlalu low profile untuk bilang kemana-2 bahwa kami terbaik. Akibatnya, secara awareness dan top of mind dari stakeholder, UGM selalu ditempatkan dibawah UI dan ITB.

Namun sejak ada ranking Webo, UGM (hehehe) jadi terlihat begitu superlatif dihadapan ITB dan UI. Sejak ada THES, UGM dan UI begitu saling mengalahkan.

Ranking itu sih “ndhobos”, tapi sebagai alumnus UGM, saya & saya kira seluruh sivitas akademika UGM diuntungkan. Saya bisa tetap layaknya alumnus UGM bersikap, yang tetap ndeso. Tetapi secara gratis dapat privilege, karena Webo dan THES bilang kemana-2 pada dunia bahwa UGM itu hebat. Meskipun mereka “dhobos” tapi aku SUKA, he,he,he…

XXX

“Pemenang” dan “Pecundang” versi THES-QS

Sebenarnya siapakah “pemenang” dan “pecundang”dari ranking THES-QS ini semenjak dipublish beberapa tahun terakhir ini?

Ini pendapat saya pribadi, terlepas dari setuju atau tidak setuju methodologi THES, “PEMENANG” di Indonesia adalah:
1. UNS (Universitas Sebelas Maret)
2. UNDIP (Universitas Diponogoro)

“PECUNDANG”-nya adalah: Unpad! (Universitas Padjadjaran)

UNS, mungkin salah satu kampus paling muda, bahkan dulu buat para akademisi Yogya, orang lebih kenal Prof. Dr. Kuntowibisono (mantan Rektor UNS) dari pada UNS-nya sebagai institusi. Tetapi saat THES-QS mempublish rankingnya, UNS secara luar biasa diatas Universitas Negeri lainnya yang jauh lebih tua seperti Unpad, ITS dan Unibraw, tentu saja sudah pasti diatas USU atau Unand (Sumatera) dan Unhas (Sulawesi).

Fantastik, UNS bisa mensejajarkan diri dalam reputasi (versi THES tentu saja) sejajar dengan Undip, Unair dan IPB. Di Webo pun peringkat UNS amat baik. Yang dibutuhkan UNS saat ini cuma satu: konsultan marketing untuk memoles citranya :)

Yang juga diuntungkan dengan THES adalah UNDIP. Dalam beberapa ranking terakhir Undip bahkan beberapa kali lebih baik dari pada Unair dan IPB. Jika dibuat kronologis versi THES maka Undip hanya terkalahkan dari UGM, UI dan ITB.

Yang paling kelihatan jeblok dengan ranking ini adalah Unpad. Namanya nyaris tak terdengar. Seakan-2 reputasi Unpad seperti menjadi bagian sejarah masa lalu…

Sekali lagi, ini amatan saya secara pribadi…

XXX

Hanya ranking itu bukanlah apa-2. Itu sama sekali TIDAK berguna. Tanggung jawab kita masing-2 untuk berkarya buat negeri ini dengan penuh dedikasi itulah yang jauh lebih memberikan manfaat…

Dari tepian lembah Sungai Isar
Ferizal Ramli

Oleh: ferizalramli | Oktober 8, 2009

Selingkuh!

Cerita tentang selingkuhi istri orang…

Iki kisah nyata.

Rektor di sebuah universitas kecil tapi amat terkenal, seorang sainstis terkenal. Tentu saja Professor Doktor. Selain sainstis dia juga pengusaha kaya karena paten dari penemuannya.
Lha wong brilyant kok, salah seorang pemikir utama ilmuawan Eropa, jelas aja penemuannya banyak.

Lalu seorang Apotheker yang apotiknya mau bangkrut pinjem uang ke sang Rektor. Diberi itu pinjeman, tetapi mata sang rektor ora berkedip melihat bojo ne sih apoteker. Mungkin karena body bohay plus betisnya mulus seperti bunting padi (he, he, he…bahasa-nya Pos Kota buanget deh).

Lalu diam-2 dicolek itu sang istri Apoteker. Lha dasar si istri juga ganjeng kegatelen bukannya menolak dengan penuh harga diri malah justru senyum terkulum manja menantang. Neng sopo wedo sing ora kesengsem karo Professor sukses? (jangan ente bayangkan Professor itu selalu perut gendut dan kepala botak jelek atau model Prof Kalkulus dalam kisah Tintin). Banyak professor sing trendy cing!

Lalu yah sudah, pas si Apoteker kerja di Apotik, lha sang rektor diam-2 ketuk pintu itu rumah si apoteker. Sing mbukai pintu, bojone apoteker. Dirayu-2 sebentar, lah si bojo apoteker bukanya ngingetin itu perbuatan dosa, mblah motroke ligerin-nya. Yo uwes lah terjadi kesalahan indah yang tidak perlu disesali.

Yah karena kepenakan (keenakan), yo manusiawi aja mesti diulang-2 thoh? Karena keseringan, akhirnya si apoteker curiga apalagi ada desas-desus dari tembok-2 yang bernyanyi.

Si Apoteker, belaga tenang dan belaga tidak tahu tentang selingkuh bojone. Pagi-2 seperti biasa, apoteker cipika-cipiki dengan bojone lalu berangkat ke Apotik. Si bojo apoteketer segera ambil HP, telpon sang rektor, bilang kira-2 begini lah: “Belahan Jiwoku, aku dewekan loh saiki neng umah. Teko yo, aku kangen kamu kang mas”

Sang Rektor dengan Mercedes terbarunya segera datang. Mobil di parkir. Tentu saja ndak di depan rumah selingkuhannya. Agak jauh nyamping biar ndak ada yang curiga. Lalu masuk ke rumah si bojo apoteker dan tanpa bak-bik-buk larutlah mereka dalam gelora cinta.

Si Apoteker yang cuma pura-2 ke apotik jelas tahu mobil sang rektor terpakir. Naik pitam dia. Langung masuk rumahnya kembali. Dobrak dengan emosi. Ke kamar lihat sang rektor sedang merem-melek termehek-mehek. Tanpa banyak cing-cong, itu senapan yang sudah disiapkan terkokang langsung aja ditarik picunya. “Dor!, dor!, dor!”

Hari itu kota kecil di tengah hutan seperti tersetak kaget. Semua orang mewartakan kematian tragis dari sang rektor…

Ini kisah nyata. Serius!

Disuatu hari di tahun 2005
Dari Lembah Sungai Danube

Oleh: ferizalramli | Oktober 2, 2009

Menjadi Laskar Pelangi

11072009_003Kemarin tanggal 1 Oktober adalah hari paling bersejarah buat Putri Cantikku, Nawwara Zahra Ferizal. Setelah cukup lama menunggu akhirnya dapet tempat juga untuk bersekolah di Kinderganten (Taman Kanak-Kanak). Di Kota München, mencari Kinderganten adalah seni tersendiri. Maklum demand-nya tinggi tapi supply-nya terbatas, alias tempat yang kosong terbatas. Tetapi karena Zahra sudah berumur 4 tahun maka dia diprioritaskan mendapat tempat di TK.

Kemarin dan hari-2 selanjutnya, Zahra sedang memulai untuk menata masa depannya. Untuk waktu yang amat lama dia akan bergelut dengan ilmu. Kindergarten – Grundschule – Gymnasium – Universität adalah pesantren yang akan menjadi tempat berproses untuk memahami kehidupan. Harapan,dukungan dan doa buat Zahra-ku, semoga waktu akhirnya membuktikan bahwa semua itu berbuah pada kebaikan.

Zahra akan memulai sebuah sosialisasi baru. Sebuah komunitas diluar keluarga intinya. Berpisah dengan sang Adik tercinta Naura. Dipaksa keadaan bahwa dia tidak bisa lagi menggunakan Bahasa Ibu, walau sebenarnya bicara dalam Bahasa Asing menyenangkan hatinya. Sekarang dia mulai membiasakan berbahasa Jerman. Aku sering sekali tertawa-tawa kalo Zahra mulai dengan gaya berbicara bahasa asing baik berlaga berbahasa Jerman atau belagak berbahasa Inggris dengan logat cadelnya yang belepotan.

Dulu sekali saat dia baru berumur kurang lebih 2,5 tahun maka ini adalah kalimat favoritnya. Tentu saja ngawur tapi aku benar-2 tahu benar maksudnya:

Jika Zahra memulai dengan kalimat, „wes, wes…, wes…, wes…, wes…“ Itu maksudnya dia sedang berbahasa Inggris.
Jika Zahra memulai dengan kalimat, „kos, kos…, kos…, kos…, kos…“ Itu maksudnya dia sedang berbahasa Jerman.

Kenapa B. Inggris pake „wes, wes, wes…“ ? Karena B. Inggris terdengar lembut maka „wes, wes, wes“ bagi Zahra adalah yang paling tepat.

Kenapa B. Jerman pake „kos, kos, kos..“ ? Karena B. Jerman itu terdengar tegas makanya bagi Zahra harus diucapkan „kos, kos, kos…“

XXX

Dokter Ahli anak kami memberi saran yang sangat penting: Aku DILARANG berbicara dengan Zahra pake B. Indonesia. Cukup sang Mama saja bicara dengan Zahra pake B. Indonesia. Kata dokter, Bahasa Ibu itu otomatis ada, dia ndak perlu dipelajari. Dia seperti otomatis terwariskan saat berbicara dengan sang Ibu, itulah sebabnya dinamakan bahasa Ibu. Tapi belajar B. Asing sedini mungkin itu sangat penting buat pertumbuhan kecerdasan sang anak.

Sang dokter juga kasih Tipps, terdapat perbedaan mendasar antara Orang Dewasa berbicara dengan Anak berbicara.

Jika orang dewasa bicara, mereka menggunakan Bahasa yang sama, sama-2 berbahasa Indonesia atau berbahasa Inggris atau berbahasa Jerman atau sama-2 berdasarkan terminalogi yang sama, tapi mereka sering kali tidak saling mengerti bahkan salah paham serta saling menyalahkan.

Pada anak, mereka mungkin bicara dalam bahasa yang saling berbeda, si Zahra tidak lancar B. Jerman temennya pun yang dari Turki, Arab, Cina, Jepang, Poland juga tidak lancar B. Jerman, tapi mereka bisa saling mengerti satu sama lain.

Akhirnya sang dokter menyarankan bahwa aku harus berbahasa Jerman atau Inggris dengan putri kecil saya, bahkan sang Dokter juga menyarankan agar mulai mempraktekkan B. Jepang-ku pada sang putri. Percayalah meskipun dia tidak mengerti semua yang aku katakan tapi dia pasti sepenuhnya memahami apa yang aku maksudnya. Jadi, jangan pernah ragu untuk mulai memperkenalkan dan mengajarkan bahasa asing sedini mungkin pada anak anda, begitu kira-kira saran dari sang dokter.

XXX

Zahra, mungkin tidak seberat Ikal tokoh cilik utama dalam Novel Laskar Pelangi saat memulai pertama kali sekolahnya. Tidak ada fasilitas minim. Semua ada guru profesional dengan dedikasi tinggi. Tidak ada ejekan dari orang-2 kenapa harus pergi ke sekolah. Yang terjadi malah sebaliknya, semua mendukung Zahra saat pertama kali sekolah.

Sepatu pun sesuai standard sekolah harus dimiliki 3 jenis: sepatu di luar sekolah, sepatu di dalam sekolah (seperti sepatu sendal) serta sepatu untuk senam dan olah raga. Zahra begitu bersuka cita saat tiba-2 mendapatkan 3 sepatu baru sekaligus yang beraneka warna. Semua disiapkan rapih. Buku-2 penuh gambar, tas sekolah plus kotak makanan.

Zahra memulai hari pertamanya dengan keceriaan kanak-2 yang penuh optimis. Saya ingin agar senyum ceria optimis itu selalu menghiasi dirinya selamanya betapapun beratnya tantangan yang terjadi saat dia menuntut ilmu. Suatu ketika jika saatnya tepat, saya akan membacakan dia kisah Laskar Pelangi. Saya ingin inspirasi kecerian Laskar Pelangi menular pada Zahra-ku.

XXX

Fasilitas sekolah di Jerman itu semuanya punya standard seragam: high level. Baik dari mulai TK samapai dengan Universitas. Mungkin jika di Yogya, TK-nya Zahra itu fasilitasnya selevel dengan TK Syuhada atau TK Budi Mulya atau TK favorit elit lainnya di tanah air. Pokoknya semuanya prefekt!

Yang berbeda antara TK-nya Zahra dengan TK elit di tanah air adalah pada uang sekolahnya! Penerimaan siswa baru bukan didasarkan pada besarnya sumbangan. Penerimaan didasarkan pada umur. Mereka yang umurnya 4 tahun ke atas akan diprioritaskan mendapatkan tempat. Untuk besarnya sumbangan itu berdasarkan peraturan resmi pemerintah yang bergantung pada penghasilan orang tua. Jika orang tua tidak mampu maka seluruh fasilitas sekolah itu akan gratis!

Saya pernah berpikir bagaimana Jerman bisa punya fasilitas pendidikan yang begitu terjangkau dan relatif gratis dari mulai SD sampai dengan Universitas. Kalaupun TK bayar tetap saja itu pasti terjangkau dengan kantong orang tua sesuai profesi dan penghasilannya masing-2. Artinya, orang yang kerja kuli sangat mungkin uang kuliah TK-nya gratis sedangkan seorang konsultan atau banker sangat pasti membayarnya lebih mahal. Yang jelas terjangkau dan adil. Hanya secara umum tetap saya katakan pendidikan di Jerman itu gratis.

Dulu saya pernah berpendapat karena Jerman menerapkan pajak tinggi bagi wajib pajaknya lah yang menjadikan negara punya uang untuk mendanai fasilitas pendidikan dan kesehatan yang relatif gratis dan berkualitas tinggi. Hanya jika dibandingkan Indonesia, para wajib pajak Indonesia juga harus membayar pajak yang tidak kecil. Belum ditambah berbagai retribusi pada pembayaran lainnya.

Hanya tetap saja untuk mendapatkan fasilitas pendidikkan sebagus TK Syuhada atau TK Budi Mulya di Yogya harus merogoh kocek begitu dalam. Jika tidak mampu yah tidak bisa sekolah disana. Untuk kuliah di UGM (yang negeri milik publik) juga harus merogoh kocek begitu dalam jika tidak mampu membayar maka persilahkan cari sekolah lain.

Lha uang pajak kita itu pada lari kemana yah?

München, 02.10.09
Dari awal musim gugur
Tepian Lembah Sungai Isar

Oleh: ferizalramli | September 10, 2009

Wanita, Wanita!

Bagian-1: Pelita

Berlin. Duduk tenang di sudut sebuah taman depan Hauptbanhhof Berlin (Hauptbanhhof: Stasiun KA Pusat). Dari tas ransel, sambil mengunyah permen karet perlahan keluarkan sebuah buku baru, beberapa menit lalu kubeli. „Kopf schlägt Kapital“ (Kepala mengalahkan Modal). Hmmm… judul provokatif!, pikirku.

Si penulis, Günter Faltin bener-2 provokator betul. Bukan modal, manajemen atau administrasi bisnis yang membuat perusahaan menjadi pemenang, tapi ide. Inovasi ide lah faktor kunci kemenangan!, begitu si Faltin memprovokasi. Tapi eits, anda jangan keliru, Faltin itu bukan cuma provokator, dia adalah Professor kredible dari Frei Universität Berlin yang terkenal seantero jagat tea. Nikmat betul, lembar-2 demi lembar mulai kubalik…

Seorang gadis duduk di sampingku. Konsentrasi sedikit buyar bertemu pandang dengan sang gadis. Tersenyum ramah dengan behel pamer giginya yang tidak terlalu bersih. Spontan senyum ramah dari sudut bibirku membalas. Dari jarak 1 meter hidungku tidak bisa mencegah aroma rokok dan alkohol menusuk masuk. Ah, gadis ini pasti penggemar berat filter dan penikmat ”banyu geni”.

Tanpa sadar tatap mata memberi informasi visual pada syarafku. Tubuhnya subur, terlalu subur. Wajahnya jauh dari cantik dan mimik itu tidak pernah berdusta, itu wajah dari wanita yang mencoba bertahan hidup di dunia. Rambut kucel. Terlihat kemproh. Hanya, kulitnya tetap terlihat sehat. Wanita ini pasti bukan pengemis. Dia wanita normal, hanya, hemm, dia bukan tipe wanita idaman laki-laki.

”Hi, hast du eine Zigarette (punya rokok)?” katanya membuka pembicaraan.
”Saya tidak merokok”, jawabku.
Dia diam. Aku pun diam. Suasana diam. Pembicaraan terputus. Tidak ada bahan yang dibicarakan dan akupun ingin menenggelamkan diri kembali ke buku yang kugenggam.

”Sudah sehari ini aku tidak merokok sebatangpun”, keluhnya tanpa berharap aku menanggapi keluhannya atau aku tidak peduli karenanya.
Kemudian dia menyumpahi diri. Terpaksa aku berhenti dalam bacaku dan tergoda mendengarkan sumpahannya.

”Ups sorry”, katanya mencoba sopan. Hanya sebentar sopannya, lalu nyrocos lagi…

Akhirnya, terlibatlah kami dalam pembicaraan yang begitu eksentrik. Nyleneh, tidak biasa tapi mengasyikkan.

“Baik, kamu ku-traktir rokok dan minum terserah apa yang kamu mau”, kataku
“Ayo kita ke Kneipe” (Kneipe: cafe atau bar kecil untuk minum)

XXX

Prefekt. Gadis itu pesan bir gelas besar, benar-2 penggemar bir. Aku pesan Kiba (Kirschen und Banana, itu lho juice sari buah kirschen campur pisang). Ku pesan juga 2 pizza untuk kami.

Glek, glek, glek, segera sepertiga gelas besar cairan itu berpindah ke kerongkongannya.
Ces!, korek api menyala membakar rokok, lalu dihisapnya perlahan.
Tampaknya sang gadis begitu menikmati betul isapan asap cigaretnya.

“Kamu tuh kerjanya apa sih kok bisa-bisanya membayarin aku rokok dan minum dengan gampang?”
“Rokok 5 euro, minum 4 Euro, Pizza 7 Euro, brati semua 16 Euro. Itu semua sama dengan aku kerja 3 jam cuci piring”, katanya. Rupanya pekerjaan sang gadis itu adalah cuci piring di restaurant.

Tidak kujawab pertanyaannya, malah kubalas dengan pertanyaan kalem: ”Klo kamu mau tiramisu ambil saja. Kelihatannya enak kok”

”Ich bin Bettina”, katanya menyebut nama sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
”Frederik aus Indonesien”, sahutku dan memperkenalkan namaku.

Kubiarkan si gadis terus bercerita diantara isapan rokok, tegakkan bir, irisan tiramisu dan caplokan pizza-nya. Aku cuma mendengar tanpa pernah menyela. Aku suka bicara, tapi klo itu temanya Standard Software SAP, Ekonomi dan tentang kerjaanku. Jika tema tentang hidup tampaknya aku lebih banyak mendengar.

”Aku sekarang umurnya 29 tahun. Sudah tidak muda memang. Sebenarnya aku ingin sekali punya pacar. Tapi aku tidak pernah punya pacar. Aku selalu gagal dalam bercinta”, polos Bettina bercerita.

”Temen-2ku dulu sudah tidak virgin saat mereka berusia 12-13 tahun, bahkan sahabatku saat umur 10 tahun sudah punya pacar. Sementara aku baru tidak virgin setelah berumur 27 tahun”, kembali dia lugu bercerita.

Aku benar-2 hampir tidak mampu menahan tawa saat dia bilang bahwa dia baru kehilangan virgin-nya diumur 27 tahun. Ini Jerman bung! Ini bukan Indonesia dengan tradisi agama dan nilai sosialnya yang puritan. Masih virgin sampai usia 27 tahun di Jerman adalah sebuah record :) Aku segera teringat dengan temen kerjaku asal Texas yang bercerita tentang putri-putri mereka.

Jika saat umur 14-15 tahun pacar dari putri mereka datang dan menjemput putrinya untuk pergi pesta atau nonton maka sang teman langsung saja bergaya membersihkan senapan laras panjangnya. Itu senjata yang bulukan bertahun-tahun ndak pernah dibersihkan tiba-2 saja dikeluarkan dan show, sengaja di depan pacar sang putri dibersihkan. Di-kokang keras-2; krak-krak! Untuk gertak! Pesannya jelas: ”Jangan main-main yah sama putri guwe!”

Tapi jika sampai usia 21 tahun, tiba-2 sang putri kesayangannya curhat menangis bilang: Daddy, I’m still virgin!”, dan dapat dipastikan topan badai sang teman pasti gelisah dan bertanya pada diri sendiri: ”what’s wrong with her?”

Dan ini si gadis di depanku baru kehilangan virgin-nya disaat 27 tahun. Pitty. Benar-2 gadis malang.

Coba kuhibur, kukatakan bahwa bercinta di usia 27 tahun adalah cinta yang matang. Itu cinta sejati. Berarti lelaki itu mencintaimu.

”Cinta sejati? Dia baru mau bercinta denganku setelah dia mabuk berat Tequila. Dan, esoknya saat dia sadar telah tidur denganku, dia tidak mau lagi bertemu denganku. Padahal aku sangat mencintainya”, meluncur begitu saja pengakuan dari si gadis.

Kali ini aku sudah berhenti tertawa. Aku diam. ”Begitu mahalkah harga sebuah kecantikan sehingga dia menjadi penentu kebahagiaan dan kehormatan seorang wanita?”, pertanyaan itu memenuhi ruang kepalaku. Detik itu juga, aku berubah menjadi hormat pada gadis yang baru ke kenal itu. Betapa sulit hari-hari yang dia laluinya tanpa sama sekali mengenal cinta dalam hidupnya. Betapa sulit hari-harinya tanpa sama sekali merasa dicintai oleh seseorang secara tulus…

Jam menunjuk 21.00. Tidak terasa lebih 3 jam berbicara. Meskipun musim panas, tampaknya perlahan akan gelap. Jam 5 pagi besok aku harus terbang bertemu klien. Pembicaraan yang eksentrik indah ini terpaksa kuakhiri.

Sang gadis tampaknya berat untuk berpisah. Ragu dia memekasakan diri mencoba meminta nomor HP-ku. Sebenarnya aku tidak ingin memberikan nomorku. Terima kasih untuk pertemuan indah ini. Aku belajar banyak tentang sisi lain kehidupan darimu. Hanya, aku tidak berharap untuk bertemu denganmu lagi, begitu kata hatiku bicara.

Hanya sial, aku orang Indonesia. Aku ndak tega menolak. Aku khawatir menyakitinya. Akhirnya, meskipun kusesali nomor HP-ku kuberikan juga. Senyum dia mencatat nomor itu. Masih kudengar dia berteriak bahwa dia pasti akan menghubungi aku lagi segera. Aku diam dan cuma bisa senyum diam.

1 hari, 2 hari, 3 hari…1 minggu, 1 bulan, ternyata si gadis tidak menelpon. Ah lega, karena ndak perlu basa-basi bahwa aku tidak ingin bertemu dengannya. Akupun lupa dengan gadis itu.

Lalu, setelah hampir setahun berlalu, tit…, tit…, masuk sms, panjang…

”Hi, Frederik. Masih inget aku Bettina? 1 jam setelah berpisah, sungguh aku sangat ingin langsung menelponmu. Tapi kuputuskan tidak. Bertemu 3 jam denganmu, saat kamu tulus mendengarkan tentang aku, adalah sesuatu yang indah dalam hidupku. Jika aku paksakan ingin bertemu denganmu kembali maka aku akan bertemu realitas pahit. Aku akan kecewa. 3 jam itu tidak akan pernah menjadi pelita lagi buatku…”

Berlin, di tahun 2008
Dari Tepian Lembah Sungai Spree

—Ferizal Ramli—

(Ini adalah diskusi hangat saya dengan Hasannudin M. Kholil, pakar Politik dari UGM)

(Hasannudin M. Kholil)
Ferr, ada dua komentar. Pertama soal peluang Tutut. Kedua soal pentingnya oposisi.
Soal peluang Tutut. Menurut saya, akan sulit sekali Tutut menang pertarungan di Munas. Sekalipun Pengurus DPD I dan II mengalami dehidrasi logistik yang cukup parah akibat terkuras sumber daya mereka pada pileg 2009, mereka masih cukup rasional untuk menggali dan … Baca Selengkapnyamengangkat Tutut dari kuburan politik.
Terdapat 3 alasan. Pertama, Jaringan dan pengaruh politik Tutut sudah tumpul. Buktinya PKPB, parpol bentukannya, tdk mendapat dukungan rakyat, masuk dalam jajaran partai nol koma.
Kedua, mereka, pengurus Golkar masih berambisi menang pada Pileg 2014. Kalau ini hitung-itungannya, dengan menggunakan asumsi pertama, figur Tutut sama sekali tidak menjual dan memenuhi syarat.
Ketiga, sebagian elite Golkar “kebelet” masuk kekuasaan. Kalau ini hitungannya, figur Tutut sudah pasti masuk kotak, karena seperti tulisan sampeyan sendiri, Tutut justru berkeinginan mengajak Golkar menjadi partai oposisi.

(Ferizal Ramli)
Saya melihatnya berbeda Kang Hasan. Pertarungan memperebutkan Ketum Golkar itu bukan pertarungan Pemiliu. Pak Ical klo pemilu belum tentu laku apalagi dengan kasus Lapindonya. Pak Ical laku karena logistiknya di Golkar. Alasan yang sama Tutut mampu melakukan seperti Pak Ical bahkan sangat mungkin lebih.

Keinginan Golkar di Pemerintahankan itukan keinginan generasi senior Golkar model Agung Laksono yang mengatakan sekarang ini giliran guwe jadi menteri! Generasi Golkar yang lebih yunior belum tentu ngebet di pemerintahan. Konsern generasi yunior Golkar adalah (1) dalam jangka 5 tahun logistik partai terjaga dan (2) Prospek untuk menang 5 tahun lagi.

Jika melihat tokoh, Pak Ical dan MbakTutut sama-2 punya dosalah. Mana sih ang lebih baik? Itu lumpur Lapindo memangnya mau dikemanain? Tutut pun punya stigma ORBA.

Tapi menurut saya, jika Golkar oposisi apalagi 5 tahun ke depan SBY selesai maka itu lebih baik dari pada Golkar bergabung di pemerintah..

(Hasannudin M. Kholil)
Komentar kedua soal pentingnya oposisi.
Secara normatif saya setuju tentang pentingnya politik oposisi sebagai tool check and balances antara cabang2 kekuasaan agar tidak korup.
Cuma saya tidak sepakat dengan gaya simplifikasi sampeyan dalam memetakan masalah. Tulisan sampeyan menyatakan pesan: Tutut menang oposisi mantap, Tutut kalah oposisi mati. Waduh… duh..duh…..

(Ferizal Ramli)
Sampeyan bisa melihat oposisi hidup jika Aburizal menang? Tidak ada 1 pun indikasi yang membuat Pak Ical membawa Golkar oposisi. Klo PDIP sendirian, wah sudah kelelahan dia. Dehidrasi.

Apakah sampeyan akan buat “oposisi ala Pancasila” dimana kita rame-2 jadi partai pemerintah dan rame-2 juga menjadi oposisi pemerintah? Oposisi khas Indonesia yang ndak ada literaturnya?
Klo logika itu yang digunakan, aku malah lebih ndak yakin lagi bahwa itu adalah oposisi. Itu malah sistem yang rusak.
Atau adakah analisa lainnya?

(Ferizal Ramli)
Kang Hasan, bagi saya ada 3 level yang harus diselamatkan.

Level Paling rendah dan paling “tidak penting” adalah orang. Secara ideal saya ingin orang terbaiklah yang menjadi pemimpin. Tapi lebih baik kita mengorbankan orang dari pada mengorbankan institusi dan sistem.

Level yang lebih penting lagi yang diselamatkan adalah Institusi: apakah itu partai atau kelembagaan. Demi kelangsungan kelembagaan maka boleh saja kita mengorbankan seseorang.

Level yang paling penting adalah sistem. Bagi saya sistem demokrasi itu jauh lebih penting diselamatkan. Bagi saya Pak Ical dan Mbak Tutut ndak ada yang lebih baik. Persoalannya siapakah diantara mereka yang mungkin akan mendorong tradisi demokrasi? Klo menuruk saya pribadi, Pak Ical rasanya tidak yah.

Tapi saya bisa salah lho :)

(Hasannudin M. Kholil)
Ada rumus baku dalam dunia politik: “Politik itu tidak berada dalam sebuah ruang kosong”. Jadi tidak sesederhana yang sampeyan gambarkan. Energi gerak dunia politik di negara manapun adalah power sharing dan kepentingan.
Ketika konsesi kekuasaan misalnya tidak didapat oleh suatu parpol, atau pemerintah dinilai tidak lagi populer, maka pendulum haluan politik parpol bisa berubah 180 derajat. Begitu sebaliknya. Ini yang menjelaskan kenapa fenomena realiansi politik (beralihnya dukungan politik) jamak terjadi di banyak negara, termasuk di USA ketika sejumlah senator Republik beralih mendukung Obama.
Kasus yg sama bisa terjadi di Indonesia. Terdapat 2 kemungkinan:
Pertama, parpol pendukung SBY pada Pilpres yg tdk mendapat jatah kabinet bisa menyeberang menjadi oposisi.
Kedua, kalau popularitas SBY “ngedrop” karena tdk perform dalam menjalankan pemerintahannya, bisa mendorong parpol yang semula mendukung akan rame-rame menyeberang.

(Hasannudin M. Kholil)
Poin yang ingin saya sampaikan adalah tumbuhnya bangunan Oposisi di Indonesia sama sekali tidak ada hubungannya dengan gemuruh Munas Golkar yang akan berlangsung. Apalagi kalau dikaitkan dengan figur orang: Tutut atau Ical. Ini terlalu sederhana Kang…
Bicara Ical atau Tutut enaknya ngomongin peluang siapa yang berpeluang menang. Tulisan saya yg… Baca Selengkapnya pertama di atas mencoba menganalisa petanya.
Kalau soal penjaga oposisi banyak sekali variabelnya. Belum lagi variabel Mahkamah Konstitusi yang bisa memotong produk UU kapan saja MK mau jika Presiden dan DPR berselingkuh.
Terakhir saya sepakat sistem demokrasi memang harus terus dijaga dan diselamatkan. Ini pilihan yang tidak bisa mundur lagi.

(Ferizal Ramli)
Kang Hasan, apa yag sampeyan katakan adalah sudut pandang menarik.

Bagi saya oposisi itu “harus” sistemik. Bagi Kang Hasan oposisi itu bisa saja spontansitas. Saya tidak menolak adanya oposisi spontanitas. Tapi saya pikir itu adalah prestasi minimalis.

Saya bicara dalam konteks pakem. Pakemnya sebuah politik dalam demokrasi itu ada institusi oposisi secara formal dan sistemik. Satu atau 2 dari partai gurem bisa saja kecewa dan menentang Pak SBY tapi itu cuma bagian dari seni segala kemungkinan. Itu cuma mengasilkan oposisi spontanitas.

Begitu juga kemungkinan kedua: Itu adalah spotansitas perlawanan jika SBY melakukan blunder kebangetan seperti kasus Gus Dur dengan poros tengahnya.

Tapi saya sangat memahami pendapat itu. Mungkin tradisi masyakarat kita memang tradisi spontan, tidak sistemik. Akibatnya saat model dicoba untuk dibuat maka variable abstrak dan spontan justru harus Ferizal RamliKang Hasan, apa yag sampeyan katakan adalah sudut pandang menarik.

Bagi saya oposisi itu “harus” sistemik. Bagi Kang Hasan oposisi itu bisa saja spontansitas. Saya tidak menolak adanya oposisi spontanitas. Tapi saya pikir itu adalah prestasi minimalis.

Saya bicara dalam konteks pakem. Pakemnya sebuah politik dalam demokrasi itu ada institusi oposisi secara formal dan sistemik. Satu atau 2 dari partai gurem bisa saja kecewa dan menentang Pak SBY tapi itu cuma bagian dari seni segala kemungkinan. Itu cuma mengasilkan oposisi spontanitas.

Begitu juga kemungkinan kedua: Itu adalah spotansitas perlawanan jika SBY melakukan blunder kebangetan seperti kasus Gus Dur dengan poros tengahnya.

Tapi saya sangat memahami pendapat itu. Mungkin tradisi masyakarat kita memang tradisi spontan, tidak sistemik. Akibatnya saat model dicoba untuk dibuat maka variable abstrak dan spontan justru harus menjadi faktor dominan untuk mendesain model tsb…

(Ferizal Ramli)
Kesimpulan saya, oposisi ala Mas Hasan semakin memperkuat keyakinan saya akan muncul “oposisi ala Pancasila”, “Oposisi ala Indonesia”. Yaitu sama-2 bareng di pemerintahan dan sama-2 siap menikam dalam tikungan. Bagi saya ini adalah sistem yang rusak meskipun secara realitas bisa saja terjadi. Hanya jika tradisi ini yang dibangun maka ini tradisi … Baca Selengkapnyayang rusak…

Dalam sistem demokrasi Eropa (Jerman, UK) yang saya amati, saya tidak ketemu sistem oposisi seperti ini (maaf saya sangat mungkin juga kleru). Kasus per kasus bisa saja terjadi insidental tapi secara sistem, saya tidak berharap model oposisi seperti ini yang ada di Indonesia…

(Hasannudin M. Kholil)
Kang Ferizal, bisa ditunjukan ke saya contoh negara dengan “sistem pemerintahan presidensial” yang memiliki tradisi oposisi formal dan sistemis seperti yang samperan idamkan?
Saya sengaja membri tanda kutip “sistem pemerintahan presidensial” untuk membedakan dengan “sistem pemerintahan parlementer” yang memiliki anatomi dan struktur pemerintahan yang berbeda, termasuk format bangunan oposisinya

(Ferizal Ramli) Ups ini untuk mengomentari tentang Golkar, 2 orang dan MK.

Saya pikir spirit tulisan saya adalah meletakkan Partai sebagai ujung tombak oposisi. Saat itulah yang paling menjadi harapan bagi kita adalah Golkar. Itu menurut saya. Penyembutan nama 2 orang calon Ketum itu adalah turunan dari spirit tulisan saya.

Saya tidak pernah berpikir MK itu adalah variabel oposisi. Jika MK adalah pelangkap pilar bagi demokrasi iya. Tapi apakah dia adalah variabel oposisi untuk proses cross-check kinerja eksekutif? saya pikir itu adalah tugas utama Parlemen! bukan tugas MK.

Apakah MK bisa melakukan pengawasan terhadap kinerja eksekutif? Saya tidak pernah melihat ada negara yang menempatkan lembaga MK sebagai harapan untuk melakukan “oposisi” seperti fungsi partai di Parlemen :)

Tapi mungkin karena perbedaan sudut pandang saja diantara kita. Saa sendiri mendapat banyak hal dari sudut pandang sampeyan…

Salam,
FR

(Hasannudin M. Kholil)
Sebab nampaknya sampeyan belum memahami konsep oposisi secara lebih utuh, sehingga sampeyan mencampur adukan antara konsep dan realitas oposisi di negara dengan bentuk pemerintahan parlementer dengan negara yang berbentuk ipemerintahan presidensial. Bangunan oposisi yang matang, terlembaga, dan sistemik memang lebih melekat dalam negara yang menganut bentuk pemerintahan parlementer, seperti negara Jerman yang sampeyan banggakan.
Coba deh dibaca lagi bukunya…

(Ferizal Ramli)
Coba sampeyan bicara tentang Amrik. Itu juga sistemik :) Apa ada oposisi Pancasila ala Amrik? Oposisi spontanitas :) )

Amrik lebih sinting lagi, kesepakatan oposisi sudah dilakukan sebelum pemilu. Perancis yang Presidensial juga demikian. Ndak ada itu oposisi spontanitas :)

Sekarang giliran anda kasih contoh apakah benar opisisi spontanitas itu adalah pakem dari sistem pemerintahan presidensial?

(Hasannudin M. Kholil)
Soal MK, Amrik, Jerman dipending dulu Kang.
Aku sahur dulu… keburu Imsak, nanti bisa tidak kuat puasa kalau gak sahur :-) )
Karena… Gak mau saya dituduh sampeyan oposisi sama Tuhan gara-gara gak puasa siangnya ha ha ha
Anang, Kang Bambang jangan cuma acung jempol. Ayoo komentar… !

(Bambang Priyantoro)
kang Hasan dan Fehrizal yang hebat2 diskusinya, soal membangun oposisi (check and balance) yang permanen di Indonesia ini memang membingungkan, apalagi jika dikaitkan dengan tradisi politik maupun pilihan sistem presidensial/parlementer…. apakah mungkin tradisi oposisi bisa dibangun ditengah-tengah the end of ideologi.. tanpa ideologi? yang terjadi selama ini hanya “grudak-guruduk politik model baru”… karena bicara ideology dianggap kuno sementara tidak ada lem perekat kuat diantara sesama kelompok opsisisi.. oposisi tidak pernah solid guna membangun tradisi pemerintahan yg mapan (lama kelamaan bisa terbangun 2 kutub) yang seimbang antara pemerintah dan oposisi… kelelahan sebagai oposisi tidak karena problem ideology tetapi lebih kepada bahan bakar politik dimana partai opisisi yang terlalu lama (tidak punya menteri) akan garing tdk mampu mememengkan perarungan berikutnya…. oposisi seolah-olah hanya kepada kelompok yang punya meneteri atau tidak, punya proyek atau tidak…

(Bambang Priyantoro)
perdebatan oposisi pada kehadiran figur akan lebih sulit lagi menuju model opisisi permanen karena tidak mudah didapatkan kekuatan daya tarik permanen dalam politik (jika tidak boleh disebut ideology)… tutut, tomy, aburizal bakrie, atau siapapun bukanlah mereka representasi dari partai kekaryaan… namun semua lebih kepada pragmatisme mobilisasi kekuatan sumber daya politik (uang), siapa yang kuat dialah yang menang, namun sangat menarik untuk ditemukan kembali bangunan “oposisi permanen pancasila” yang benar-benar terlepas dari jeratan politik uang dan pertimbangan pragmatis politik lima tahunan… salah satunya mungkin dengan cara seperti yang ditempuh SBY ini yakni membangun tradisi check anda balance tanpa melakukan penggabungan partai, tetapi lebih kepada kesadaran mereka sendiri bergabung dengan pemerintah atau tidak.., cuman persoalan sekarang siapa yang bersedia memilih “pilihan pahit namun sesungguhnya obat bagi bangsa ini”?… menjadi opsisi harus siap jadi partai miskin?

(Ferizal Ramli)
Kang Bambang: banyak point saya setuju. Hanya saya ijinkanlah saya mencoba menjelaskan sudut pandang saya. Saya sengaja mengorbankan figur demi sistem. Tutut, Tommy dan Ical adalah pilihan amat buruk jika kita bicra figur.

Tapi keinginan SBY (yang secara figur lebih baik dari pada Tutut, Tommy & Ical) untuk merangkul Golkar & PDIP dlm koalisi besarnya, bagi saya lebih buruk dari pd Tutut memimpin oposisi misalkan.

Bagi saya saat PDIP dan Golkar masuk pemerintahan berarti tradisi sistem oposisi lah yang hancur. Sementara misalkan (tanpa bermaksud menyederhanakan masalah) Golkar oposisi meskipun dipimpin Tutut sekalipun, itu lebih baik dari pada demokrasi tanpa oposisi.

Idealnya adalah figurnya baik, institusinya baik dan sistemnya baik. Tapi jika saya harus memilih figur atau sistem maka sistemlah yang jauh lebih penting.

Hanya thesis Kang Hasan yg mengatakan adanya oposisi krn sakit hati atau karena performa pemerintah yang anjlok sangat mungkin adl realitas oposisi Indonesia…

Pemilu memberi kemenangan mutlak buat Pak SBY-Boed. Oleh Pak SBY semua partai tampaknya akan ditarik ke koalisi besar. Ini jelas mengancam kehidupan demokrasi di Indonesia. Jika semua partai bergabung di pemerintahan maka tidak ada lagi Partai yang berperan sebagai oposisi. Kebijakan akan keluar begitu saja tanpa ada cross-check di parlemen. Tidak ada yang mengkritisi kebijakan yang tidak tepat.

Sebuah pemerintahan tanpa oposisi adalah kegagalan demokrasi.
Lord Acton:
“Power tends to corrupt”
“Absolute power corrupts absolutely”

PDIP yang 5 tahun lalu mengambil peran opisisi tampaknya terlalu lelah jika harus kembali oposisi 5 tahun ke depan. Sangat mungkin PDIP akan memilih berteduh dengan partai pemerintah. Golkar pun di bawah Aburizal Bakrie (Pak Ical) tampaknya akan memilih berteduh bersama dengan partai pemerintah. Jika konstelasi pemilihan ketum Golkar tidak berubah maka Pak Ical hampir pasti yang akan memimpin Golkar 5 tahun ke depan. Jadi, dapat dipastikan pemerintahan 5 tahun ke depan akan menjadi pemerintah yang absolut yang dilindungi oleh sistem demokrasi.

Harapan “satu-2nya” akan oposisi justru sangat ironis yaitu muncul dari Siti Hardianti Rukmana atau mbak Tutut. Mbak Tutut sangat mungkin justru akan menjadi Pahlawan bagi sistem demokrasi Indonesia. Pesaing terkuat Pak Ical dalam pemilihan Ketua Golkar adalah Mbak Tutut. Berhadapan dengan mbak Tutut, Pak Ical belum tentu menang. Dan jika akhirnya pemenang Ketum Golkar adalah Mbak Tutut maka sangat mungkin mbak Tutut akan membawa Golkar menjadi partai oposisi.

Posisi Golkar di oposisi apalagi jika PDIP akhirnya memutuskan oposisi juga akan membuat demokrasi Indonesia secara sistem menjadi lebih baik. Tentu saja publik tidak lupa bahwa Mbak Tutut adalah putri sulung dari Pak Harto Rejim Orba. Disisi lain membiarkan sebuah pemerintahan absolut pun merupakan pertaruhan bangsa yang sangat riskan.

Inilah pilihan sulit bagi bangsa Indonesia. Demokrasi Indonesia jelas akan lebih baik jika mbak Tutut memenangi pertarungan Ketum Golkar dan memimpin Golkar menjadi Partai Oposisi. Tapi stigma ORBA juga melekat pada mbak Tutut. Akankah mbak Tutut mampu membayar dosa masa lalunya untuk menjadi pahlawan bagi demokrasi bagi Indonesia?

Biarlah kelak sejarah yang menjawabnya…

Dari tepian Lembah Sungai Isar,

XXX
(Ini adalah diskusi hangat saya dengan Hasannudin M. Kholil, pakar Politik dari UGM)

(Hasannudin M. Kholil)
Ferr, ada dua komentar. Pertama soal peluang Tutut. Kedua soal pentingnya oposisi.
Soal peluang Tutut. Menurut saya, akan sulit sekali Tutut menang pertarungan di Munas. Sekalipun Pengurus DPD I dan II mengalami dehidrasi logistik yang cukup parah akibat terkuras sumber daya mereka pada pileg 2009, mereka masih cukup rasional untuk menggali dan … Baca Selengkapnyamengangkat Tutut dari kuburan politik.
Terdapat 3 alasan. Pertama, Jaringan dan pengaruh politik Tutut sudah tumpul. Buktinya PKPB, parpol bentukannya, tdk mendapat dukungan rakyat, masuk dalam jajaran partai nol koma.
Kedua, mereka, pengurus Golkar masih berambisi menang pada Pileg 2014. Kalau ini hitung-itungannya, dengan menggunakan asumsi pertama, figur Tutut sama sekali tidak menjual dan memenuhi syarat.
Ketiga, sebagian elite Golkar “kebelet” masuk kekuasaan. Kalau ini hitungannya, figur Tutut sudah pasti masuk kotak, karena seperti tulisan sampeyan sendiri, Tutut justru berkeinginan mengajak Golkar menjadi partai oposisi.

(Ferizal Ramli)
Saya melihatnya berbeda Kang Hasan. Pertarungan memperebutkan Ketum Golkar itu bukan pertarungan Pemiliu. Pak Ical klo pemilu belum tentu laku apalagi dengan kasus Lapindonya. Pak Ical laku karena logistiknya di Golkar. Alasan yang sama Tutut mampu melakukan seperti Pak Ical bahkan sangat mungkin lebih.

Keinginan Golkar di Pemerintahankan itukan keinginan generasi senior Golkar model Agung Laksono yang mengatakan sekarang ini giliran guwe jadi menteri! Generasi Golkar yang lebih yunior belum tentu ngebet di pemerintahan. Konsern generasi yunior Golkar adalah (1) dalam jangka 5 tahun logistik partai terjaga dan (2) Prospek untuk menang 5 tahun lagi.

Jika melihat tokoh, Pak Ical dan MbakTutut sama-2 punya dosalah. Mana sih ang lebih baik? Itu lumpur Lapindo memangnya mau dikemanain? Tutut pun punya stigma ORBA.

Tapi menurut saya, jika Golkar oposisi apalagi 5 tahun ke depan SBY selesai maka itu lebih baik dari pada Golkar bergabung di pemerintah..

(Hasannudin M. Kholil)
Komentar kedua soal pentingnya oposisi.
Secara normatif saya setuju tentang pentingnya politik oposisi sebagai tool check and balances antara cabang2 kekuasaan agar tidak korup.
Cuma saya tidak sepakat dengan gaya simplifikasi sampeyan dalam memetakan masalah. Tulisan sampeyan menyatakan pesan: Tutut menang oposisi mantap, Tutut kalah oposisi mati. Waduh… duh..duh…..

(Ferizal Ramli)
Sampeyan bisa melihat oposisi hidup jika Aburizal menang? Tidak ada 1 pun indikasi yang membuat Pak Ical membawa Golkar oposisi. Klo PDIP sendirian, wah sudah kelelahan dia. Dehidrasi.

Apakah sampeyan akan buat “oposisi ala Pancasila” dimana kita rame-2 jadi partai pemerintah dan rame-2 juga menjadi oposisi pemerintah? Oposisi khas Indonesia yang ndak ada literaturnya?
Klo logika itu yang digunakan, aku malah lebih ndak yakin lagi bahwa itu adalah oposisi. Itu malah sistem yang rusak.
Atau adakah analisa lainnya?

(Ferizal Ramli)
Kang Hasan, bagi saya ada 3 level yang harus diselamatkan.

Level Paling rendah dan paling “tidak penting” adalah orang. Secara ideal saya ingin orang terbaiklah yang menjadi pemimpin. Tapi lebih baik kita mengorbankan orang dari pada mengorbankan institusi dan sistem.

Level yang lebih penting lagi yang diselamatkan adalah Institusi: apakah itu partai atau kelembagaan. Demi kelangsungan kelembagaan maka boleh saja kita mengorbankan seseorang.

Level yang paling penting adalah sistem. Bagi saya sistem demokrasi itu jauh lebih penting diselamatkan. Bagi saya Pak Ical dan Mbak Tutut ndak ada yang lebih baik. Persoalannya siapakah diantara mereka yang mungkin akan mendorong tradisi demokrasi? Klo menuruk saya pribadi, Pak Ical rasanya tidak yah.

Tapi saya bisa salah lho :)

(Hasannudin M. Kholil)
Ada rumus baku dalam dunia politik: “Politik itu tidak berada dalam sebuah ruang kosong”. Jadi tidak sesederhana yang sampeyan gambarkan. Energi gerak dunia politik di negara manapun adalah power sharing dan kepentingan.
Ketika konsesi kekuasaan misalnya tidak didapat oleh suatu parpol, atau pemerintah dinilai tidak lagi populer, maka pendulum haluan politik parpol bisa berubah 180 derajat. Begitu sebaliknya. Ini yang menjelaskan kenapa fenomena realiansi politik (beralihnya dukungan politik) jamak terjadi di banyak negara, termasuk di USA ketika sejumlah senator Republik beralih mendukung Obama.
Kasus yg sama bisa terjadi di Indonesia. Terdapat 2 kemungkinan:
Pertama, parpol pendukung SBY pada Pilpres yg tdk mendapat jatah kabinet bisa menyeberang menjadi oposisi.
Kedua, kalau popularitas SBY “ngedrop” karena tdk perform dalam menjalankan pemerintahannya, bisa mendorong parpol yang semula mendukung akan rame-rame menyeberang.

(Hasannudin M. Kholil)
Poin yang ingin saya sampaikan adalah tumbuhnya bangunan Oposisi di Indonesia sama sekali tidak ada hubungannya dengan gemuruh Munas Golkar yang akan berlangsung. Apalagi kalau dikaitkan dengan figur orang: Tutut atau Ical. Ini terlalu sederhana Kang…
Bicara Ical atau Tutut enaknya ngomongin peluang siapa yang berpeluang menang. Tulisan saya yg… Baca Selengkapnya pertama di atas mencoba menganalisa petanya.
Kalau soal penjaga oposisi banyak sekali variabelnya. Belum lagi variabel Mahkamah Konstitusi yang bisa memotong produk UU kapan saja MK mau jika Presiden dan DPR berselingkuh.
Terakhir saya sepakat sistem demokrasi memang harus terus dijaga dan diselamatkan. Ini pilihan yang tidak bisa mundur lagi.

(Ferizal Ramli)
Kang Hasan, apa yag sampeyan katakan adalah sudut pandang menarik.

Bagi saya oposisi itu “harus” sistemik. Bagi Kang Hasan oposisi itu bisa saja spontansitas. Saya tidak menolak adanya oposisi spontanitas. Tapi saya pikir itu adalah prestasi minimalis.

Saya bicara dalam konteks pakem. Pakemnya sebuah politik dalam demokrasi itu ada institusi oposisi secara formal dan sistemik. Satu atau 2 dari partai gurem bisa saja kecewa dan menentang Pak SBY tapi itu cuma bagian dari seni segala kemungkinan. Itu cuma mengasilkan oposisi spontanitas.

Begitu juga kemungkinan kedua: Itu adalah spotansitas perlawanan jika SBY melakukan blunder kebangetan seperti kasus Gus Dur dengan poros tengahnya.

Tapi saya sangat memahami pendapat itu. Mungkin tradisi masyakarat kita memang tradisi spontan, tidak sistemik. Akibatnya saat model dicoba untuk dibuat maka variable abstrak dan spontan justru harus Ferizal RamliKang Hasan, apa yag sampeyan katakan adalah sudut pandang menarik.

Bagi saya oposisi itu “harus” sistemik. Bagi Kang Hasan oposisi itu bisa saja spontansitas. Saya tidak menolak adanya oposisi spontanitas. Tapi saya pikir itu adalah prestasi minimalis.

Saya bicara dalam konteks pakem. Pakemnya sebuah politik dalam demokrasi itu ada institusi oposisi secara formal dan sistemik. Satu atau 2 dari partai gurem bisa saja kecewa dan menentang Pak SBY tapi itu cuma bagian dari seni segala kemungkinan. Itu cuma mengasilkan oposisi spontanitas.

Begitu juga kemungkinan kedua: Itu adalah spotansitas perlawanan jika SBY melakukan blunder kebangetan seperti kasus Gus Dur dengan poros tengahnya.

Tapi saya sangat memahami pendapat itu. Mungkin tradisi masyakarat kita memang tradisi spontan, tidak sistemik. Akibatnya saat model dicoba untuk dibuat maka variable abstrak dan spontan justru harus menjadi faktor dominan untuk mendesain model tsb…

(Ferizal Ramli)
Kesimpulan saya, oposisi ala Mas Hasan semakin memperkuat keyakinan saya akan muncul “oposisi ala Pancasila”, “Oposisi ala Indonesia”. Yaitu sama-2 bareng di pemerintahan dan sama-2 siap menikam dalam tikungan. Bagi saya ini adalah sistem yang rusak meskipun secara realitas bisa saja terjadi. Hanya jika tradisi ini yang dibangun maka ini tradisi … Baca Selengkapnyayang rusak…

Dalam sistem demokrasi Eropa (Jerman, UK) yang saya amati, saya tidak ketemu sistem oposisi seperti ini (maaf saya sangat mungkin juga kleru). Kasus per kasus bisa saja terjadi insidental tapi secara sistem, saya tidak berharap model oposisi seperti ini yang ada di Indonesia…

(Hasannudin M. Kholil)
Kang Ferizal, bisa ditunjukan ke saya contoh negara dengan “sistem pemerintahan presidensial” yang memiliki tradisi oposisi formal dan sistemis seperti yang samperan idamkan?
Saya sengaja membri tanda kutip “sistem pemerintahan presidensial” untuk membedakan dengan “sistem pemerintahan parlementer” yang memiliki anatomi dan struktur pemerintahan yang berbeda, termasuk format bangunan oposisinya

(Ferizal Ramli) Ups ini untuk mengomentari tentang Golkar, 2 orang dan MK.

Saya pikir spirit tulisan saya adalah meletakkan Partai sebagai ujung tombak oposisi. Saat itulah yang paling menjadi harapan bagi kita adalah Golkar. Itu menurut saya. Penyembutan nama 2 orang calon Ketum itu adalah turunan dari spirit tulisan saya.

Saya tidak pernah berpikir MK itu adalah variabel oposisi. Jika MK adalah pelangkap pilar bagi demokrasi iya. Tapi apakah dia adalah variabel oposisi untuk proses cross-check kinerja eksekutif? saya pikir itu adalah tugas utama Parlemen! bukan tugas MK.

Apakah MK bisa melakukan pengawasan terhadap kinerja eksekutif? Saya tidak pernah melihat ada negara yang menempatkan lembaga MK sebagai harapan untuk melakukan “oposisi” seperti fungsi partai di Parlemen :)

Tapi mungkin karena perbedaan sudut pandang saja diantara kita. Saa sendiri mendapat banyak hal dari sudut pandang sampeyan…

Salam,
FR

(Hasannudin M. Kholil)
Sebab nampaknya sampeyan belum memahami konsep oposisi secara lebih utuh, sehingga sampeyan mencampur adukan antara konsep dan realitas oposisi di negara dengan bentuk pemerintahan parlementer dengan negara yang berbentuk ipemerintahan presidensial. Bangunan oposisi yang matang, terlembaga, dan sistemik memang lebih melekat dalam negara yang menganut bentuk pemerintahan parlementer, seperti negara Jerman yang sampeyan banggakan.
Coba deh dibaca lagi bukunya…

(Ferizal Ramli)
Coba sampeyan bicara tentang Amrik. Itu juga sistemik :) Apa ada oposisi Pancasila ala Amrik? Oposisi spontanitas :) )

Amrik lebih sinting lagi, kesepakatan oposisi sudah dilakukan sebelum pemilu. Perancis yang Presidensial juga demikian. Ndak ada itu oposisi spontanitas :)

Sekarang giliran anda kasih contoh apakah benar opisisi spontanitas itu adalah pakem dari sistem pemerintahan presidensial?

(Hasannudin M. Kholil)
Soal MK, Amrik, Jerman dipending dulu Kang.
Aku sahur dulu… keburu Imsak, nanti bisa tidak kuat puasa kalau gak sahur :-) )
Karena… Gak mau saya dituduh sampeyan oposisi sama Tuhan gara-gara gak puasa siangnya ha ha ha
Anang, Kang Bambang jangan cuma acung jempol. Ayoo komentar… !

Jadi, begini. Ekuitas Bank Century itu kurang dari 2 T. Assetnya jika berdasarkan laporan keuangan itu adalah 14 T. Asset-nya berdasarkan nilai pasar juga ndak lebih dari 2 T. Jadi, ada penggelembungan dana pada Bank Century dalam bentuk investasi kertas bodong.

Ini adalah tugas BI untuk tahu ini. Ndak bisa dong dia bilang seenaknya, wah kami ndak tahu jika ada kebohongan di Bank Century. Lha UU perbankan mengatakan bahwa itu tugas BI.

Semakin lucu lagi jika BI (dan Menkeu sebagai eksekutor dana) tidak tahu bahwa Bank Century itu punya asset bodong dan baru tahu setelah kita ngeluarkan dana 7 T. Lalu setelah 7 T dikeluarkan baru bank ditutup dan dinyatakan bangkrut.

Ada apa ini? Apakah maksudnya 7 T itu adalah dana orang tertentu yang rugi jika bank langsung ditutup? Lalu Negara kembalikan dulu itu 7 T ke pemilik modal Bank Century setelah itu “ditutup”?

Bagi saya ndak logis rakyat menanggung kerugian investasi dari pemilik modal!

Kedua jika ada efek sistemik domino dari penyelamatan Bank Century maka sekarang efek dominonya pasti terjadi. Lha wong Bank-nya ndak terselamatkan kok. Bank-nya itu sempat “ditutup” bangkrut! Kok ndak ada tuh efek domino?

Lantas kenapa tunggu kita buang 7 T untuk “selamatkan” Bank tersebut? 7 T itu untuk siapa?

LANJUTKAN!!!

Tulisan Sebelumnya »

Kategori