Catatan Pengatar:
Diskursus ini adalah penggugatan terhadap pola doktrinasi dan pembodohan (klo sahabat saya menyebut-nya kekacauan berpikir) dari Harun Yahya tentu saja termasuk kehidupannya yang kontroversial terlibat skandal: pemerasan, narkoba dan sex. Tulisan ini mendapatkan tanggapan serius dari Bung Syailendra Yunus dan dari Bung Nasirin Achlan (sayang Bung Nasirin ini lebih suka bicara ke-Araf-Arafan dalam diskusi dari pfada B. Indonesia).
http://www.facebook.com/video/video.php?v=1161646475477&ref=mf
http://www.facebook.com/video/video.php?v=1161646475477&ref=share
(Ferizal Ramli):
Gaya Harun Yayah itu sama. Dimulai dengan kajian-2 yang terlihat ilmiah nanti akhirnya akan meloncat pada kesimpulan yang “ajaib”.
Dalam video ini juga anda akan tahu bagaimana awalnya anda di-”doktrin” dengan visual-2 menarik dengan pesan jelas bahwa semuanya diluar tubuh anda adalah persepsi. Lalu muncul kata pamungkas khas Harun Yahya: yang sejati adalah Ruh!
Dari mana Harun Yahya bisa tahu ada Ruh (soul) dalam manusia? Lihat saja film itu kembali dari mana kata Ruh itu datang sebagai kesimpulannya? Tidak ada satupun ilmuwan yang dikutip oleh Harun Yahya dalam film itu menyebutnya kata ruh!
Jika Harun Yahya mau menampilkan kesimpulan akhirnya adalah ruh maka dia harus dari awal mempresentasikanm hasil penemuan saintifiknya tentang ruh. Jelas Harun Yahya tidak punya penjelasan kecuali sepanjang film itu dia cuma bercerita tentang persepsi otak.
Harun Yahya BELUM pernah menghasilkan penemuan apapun. Apa penemuan Harun Yahya sebagai ilmuwan buat umat manusia? Saya belum pernah dengar Harun Yahya sebagai penemu.
Yang saya pernah dengar, Harun Yahya terlibat skandal narkoba, skandal sex dan berbagai skandal lainnya. Catatan kriminal Harun Yahya sama sekali tidak memancarkan moral Islam.
Maaf sekali saya sama sekali bukan penggemar Harun Yahya…
Salam,
FR
XXX
(Syailendra Yunus)
@ Bung Rizal: Yang menarik dari komentar bapak menurut saya justru ada pada bagian akhir, yaitu tentang “catatan kriminal” HY yang dikatakan oleh bung rizal tidak “memancarkan moral islam”…
Nah, atas dasar penilaian tersebut saya jadi berfikir, catatan apa yang harus saya buat untuk menilai “keislaman” bung rizal sehubungan dengan komentar yang diberikan?
Bung Rizal… Kesimpulan yang diambil HY itu tidak meloncat karena sebelum mengambil kesimpulan, HY sudah memaparkan fenomena mimpi yang terjadi saat manusia tidur…
Sebagian besar masyarakat barat (termasuk bung rizal ?), memang tidak percaya akan adanya ruh. Dzat yang keberadaannya justru menjadi sebab-sebab kemuliaan bagi manusia.
Keberadaan dzat itulah yang menyebabkan mengapa Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada manusia sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur’an.
Tanpa ruh, tidaklah mungkin Allah memerintahkan malaikat-Nya bersujud kepada “jasad” yang berwujud manusia, yang Allah ciptakan.
Ilmu, itulah menjadi sebab-sebab “kemulian” manusia… Tanpa ruh, jasad yang berwujud manusia tidak akan pernah memiliki ilmu. Mengapa? Karena jasad tersebut tidak bisa berinteraksi secara mandiri dengan jasad-jasad lain di luarnya…
Ruh-lah yang menyebabkan mengapa jasad yang berwujud manusia dapat berinteraksi dengan dunia di luarnya, melalui pendengaran, penglihatan dan hatinya (lihat QS. 32:9)… Terbentuknya persepsi manusia tentang dunia di luar dirinya berawal dari sini…
Nah, berawal dari mengimani QS. 32:9, kesimpulan “ajaib” bisa diambil oleh HY… Kesimpulan tersebut selamanya akan tetap menjadi “barang ajaib” bagi orang di dalam hatinya tidak mengimani ayat-ayat Allah…
Itulah sedikit catatan yang bisa saya berikan agar menjadi bahan renungan bagi kita semua…
XXX
(Ferizal Ramli)
@Bung Syailendra: saya ndak punya persoalan dengan keberadaan ruh. Saya mengimaninya. Saya percaya Al Qur’an. Jadi, TIDA ADA hubungannya antara ketidakpercayaan saya pada Harun Yahya itu sama dengan Al Qur’an. Kutipan Kang Syailendra tentang Al Qur’an tidak relevan dengan kritikan saya terhadap pola pikir Harun Yahya. Itu dua masalah yang sama sekali berbeda.
Saya cuma mengatakan bahwa Video Harun Yahya diatas tidak mendidik. Itu proses doktrinasi pembodohan. Seperti paparan argumentasi saya diatas: Harun Yahya tidak punya konsep apapun tentang ruh.
Dalam video diatas Harun Yahya cuma bicara tentang konteks persepsi akibat kerja panca indera dan otak. Harun Yahya sama sekali tidak tahu apa-2 tentang Ruh. Cuma satu kalimat terakhir dalam video: “inilah kerja ruh”. Bagi saya, itu terdengar “ini lah doktrin khas Harun Yahya”…. Read more
Saya pikir apa yang dilakukan Harun Yahya pembodohan. Sekali lagi, Saya tidak menolak keberadaan ruh. Yang saya tolak, cara Harun Yayah mendoktrin. JIka HR mau bicara ruh maka dia harus menjelaskan kertas kerja penemuannya tentang konsep ruh. Bukan kutip-2 konsep barat tentang IPTEK kerja otak dan panca indera, atau terkadang kutip-2 film-2 BBC, lalu dibuat narasi sesuai kegemaran Harun Yahya sendiri.
Ngomong-2 apa sih hasil penemuan dari Harun Yahya sehingga dia merasa kredibel bicara tentang sains?
Klo Bung Syailendra meragukan ke-Islaman saya hanya karena saya meragukan moral Harun Yahya yah silahkan. Tapi saya meragukan moral Harun Yahya dengan indikator jelas, Harun Yahya tercatat terkena berkali-2 skandal, yaitu skandal narkoba, sex termasuk pemerasan. Silahkan ikuti saja berbagai cerita skandal Harun Yahya tentang hal itu. Itu fakta nyata kok…
XXX
(Ferizal Ramli)
@ Kang Syailendra: sekali lagi, TIDAK ADA statement saya yang menolak Ruh. Saya menolak pola doktrin pembodohan Harun Yahya. Tolong dibaca lagi tulisan saya
Harun Yahya bukan saintis. Apa karya penemuannya? Apa keahlian Harun Yahya sehingga dia merasa bisa komentar apapun dari mulai teori Evolusi, genetika, bio teknolgi, alam semesta sampai pada teori otak, dsb?
Hanya Dhukun yang merasa bisa berbicara tentang semua hal. Ilmuwan hanya bisa bicara pada bidang yang dikuasainya saja
Salam,
FR
XXX
(Nasirin Achlan):
Wa yas-aluunaka ‘anir ruuhi, qulir ruuhu min amri robbiy, wa maaaa uutiytum minal ‘ilmiy illa qoliylaa. Al Isro ayat 85
XXX
(Ferizal Ramli):
Betul Al Isro ayat 85. Lantas atas dasar apa Harun Yahya bisa menghubungkan fenomena mimpi, persepsi kerja otak dan panca indera dengan ruh? Sudah jelas ruh itu adalah rahasia Allah SWT. Berarti konsep ruh itu adalah iman atau tidak iman. Titik!
Lah kok Harun Yahya malah buat spekulasi macem-2 atas nama sains?
XXX
(Nasirin Achlan):
Barangkali..kalaupun ada spekulasi ya ‘qolil’ hanya sampai tingkat dhon saja, tidak mencapai kebenaran, celakanya : Inna ba’dho dhonni ismun, spekulasi itu boleh jadi masuk dalam kedosaan, ayo kita cari tema lain Bapak2..Mohon maaf, Wassalam-kang nasir
XXX
(Eko Frimarsanto Mulyo):
sudahlah , itu khan ijtihad versi Harun Yahya, sebaiknya menjadi pemancing bagi kita untuk berijtihad juga menangkap fenomena disekitar kita, sangat mungkin dengan cara yang lebih baik, hasil studi kita bisa lebih baik dari Harun Yahya apalgi jika dilakukan oleh mereka yang mempunyai kredibilitas yang tinggi dibidang sains…
Terkadang juga butuh berabad-abad untuk memahami bahkan hanya satu ayat dalam Al Qur’an, contoh surah Az-Zariyat ayat 1 ; (tafsir versi Depag) Demi angin yang menerbangkan debu… para pakar sains saat ini mulai memahami tafsir debu tadi sebagai yang halus dari yang halus, zat yang bahkan lebih halus dari atom.., partikel terhalus ini mempunyai peran penting dalam gravitasi dan lain-lain…ini saya dapat saat mendengarkan khutbah Jum’at di Masjid Salman ITB, kebetulan yang memberi khutbah seorang dosen ITB,menurut paparan beliau, pemaknaan tafsir yang terbatas seperti debu tadi membuat kemajuan sains di dunia Islam saat ini agak mundur, dibanding para saintis Islam berbad yang lalu, yang menjadi pionir dibidang optk, astronomi, kimia dan geometri serta aljabar… karena mereka memikirkan dengan serius apa yang terkandung dalam ayat-ayat Al Qur’an…
Negeri kita butuh lebih banyak mereka yang mau mengkaji serius ayat-ayat Allah , lihatlah betapa banyak kerusakan di negeri kita karena saling beradu nalar dan logika…Satukan pengetahuan dan energi kita untuk kemajuan ummat….
XXX
(Nasirin Achlan):
Alhamdulillah…Allah Maha Agung dan Maha Mulia, kita syukuri karunia berbangsa satu bangsa Indonesia, Bapak2 kita di sana lagi menggodok calon2 Menteri, mudah2 an Ulul Amri kita sholeh2 supaya bersinergi dgn ulama lebih mudah, kiranya jika negeri ini dikendaki baik oleh Allah maka kita akan diberi-Nya Ulul Amri yg amanah, bekerja dg baik dan semangat. Amin
XXX
(Gatut Heru Susanto)
Saya setuju dengan pendapat dan cara berpikir Bung Ferizal Ramli. Video ini adalah doktrinasi pembodohan dan sangat dangkal.
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Eko: sampeyan sebagai seorang yang punya tradisi sains dari salah satu Institusi terbaik di Indonesia, bolehkah saya mengajukan tanya pada sampeyan:
Apa yang membuat anda tidak perlu memberikan catatan kritis tentang Harun Yahya?
Alasan Pertama:
Apakah premis-2 Harun Yahya dalam Video tsb memenuhi kaidah silogismen sehingga ini cuma persaoalan perbedaan pola pandang saja dalam ijtihad, makanya ndak perlu dikritisi? Benarkah video Harun Yahya memenuhi struktur silogisme menurut anda? Benarkan presmis-2 dalam video itu sesuai konsisten dengan kesimpulan yang ditampilkan? Benarkah tidak ada loncatan logika ajaib dari video itu?
atau
Alasan Kedua:
Apakah karena Harun Yahya begitu genjar pake back-up argumentasi: “ini Qur’an lho, klo anda tidak setuju dengan saya (baca tidak setuju dengan Harun Yahya) maka anda berarti tidak setuju dengan Al Qur’an!”
Kang Eko, saya khawatir keseganan anda untuk mengkritis pembodohan besar-2 an yang dangkal (kata “dangkal” ini saya pinjam dari Kang Gatut) dari Harun Yahya itu karena takut dituduh orang anda telah menentang Al Qur’an. Itu kekhawatiran saya pada sampeyan
Jika alasan yang kedua ini yang sampeyan gunakan untuk tidak mengkritisi Harun Yahya maka saya mengucapkan selamat buat Harun Yahya yang telah sukses melakukan proses pembodohan besar-2 buat umat Islam.
Salam hangat dan Salam kenal buat anda Kang Eko.
Ferizal Ramli
XXX
(Eko Frimarsanto Mulyo):
saya tidak dalam kapasitas yang mumpuni untuk mengkritisi pendapat beliau secara lebih mendalam, riset beliau sama sekali bukan bidang saya.bahkan (maaf) bahasa ilmiah tingkat tinggi yang mas Ferizal gunakan pun ada yang belum saya pahami ..apalagi memahami secara utuh logika cara berpikirnya Harun Yahya…
bagi saya karya Harun Yahya itu harus dikritisi oleh mereka yang benar-benar serius menekuni bidang ini….memiliki pengetahuan mendalam dibidang ini,
saya sama sekali tidak akan keberatan dianggap takut dianggap menentang Al-Qur’an atau belum memahami Al-Qur’an …,namun saya juga tidak akan serta merta mengikuti pendapat mereka yang membawa – bawa Al Qur’an , jika dari pengetahuan yang saya miliki , saya anggap ada yang salah …
karena bagi saya , untuk belajar memahami Al-Qur’an kita harus membuka hati kita selain nalar kita….
Lebih baik kita gunakan energi dan pengatahuan kita untuk kemajuan ummat negeri kita, …
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Eko: I got your point. Saya ambil hikmahnya dari opini sampeyan. Terima kasih.
XXX
(Eko Frimarsanto Mulyo):
sama-sama mas Ferizal, maaf jika masih banyak keterbatasan pengetahuan saya untuk memberi komen yang memuaskan atas pertanyaan mas Ferizal…
XXX
(Syailendra Yunus):
@ Bung Rizal: Tentang ruh Allah mengatakan demikian: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi “pengetahuan” melainkan sedikit” (QS. 17:85).
Pengetahuan yang ”sedikit” itu tidak akan diperoleh bila ayat-ayat Allah (ayat tertulis dan ayat tidak tertulis), tidak di baca dan dipahami secara terintegrasi.
Ayat tertulis adalah teks yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat-ayat tidak tertulis adalah segala sesuatu yang dikatakan dalam teks tersebut yang menempati sistem ruang dan waktu.
Gerak, sikap, ucapan dan perbuatan Nabi saat merespon petunjuk, himbauan, perintah dan larangan Allah, itu juga termasuk ayat tidak tertulis…
Konsep dasar tentang sistem ruang dan waktu juga harus dipahami dengan cara yang sama agar ”pengetahuan” yang terbentuk bisa berjalan konsisten.
Semua tuntutan di atas harus dipenuhi bila tidak maka pengetahuan yang terbentuk dalam diri seseorang tidak akan berjalan konsisten dengan Iman yang sudah diikrarkannya… Terbentuknya paham sekular dikalangan orang-orang yang mengaku beriman, itu berawal dari sini…
Bung Rizal. Untuk memahami keberadaan ruh, yang anda imani itu… maka seluruh ayat-ayat Allah yang terkait baik tertulis (di dalam Al-Qur’an) maupun tidak tertulis (yang menempati ruang waktu), itu harus anda pahami secara terintegrasi.
QS. 17:85 , 32:9, adalah contoh dari sekian banyak ayat-ayat tertulis yang terkait dengan ruh…. dan fenomena seperti: tidur, mimpi, mati, mendengar, melihat, merasakan dsb… adalah sebagian dari ayat-ayat tidak tertulis yang terkait dengan kerja ruh… ini harus dipahami secara terintegrasi..
Konsep tentang materi (obyek), ini juga harus dipahami secara terintegrasi, agar manusia tidak tertipu, menganggap semua yang tampak sebagai hakekat (mutlak)…. Satu anggapan yang sangat bodoh, bila dilihat kacamata sains maupun Al-Qur’an…
Tidak ada satupun sainstis yang hidup setelah perioda Isaac Newton (1678), bisa ”memastikan” hakekat wujud materi (obyek). Mereka semua sudah sepakat bahwa seluruh obyek materi (yang tampak oleh manusia), itu memiliki sifat dualisme, disatu sisi sebagai ”gelombang” namun disi lain sebagai”partikel”, meskipun fenomena ini hanya dapat terdeteksi dalam skala atom.
Sifat dualisme dari semua obyek yang tampak, itulah akan mengaburkan pandangan manusia terhadap hakekat obyek. Manusia dengan persepsinya tidak akan bisa memastikan apa, mengapa dan bagaimana sebenarnya hakekat di balik wujud yang memperdengarkan suara, menampakan rupa, memberikan rasa kepadanya…. Nah, disinilah ayat-ayat Allah (tertulis dan tidak tertulis) itu berfungsi mengarahkan “persepsi” manusia, agar mereka tidak tertipu.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. 2:216)”.
Bung Rizal… Sebagai orang yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, seharusnya anda tidak terburu-buru mengatakan bahwa HY melakukan pembodohan… Sudahkah pengetahuan yang anda miliki itu dibangun sesuai dengan kriteria yang telah saya sebut di atas? Kalau belum, berarti anda sendirilah yang sebenarnya (ma’af) tengah melakukan pembodohan tersebut, tapi anda tidak sadar…
Bung Rizal, anda sudah saya tag di tiga catatan saya di bawah ini… saya tunggu komentar anda.
http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=141773048234
http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=145393958234
http://www.facebook.com/home.php#/note.php?note_id=145007858234
Terimakasih…
XXX
(Ferizal Ramli):
Bung Syailendra: kesalahan terbesar anda adalah menganggap bahwa HY adalah “wakil” Tuhan dan apa yang dikatakan benar. Akibatnya, anda bermain dengan kata “sedikit ilmu yang diberikan Allah tentang ruh”. Itu jadi justifikasi pembelaan anda.
Baca tulisan saya, mana yang terrburu-2 menyimpulakan HY. Aalasn yang saya kemukakan jelas kok. Ini saya ulangi lagi:
Pertama, HY itu cuma seniman, ahli buat film. Latar Belakang Akademisnya adalah sutradara. Dia tidak pernah terlibat dalam kegiatan sainstis sama sekali.
Apa lab yang dimilikinya? dia bicara tentang genetika sel misalkan kapan dia terlibat dalam penelitian DNA?
Dia bicara tentang Alam semesta, kapan dia terlibat dalam penelitian tahuan di depan teleskop raksasa untuk menghasilkan kesimpulan?
Prof. DR. T. Jakob, ahli evolusi, dia yang terlibat polekmik dengan ilmuwan Barat tentang teori evolusi, blio menghabiskan seluruh hidupnya untuk meneliti mata rantai evolusi. Nah, pendapat blio tentang evolusi yah saya dengar.
Klo HY? kapan belajar dan meneliti tentang evolusi? Beritahu saya Kang Syailendra penemuan apa yang dihasilkan oleh HY tentang mata rantai evolusi? Penemuan apa? Hanya orang bodoh yang mau denger pendapat HY tantang evolusi.
HY itu tidak pernah terlibat kegiatan sains, HY itu seniman pembuat film. Silahkan lihat latar belakang hidupnya. Klo ilustrasi di Indonesia dia bukan sekolah di MIPA ITB atau UGM atau UI. Dia lulusan Institut Seni Indonesia.
Kedua, HY tidak menghasilkan penemuan apapun. Mana penemuan HY? Sebutkan? Yang dilakukan HY cuma kutap-kutip pendapat Barat, lalu di-paskan dengan ayat Al Qur’an sesuai kegemaran pribadi.
Bung Syailendra, jawab pertanyaan saya: apa penemuan HY sehingga anda yakin HY adalah seorang ilmuwan? 100% saya aykin anda ndak punya jawaban. Tapi 100% saya yakin adan tetap bersiteguh HY adalah seorang ilmuwan.
Bahkan untuk melakukan hal mem-pas-2-kan antara fenomena alam dengan makna ayat Al Qur’an, seseorang harus memenuhi sebuah kualifikasi yaitu: ahli tafsir! HY bukan lah ahli tafsir. Jadinya, saat mem-pas-kan fenomena alam dengan ayat Qur’an, HY itu pake kaca mata kuda tentang teks, karena dia bukan ahli tafsir.
Ketiga, tidak ada ilmuwan yang bisa bicara semua hal, dari mulai teori Evolusi, genetika, alam semesta, konsepsi otak, bio science, dsb, dsb. Hanya Dhukun yang bisa membual semua hal. Saintis hanya bisa 1 hal saja yang dia tekuni seumur hidupnya.
Saya punya sahabat saintis, anda bisa lihat di list FB saya, namanya Johny Setiawan, Direktur Astronomi Marx Planc Institut di Jerman. Dia adalah penemu planet Baru di Galaksi kita. Jika ada bicara dengan dia maka anda akan dapat ilmu banyaK, tapi cuma tentang astronomi. Di luar itu, dia akan bilang saya tidak menguasai.
Sahabat saya yang lain, A. Rusdy salah satu Professor termuda di Nanyang Inst of Tech. Dia ahli Fisika materi. Dia cuma tertawa saat saya tanya konsep materi-nya HY yang begitu dikagumi Kang Syailendra. Jawab dia sama dengan yang saya, hanya Dhukun yang merasa mengerti banyak hal.
Keempat, mbok Yao, lihat dong Video-nya kembali dengan jujur. Dimana logika ruh-nya? lha wong dia cuma kutap-kutip pendapat Barat kok. Lantas tiba-2 lari ke ruh???
Itu spekulasi. Cuma karena bawa-2 nama Al Qur’an saja, jadinya anda semua teriak: Subhanallah!
(Nyuwun sewu) Apanya yang Subhanallah? lha wong HY itu ngawur kok saat buat kesimpulan. Kesimpulan itu ndak nyambung. Klo pake metodologi berpikirnya HY, orang bisa kasih kesimpulan apapun disana sesuai dengan kesukaannya…
Klo Ki Gendeng Pamunkas akan jawab itu Wewe Gombel, bukan ruh!
Klo si Nietzsche tokoh besar eksistensialis akan dengan selorah bilang itu adalah kobodohan, bukan ruh
Klo si Marx akan bilang itu komunis, bukan ruh
Logika yang muncul dalam video tsb antara premis dengan kesimpulan ndak nyambung! Yang membuat anda melihat video itu ilmiah karena anda sudah diberi tahu Al Qur’an bahwa ada ruh di dalam tubuh anda.
Jadi, meskipun video itu ngawur maka anda bersetuju dengan kesimpulan HY. Saya tidak menolak ruh, tapi cara pikir ngawur dari HY ini menggiring kita menjadi FATALIS bodoh.
Kelima, HY itu pribadi yang terlibat skandal baik Sex (klo Kang Syailendra ndak paham arti Sex maka saya tulis gede-2: ZINAH), narkoba dan pemerasan. Lihat dong cerita skandalnya HY. Mosok anda menutup mata tentang hal ini?
Salam,
FR
XXX
(Abu Abela):
…..Seru…. tapi maaf saya sekedar menyimak “akan kemana semua ini”…….. ilalloh au ila syai in aakhor……
XXX
(Nasirin Achlan):
Ana muwafiq ‘ala ro’yika Akhi Abu..saya juga menyimak, cuma lama2 saya ga paham….
XXX
(Ferizal Ramli):
Ndak paham, atau ndak sesuai dengan keinginan? Itu dua hal yang berbeda lho?
Bagaimana Kang, dimana ndak pahamnya? Saya bersedia berdiskus secara dalam dengan anda semua. Tapi namanya diskursus itu bukan lah sesuai keinganan atau tidak sesuai keinginan. Diskursus itu adalah logika untuk mencari yang benar, minimal mendekati yang benar…
Thesis saya: HY ndak kredibel sebagai ilmuwan. Alasan sudah saya kemukan. Ndak pahamnya dimana?
Okya, kalimat Arab ente ajaif semua. Knafa ente ndak fake fahasa Jawa atau Sunda aja Fak Dhe atau fahasa Indosefha, memangnya masyarakat kita orang Araf? Ataukah itu fentuk legitimasi keulamaan seseorang?
Salam hangat Fak Dhe semua
XXX
(Nasirin Achlan):
Syukran ‘ala hudhurikkum fi hadzal diskursus ya Akhinal Kirom Sayyid Farizal Ramli…syukran ‘ala musa’adatikum, wa syukran ilaa Akinal Kirom Sayyid Syailendra..insya Alloh bi do’aikum ane sa afham ‘alaa ha-ulaik diskursus ‘anil ‘aql wa ruuh…Jayyid jiddan ya Sayyid….Nastamir….
XXX
(Ferizal Ramli):
@Kang Nasirin:
Kaifa antum bi lughotul Arabiyah? Ma katabtum kal ghozwul fikri? he, he, he…:)
Syukron katsiron jiddan, jiddan, Ya Syech Nasirin wa ahukum Syech Syailendra, ala asrikum fi hadal “diskurus”. Hadal hasan, hasanal jiddan. Ana adukum fis salamikum, li hasanikum, li ilmikum, li jasadikum wa ruhukum. Addua lakum: Innallaha SWT maakum. Wassalam
Ich bedanke mich bei Ihnen beide Herr Syaleindra und Herr Nasirin für Ihre Zeit, dass wir zusammen gesprochen haben. Das was einfach wunderbare Zeit. Ich wünsche dir alles Gute. Gott sei mit Ihnen.
My old fellow, for your time that you spent with me, it was wonderful. It’s a great honour that I have an opportunity to discuss with you, brother. God bless you!
Ano, Hontouni arigatou gozai masu. Watashi wa subete no saikou no kibou. Kami no shukufuku!
Weleh-weleh, artine boso Endonesha ne opo yo? He, he, he…
Wassalam semua dan mohon maaf jika saya melakukan ke-khilafan
FR
XXX
(Syailendra Yunus)
@ Bung Rizal: Dari mana anda bisa mengatakan saya menganggap HY “wakil” Tuhan? Itu ngawur, coba baca ulang komentar saya di atas…
Sebagai orang yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an, anda seharus merasa punya kewajiban untuk membaca dan memahami ayat-ayat Allah baik yang tertulis maupun tidak tertulis, secara terintegrasi. Jangan berhenti sebatas “ya saya mengimaninya”. Sementara aktivitas yang anda lakukan baik dalam berfikir, berkata maupun berbuat, tidak ada bedanya dengan orang yang tidak mengimani Al-Qur’an.
Bung Rizal… Kata-kata skandal, sex, narkoba, pemerasan selalu anda ulang-ulang… Anda terlalu banyak menyerang pribadi HY. Di dalam islam, kalau anda mengatakan seseorang ber zinah tapi anda tidak menghadirkan 4 orang saksi, berarti anda sudah melakukan kesalahan besar… Inilah sebabnya mengapa dari awal saya tidak mau terseret untuk mengomentari masalah tersebut, tapi anda tidak mengerti dengan bahasa isyarat saya…
Bung Rizal… Soal kutap-kutip penemuan orang lain itu adalah persoalan biasa. Anda tahu bagaimana awal teori relatistivitas dibuat Einstein?…. Sekiranya Einstein tidak mengutip temuan Isaac Newton, Einstein tidak akan bisa menyusun teori relativitasnya…
Saya tidak tahu siapa HY, yang saya tahu adalah karya-karyanya. Kalau di dalam karya tersebut ada kebenaran mengapa saya harus pusing memikirkan, apakah yang bersangkutan tersebut ilmuwan atau bukan. Anda ternyata lebih senang menilai orangnya bukan menilai apa yang dikatakannya… Seandainya pola fikir anda tersebut saya pakai, mungkin dari awal saya tidak mau melayani anda berdiskusi, karena anda sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang sains.
Dari pada diskusi ini terus berkepanjangan, saya ingin bertanya. Setelah menguraikan panjang lebar tentang fenomena mendengar, melihat dan merasakan… lantas kesimpulan apa yang harus diambil. Apakah yang mendengar, melihat, merasakan dan yang berfikir itu adalah otak itu sendiri? Silahkan jawab pertanyaan ini…
(Ferizal Ramli):
Wah, wah, kembali sampeyan salah paham:
Dari 5 point kritik saya, 4-nya tidak ada hubungan dengan Pribadi. Hanya 1 yang terakhir itu hubungan dengan pribadi dan itu TIDAK menyerang. Itu fakta hukum
Kenapa sih begitu sulit menerima fakta hukum yang gamblang?
Kutip mengutip jika dalam kajian ilmu sosial itu biasa. Itu adalah kompilasi. Karl Marx melakukan study pustaka untuk itu.
Tapi dalam sains eksakta kok pake study pustaka? he, he, he…
Sains itu butuh data emprik. Butuh experience. Jika HY berbicara sebagai sainstis maka dia harus berbicara berdasarkan data empiriknya.
Jika dia melakukan kompilasi dengan ayat Al Qur’an maka dia harus seorang ahli Tafsir sehingga dia bisa benar-2 merumuskan antara kutipan pemikiran orang barat dengan tafsir-nya tentang Al Qur’an. Untuk titik ini maka HY harus memposisikan dirinya bukan sebagai saintis tapi sebagai ahli tafsir.
Saya sudah memberikan argumentasi bahwa HY tidak memenuhi kualifikasi sebagai saintis. 4 dari 5 point saya adalah bicara tentang keberatan saya bahwa HY seorang saintis.
Saya juga ndak pernah dengar HY sebagai ahli tafsir.
Akhirnya, saya simpulkan bahwa opini HY tentang sains dan Al Qur’an itu tidak kredibel.
XXX
(Ferizal Ramli):
Tentang tanggung jawab saya sebagai orang beriman, Kang Syaleindra salah memaknai.
Kritik saya terhadap kredibilitas HY adalah bentuk keimanan saya. Saya meluruskan kesalahan methodologis dari HY. Saya tidak ingin orang Islam terjebak dalam doktrin pembodohan yang dilakukan HY. Sampeyan pikir mengamalkan iman itu caranya cuma dengan copy-paste ayat Qur’an lalu dikirim kemana-2? Itu bisa saja bentuk pengamalan iman. Tapi saya ndak pilih cara itu.
Jika saya menulis tentang Ekonomi maka nafas keimanan saya sebagai orang Islam akan terasa di sana. Saya jelas memilih sikap berbeda dengan HY yang saya kritik habis karena ybs bicara segala hal tanpa kompetensi ilmu yang jelas. Saya mengamalkan iman saya saat saya bicara tentang Ekonomi. Disitu lah pengetahuan Islam saya, saya tulis.
Lha kenapa saya jadi “tertuduh” tidak mengamalkan iman saya terhadap ayat Al Qur’an?
XXX
(Ferizal Ramli):
Kenapa saya menolak Harun Yahya karena cara doktrinya
menyebabkan pembodohan. Harun yahya itu fenomena inferior kompleks umat Islam. Dia kutip-2 pemikiran ilmuwan agnostik, lha diaku-2 ini adalah sesuai Al Qur’an. Ini mentalitas inferior kompleks!
Kedepan, persoalan polekmik umat Islam itu bukan kristenisasi supermi atau misionaris. Persoalan umat Islam kedepan itu adalah berhadapan dengan para agnostik yang mereka itu adalah ilmuwan-2 yang hasil penelitiannya sering dikutip oleh Harun Yahya tapi justru mereka ndak percaya Al Qur’an dan menolak Al Qur’an.
Itu sebabnya metode doktriner Harun Yayah yang sering me-refer ilmuwan Agnotik, saya tolak. Kan aneh, Harun Yahya kutip pemikir agnostik sesuai Al Qur’an sementara ilmuwan Agnostik mentertawakan Al Qur’an.
Tentu saja secara pribadi Harun Yahya juga pribadi yang terlibat skandal: pemerasan, sex dan narkoba. Kan lutju jika kita mempercayai pribadi yang kontroversial?
XXX
(Herry Cahyanto)
Untuk Ferizal Ramli … Terlepas dari HY terlibat sekandal pemerasan dan lain … Apa Pak Ferizal Ramli pernah bertemu langsung dengan HY dalam diskusi ilmiah atau sudah mengenal lebih dekat pribadi hidup HY [ bila HY masih hidup ]
Cobalah untuk mengenal pribadi HY dari komnitas beliau di turki, karena kita umat Islam dilarang menuduh seseroang tanpa kita tahu sendiri… bukan dari buku atau kata orang [ apa lagi dapat menjatuhkan karakter seseorang ],
Allah berfirman : Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik [ orang yang kurang ilmu, tidak mempunyai dasar yang kokoh baik orang dari orang muslim atau bukan ] membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. QS 49:6
XXX
(Herry Cahyanto)
Mewaspadai Berita Orang Fasik dan Adu Domba
http://media-islam.or.id/2009/09/07/mewaspadai-berita-orang-fasik-dan-adu-domba/
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Herry: saya membaca karya HY dan mengikuti banyak video-nya. Tanggapan saya bukan spontan. Saya tahu banyak tentang HY. Itu sebabnya saya bisa menunjukkan pada anda semua bahwa:
- HY itu belum pernah melakukan penemuan apapun
- HY itu bukan saintis. Ini bertolak belakang dengan yang dikatakan oleh Bung Syailendra. Nyatanya, HY itu adalah seniman dan entertaiment film sesuai dengan latar belakang akademisnya.
- HY pun terlibat kehidupan kontroversial… Read more… Read more
Cara bung Syailendra mengatakan bahwa HY adalah saintis besar selevel Isaac Newton menunjukkan pengetahuan Bung Syailendra tentang HY sangat minim.
Journal ilmiah penemuan apa yang telah ditulis HY sehingga HY dibilang ilmuwan besar Islam? Buku-buku HY itu adalah cuma buku-2 populer kok yang setengah saintifik dan terkadang agak fiksi yang banyak mengandung spekulasi. Baca aja bukunya…
PS.
HY itu masih hidup. Dia orang Turki dan HY itu cuma nama samaran. Itu bukan nama aseli.
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Herry: he, he, he…lha wong diberi tahu malah menulis mewaspadai orang fasik. Lha skandal HY itu terbuka jelas kok. Itu ke pengadilan kok malah dibilang fasik dan adu domba
XXX
(Herry Cahyanto)
Pak Ferizal Ramli yang di Rahmati Allah SWT….
Ijinkan saya bertanya…
Ilmu yang disadur oleh HY mengajak kita kepada ke Islaman atau ke pada permusuhan, atau kepada memecah belah umat Islam atau membenci sesama manusia … ?
Terlepas dari buruknya pribadi HY menurut anda, toh jika itu memang benar kita Ambil yang Baik-Baik saja dari HY…
“Ambilah Hikmah dari siapa saja walaupun itu datangnya dari orang kafir sekalipun …”
Hanya Allah SWT yang Maha Benar…
XXX
(Hasannudin M. Kholil)
Good point Pak Ferizal. Saya setuju. Sudah tertulis jelas dalam Al-Qur’anul Karim bahwa soal ruh adalah rahasia Allah Azza wa Jalla, dan tidaklah manusia diberi pengetahuan atasnya kecuali hanya sedikit.
Oeh karena itu, mengapa juga HY harus memaksakan diiri untuk menjelaskannya. Terlebih-lebih jika penjelasan yang dipaksakan itu tanpa didasari oleh pengetahuan dan kompetensi yang cukup.
XXX
(Hasannudin M. Kholil)
@ Pak Herry: Saya memberi catatan khusus soal HIKMAH dan keterkaitannya dengan video HY ini.
Saya menghargai usaha HY untuk berdakwah dan menyampaikan ajaran Islam ke seantero bumi.
Tapi berdakwah juga ada caranya, ada “manhaj” nya, tidak boleh ngawur, tidak boleh asal bunyi. Berdakwah tetaplah harus dengan hikmah. Seperti yang ditegaskan oleh Syaikh Shalih ibnu Abdullah Ibnu Humaid bahwa “mafhum al-hikmah fi ad-dakwah”, menyampaikan dakwah dengan cara hikmah.
Apa itu HIKMAH? Secara bahasa, hikmah berasal dari akar kata “hakamah” yang berarti tali kekang. Oleh karenanya, orang yang mempunyai hikmah senantiasa terkendali dan terjaga dari perbuatan tercela. Sedangkan menurut istilah, hikmah artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya.
Secara umum, hikmah adalah semua perkataan yang melahirkan perbuatan yang benar, mengandung kebenaran.
Kita memang diperintahkan mengambil hikmah meskipun itu berasal dari orang kafir (atau dari non muslim.) Ajaran ini tanpa sadar telah lama kita laksanakan yang terwujud dalam pemakaian : listrik, televisi, internet, fesbuk, handphone, pesawat terbang, dll.
Itu adalah produk atau hikmah sebagai hasil kerja keras dan riset yang mendalam bahkan sampai menghabiskan umur mereka. Mereka mengabdi pada ilmu untuk melahirkan hikmah. Karena risetnya dilakukan secara mendalam, maka teori dan produk yang dilahirkannya tidak ngawur, tidak serampangan.
Makanya ketika kita naik pesawat dari jakarta ke Padang misalnya, kita percaya bahwa pesawat yang beratnya ratusan ton ini bisa terbang dan mampu mengantarkan kita ke sana.
Makanya ketika kita mencolokkan kabel ke dinding, kita percaya bisa menanak nasi, membuat kopi, membuat jus, mengeringkan rambut, dan menonton TV.
Itulah hikmah: Perkataan, teori, dan produk yang melahirkan kebenaran.
Nah berangkat dari paparan itu, sekarang saya mau bertanya sama Antum wahai Akhi, Pak Herry Cahyanto:
Apakah dengan segala cacat bawaan yang dimiliki, seperti yang telah diuraikan panjang lebar oleh Akhi Ferizal di atas, dapatkah konsep HY tentang ruh ini bisa disebut sebagai HIKMAH??
Menurut saya ini bukan HIKMAH, ini adalah pembodohan.
Salam hangat
XXX
(Ferizal Ramli)
Sekarang pertanyaan saya pada anda Kang Syailendra dan Kang Herry:
@ Kang Syailendra: Ini yang anda pernah tulis
“Apa yang dilakukan Isaac Newton dan Harun Yahya itu pada dasarnya sama. Mereka sama-sama membangun paradigma berfikir yang baru, yang belum pernah dibangun dan digunakan manusia sebelumnya. Isaac Newton menjadi pioner bagi munculnya pengetahuan “sains modern”, sedangkan Harun Yahya menjadi pioner bagi munculnya pengetahuan “islam modern”… Ajaran islam inilah yang diharapkan mampu memberikan jawaban atas semua tantangan yang dihadapi oleh umat islam di zamannya. September 28 at 9:11am”
Komentar saya, anda tulis bahwa HY itu selevel Isaac Newton. Anda tuh sebenarnya tahu HY ndak sih? Anda pernah tahu penemuan HY tidak? anda perlihat baca tulisannya di jurnal ilmiah tidak?
Cobalah jujur pada nurani anda. Cara anda mengatakan HY sejajar dengan Newton membuat saya tahu persis bahwa anda TIDAK tahu apapun tentang HY. Pengetahuan anda NOL besar tentang HY. Anda adalah korban doktrin inferior kompleks yang menyedihkan.
Jika anda orang awan saya maklumi tapi seorang intelektual dari latar belakang sains seperti anda mengatakan HY sejajar Newton, itu akan membuat orang yang tahu siapa itu HY akan tertawa. HY itu seniman kang, pembuat film dan penulis buku populer setengah sains. Dia bukan saintis
Kang Syailendra, dakwa itu harus membuat mata hati kita terbuka dan menjadi cerdas. Jika, anda terbodohkan karena sebuah dakwah maka itu adalah dakwah yang keliru. Itu perlu diluruskan. Inilah bentuk ijtihad saya sebagai orang muslim yang beriman. Semoga anda bisa mengambil hikmah gugatan saya tentang HY.
@Kang Herry: pertanyaan anda sudah terjawab secara gamblang oleh Kang Hasan. Semoga anda bisa ambil hikmah-nya.
Sekarang ini pertanyaan saya, apa tujuan anda menulis tentang fasik dan adu domba? Apakah anda pikir saya seorang yang fasik, seorang yang ingin mengadu-domba? Anda ndak punya pengetahuan apapun kok tentang HY. Anda ndak bisa menunjukkan dimana salahnya tulisan saya, mengapa tiba-2 anda jadi nulis tentang fasik?
Salam,
Ferizal
XXX
(Anam Zulfiqar Alhabsyi):
Bucailisme a la HY menurut saya kemunduran. Setidaknya kritik yang dilakukan Sardar pada dekade 80-an terhadap Maurice Bucaille, menjadikan catatan2 HY tampak mundur dua dekade. Malah HY lebih jauh membahas ‘ideologi’ yang menjadikan metodologi berpikir menjadi tidak runtut. Kalau ini dianggap sebagai paradigm shift, maka pasca modernism lebih teratur dan bertanggung jawab daripada HY. Jadi Ferizal menurut saya bukan pembodohan, tapi memang kekacauan berpikir (fallacy)
XXX
(Ferizal Ramli):
@Kang Anam: Bucailisme, yah itu terminalogi yang paling tepat. HY itu bukan pembodohan tapi kekacauan berpikir, kembali sampeyan lebih akurat lagi memposisikan siapa itu Harun Yahya…
XXX
(Syailendra Yunus)
@ Bung rizal: Menyebarnya karya HY di dunia islam dan eropa dengan cara yang spektakuler, mengundang sisnis banyak pihak. Upaya menjatuhkan HY sering kali dilakukan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Upaya tersebut semakin hebat setelah beliau meluncurkan karyanya yang menentang teori Darwin. HY bahkan diberitakan dijebloskan dalam penjara kurang lebih tiga tahun lamanya.
Bung rizal: Berdasarkan cerita di atas, saya jadi bertanya. Mengapa sejak dari awal, yang anda permasalahkan itu adalah kredibilitas, kualifikasi, status (ilmuwan atau tidak), skandal, metodologi pengambilan kesimpulan dsb., yang menurut saya hal itu sama sekali tidak terkait dengan esensi (kebenaran) yang disampaikan oleh HY.
Mungkin bung rizal belum paham betul apa yang disebut dengan kebenaran.
Kalau dalam sains kita menemukan istilah kebenaran ilmiah, itu bukan berarti kebenaran mutlak… Mengapa? Karena fakta mengatakan bahwa tidak ada satupun sainstis yang hidup setelah perioda Isaac Newton, bisa ”memastikan” hakekat suatu obyek (materi)…. ini fakta bung rizal, bukan mengada-ada …
Para sainstis itu dengan jujur mengatakan bahwa seluruh obyek (materi) yang “tampak” oleh kita itu, memiliki sifat dualisme, disatu sisi dia tampil sebagai ”gelombang” namun disi lain dia tampil sebagai”partikel”… Nah, kalau secara hakekat obyek tidak bisa dipasti wujudnya, bagaimana kita bisa memastikan bahwa kebenaran yang diperoleh secara ilmiah itu adalah mutlak?.
Bung Rizal: Sains modern yang ada saat ini dapat saya ibaratkan seperti bayi yang baru bisa mengenali lingkungannya hanya melalui indera matanya…
Ada tiga tahap pertumbuhan intelektualitas manusia dari lahirnya. Tahap pertama, manusia mengenal dunia hanya melalui pendengarannya. Tahap kedua, manusia mengenal dunia melalui pendengaran dan penglihatannya, dan Tahap ketiga, manusia mengenal dunia melalui pendengaran, penglihatan dan qolbunya….Silahkan amati bagaimana proses tumbuh kembang bayi hingga dewasa…
Tahap lain di luar tahap tersebut di atas adalah tahap penyempurnaan, yakni manusia mengenali dan memahami dunia di luar dirinya sesuai dengan hakekatnya (tersurat maupun tersirat). Inilah tahap tertinggi dari pertumbuhan intelektualitas manusia…
XXX
(Syailendra Yunus)
(Bung Rizal:) Sebagai muslim yang lama bergelut dangan sains dan Al-Qur’an. Saya melihat posisi sains saat ini tengah memasuki gelombang ke dua… Gelombang pertama terjadi pada tahun 1678 saat setelah Isaac Newton mempublikasikan karyanya yang berjudul “Prinsip-prinsip matematika mengenai filsafat alamiah” yang lebih dikenal dengan sebutan “Principia”.
Ke datangan gelombang pertama ini membuat manusia jadi yang sebelumnya buta menjadi “melek” materi. Disinilah muncul istilah “kekebaran ilmiah”, sebuah simbol kebenaran yang nyaris di “tuhan-kan” oleh banyak kalangan, termasuk sebagian umat islam yang mengaku beriman kepada Al-Qur’an dan Sunnah.
Era transisi gelombang kedua yang mulai terjadi abad 21 ini di tandai dengan tumbuhnya kesadaran manusia akan hakekat di balik materi…. Vester, yang karya menjadi rujukan HY, adalah salah satu pelopor bergulirnya gelombang ke dua ini.
Di era gelombang ke dua tersebut akan bangkitan semua ajaran spiritualme yang ada di dunia, selanjutnya memasuki gelombang ketiga, disitulah era dimana Allah akan memenuhi janji-Nya. Allah akan memenangkan ajaran-Nya di atas ajaran-ajaran lainnya..
Seiring dengan bergulirnya gelombang tersebut di atas. Hujjah demi hujjah secara bertahap selalu di turunkan Allah kepada manusia, baik yang ada di timur maupun di barat. Hujah tersebut diturunkan Allah dalam rangka menyempurnakan rencana-Nya…
Bung rizal: Di ruang waktu dimana saya berdiri saat ini, saya selalu berusaha untuk bersikap obyektif dalam menerima atau tidak menerima sebuah karya. Saya tidak mempermasalahkan siapa yang membuatnya, karena bagi saya, kebenaran itu tidak lain adalah “hujjah” yang di turunkan Allah dalam rangka memenangkan ajaran Allah itu sendiri.
Sikap saya tersebut di atas tentu saja terbentuk atas dasar pengetahuan yang saya miliki, yang kedalamannya mungkin berbeda dengan saintis lainnya… Coba perhatikan dengan seksama bagaimana saya membangun konsep tentang ruang waktu, sebagaimana dalam tulisan yang sudah saya kirim kepada anda….
Sekiranya pengetahuan saya sama dengan para saintis lainnya, tentu saja konsep tersebut tidak akan pernah saya buat… Buat apa repot-repot nulis tentang konsep ruang dan waktu, lha wong konsep ruang waktu yang ada saat ini saja sudah diterima masyarakat…
XXX
(Syailendra)
Bung Rizal: Kita hidup hanya dalam hitungan beberapa tahun, sedangkan bergulirnya satu perioda gelombang yang saya katakan di atas, membutuhkan ratusan tahun… Apakah anda perlu menunggu ratusan tahun lagi untuk bisa berkata benar?
Bung Rizal: Ilmu pengetahuan yang benar adalah ilmu pengetahuan yang dibangun dengan bersumber pada ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat tertulis maupun ayat-ayat tidak tertulis.
Ayat tertulis adalah seluruh teks yang terdapat di dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat-ayat tidak tertulis adalah segala sesuatu yang dikatakan dalam teks tersebut yang menempati sistem ruang dan waktu. Gerak, sikap, ucapan dan perbuatan Nabi saat merespon petunjuk, himbauan, perintah dan larangan Allah, itu juga termasuk ayat tidak tertulis…
Ilmu pengetahuan yang benar adalah ilmu pengetahuan yang “mengintegrasikan” seluruhan ayat-ayat Allah yang terkait. … Sudahkah Bung rizal berpijak di atas ilmu tersebut?. Kalau belum, mengapa anda begitu yakin mengatakan bahwa HY dengan Videonya telah melakukan pembodohan?
Anda terlalu cepat mengambil kesimpulan sedangkan ilmu pengetahuan yang anda miliki untuk mengomentari masalah tersebut masih sangat rapuh (baru berada pada tahap gelombang pertama)…
Sekali lagi, cobalah lihat esensinya (hakekatnya), jangan mempermasalahkan kredibilitas, kualifikasi, status (ilmuwan atau tidak), skandal, metodologi pengambilan kesimpulannya dsb…
Terimakasih…
XXX
(Ferizal Ramli)
Wah bung Syailendra, sampeyan terlalu banyak baca buku konspirasi sehingga mengatakan bahwa HY dijatuhkan
Hanya yang menarik dari sampeyan ternyata, sampeyan itu belum mengikuti karya-2 HY thoh? sehingga mengatakan HY itu sejajar dengan Isaac Newton. Walah-2 pengetahuan sampeyan tentang sains perlu di up grade Kang.
HY mempublikasikan apa karya ilmiahnya? Apa yang ditemukan HY?
HY itu bukan gelombang kebangkitan spiritual, tapi gelombang Bucalisme, yaitu gelombang kekacauan berpikir yang methodologi-nya loncat-2 dan kutip-2 ilmuwan agnostik Barat (semua tulisan HY itu mengutip ilmuwan Barat yang agnostik, TIDAK percaya Islam) lalu di-pas-pas-kan dengan ayat Qur’an menurut pengertian HY yang nota bene HY pun ndak kuasai tafsir Qur’an.
Ini bukan gelombang kebangkitan berpikir kaum muslim. Ini gelombang kekacauan berpikir kaum muslim karena inferior kompleks dari penemuan ilmuwan barat. Ini namanya Bucalisme, kekacauan berpikir akibat inferior kompleks yang membuat kita malah mundur. Karena HY tidak bisa menemukan apa-2 lalu di-aku-2 penemuan orang Barat itu sesuai Al Qur’an.
Sampeyan juga masih tanya lagi argumen saya knapa saya katakan pembodohan padahal sudah saya jelaskan berkali. Baik saya ulangi:
Lihat video itu baik-2, HY bicara tentang panca indera, kerja otak, persep dan mimpi, lalu disitu meloncat pada kesimpulan bahwa ada dalam tubuh kita yang eksis yaitu: ruh!
Dari mana bisa simpulkan itu ruh?
Klo pake metodologi berpikirnya HY, orang bisa kasih kesimpulan apapun disana sesuai dengan kesukaannya…
Klo Ki Gendeng Pamunkas akan jawab itu Wewe Gombel, bukan ruh!
Klo si Nietzsche tokoh besar Fundamentalis akan dengan selorah bilang itu adalah kobodohan, bukan ruh
Klo si Marx akan bilang itu komunis, bukan ruh
Logika yang muncul dalam video tsb antara premis dengan kesimpulan ndak nyambung! Itu kekacauan berpikir HY.
—
Anda tahu ruh itu bukan karena premis tentang panca indera, otak, persepsi dan mimpi. Yang membuat anda tahu dalam tubuh anda ada ruh karena diberi tahu Al Qur’an bahwa ada ruh di dalam tubuh anda.
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Syailendra:
###Sampeyan menulis: “Kalau dalam sains kita menemukan istilah kebenaran ilmiah, itu bukan berarti kebenaran mutlak… Mengapa? Karena fakta mengatakan bahwa tidak ada satupun sainstis yang hidup setelah perioda Isaac Newton, bisa ”memastikan” hakekat suatu obyek (materi)…. ini fakta bung rizal, bukan mengada-ada ..”
Komentar saya: itu betul. 100% setuju. Itu sebabnya mengambil penemuan sains apalagi yang belum jelas lalu di-pas-pas-kan ke ayat Al Qur’an adalah sebuah kesalahan. Itulah yang dilakukan HY.
Kenapa juga keimanan anda harus di-stumuslus dengan mem-pas-pas-kan pemekiran tertentu ilmuwan barat?
___
###Sampeyan menulis: Upaya tersebut semakin hebat setelah beliau meluncurkan karyanya yang menentang teori Darwin. HY bahkan diberitakan dijebloskan dalam penjara kurang lebih tiga tahun lamanya.
Komentar saya: yang menentang teori Darwin itu bukan cuma HY. HY termasuk yang terlambat menentang itu. HY bukan orang yang pertama menentang itu. HY dipenjara karena persoalan kriminal.
XXX
(Anam Zulfiqar Alhabsyi)
saya urun rembug sedikit: (1) menyebar dengan cara spektakuler bukan menjadi dasar kebenaran. kalau demikian neo nazi juga menjalar loh di eropa. (2) pergantian gelombang pengetahuan itu mengacu pada Kuhn terjadi manakala terjadi anomali dan terjadi paradigm shift. Nah teriakan untuk paradigm shift sudah didengungkan oleh Sardar di era 80-an meski gagal. Kemudian kaum perennial juga mendengungkan di 90-an. Semenjak Penrose dan Hawking masih hidup, yang masih paradigma fisika modern, tidak ada shift yang berarti di dunia sains. Setidaknya tidak ada penemuan berarti di dunia sains. Kalau teknologi mungkin banyak apalagi terkait pasar. (3) alternatif sains yang digagas islam perenial, alih-alih dianggap islam sesat dan dianggap antek2 yahudi. hal ini didukung wahabisme-bucailisme semacam HY.
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Syailendra: saya stabilo pernyataan Kang Anam. Tidak ada penemuan sains modern yang membuat gelombang perubahan berarti saat ini.
HY TIDAK menemukan apa-2. Dia cuma kutip pendapat ilmuwan agnostik lalu di-pas-pas-kan oleh Al Qur’an. Bahasa-nya Mas Anam, itu kekacauan berpikir yang berasal dari sindroma inferior kompleks.
Jadi aneh ketika sampeyan bilang HY itu sejajar dengan Sir Issac Newton yang berhasil membuat gelombang perubahan.
XXX
(Nanang Purwanto)
saya sangat setuju sekali dengan point yang ini
“Sudah jelas ruh itu adalah rahasia Allah SWT. Berarti konsep ruh itu adalah iman atau tidak iman. Titik!”
beriman kepada sesuatu yang gaib merupakan akidah dalam islam. ruh merupakan sesuatu yang gaib dan setiap muslim wajib mengimaninya tanpa ada rasa ragu. ini juga salah satu sifat Allah SWT.
Kang Fer: saya baru tau kalo HY memiliki pengalaman masa lalu yang nggak bagus, thanks infonya
XXX
(Ridwan Muchtar)
makanye jgn main2 dengan Ruh…ruh urusan tuhan,terkadang kita sering memahami Alquran hanya dgn terjemahan saja dan berdasarkan akal fikiran kita yg penuh nafsu dn para ulama mengatakan bahwa ketika memahami Alquran seenak e Udeledewe maka di hukumi fasik tentu sesuai dalil ,bukan ahli bengkel bongkar mesin ya ujung2nya memperbaiki malah menghancurkan.
syarat memahami Alquran banyak x bisa ilmu nahu,tata bahasa,jurumiah dll. dan tentunya hatinya tidak penuh nafsu(melakukan sesuatu bukan disebakan karna perintah Allah)
padahal kita sudah ada mentahnya yaitu kitab2,tafsir dari ulama yg melakukan sesuatu sudah dibimbing O Allah Swt.
dan manusia tidak akan pernah bisa melawan nafsunya jika dia belum mempelajari ilmu tentang KE MAK’RIFATAN.
smoga kang Ferizal Ramli & Kel serta kita bersama selalu mendapatkan bimbingan dari Allah Swt. AAAAMIIIn
XXX
(Azhar Ardi)
kalau sy membaca informasi yang ditulis Bang Feri tentang HY, brarti tokoh ini hanya jago kandang, tapi jago kandang2 tradisional. HY, kalau begitu tidak akan bisa menembus dinding Scientist2 Eropa, akan ditertawakan, letoy sebelum bertanding. karena untuk meng-argumentasi para scientist2 itu hanya bisa ditembus dengan riset dan penemuan. pangsa pasar Harun Yahya, mungkin SD-SMU. sdngkan Lulusan sarjana yang terbiasa dengan Hipotesa1,2 dll tapi masih belum jeli melihat kesimpulan2 HY, hakekatnya masih SD..*hanya komentar*
XXX
(Rian Hermana)
Terimakasih,bang fer,saya sendiri takut saat liat harun yahYA main ilmu gathuk.Takut dianggap jadi pakem.Soale kalo soal membahas alam dunia sakisine,ya setiap hari ada yg baru.Pengetahuan d dunia ini dinamis,dulu org kata hutan penyumbang oksigen terbesar,sekarang penyumbang karbondioksida terbesar.Terimakasih krn mengkritisi dgn cara yg baik.
XXX
(Freeman Arithuk)
gothak gatuk……ketika suatu fenomena dicocok-cocokkan dengan presepsi yang diyakini benar…..maka prinsip-prinsip ilmiah akan terabaikan……dan hal itu masih bisa disanggah…..tapi kalo thuk ghotak ghatuk itu mereka anggap sebagai kebenaran mutlak……abaikan…..karena percuma berbicara dan mengkritik mereka…….
XXX
(Sopril Amir)
Wah Ferizal dengan argumen yang solid muncul lagi.
Mbok sering-sering.
XXX
(Syailendra Yunus):
RENUNGAN:
Tanpa berpijak pada dasar keilmuan sebagaimana yang saya katakan di atas, maika seseorang akan merasa dirinya melakukan kebaikan padahal (pada hakekatnya) yang dilakukannya adalah kerusakan… tapi dia tidak sadar:
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS. 2:11-12)
Tanpa berpijak pada dasar keilmuan sebagaimana yang saya katakan di atas, maka seseorang akan merasa dirinya pintar, padahal (pada hakekatnya) dia bodoh… tapi dia tidak tahu.
Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman. Mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang bodoh itu telah beriman”. Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. (QS. 2:13)
XXX
(Ferizal Ramli)
@Kang Syailendra: Terima kasih untuk ayat Qur’an-nya. Untuk renungan juga pada anda, sahabat Nasirin dan semuanya…
Saya jadi teringat sahabat Nasirin yang setiap bicara selalu menggunakan bahasa Arab. Saya sudah memohon agar memakai bahasa Indonesia, blio malah meresponnya menunjukkan dominasi Bahasa Arab-nya tanpa Bahasa Indonesia sama sekali. Padahal blio sadar bahwa tidak semua audiens itu bisa Bahasa Arab.
Kita semua tahulah bahwa bahasa Arab sdr. Nasirin itu agak belepotan. Hanya yang benar-2 membingungkan kenapa harus menunjukkan show Bahasa Arab kepada kita?
Apakah sahabat Nasirin berpikir dengan bahasa Arab berarti blio lebih baik ke-iman-nanya?
Apakah seseorang berpikir jika dia copy paste Al Qur’an tentang ayat-2 Iman pasti dia lebih beriman?
Berangkat dari hal itu semoga kutipan ayat Qur’an anda tentang keimanan itu terbebas dari keinginan untuk menunjukkan bahwa sampeyan merasa lebih beriman dari orang lain hanya karena perbedaan sudut pandang…
Salam hangat, senang berdiskusi dengan anda dan jika ada kekeliruan mohon dimaafkan
Ferizal Ramli