Oleh: ferizalramli | Januari 30, 2010

Berpikir dan Berdoa

Sebenarnya diskusi tentang otokritik Islam itu sudah lama sekali. Berjalan selama Islam itu ada. Tajam diingatan kita, saat jaman Khawariz versus Mutazilah sampai Sunan Kudus versus Syech Siti Jenar, dan sampai kiamat, dialog serta polemik dalam Islam adalah sebuah sunahtullah.

Paling fenomenal ketika Al Ghazali mengkritik para “pelamun” filsafat. Lalu ditulislah: “Tahafut al-Falasifa”, ngawurnya para filsuf. Prinsipnya, Al Ghazali mau bilang sudahlah ndak usah “dipikirkan”, serahkan saja semuanya pada kekuatan doa dan jalankan Syariah…

Beberapa ratus tahun kemudian Ibn Rusdy mengkritik tulisan Al Ghazali tersebut dalam “Tahafut al-Tahafut”, ngawurnya dari para pengawur. Rusdy, mau bilang bahwa sesuatu itu harus dipikirkan paradigmanya, metodologi dan pisau analisanya.

Selanjutnyakan diteruskan sampe sekarang oleh siapapun para pengagumnya. Ada yang bilang bahwa sesuatu itu dipahami dengan sebuah kepasrah dan kekuatan doa dengan menjalankan Syariah (ala Al Ghazalian) dan ada yang bilang sesuatu itu harus bisa dipahami oleh akal sehat (ala Rusydian).

Menariknya kan begini, banyak diantara kita ndak paham, lalu bilang Ghazali menulis tentang “perlunya bersandar pada kekuatan doa” itu salah, atau sebaliknya bilang Rusyd menulis tentang “perlunya menggunakan akal sehat” itu salah.

Bagi saya kekuatan doa dan Syariah itu dibutuhkan supaya kita memiliki “collective concious”. Kesadaran bersama akan kebenaran suatu nilai dalam hal ini kebanaran Islam sehingga ada ikatan kuat untuk membangun suatu masyarakat bersama. Kekuatan doa itu dibutuhkan pada saat suatu keadaan yang chaos sehingga kita punya kepercayaan hidup bahwa Tuhan bersama kita.

Saat misalkan sebuah negara meskipun secara ekonomi kaya tapi secara kesepakatan moral tidak beraturan maka kekuatan doa dan penegakan sebuah nilai syariah itu dibutuhkan. Ghazali terilhami oleh spirit masyarakatnya saat hidup pada masyarakat Persia dalam dinasti yang jaya tapi keropos secara moral.

Bahkan di Jerman, Ursula von Deleyen (menteri keluarga Jerman misalkan) dari Partai Kristen yang berkuasa, ketika melihat bahwa keluarga Jerman itu keropos. Maka dia buat program untuk mengembalikan nilai-2 keluarga kristiani. Artinya, sebuah keluarga itu harus setia dalam pernikahan, dll. Mungkin mirip dengan konsep keluarga Sakinah dalam Islam. Ini contoh konkrit dimana sebuah negara sangat maju, malah berusaha menegakkan “nilai Syariah” (“Syariah” dalam tanda kutip, baca: kristiani) dan mempercayakannya pada kekuatan doa.

Tapi juga mempercayakan doa tanpa menggunakan akal sehat adalah pembodohan. Ibn Rusdy hidup disaat agama Islam sedang memucak dalam gairah pengetahuannya. Tentu saja itu mengilhami dia bahwa dengan akal sehat lah kita bisa maju. Jadilah, Ibn Rusdy begitu percaya bahwa akal sehat adalah bagian yang paling penting…

Sekarang saya mencoba meng-kontekstualisasi diskursus ini. Pertanyaannya misalkan, jika sebuah negara seperti Indonesia. Korupsi dimana-2, orang tanpa pendidikan adalah mayoritas. Untuk hidup ndak tahu bagaimana hari depan. Besok pagi makan apa saja tidak tahu. Lalu tiba-2 seorang model Ibn Rusyd bilang mari kita berdialektika. Mari kita gunakan akal sehat kita untuk berjuang…

Bagi saya ajakan itu Tidak salah. Cuma saya mau bilang akal sehat apa yang akan digunakan, jika pabrik-2 semua tutup? Jika inflasi begitu tinggi? Jika pengangguran dimana-2. Klo pake akal sehat semata maka masyarakat malah melihatnya no future. Malah bisa jadi kehilangan harapan dan bunuh diri.

Tapi jika pake doa bahwa ada harapan esok lebih baik, percayalah bahwa Gusti Allah boten sare dan selalu bersama kita maka kesadaran bawah sadar masyarakat untuk survival akan terbangun. Disinilah pentingnya kekuatan sebuah doa. Jika kemampuan survival sudah terbangun; bahwa bunuh diri itu dosa, bahwa putus asa itu dilarang agama, maka ada sebuah kekuatan bawah sadar yang menggerakan. Inilah kekuatan doa.

Tentu saja saat semuanya sudah mulai bergerak dan berproduksi secara aktif maka manajemen akal sehatlah yang harus digunakan untuk me-manage-nya. Di masyarakat inilah Ibn Rusyd hidup. Dan di masyarakat inilah Ibn Rusyd bilang bahwa yang penting akal sehat…

Tapi buat saya, toh sejarah mencatat bahwa kekuatan doa (diwakili oleh Al Ghazali) dan kekuatan akal sehat (diwakili oleh Ibn Rusyd) semuanya membuat berhasil membangun peradan masyarakat Islam. Mengapa harus saling menegasikan? Ah, indahnya dialektika dalam khasanah para intelektual Islam…

Dari Tepian Lembah Sungai Isar
30.01.2001

Oleh: ferizalramli | Januari 30, 2010

Degup Hati Sang Pencinta

Malam ini bukan hari miladmu. Malam ini bukan hari dimana kita dalam ikatan atas nama Gusti Pemilik Kehidupan untuk bersama. Malam ini juga bukan saat pertama kali aku mengenal namamu dan menikmati sudut indah senyummu. Malam ini adalah malam yang amat biasa bahkan terlalu biasa…

Di saat sebuah rutin sederhana, di ruang kecil khusus untuk sebuah kerja dan karya. Di depan sebuah perangkat kumpulan kumparan memori dalam gerak processor dalam sebuah notebook. Dalam sebuah kertas kerja yang atas nama akademik standard software SAP. Dalam iringan lagu cinta dan air mata sang pujangga Iwan Fals. Aku tenggelam dalam perenungan kerja atas nama sebuah dedikasi dan kinerja.

Kau seperti biasa menemaniku di ruang kerjaku. Bersama kedua putri kecil kita: “Bunga Indah Pembangkit Cahaya” dan “Bunga Sorga Pembawa Bahagia”. Saat itu dalam ketekunan cintamu, kau susui si mungil “Bunga Surga Pembawa Bahagia”. Lumat sang “Bunga Surga Pembawa Bahagia” melahapnya. Bukan air susu sesungguhnya yang kau berikan. Tapi degup nafas kehidupan lah yang sesungguhnya kau hembuskan pada “Bunga Surga Pembawa Bahagia”-ku.

Sudut mataku melirikmu, saat kau mendekap si mungil. Kulihat cahaya kilatan pada panjang lebatnya rambutmu. Ah, ada beberapa helai dari rambutmu telah memudar menjadi perak. Dia tidak lagi hitam kemilau dalam kesegaran sedia kala seperti saat ku kenal belasan tahun lalu. Dia telah menjadi perak meskipun citra anggun sarat terpancar.

Kugoda, dalam kataku: “rembulanku, kulihat helai perak pada rambutmu semakin subur”. Kau seperti biasa hanya membalas dengan senyum yang teramat manis atas godaku. Seperti biasa juga, jika kugoda akan berkurangannya kecantikanmu karena kejamnya waktu, kau hanya tenang menerimanya sebagai bagian dari sebuah fitrah.

“Bunga Indah Pembangkit Cahaya”-ku tampaknya tidak ikhlas saat Bundanya kugoda. Dalam celotehan lugu balitanya, cepat dia sambar kalimatku agar aku tidak sanggup menyelesaikannya. “Rambut putih papa malah lebih banyak dari mama!” Jawabnya sengit, tatapan matanya tajam, layaknya seorang Senopati Ayu Kecil dengan gagah berani siap melindungi hati Ratunya.

Bagi “Bunga Indah Pembangkit Cahaya”-ku, Mamanya adalah pelita kehidupan. Cahaya yang mengajarinya untuk memahami citra diri. Akibatnya teramat fatal, tidak ada seorang pun yang berhak melukai sang Mama. Sebuah perkataan yang menggoda sang Mama, itu dimaknai oleh “Bunga Indah Pembangkit Cahaya” sebagai sebuah serangan frontal atas cintanya pada sang Mama.

Aku tidak akan sanggup bertarung terbuka dengan “Bunga Indah Pembangkit Cahaya”-ku jika dia sudah tegak untuk membela hati sang Mama. Keayuan, kelucuan dan kemanjaannya sekonyong berubah menjadi cerocosan mitraliyur yang menghantam. Jika sudah begini, aku akan pasrah menikmatinya kemarahan itu laksana indahnya nyala merah sebuah mutiara.

“Rambut putih papa malah lebih banyak dari mama!”, kalimat itu mengiang di ruang kepalaku. Itu membawaku kembali dalam waktu yang telah berlalu. Saat pertama kulihat hati yang begitu tulus. Lebih dari 13 tahun yang lalu…

—bersambung—

Dalam keheningan menggigilnya badai salju pada 14 derajat di bawah nol
Di tepian Lembah Sungai Isar, Sabtu 30.01.2010

Oleh: ferizalramli | Januari 17, 2010

Tersayat

T E R S A Y A T

Di atas Sobekan kertas yang tercerabik acak
Bait-bait puisi kutulis untukmu
Curahan cinta tulusku
Entah berapa pujian membuncah dariku
Getar ini harus tercurah

Sudut matamu sekilas melirik coretan puisiku, hanya sekilas!
Senyum terkulum anggun
Citra ayu memancarkan kepercayaan diri

Kau bergemin
Terbiasa dipuja
Pujianku tak lebih dari celotehan liar belaka yang terlalu sederhana untuk menyentuh hatimu

Aku diam dalam kalah
Lelaki saat kalah pantang menangis
Lebih baik memaki!
Tapi aku terlalu ningrat untuk semburkan serapah
Dalam diam, doaku: “Ya Rabb, jika dia memang miliku ku kan menjaga apapun yang telah terjadi”

Belasan tahun berlalu…
Akupun lupa dengan doaku
Dalam seribu topan badai; citranya menabrak realitaku tiba-tiba!

Kulihat dia payah dalam getaran beban sejuta takut
Tubuhnya berbalut lumpur
Hatinya menganga luka dalam
Mutiara bulir bening deras mengalir membasahi wajah yang tetap terlihat citra ayu padanya
Tersengal dalam bibir bergetar
Dia diam dalam keputusasaan…

“Ya Rabb, aku memang pernah berdoa agar Engkau memberikan dia untukku”
“Hanya aku tidak berharap doaku kau kabulkan di hari ini”
Dalam ketidakmenentuanku, berusaha tersenyum kusambut

Kupeluk, kubiarkan dia menangis
Kubalut, kuajarkan dia berdiri tegak
Kugenggam tangannya, kutunjukkan apa arti bertahan dalam kehormatan

Dia terlalu cerdas untuk terlalu lama dalam kepompong
Bermertamorfosis dengan dua sayap kupu-kupu
Dalam balutan kerudung Mahkotanya

Saatnya untuk membiarkan dia terbang kembali
Aku kehilangan untuk kedua kalinya
Kehilangan untuk sesuatu yang tidak pernah kumiliki…


Di kesunyian dingin yang pekat dalam musim salju
Tepian Lembah Sungai Isar
München, dini hari 17.01.2010

Ferizal Ramli

Wie zwei Seiten einer Medaille

Zeit und die Zeit laufen sehr schnell…
Güte und Schlechtigkeit sind wie in der gleichen Münze, aber in verschiedenen Seiten.
Glücklich und traurig sind tatsächlich nur einig, aber mit einem anderen Erscheinungsbild wie Jahreszeiten…

In der schweigenden Zeit am Herb, fallen die Blätter von den Bäumen und die Blumen auch.
Es ist aber, sieht mit gelben gefärbten Blättern auf den Baum wie eine Maggie aus.
Es ist eine ruhige Zeit über dem Leben nachzudenken.

Im Dunkel der Zeit am Winter, bedeckt die Wolke auf den Himmel.
Kühl und erschrocken…
Es ist aber, bringt uns den Schnee mit der wunderbaren weißen Naturlandschaft und die frische Luft mit.

In der fröhlichen Zeit am Frühling, blühen die Blumen mit verschiedenen Farben.
Exotisch verzaubert uns, bringt wie uns in den Himmel.
Es ist aber immer nur umsonst, lässt uns um das unsere Leben ohne Arbeit zu laufen.

In der farbenfreudige Zeit am Sommer, sind alle perfekt sein.
Die Sonne schien ausdrückvoll.
Es gibt kein mehr dunkel, kein mehr Angst.
Aber was wird man ohne angst machen?
Wir werden sehr wahrscheinlich etwas sehr schlecht machen.
Wir vergessen einfach was die Verantwortung und die Hingabe ist…

Das Leben muss wie eine zwei Seiten der Medaille wo die Güte und die Schlechtigkeit, glücklich und traurig sowie der Mut und die Angst zusammenbleiben…


(terjemahan ngawurnya)
Laksana Dua Sisi dari Mata Uang

Waktu dan waktu berjalan begitu cepat…
Kebaikan dan keburukan layaknya dalam satu mata uang tetapi dalam dua sisi yang berbeda.
Bahagia dan sedih sejatinya satu, hanya dalam bentuk penampakan yang tidak sama.
Layaknya perubahan musim dalam suatu masa…

Dalam kesunyian di waktu musim gugur, dari pepohonannya daun berguguran dan begitu juga dengan bunga.
Tetapi itu, kemuning warna daun di pepohonan terlihat bagai sebuah magis.
Itu adalah waktu yang hening untuk berkontemplasi tentang hidup.

Dalam kegelapan di waktu musim dingin, awan menyelimuti cakrawala.
Dingin dan mencekam.
Tetapi itu membawa serta salju putih yang menyelimuti keindahan alam dan udara segarnya.

Dalam keceriaan di waktu musim bunga, bermekaran bunga dengan berbagai warna.
Eksotik menyihir kita, membawa kita serasa di nirwana.
Tetapi itu semua sering kali tanpa makna yang membuat kehidupan kita terlena tanpa sebuah karya.

Dalam waktu yang penuh warna di musim panas, semuanya seperti terlihat sempurna.
Matahari menerangi dalam kepercayaan dirinya.
Tiada lagi gelap, tiada ada lagi ketakutan
Tetapi apa yang seseorang akan lakukan jika tiada lagi ketakutan (padanya)?
Kita begitu mudah melupakan apa itu arti tanggung jawab dan komitmen.

Hidup itu harus laksana dua sisi mata uang dimana kebaikan dan keburukan, bahagia dan sedih serta keberanian dan ketakutan tinggal bersamanya…

Dari Kesunyian Musim Dingin
Di Tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

Artikel Seri-1 silahkan lihat link: http://ferizalramli.wordpress.com/2010/01/01/kajian-kritis-atas-tulisan-rimawan-pradiptya-tentang-psikologi-pasar/

Artikel Seri-2 ini, diskusi warung kopian tentang Teori Pasar Neo-Klasik dan Skandal Century

(Wahyu W. Basjir)
Feri, kita sedang melihat bagaimana orang (yang pro Bailout, red) berkilah, bukan berargumentasi. Dan, kilah bisa berbentuk apa saja.

(Ferizal Ramli)
@Kang Wey: Kasus Century itu unik (klo ndak mau dibilang ganjil) dan itu cuma terjadi di Indonesia.

Di Jerman juga ada kasus perbankan tapi ndak ada yang seperti Century. Century gagal karena kriminal dan bailout-nya terindikasi korupsi serta nasabah kecil (yang dilindungi UU) justru malah tidak dibayar.

Di UK yang kuikuiti perkembangannya juga ndak sama dengan Century. Barclay, Royal Scotland Bank dan termasuk Northern Rock, tidak ada indikasi kriminal disana.

Dan lebih dari itu, sampai saat ini tidak ada indikasi korupsi dalam bailout serta masalah dengan customer bank selesai. Lha bagaimana bisa menyamakan kasus Century dengan kasus-2 Bank di Eropa yang konservatif?

Di Amrik yang sama dengan Century adalah Madoff, dan kita tahu Madoff malah dibankrutkan oleh Amrik. Padahal resiko psikis Madoff bangkrut (lambaga keuangan salah satu yang yang terbesar di Amrik) jauh lebih “mengerikan” dari pada Century. Tapi toh dibiarkan bangkrut saat ternyata di Madoff ada kriminal.

Lha kok Century yang kecil dan ada kriminal malah dibiarkan hidup?

(Estananto 艾司天)
Bang, penggemar Perang Dunia II rupanya. Namun Kursk tahun 1943 itu memang Jerman kalah telak. Tentara Merah lewat jaringan mata-matanya sudah tahu bahwa akan ada serangan di Kursk dan benar2 sukses menahan laju Wehrmacht di semua lini. Jadi kayaknya kurang tepat masuk analogi sampeyan :-D

(Ferizal Ramli)
@Kang Estanto: Jujur saja aku merasa terhormat Kang Estato memberikan komentar dan opini dalam diskusi ini.

Neng aku mohon baca lagi tentang contoh Jerman dan Nazi secara komprehensif dan hati-2. Jadi, sampeyan bisa pas menyampaikan pesan moralnya. Nyuwun pangamputen soalnya komentar sampeyan bisa merusak diskusi tentang faktor psikologis untuk mengambil keputusan.


Mohon baca lagi ini tulisan sdr Rimawan:

“Contoh klasik lain adalah apa yang terjadi pada perang Kurst, yang terjadi saat tentara Jerman menginvasi Uni Soviet saat Perang Dunia II, dan Perang Vietnam. Tidak dipungkiri bahwa pada kedua perang tersebut, baik tentara Nazi Jerman dan USA sama-sama menderita kehilangan korban jiwa yang jauh lebih sedikit dibandingkan lawan-lawan mereka. Namun pertanyaannya, mengapa justru kedua negara tersebut yang mundur dari medan peperangan?

Kalau saja rasionalitas ekonomi yang digunakan oleh pihak Nazi Jerman dan Amerika Serikat pada kedua perang tersebut, idealnya mereka tidak akan mundur dari medan perang. Perhitungan matematis menunjukkan lebih banyak tentara Uni Soviet yang gugur daripada tentara Nazi. Hal yang sama juga terjadi pada pihak Amerika Serikat relatif dibandingkan pihak Vietnam Utara”

dan bla, bla, bla…


Dan ini tangggapan saya untuk menyanggah sdr. Rimawan, yang prinsipnya menolak bahwa alasan psikis lah yang membuat Jerman mundur.

“…penggunaan contoh mundurnya Nazi dalam operasi Zitadel saat melawan Rusia atau Amrik saat perang Vietnam (seperti yang ditulis pada artikel sampeyan), sangat mungkin BUKAN karena pertimbangan psikis. Sangat mungkin itu adalah perhitungan rasional di lapangan.

Realitas di lapangan menunjukkan Nazi akan menderita kerugian lebih besar untuk melanjutkan perang makanya mereka mundur”

dan bla, bla, bla…

Kembali pada pernyataan sampeyan Kang Estanto.

Analisa sampeyan mengatakan bahwa keputusan Jerman mundur dalam perang Kursk akibat kalah telak. Jadi, justru itu menunjukkan bahwa alasan RASIONAL, bukan alasan IRASIONAL (baca: psikologi), yang menjadi dasar pertimbangan Jerman mundur.

Artinya, ini malah sesuai dengan sanggahan saya terhadap sdr. Rimawan bahwa Nazi mundur SANGAT mungkin bukan karena psikologis tapi hitungan rasional di lapangan.

(Sari Oktafiana)
@mas Ferizal: aq sepakat dgn analisis jenengan. problem psikis sangatlah naif bl menjadi alasan untk kasus century..inilah Indonesia. terlalu banyak keanehan. tetapi keanehan yg ada di negara ini bukan tidak bisa dijelaskan. tidaklah misterius. tugas dari para scholar seperti kita-lah yg harusnya bisa menjelaskan Invisible-invisible hands itu!
Best Regards!

(Estananto 艾司天)
Iya bang betul sekali. Maaf salah sasaran. Sebetulnya Century itu setara dengan Madoff di Amerika, yang oleh pemerintah Amerika malah dibiarkan bangkrut. Padahal jelas Madoff lebih sistemik.
Cuma kalau menurut saya Sri Mulyani seharusnya bukan sasaran utama, perhatikan bahwa dia dalam keterangan pertama menerangkan kehadiran Marsillam Simanjuntak sebagai wakil dari Presiden. Kemudian baru beberapa bulan setelahnya jubir istana Presiden membantah.
Saya curiga SBY mempunyai kebiasaan cuci tangan. Sri Mulyani orangnya bersih, bisa saja dia tersandung tetapi saya lebih tidak hormat lagi kepada pemimpin yang tidak memngambil alih tanggung jawab. Pengecut itu harus diadili.

Servus moin Freund!
Nano

(Anwar Sadat)
@ all : sy gak baca analisis Rimawan maupun Ferizal, pngen comment dsni aja brdasrkn diskusi yg ada. Dasar analisanya jauh amat, pdahal utk melihat bgmn psikilogis rakyat Indonsia, sngat mudah. Antrian di POM bensin mnjelang pengumuman BBM naik, antrian di salah satu Bank di Pasar Baru JKT krn isu keamanan safety box yg buruk, antrian di beberpa .BPR atau Koperasi Simpan Pinjam yg diterpa isu bangkrut, & msih bnyk lainnya ckup menggambrkan bgmn isu & rumor sngat cepat mempengaruhi rakyat kita. Belum lagi faktor politik medio November 2008 dmn sngat banyak yg berkepentingan agar muncul destabilisasi di masyrkt. Jdi ckup beralsan jika pertimbangan faktor psikis saat itu terkait penyelamatn Century, diambil dng sangat hati2. Perlu dicatat, pengambilan keputusan di level pengambil kebijakan memiliki spektrum pertimbangan yg lebih luas.

(George Subeno)
@Anwar: tidak mau bac analisa Rimawan dan Ferizal, tapi orang lain harus mendengar berkomentar anda yang tidak berkualitas itulah ciri orang tidak terdidik.

(Avicena Ibnu)
psikis menjadi pertimbangan bail out adalah alasan yag paling logis buat kondisi pasar indonesia untuk menutupi kebodohan decision maker menganalisa data atau menipu rakyat, karena alasan inilah yan paling tidak bisa dibuktikan secara real, btw selama ini goncangan atau rush yang terjadi di indonesia memang banyak terjadi karena isu yang bersifat psikologis, lihat kasus2 dana investasi semua kebangkrutan berantai banyak disebabkan goncangan psikis… Tapi apakah ini tetap akan menjadi alasan bagi pembuat keputusan untuk melakukan tindakan pembenaran atas century ? ini sama saja memelihara takhayul dan membodohkan rakyat….

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sari, Kang Estanto dan Kang Ibnu:

Saya setuju dengan moral point tulisan sampeyan semua.

Adalah sulit dipahami jika manajemen sebuah negara yang mengelola asset tak ternilai dan jiwa 200 juta lebih, keputusannya didasarkan faktor psikis. Meminjam kalimat Ibnu “Management by Takhyul”. Sulit untuk mencari legitimasi logis dan rasional untuk pembenarnya.

Akhirnya yang dilakukan oleh SMI dan KSSK itu benar-2 childish. SMI dan KSSK melakukan aksi ganjil yang tidak lazim, ini hanya khas terjadi di Indonesia doang, untuk PEMBENAR keputusan bailoutnya.

Mereka (KSSK) buat iklan pembodohan masyarakat dimana-2 yang dananya milyaran untuk pembenar bailout, orang-2 Depkeu pakai pita lah mendukung integritas SMI dan cara-2 kanak-2 lainnya. Akal sehat saya jelas bilang, sulit untuk tidak mengatakan bahwa aksi yang dilakukan KSSK atau PNS Depkeu (yang harusnya mereka netral) ini tidak “direstui” SMI.

Saya ndak bilang bahwa fulitisi senayan juga tidak mbadut dalam berpolitik. Tapi klo politisi “membadut” saat berpolitik masih “bisa diterima” karena itulah ghalibnya politisi.

Tapi klo Menkeu untuk membenarkan kebijakannya dengan cara-2 “mbadut” seperti iklan pembodohan bailout atau karyawannya di depertemennya pake pita segala sehingga birokrasi berubah menjadi partisan, maka inilah ekses NEGATIF nyata jika menteri (seorang decision maker) ambil keputusan pake perasaan alias pakai faktor psikis. Akibatnya, proses pembenarnya pun TIDAK dengan logika rasional..

(Avicena Ibnu)
kang ferizal, saya tadi sebenarnya mau mengatakan bahwa hal seperti ini hanya bisa terjadi di Indonesia, saya jadi curiga kalau para menteri banyak menggunakan jasa dukun buat ambil keputusan (hihihi)….

Tapi atas dasar apapun tidak bisa diterima keputusan seperti ini…SMI yang notabene “pakar” di bidangnya bisa membuat keputusan seperti ini…diluar bicara politik dan komen serta tindakan badut2 senayan..akhirnya disimpulkan ada teori konspirasi disini…

lebih gila lagi ada tingkah badut2an di depkeu… negara kaya yang dikelola badut akan jadi panggung srimulat penuh adegan slapstick.

kita tidak boleh selalu berkaca dengan akibat yang terjadi apabila tindakan bailout tidak dilakukan akan seperti kasus bbm dll…. kita harus didik rakyat jadi lebih rasional menyikapi masalah yaitu based on data dan fakta yang terlihat..memang akibatnya mungkin akan sakit tapi ini jauh lebih mendidik… selanjutnya rakyat akan terbiasa..bahwa sentimen pasar bukan tergantung dari faktor psikis semata…psikis hanyalah dipakai sebagai pendorong untuk mengarahkan suatu keputusan yang diharapkan sesuai data analisis yang sudah dibuat…

(Ferizal Ramli)
@Kang Ibnu:

Ada 2 hambatan besar kenapa para pengambilan keputusan sangat suka pakai alasan psikis bukan data rasional logis.

Pertama, Banyak data yang ada saat memang dibuat tidak jujur. BPS (Biro Pusat Statistik) misalkan, percayakah sampeyan dengan data jumlah pengganggur atau jumlah orang miskis versi BPS?… See More

Jika semua data itu jujur maka transparasi akan terbuka lebar. Korupsi akan terlihat benderang. Performance kerja pemerintah akan bisa dievaluasi secara benar. Lha benarkan ini yang diingkat oleh rejim?

Kedua, bahkan data yang logis saja tetap tidak dipakai dalam pengambilan keputusan.

Lha Century itu sudah bermasalah 5 tahun terakhir. Masak sih BI tidak punya data akurat tentang hal itu? Klo pakai data logis mestinya dari dulu Century sudah dilikuidasi. Jadinya, ndak perlu juga ditunda-tunda lalu by accident ada krisis dunia sehingga dijadikan alasan Century disuntik 6,7 T.

Contoh lain dimana pejabat TIDAK mau berpikir logis rasional justru diteladani sendiri oleh SBY. Ingat kasus Blue Energy, dimana begitu lutjunya seorang SBY mau mencium asap knalpot ala blue energy? Padahal saat bersama UGM sudah menyatakan Blue energy itu palsu dan penipuan.

Atau ingat Padi Letoy? Padi yang sama sekali berkualitas sampah tapi dibilang SBY sebagai padi unggulan?

Padahal untuk mengecek kualitas padi Letoy seorang SBY bisa dengan mudah bertanya ke FP UGM, IPB atau LIPI? Tapi kenapa tidak dilakukan?

Ini adalah contoh telanjang pemipin negara ini tidak menggunakan data rasional yang nota bene itu begitu mudah mereka dapatkan.

“Management by takhyul”, sampeyan Kang Ibnu sangat tepat memberikan labelnya…

(Avicena Ibnu)
Hahahaahha…sorry kang harus ketawa duluan.. kedengarannya dan kelihatannya emang bodoh ya..? Tapi harus diingat ini adalah pembodohan..aku gak yakin sby dan tim itu bodoh…data2 di bps dan sejenisnya adalah disengaja…adalah sebuah kesengajaan ada blue energy padi letoy ….dll…ada konspirasi di balik ini… percaya gak kang …? century memang 5 thn lalu bermasalah… sedikt banyak saya ikut sedikit tersenggol nangani masalah ini di underground…waktu itu memang kodisinya harus ditutup..tapi gak tahu kenapa kok jalan terus..dan saya sudah lepas pantauan stelah hengkang dari republik ini…ada banyak kasus seperti ini sebenarnya..tapi belum tercium aja di publik….tengok kasus bank global.. BTW saya jadi ada prasangka..adakah skenario NWO dan salah satunya pemimpn kita dah teken kontrak karena keserakahan materi dan kuasa…?justru saya melihat kasus century hanya sebagai tempat untuk melancarkan konspirasi…dan semua pengamat terhasut dengan data2 dan pada akhirnya membuat pernyataan yang sangat mudah di counter…dan legalitas bail out jadi terlihat benar..tapi kita harus waspada..ada hal yang lebih besar akan terjadi..negara ini akan segera terbeli…

(Iving A. Chevny)
yang jelas, pada saat bulan november 2008, pasar pancing dibuat panik oleh situasi itu. seminggu harga dinaikkan 3 kali oleh importir. dan para nasabah bank di samarinda siap untuk rush pada hari senin. jika pada hari minggu tidak ada pengumuman dari LPS untuk menjamin uang nasabah hingga 2M. maaf lho ini suara wong bakulan. kalo buat intelektual atau pegawe ya mungkin gak ngerasain situasi november 2008. mekaten

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving ingkang minulya:

Jaminan uang 2 M itu kan jamin untuk usaha kecil toh? Iya itu benar. Dalam banyak negara memang nasabah kecil dilindungi. Yang salah itu mana ada usaha besar dijamin pemerintah. Itu ndak ada logikanya jika usaha besar dijamin pemerintah. Itu resiko bisnis kang.

Lihat itu saat Madoff Amrik ditutup karena kriminal, apakah nasabah besar yang rugi trilyunan dijamin pemerintah? Yang mboten-2 aja jika nasabah besar dijamin. Kok kepenak banget bisnisnya. Untung mah untung mereka, giliran rugi duit pajak kita yang disuruh nalangin? Dimana logikannya?… See More

Kembali ke Bailout 6,7 T. Jelas peraturan mengatakan bahwa nasabah kecil dijamin pemerintah. Yang terjadi saat ini malah justru nasabah kecil dari Bank Century yang belum dibayar? Nasabah besar malah secepat mungkin mengambil uangnya saat 6,7 itu turun.

Jadi, dimana relevansinya 6,7 T dengan perlidungan nasabah kecil?

Tolong dibedakan, aku tidak sedang mempersoalkan jaminan 2 M. Aku sedang mempersoalkan mana relevansinya 6,7 T dengan perlindungan nasabah kecil? Justru masalah yang belum selesai dari Bank Century adalah nasabah kecil toh? :)

(Anwar Sadat)
@ George: meminjam istilah alm. Gus Dur “sambil tiduran pun kita udah tahu arahnya”
Mencoba memahami alasan penggunaan faktor psikologis dlm bail-out Century, tnpa berusaha memahami kondisi sosial rakyat kita serta aspek sosio politis dalam konteks tahun 2008, ibarat pengamat di bumi yg mengatkn permukaan bulan sangat mulus. Contoh yg sy berikan baru menunjukkan respon masyrkt kebanykn kita terhadap kemungkinan jatuhnya nilai uang mereka, tentunya respon masyrkt kita yg menggunkn kekayaanya utk tujuan investasi akan lebih agresif, & yg terakhir ini mungkin menguasai 70% dari DPK di seluruh perbankan kita.

(Ferizal Ramli)
@Anwar: logika klaim seperti sampeyan memang mirip dengan iklan pembodohan bailout yang selama ini dilakukan. Semua bisa dipas-paskan Kang jika menggunakan asumsi perasaan anda. Itu sebabnya dibutuhkan sebuah analisa untuk memahami mana yang relevan dan mana yang tidak relevan untuk mengeluarkan 6,7 T.

Sayangnya saat bicara analisa yang serius anda malah ndak mau membaca. Tadinya tak pikir sampeyan seperti saya rakyat biasa yang realtif tidak berpihak.

Lha ternyata anda aktif dalam TIM PEMENANG SBY. Anda jelas partisan partai mas. Perasaan seorang Partisan Partai jelas bias dalam memahami persoalan. Untuk itulah karena perasaan itu bias maka diskusinya maka analisa rasional. Jangan pakai perasaan anda. Lha wong orang yang ndak partisan aja persaannya bisa bias apalagi orang yang partisan seperti sampeyan.

Jadi, sekali lagi diskusinya pakai analisa mas. Jangan pakai perasaan dan pakai klaim-2. Setelah anda baca baik-2 narasi Mas Rimawan dan narasi saya tentang diskusi ini maka saya tunggu komentar sampeyan…

(Iving A. Chevny)
sori bos ferizal, buat kita yang pedagang, suasana november 2008 memang mencekam. di samarinda lho yaa. dan kami sering kumpul dengan pedagang di samarinda mencermati suasana saat itu. saya gak ngerti soal bailout itu bener atau salah. yang jelas setelah itu suasana menjadi tenang. yang jadi konsen saat ini adalah pada 1 januari ini diberlakukan … See Morepakta perdagangan bebas ASEAN – CHina. kami di samarinda memprediksikan akan makin banyak pengangguran di pusat-pusat industri di jawa, dan akan banyak penduduk yang pindah, khususnya ke samarinda. jika sejak dini tidak diantisipasi, maka kecenderungan kejahatan akan meningkat. yang ribut soal bailout nggih monggo. tapi di depan udah ada masalah lagi yg lebih besar.

(Ferizal Ramli)
Sori Boss Iving,

Lantas saat yang sama bursa saham hancur tuh habis-2an. Korporasi sektor riil jelas terancam lebih parah. Salah satunya Bakrie Group (sekali lagi aku ndak ada hubungannya dengan Barkrie) hampr bangkrut. Itu menyangkut ratusan ribu nyawa jika PHK. Tapi pemerintah memutuskan membiarkan saja itu terjadi sesuai mekanisme pasar. Bakrie ndak diselamatkan pemerintah. Bursa saham dibiarkan terjun bebas.

Saat yang sama juga ada bank lain selain Century yang mengalami kesulitan likuiditas tapi dibiarkan tuh?… See More

Lha kenapa Century 6,7 T diselamatkan? Artinya, untuk memahami persoalan tersebut dibutuhkan sebuah analisa yang jernih. Apa yang dirasakan masyarakat adalah sebuah indikator yang terjadi saat itu.

Tapi apakah bener 6,7 T adalah untuk memenuhi kepentingan masyarakat kecil? Di titik inilah aku menggunggatnya.

Piye kang Iving ingkang minulya?

XXX

Untuk sektor riil yang terancam saat pakta perdangan itu amat betul sekali. Sekali lagi itu amat betul sekali. Dan ini semakin menguatkan saya bahwa pengambil kebijakan betul-2 ngawur memahami persoalan yang ada.

Nanti, aku akan bahas lebih detail. Sekarang mau jalan-2 dulu dengan putri kecilku :)

(Anwar Sadat)
@ Ferizal : yg sy sajikan adlh fakta2 sederhana yg dpt digunakan utk memahami psikologis masyrkt kita. Mengabaikan konteks ini dpt mengarhkn kpd ketidakcermatn penilaian.
Contoh sederhana adlh kurang cermatnya bbrpa orng dlm ‘membaca’ iklan bail-out, krn hanya melihat di permukaan sja. Jika mrk memahami konteks kondisi sosial masy terkini, tentunya ‘bacaan’ mrk trhdp iklan ini akn berbeda. (Bila ada kesempatan, mungkin bung Ferizal bisa lbih mencermati iklan tsb).

(Ferizal Ramli)
@Kang Anwar: konsep berpikir anda itu “hallo effect” sekali. Memaksakan sesuatu menurut perasaan anda.

Baiklah saya ikuti maunya pola pikir anda dalam diskusi ini.

Saya buat cerita ilusatrsi judulnya: PACEKLIK dan PENCURI. (Ini cuma ilustrasi, jadi mohon don’t take it personally).

Misalkan ada 3 orang Petani: Sadat, Chevy dan Ibnu.
Kang Sadat misalkan dari latar belakang keluarga suka Mencuri (hehehe, ini cuma ilustrasi). Meskipun profesi petani klo ada kesempatan yah mencuri. Jadilah, dia partisan para pencuri.

Kang Chevny Petani Pengusaha
Kang Ibnu petani biasa pekerja keras

Mereka semua punya anak dan istri. Suatu ketika terjadi PACEKLIK. Gagal panen. Anak istri mereka kelaperan. Tetangga sekitar mereka juga panik. Ada kemungkinan terjadi penggasakan barang-2 di toko.

Mari kita lihat apakah yang terjadi jika Panceklik dan ancaman kerusuhan dijadikan alasan untuk mengambil keputusan?

Sangat mungkin, Kang Sadat karena memang dari dulu punya kebiasaan mencuri maka ini dijadikan alasan untuk mencuri. Dari pada anak istri guwe kelaparan, begitu alasan si Sadat. Lha wong ndak ada panceklik aja klo ada kesempatan mencuri apalagi ini demi anak istri saat paceklik.

Sangat mungkin, Kang Chevny, karena pengusaha maka otaknya jalan, cepat dia cari pinjaman uang dari rekanannya. Lalu buat peluang usaha baru.

Sangat mungkin, Kang Ibnu, karena pekerja keras segera beralih profesi secepatnya jadi buruh angkut yang penting hari itu dan untuk beberapa hari kedepan dia dapet uang untuk anak istrinya.


Seorang Sadat akan berkeyakinan bahwa keputusannya mencuri itu adalah keputusan yang tepat. Lha wong tatanan nilai si Sadat dari dulunya sudah “partisan” berpihak pada pencuri.

Seorang Chevny dan Ibnu memutuskan sama sekali tidak mencuri.

Pertanyaannya sekarang, benarkah mencuri adalah keputusan yang TEPAT untuk mengatasi terjadinya panceklik yang terjadi?

Supaya jawabnya ndak serampangan maka untuk menilai tepat atau tidaknya keputusan mencuri itu perlu dianalisa dan diselidiki.

Setelah diselidiki ternyata duit hasil mencuri si Sadat cuma sebagian kecil saja dibeliin makan buat anak istri, sisanya malah untuk si “gokil party” dengan selingkuhannya, hehehe =))

Lantas, BISAKAH masyarakat menerima alasan si Sadat mencuri, dikarena paceklik dan demi memberi makan anak-istrinya yang kelaparan ???


Jawab sendiri, auh ah gelap ….Wakakakaka, hehehe =))

(Ferizal Ramli)
MORAL point yang ingin saya sampaikan dalam ilustrasi diatas:

Untuk menganalisa bener atau salah itu tidak bisa pake rasa. TIDAK bisa pake jargon sebagai pembenar seperti “Kita sedang krisis maka kita boleh bailout!”

Tetapi harus dijawab secara akurat: Benarkah bailout sesungguhnya untuk mengatasi kepanikan masyarakat yang berdampak efek domino sehingga membahayakan perekonomian?

Faktanya:
- Masyarakat yang harusnya dilindungi UU untuk dijamin malah tidak mendapatkan itu kucuran dana dari bailout.Masih ribuan nasabah Century yang tidak diganti dananya.
- BPK malah mengindikasikan korupsi pada bailout itu.
- Ada bank lain yang juga butuh likuidasi seperti Century juga ndak dibantu pemerintah tuh. Tapi toh ndak apa-2 tuh.
- Klo krisis dijadikan alasan ternyata sektor riil dan bursa saham juga saat itu hancur-2 tapi tetap dibiarkan aja tuh. Ndak dibantu seperti Century.

(Iving A. Chevny)
bos feri, soal suasana (sekali lagi di samarinda) itu bener2 sudah red alert pak. kita gak tahu itu urusan century, lagian pengamat dan politisi yang sekarang pada mencla mencle dulu juga ndorong pemerintah untuk buat kebijakan untuk mengatasi krisis. kalo buat saya gimana saat itu usaha dan karyawan saya selamat pak. oh yaa sekali lagi saya gak … See Morengerti apa itu bail out. tapi saya setuju sekali dengan tulisan rimawan soal psikologi pasar. lha individu aja gak bisa ditebak apalagi pasar ( berdasarkan pengalaman jual barang mikro banget ….pancing maksudnya). soal pakta perdagangan ASEAN-China sebaiknya jangan selalu buru2 menyalahkan pemerintah. buat saya yang penting langkah antisipasinya. kadang saya bertanya? lha kok dulu pada ndorong dan diem aja. setelah krisis lewat lha kok podo ngomong? jane ono opo tho?

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:

Ada 2 isu dari sampeyan.
1. Tentang panik saat bailout. Dimana-2 panik boss. Semua orang di dunia panik saat itu. Ndak perlu membual siapa yang lebih panik. Amrik amat panik. Eropa tidak kalah panik. Yang beda adalah di mereka ndak ada tuh Bank gurem yang terindikasi kriminal digelontorke duit sak sekatenan atas nama bailout? Dan bailout mereka sampai hari TIDAK terindikasi korupsi.

Klo dalam ilustrasiku: PENCURI dan PACEKLIK. Semua orang ketakuan dan panik dengan packellik saat itu tapi TIDAK semua orang menjadi pencuri. Have you got my point? :)

2. Tentang perdangangan bebas China-ASEAN, ketinggalan kreta jika sampeyan mengatakan orang diam-2 aja dan tidak ada kajian kritis. LHa kajian kritis dari perdagangan bebas itu karena memang saat ini antisipasinya belum jelas.

Sampeyan lihat saja, produk barang mainan ndak mutu (baca tanpa teknologi sama sekali) aja dari Cina. Anda lihat aja produk apa sih yang anda konsumsi sehari-2 itu produk hasil industri domestik? Kok yao, pasar industri dalam negeri saja belum kepegang ini malah perdagangan bebas dengan China.

Lha wong Eropa yang jauh lebih kuat aja memproteksi pasarnya sebisa mungkin dari China. Lha wong Amrik membuat berbagai aturan agar menghambat segala hal produk China masuk ke Indo, masak kita malah membiarkan masuk?

(Iving A. Chevny)
maksud saya saat krisis 2008 politisi dan intelektual pada ndorong dan ndukung agar pemerintah mengatasi. sudah diatasi dan krisis lewat, lha kok jadi main politikisasi kebijakan itu. gitu lho. jadi sama to psikologi politisi dan intelektual gak bisa ditebak. tapi ada. opo maneh psikologi pasar. piye?

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving: Aku sudah jawab teori tentang psikologi pasar itu “tidak ada”. Silahkan baca lagi tulisanku atas kritik tulisan Rimawan tentang Psikologi pasar. Masalah sampeyan mau percaya pendapatku atau ndak yah itu pilihan sampeyan.

Aku bicara sesuai dengan kompetensi ilmuku dan bagaimana aku melihat negara-2 yang kena krisis jauh lebih hebat dari Indonesia berperilaku dalam menyelesaikan masalah.


Di Jerman jutaan orang begitu ketakutan akan kehilangan kerjaan atas krisis ini. Jadi, tidak cuma sampeyan doang di Samarinda yang ketakutan.

Di Amrik, contoh paling dramatis adalah seorang profesional hebat dari PriceWaterhouseCooper membunuh seluruh anak-2nya dan kemudian bunuh diri karena begitu panik dengan krisis ini.

Klo mau jujur, jika di Indonesia kena PHK (smoga kita tidak terkena) anda masih bisa tidur di kolong jembatan. Klo disini tidur di jalan bisa membuat anda jadi es batu karena suhu minus!

Tahukah sampeyan krisis yang mendera dunia seperti ini, bagi Jepang mereka sudah mengalami selama 2 dekade terakhir ini. Selama 2 dekade ini, Jepang mengalami stagnasi, deflasi dan krisis yang tidak pernah berhenti. Jangan ditanya begitu banyak orang yang bunuh diri atas masalah ini?

Jadi, masihkan sampeyan pikir cuma sampeyan doang yang panik?


Mungkin yang membuat sampeyan jadi bingung adalah mencampuradukan antara apa yang harus dilakukan dengan bagaimana cara melakukannya.

Aku sudah kasih ilustrasi mudah: Paceklik dan Pencuri.
Saat packelik terjadi semua keluarga petani kelaparan dan butuh makan. Mencari cara agar dapat makanan buat keluarga petani itu adalah keharusan, it’s a must.

Tapi apakah caranya harus dengan mencuri? atau haruskah sang petani itu bunuh diri masal beserta seluruh keluarganya?


Menyelesaikan kasus Century dengan benar adalah a must. Tapi membuat bailout 6,7 T yang melanggar aturan yang ada (mengeluarkan uang negara tanpa landasan hukum) dan itu terindikasi korupsi oleh lembaga Auditor, Kang Iving pikir benarkah seperti itu solusinya?

Itulah yang aku TOLAK dari iklan pembodohan ala KSSK dan Sri Mulyani. Lha wong mereka yang ambil keputusan terindikasi korup, lah untuk pembenarnya masak kita diberi iklan-2 yang membodohkan!

(Iving A. Chevny)
wakakakakakakakkaka. kalo aku sangat setuju dengan rimawan, bahwa psikologi pasar itu sangat ada. berdasarkan pengalaman 7 th sebagai pedagang pancing. suruh jelasin? apa yang ditulis rimawan sudah sangat jelas menurutku.

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:

Monggo wae jika itu keyakinanmu. Ndak penting sampeyan setuju dengan siapa. Yang terpenting saat sampeyan memutuskan mana yang dianggap benar, itu karena pilihan sadar dan open minded.

Dan ndak penting berapa tahun kita semua punya pengalaman. Ilustrasi mudahnya, kenapa ada tentara yang puluhan kali perang sampai bangkotan dia hanya berpangkat Sersan dan cuma bertanggung jawab terhadap keselamatan 5 orang anak buah? Sementara yang lain dengan pengalaman yang sama punya pangkat bintang di bahunya yang dipercayai bertanggungjawab atas keselamatan seluruh divisi atau bahkan seluruh korps pasukan?

Jadi, yang terpenting adalah bisakah kita memaknai hikmah dari pengalaman kita dan berpikir “open minded” terhadap kebenaran sehingga tidak terjebak pada kesalahan karena kebodohan kita sendiri. Bagiku, itu yang terpenting yang harus kita maknai dan kearah sanalah proses belajar yang seharusnya kita lakukan.

Senang berdiskusi denganmu.

Salam
PS.
Khusus Century yang oleh BPK dinyatakan terindikasi korupsi, aku pribadi berhadap KPK menindaklanjuti…

(Defiyan Cori)
Maaf kalau boleh nyela..
kalau psikologi pasar tidak bisa ditebak..trus buat apa saya belajar ekonomi pasar yang rasional? bahwa ada yang tidak bisa ditebak itu soal lain lagi pak iving! tetapi indikasi bisa diperhatikan dengan cermat melalui data2, sy dulu belajar ini kalau tidak salah, malah ada ekonom muda UGM saat ini yg getol banget dengan … See Morestatistik sampai2 bilang kalau tdak pakai data statistik tidak ilmiah.
Selain itu, krisis yang terjadi pada tahun 1997 dan 2008 sangat berbeda sekali, apa pak rimawan yang punya kapasitas ilmu ekonomi jauh lebih baik dari saya tidak menelaah ini?

psikologi pasar tidak jelas…tapi setuju dengan ketidakjelasan..apa itu masuk di akal itu pak?

(Defiyan Cori)
Dan yang lebih parah adalah soal professional judment dan kompetensi…apa betul sdr boediono menggunakannya dan paham betul karakter pasar dan konsumen di RI? soal psikologi pasar kalau pun sy setuju tidak bs ditebak, terus apakah dampak century juga bisa ditebak? Klu melihat pernyataan jeng sri dan kang boed…dia tetap mendasarkan pada data dan fakta krisis yang terjadi pada tahun 1997 (yg menurut sy berbeda) dengan setting krisis 2008, jadi sebenarnya mereka juga bukan menggunakan professional judgement atau kompetensinya, kalau begitu saya yg tamatan SD juga bisa dong pak..? he..he…ya udah kita sdg krisis so…we will bailout! That’s it!

(Ferizal Ramli)
@all: dalam banyak hal saya setuju dengan opini Kang defi. Saya cuma meng-komplemen dan men-stabilo saja beberapa hal:

PERTAMA, Psikologi pasar itu menjadi variable nyata pada negara yang sistem statistik-nya penuh kebohongan, palsu, buble dan dengan variable hedonis. Nah, jika pada lingkungan seperti itu jelas faktor psikis dominan dalam pengambilan keputusan. Orang mudah panik dengan isu, rumor, klenik, dsb, dsb.

Tapi pada sistem yang statistiknya jujur, psikologi pasar itu cuma cerita “mitos”. Pengambilan keputusan yah harus berdasarkan data-2 statistik yang akurat.

KEDUA, taruh sekarang kita bersetuju dengan SMI dan Boediono ambil keputusan Century bailout karena ingin menenangkan pasar. Tapi kenapa pada saat yang sama (saat Century diselamatkan) kok SMI justru membiarkan terjadinya:

1. Bursa saham hancur-2an, terjun bebas. Tapi toh sama pemerintah dibiarkan saja tuh mekanisme pasar berjalan?

2. Sektor riil banyak yang tutup, apakah pemerintah membuat paket nyata Goverment Expenditure untuk merevitalisasi sektor riil? Ternyata pemerintah diam saj tuh.

3. Banyak orang di PHK dan kelaparan apakah pemerintah membuat sistem jaringan sosial buat orang-2 yang ter PHK karena krisis? Ternyata pemerintah diam aja tuh?

Bukankah jika psikologi pasar sebagai dasar pengambilan keputusan, dimana pemerintah ingin meredam kepanikan, seharusnya: Bursa Saham, Sektor Riil dan PHK adalah hal yang jauh lebih penting diselamatkan dari pada menyelamatkan Bank Gurem yang rusak karena perbuatan kriminal?

Jadi, motif penyelamatan Bank Gurem Century ini sebenarnya apa? Karena ingin meredam kepanikan masyarakat atau ada kepentingan lain seperti KORUPSI seperti yang dinyatakan dalam temuan BPK?

Ferizal Ramli
@All: sekarang mari kita bicara dalam dataran teori.

Cerita-2 tentang Invisible Hand atau psikologi pasar memang seperti nyata dalam mahzab-2 neo-klasik dan klasik (mahzab Kapitalis). Tapi klo dari Mahzab Sosialis seperti yang ditulis Elmar Elvater “Das Ende des Kapitalismus” ndak “percaya” itu kekuatan psikologi pasar.

Saya pun punya kritik penting ketidakonsistenan para neo-klasik tentang Invisible Hand dalam mekanisme pasar. Bagi saya pasar itu bisa di-prediksi dan dikelola. Tangan Misterius itu tidak ada. Yang ada itu adalah setan gundul Standard & Poors, Moody dan Fitch. Merekalah yang mengendalikan pasar dunia melalui informasi palsunya. Jadi, pasar itu BISA DIKENDALIKAN dan bisa DIPREDIKSI perilakuknya.


Supaya ilustrasinya lebih mengena lagi untuk menjelaskan bahwa invisible hand itu TIDAK ada maka kita tengok sebentar AMERIKA, negara yang begitu percaya pada pasar.

Kita tahu lah obligasi Pemerintah Amrik saat ini junk semua. Siapa yang mau beli itu obligasi? Yang terjadi pemerintah Amrik keluarkan surat hutang untuk dapat dana yang digunakan menstimulus perekonomiannya, tapi siapa yang mau beli surat hutang pemerintah Amrik? Ndak ada yang mau beli, logika akal sehat juga tahu itu junk alias rubbish!

Yang beli cuma The Fed (artinya dari Pemerintah oleh Pemerintah dan untuk pemerintah) dan China mua beli juga. China mau beli obligasi Amrik dengan pertimbangan melindungi pasarnya di Amrik.

Pertanyaanku, kenapa pemerintah Amrik yang produk-2 keuangannya sudah menjadi Junk, kok oleh Standard & Poors, Moody dan Fitch TIDAK diturunkan rating-nya, dari investment grade ke junk grade?

Dan mari bayangkan, jika ketiga setan Gundul anak kandung klasik dan neo-klasik itu secara jujur menurunkan rating Amrik ke Junk Grade maka detik itu juga pasar panik. Detik itu juga sangat mungkin ndak ada yang mau menerima transkasi US Dollar dan segala kemungkinan akan terjadi.

Pertanyaannya, dari ilustrasi itu benarkah pasar TIDAK bisa dikendalikan? Benarkah invisible Hand itu eksis? Jangan-2 sampeyan semua yang begitu “memuja” tentang psikologi pasar dan invisible hanf cuma diapusi wae. Ditakuti-2 bahwa itu tangan Tuhan, jebole cuma we-we gombel kerjaan si Standard & Poors, Moody dan Fitch :)


Moral point: jangan-2 keputusan bailout 6,7 T yang diyakini sebagai “tangan Tuhan” untuk menyelamatkan kepanikan, ternyata cuma perbuat wewe gombal setan Gundul untuk menyelamatkan para Koruptor!

(Defiyan Cori)
Paradigma ekonomi Amerika sdh habis…knapa kita harus memakai teori-teori nya yg telah usang..sementara dunia terus berubah dan berkembang…haruskah kita menjadi orang2 yang naif?

(Iving A. Chevny)
bung fer, saya hanya ingin menggaris bawahi kata-kata anda bahwa pengambilan keputusan yah harus berdasarkan data2 statistik yang akurat… berarti kalo mengambil keputusan tidak berdasar data2 statistik yang akurat berarti salah yaa? …maaf ini agak diluar konteks century. saya baca buku donald trump dan richard branson yang mengajarkan dalam mengambil keputusan ikuti intuisimu… piye? mereka termasuk penyumbang yang menggerakkan pasar… fokus ya khusus tentang pengambilan keputusan ..seperti yang anda tulis jgn merembet ke century lhooo..

(Defiyan Cori)
Kita juga harus bedakan pengambilan keputusan bisnis dan personal dengan pengambilan keputusan publik, tidak bisa digebyah uyah. Kalau saya berbisnis dampak keputusan saya hanya pada institusi saya, tetapi kalau menyangkut publik dampaknya tidak hanya satu institusi saja, tetapi orang banyak..itulah bedanya..mudah2an bisa lebih terang soal fokus pengambilan keputusan ini ya pak..?

(Iving A. Chevny)
sori bos defi… anda yang gebyah uyah coba baca pertanyaan saya….

(Iving A. Chevny)
apakah kalo pengambilan keputusan tidak berdasarkan data2 statistik yang akurat… berarti salah?

(Iving A. Chevny)
saya beri ilustrasiii yaaaa…. kasus gunung merapi yang mau meletus waktu itu.. secara data dan fakta geologis dan vulkanologis… gunung merapi dinyatakan akan meletus. kemudian dari data2 tersebut diputuskan untuk mengungsikan penduduk tentu dikeluarkanlah biaya. ternyata merapi tidak jadi meletus. salahkah pemerintah yang telah memutuskan untuk mengungsikan penduduk dan mengeluarkan anggaran untuk pengungsian? mohon pencerahannya

(Ferizal Ramli)
@ Kang Iving:

Sampeyan mencampuradukan antara (1) Kondisi psikis pada setiap individu dalam pengambilan keputusan, dengan (2) Data dan fakta ekonomi yang ada dimiliki oleh pelaku pasar.

Psikis individu memang mempengaruhi sesorang mengambil keputusan. Tapi data-2 statistik Ekonomi itu, (jika dia bukan data hasil berbohong) maka dia adalah fakta. Fakta ini tidak bisa dirubah oleh psikologi pasar atau invisible hand atau wewe gombel yang dengan cara ajaib, abrakadabra sehingga begitu abstrak untuk dipahami oleh akal manusia. … See More

Data dan fakta memang bisa dimanipulasi dibuat misleading seperti yang dilakukan oleh lembaga-2 ranking model Moody, Fitch, Standard and Poor. Hanya perbuatan itu semua bisa dianalisa secara rasional. Itu sebabnya, saya katakana invisible hand (seperti yang ditulis oleh Mas Rimawan) itu tidak ada. Itu mitos teori ekonomi neo klasik. (Silahkan baca lagi kajian kritis saya tentang mitos ini)

Jadi, kesimpulannya data yah data, fakta yah fakta, tapi sikap orang , kapabilias dan integritas seseorang terhadap data dan fakta itu memang berbeda2. Akibatnya memang keputusan yang satu bisa berbeda dengan lainnya. Tapi dasarnya harus sama yaitu data-2 akurat dan fakta.

Kapabilitas, apakah seseorang memiliki ilmu yang mumpuni atau karena pengalamannya sehingga instuisinya tajam, akan mempengaruhi seorang decision maker mengambil keputusan berdasarkan fakta.

Integritas, seperti nilai moral jujur yang terbebas dari vested interest, juga mempengaruhi decision maker mengambil keputusan sesuai fakta.

Tapi kapabilitas dan integritas (faktor PSIKIS) seseorang itu bisa DINILAI dan bisa DIEVALUASI.

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving (Lanjutin yah tulisanku)

Sekali lagi faktir Psikis dari decision maker itu bisa DINILAI dan bisa DIEVALUASI. Agar tulisan saya tidak abstrak maka mari kembali ke Century:

Secara kapabilitas bisa dinilai misalkan benar ndak sih sebuah Bank Gurem Century bisa membuat perekonomian sebuah bangsa hancur dalam kepanikan? Sementara saat bersamaan Bursa Saham terjun bebas dibiarkan. Sementara sektor riil hancur juga dibiarkan, pabrik-2 tutup dibiarkan. Sementara orang di PHK juga dibiarkan. Jadi, secara kapabilitas benarkan keputusan 6,7 T Century itu?

Secara integritas juga bisa dinilai. Caranya dengan audit investigasi oleh BPK. Kesimpulannya terindikasi korupsi. Berarti secara integritas keputusan Century itu mengalami cacat moral. Jika KPK misalkan menemukan bukti korupsi maka dipidana.

Kesimpulannya; bedakan antara (1) psikis individu yang mempengruhi pengambilan keputusan dengan (2) Data dan fakta pada pelaku pasar yang bisa secara ajaib pake invisible hand atau wewe gomble dirubah data dan fakta ekonominya, simsalabin akrobat, sehingga ndak bisa dianalisa.

Nomor (1) itu ada tapi nomor (2) adalah mitos. Kang Rimawan bicara pada konteks no (2). Kang Iving mendukung teori kang Rimawan dengan menggunakan konteks no (1). Padahal 1 dan 2 bukan sesuatu yang sama dan serupa.

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving: (klo ini intermeso, hehehe)

Sudah pernah tanya Ki Gedeng Pamungkas atau Mama Laurent atau tanya Ki Joko Bodo bagaimana mereka ambil keputusan? Pake apa mereka? Pake instiusi kah? Pake Wewe Gobelkah? atau pake apa? hehehe… =))

Setiap orang punya influence sendiri saat pengambilan keputusan. Donald Trumph pake instuisi. Si Gendeng Pamungkas pake wewe gombel. Tapi saat anda menjadi Pejabat publik maka anda harus pakai data untuk ambil keputusan publik dan dipertanggungjawabkan secara akuntabilitas ke publik.

Bisa ndak sampeyan bilang ke Auditor bahwa sampeyan ambil keputusan gelontorkan 6,7 T karena Wewe Gombel kepercayaan saya menyuruh demikian!

Atau seperti Mantan Menteri Agama Said Agil Al Munawar, yang gali harta karun di sebuah situs (peninggalan Bung Karno klo ndak salah) yang dapat wangsit bahwa disitu itu terpendam harta senilai trilyunan yang bisa membayar hutang seluruh rakyat Indonesia :) )

Jadi, sudah jelaskan beda antara (1) psikis individu mengambil keputusan dengan (2) psikis pasar yang ajaib sehingga memberikan data-2 misterius yang ndak bisa dipahami?

Nomor (1) ada. Nomor (2) Mitos. Itu bedanya :)

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:

### Kang Iving bertanya: apakah kalo pengambilan keputusan tidak berdasarkan data2 statistik yang akurat… berarti salah?

+++Jawabanku: apakah Menteri Agama jaman Megawati yang membongkar dan merusak situs purbakala karena dari wangsit didalam situs itu ada harta karun yang tak ternilai itu salah?… See More

Apakah Ki Gedeng Pamungkas, semedi dulu untuk mengambil keputusan sehingga kesurupan Genderuwo juga salah?

Monggo, Kang Iving dijawab sendiri :)

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving: saya tanggapi yah tentang iilustrasi Gunung Merapi yang akan meletus.

Gunung Merepi mau meletus. Lalu pemerintah memindahkan orang-2 yang tinggal di Villa Mewah di Merapi View yang jaraknya 20 kilometer dari Puncak Gunung terlebih dahulu dari pada yang tinggal di Bukit Plawangan atau di Bukit Tlogo ang jaraknya cuma 1 km dari puncak.

Lalu ada yang mengkritisi bahwa tindakan itu kleru. Lalu pemerintah beralasan bahwa letusan Gunung Merapi itu tidak terduga. Jadi, kita harus memindahkan para penduduk segera. Coba klo merapi meletus mereka bisa jadi korban nanti Pemerintah lagi yang disalahkan.

Nah seperti itu Kang Iving ilustrasi yang lebih tepat untuk menggambarkan Century 6,7 T :)

(Iving A. Chevny)
he…hheee… saya memberi ilustrasi yang benar pak… tak ada itu pemerintah memimindahkan org2 yang tinggal di merapi view.. he hehehe. pemerintah telah membuat sistem ring pak di merapi….jadi jangan buat ilustrasi yang gak bener lah… saya hanya ingin diberi penjelasan sebelum masuk ke century, apakah pengambilan keputusan tanpa berdasarkan … See Moredata2 statistik yang akurat berarti salah? karena anda minta untuk urusan publik… ya anda jangan memberikan ilustrasi ttg ki gendeng dan menteri gendeng dong… nah saya beri ilustrasi lagi…nih… mbah marijan tetap bertahan waktu itu dan dia mengatakan tidak akan meletus… dan masyarakat sekitar ada yang mengikuti…. apakah pengambilan keputusan mbah marijan salah?apakah dia menggunakan data statistik yang akurat? mohon pencerahan… ini masih soal pengambilan keputusan pak.. dan itu tulisan anda…. nah sekarang soal century. perhatikan kalimat saya agar fokus dan inipun mohon pencerahan…. dari november 2008 hingga agustus 2009… kok gak ada yang ribut soal century kenapa? dan semua transparan di DPR waktu itu. lantas kenapa BPK pada februari 2009 (kalo tdak salah) mengeluarkan hasil audit terhadap LPS (tentu setelah LPS menggelontorkan uang 6,7T) dengan penilaian WAJAR. mohon pencerahan…

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:

Ilustrasi sampeyan tentang Merap mau meletus itu itu too general. Klo sampeyan pakai Jargon bahwa Merapi itu mau meletus lalu penduduk harus pindah, maka itu jargon bisa jadi pembenar.

Seperti itulah iklan pembodohan yang dilakukan oleh KSSK saat ini secara gencar. Bilang kita krisis maka Bailout itu benar.

Padahal, yang terjadi adalah (jika pakai ilustrasi Merapi sampeyan) yang dipindahkan bukan Penduduk Plawangan atau Tlogo tapi yang dipindahkan Penduduk Merapi View yang jauh dari ancaman Merapi.

Karena itulah Bailout Century menjadi bermasalah karena yang selamat adalah nasabah besar. Jadi, ilusttasi sampeyan too general tentang Merapi makanya kulengkapi agar ilustrasi fair :)


Salahkan mbah Maridjan dengan Wangsitnya? Klo tanya pada Ki Gendeng maka, ki Gendeng bilang bener. Tapi klo tanya pada Sri Sultan maka Sri Sultan sebagai pejabat publik suruh dia mengungsi. Dikarenakan Sri Sultan akan menggunakan data geologi yang benar untuk ambil keputusan. Saat data geologi pada posisi Awas atau apalah namanya dan ini berarti harus ngungsi maka Sri Sultan ambil decision yah berdasarkan data itu.

Data geologi itu yah seperti data ekonomi. Data geologi itu tidak terpengaruh psikologi dalam bentuk invisible hand. Pengaruh psikis itu terjadi pada decision maker-nya saat membaca data dan fakta.

Saya jelas menyamakan SMI dengan Ki Gedeng jika keputusan yang dibuat SMI saat Century 6,7 itu berdasarkan wangsit. Lah apa bedanya dengan Ki Gendeng Pamungkas saat dia memutuskan sesuatu?


Tentang Century, saya ndak lihat ada persetujuan 6,7 T dari DPR, persetuan apa? Malah dasar hukum pemerintah saat keluarkan 6,7 dipertanyakan. Ini pulakan salah satu masalah dari Century: karena tidak ada dasar hukum 6,7 T digelontorkan.

Sudah pastilah DPR atau siapapun akan bilang selesaikan Century segera. Tapi TIDAK berarti penyelesaiannya itu adalah 6,7 yang terindikasi korupsi.


Klo tentang BPK dan LPS aku pikir tinggal dibaca aja link beritanya…

http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/12/15/brk,20091215-214058,id.html

http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/12/15/brk,20091215-214058,id.html

(Iving A. Chevny)
“Artinya, apa yg ditulis BPK dalam opini tersebut mengungkapkan tentang risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari jika tidak ditangani dengan baik,” kata Dwita dalam pesan pendeknya. “Dan benarkan itu terjadi?”

Saat didesak kenapa pengucuran dana talangan itu baru dipermasalahkan sekarang, Dwita menegaskan, tanyakan hal itu kepada yang mempermasalahkan. “Jangan tanya BPK.”

maksute piye?
resiko apa sebenarnya yang terjadi saat pemerintah membuat kebijakan menangani krisis fer? lha BPK yang ngaudit kok publik yang meraba2.

wakakakakakakakakakakaka

(Iving A. Chevny)
maksudnya BPK yang ngaudit kok publik disuruh meraba raba. lha wong wis cetho WAJAR TANPA PENGECUALIAN. wakakaka. sebenarnya ada apa sih? wakakakakakaka

(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:

He,he,he kleru sampeyan memahaminya klo gitu. Kleru sekali. Yang bener iku:

1. BPK sudah kasih tahu bahwa penyertaan dana di Century itu adalah penyertaan dana beresiko.

Jadi, resiko yang dinyatakan pada Laporan Keuangan LPS itu bukan resiko terjadi krisis di Indonesia atau tidak kang. Tapi konteks resiko tentang penyertaan modal di Century. Sampeyan salah mendeterminsai terminalogi resiko kayaknya Kang :p

2. Audit Keuangan itu tidak bisa mendeteksi secara akurat apakah terjadi kesalahan atau tidak. Audit itu sudah benar. Laporan kuangan anda wajar tapi penyertaan modal anda berisiko.

3. Saat ternyata, DPR melihat ada indikasi pelanggaran hukum tentang penggelontoran 6,7 T (DPR mengatakan itu tidak berdasarkan hukum) maka DPR minta audit investigasi BPK. Nah, audit investigasi ini, salah satunya, menyelidiki resiko penyertaan modal yang telah di-”warning” pada audit keuangan sebelumnya.

4. Hasil dari audit investigasi ditemukan bahwa resiko yang telah dingatkan pada audit keuangan ternyata terjadi :)

Hehehe…, dimana bingungnya? :p

(Ferizal Ramli)
Nah, jika wartawan tanya ke BPK kenapa kok penyertaan modal baru sekarang dipermasalahkan? Jawaban BPK itu bener, itu bukan pertanyaan buat BPK. Itu pertanyaan buat DPR.

Klo, DPR mempersoalkan hal tsb karena adanya pelanggaran dasar hukum saat penggelontoran. Disisi lain KPK (sebagai lembaga penyidik) juga melihat ada indikasi korupsi. Berangkat dari kecurigaan itu, DPR minta ke BPK melakukan audit investigasi. Dan hasil audit investigasi menyatakan benar terjadi indikasi korupsi.

Knapa sekarang? Lha wong KPK kan sudah dari awal sudah bergerak kok. Dikriminalisasi lah. Lalu DPR juga tunggu hasil audit investigasi, dll. Yah, itu semua butuh waktu toh? Belum lagi ada masa transisi penggantian DPR dan BPK…

Ferizal Ramli
@Kang Iving: ono pertanyaan lagi kang? hehehe =))

Kajian Kritis atas tulisan Rimawan Pradiptya tentang “Psikologi Pasar”

Tulisan ini adalah sudut pandang berbeda saya atas dua tulisan berseri Yth Sahabat Rimawan Pradiptya yang kebetulan di-tag ke Fesbuk saya. Lampiran lengkap tulisan Sdr. Rimawan Pradiptya terlampir dibawah.

Secara singkat dalam tulisan Pertama, sdr Rimawan mengatakan bahwa dalam ekonomi perilaku psikologi pasar itu tidak bisa dipahami. Itu adalah sesuatu yang misterius.

Dalam tulisan yang kedua, sdr. Rimawan mengatakan bahwa mengacu pada study kasus Northern Rock di England, keputusan bailout Century adalah keputusan yang tepat.

XXX

Berikut ini kritik saya terhadap dua tulisan sdr. Rimawan Pradiptya tersebut:

Kritik atas tulisan PERTAMA:

Kang Suheng Rimawan,

Nyuwun sewu aku buat tulisan yang berbeda dengan sudut sampeyan. Tulisan sampeyan yang ini Kang Suheng, kayaknya sangat menguntungkan para pengambil keputusan yang dengan mudah berlindung pada alasan: “karena faktor psikis”. Akibatnya, para pengambil keputusan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban.

Ada beberapa alasan yang membuat saya punya sudut yang berbeda. Psikologi Pasar itu bukanlah variable yang misterius dan tidak terpahami. Ada 3 hal penting yang bisa dipahami dari psikologis pasar.

PERTAMA, Faktor psikis itu managable pada sistem yang certainty. Faktor psikis menjadi catastrophe pada sistem yang penuh kebohongan. Sistem yang statistiknya adalah kumpulan angka-2 buble palsu yang penuh variable hedonis maka isu, rumor, klenik memang mempengaruhi signifikan dalam pengambilan keputusan.

Kenapa? karena si pengambilan keputusan tidak tahu posisinya akibatnya dia mempercayai rumor atau isu dalam pengambilan keputusan bahkan kalo perlu ke mbah dukun Anggodo atau Robert Tantular sebelum ambil keputusan.

Tapi pada sistem yang certainty, transparan, data-2 statistik perekonomian adalah representasi dari kenyataan sebenarnya, maka pengambilan keputusan IRASIONAL biasanya JARANG terjadi.

KEDUA, penggunaan contoh mundurnya Nazi dalam operasi Zitadel saat melawan Rusia atau Amrik saat perang Vietnam (seperti yang ditulis pada artikel sampeyan), sangat mungkin BUKAN karena pertimbangan psikis. Sangat mungkin itu adalah perhitungan rasional di lapangan.

Realitas di lapangan menunjukkan Nazi akan menderita kerugian lebih besar untuk melanjutkan perang makanya mereka mundur.

Tapi pertimbangan lapangan itu harus memenuhi unsur-2 konsistensi. Tidak bisa, lah wong sistem keuangan seharusnya prudent dan konservatif, kok tiba-2 hanya karena rapat marathon, lalu menjelang shubuh diputuskan ini SISTEMIK. Klo ini dikatakan faktor psikis maka sangat mungkin psikisnya akibat dapat telpon dari mbah Dhukun misterius :)

Moral pointnya: data empirik lapangan lah yang akhirnya sebagai basis keputusan selain data statistik akurat yang selama ini dikumpulkan secara series dan konsisten dalam jangka panjang.

KETIGA, pada sebuah sistem yang tidak punya data statistik benar, ini bisa menyebabkan kerugian yang lebih parah lagi akan adanya rekayasa informasi dari pihak lain.

Standard & Poors, Moody dan Fitch adalah lembaga-2 dedengkot yang paling handal MEREKAYASA informasi PALSU untuk mempengaruhi kondisi psikis seseorang (pasar) agar mengambil keputusan sesuai dengan keinganan lembaga tadi. Hanya saja, harus dipahami cara kerja dari lembaga ini dengan menggunakan data statistik lengkap menurut versi mereka dan itu termedologi secara rasional. Data-2 rasional versi merekalah yang digunakan untuk mempengaruhi psikis dari pelaku pasar.

Artinya, penggiringan mind-set pelaku pasar agar mau mengikuti keinginan dari ketiga lembaga ranking tadi adalah bentuk nyata bahwa faktor psikis jelas dipengaruhi oleh data rasional (terserah apakah itu rekayasa atau tidak).

Kesimpulan saya: “TIDAK ADA” itu faktor psikis dalam pengambilan keputusan. Yang ada adalah persepsi, kapasitas dan integritas seseorang dalam memahami masalah dan tersedianya data dalam pengambilan keputusan.

(Catatan: dengan sebuah asumsi bahwa data yang tersedia relatif mewakili realitas yang ada)

Persepsi, kapasitas dan integritas itu bisa dipertanggungjawabkan. Jika dia salah membaca data berarti tidak punya kapasitas sebagai pemimpin. Jadi, harus dipecat!

Integritas juga bisa dinilai. Jika seorang decision maker mengambil keputusan karena dia jatuh cinta maka jelas itu faktor psikis.

Hanya sebuah sistem yang benar tidak mentolerir terjadinya pengambilan keputusan didasarkan vested interest pribadi dari si pengambil keputusan. jika saat mengambil keputusan ada vested interest maka ini harus diberi pinalti apalagi jika terindikasi korup. Yah, harus dipidana…

Itu menurutku lho Kang Suheng…tapi aku bisa salah :)

XXX

Kritik atas tulisan KEDUA

Kang Suheng Rimawan…

Ijinkanlah kembali aku nyatakan berbedaku dengan sampeyan dalam kasus Northern Rock di England atau Hypo Real Estate Bank di Jerman dengan Kasus Century di Indonesia. Northern Rock atau Hypo Real Estate Bank itu berbeda dengan Century.

Pertama, aku mencoba mencari data tentang Northern Rock plc, data yang aku dapat tidak ada tindak pidana dalam pengelolaan bank tersebut. .

Kesalahan manajemen iya yaitu invetasi tenggelam di subprime mortgage, tapi kesalahan pidana oleh pihak pemilik tidak terjadi (Catatan: ini dari berita yang aku ikuti saat Alistair Darling memutuskan menyelamatkan itu bank, klo salah mohon saya dikoreksi).

Untuk kasus Hypo Real Estate Bank di Jerman pun saat diselamatkan TIDAK ada kesalahan kriminal dan manipulatif dari pemiliknya.

Ini berbeda dengan kasus Century yang jelas-jelas kasus kriminal pemilik bank.

Kedua, sekarang kita bicara setelah bailout terjadi.

1. Saat Northern Rock Bank dan Hypo Real Estate Bank diselamatkan maka TIDAK ada kasus lagi dengan nasabah. Untuk Hypo Real Estate Bank, semua persoalan nasabah terselesaikan. Pada Century tidak demikian. Nasabah yang kecil yang dilindungi UU malah terlantar.

2. Khusus kasus Hypo Real Estate Bank (sayang saya tidak mengikuti persis yang Northern Rock di England), lembaga auditor pemerintah Jerman sama sekali tidak menemukan adanya indikasi korupsi saat bailout terjadi. Ini berbeda dengan Century yang oleh BPK terindikasi korupsi

Jadi, kesimpulannya perlu kehati-hatian untuk menyamakan antara kasus Northern Rock Bank dan Hypo Real Estate Bank dengan Bank Century. Ndak usahlah bicara politik. Secara manajerial dan secara ekonomi saja ada begitu besar perbedaan yang signifikan yang menjadikan Bank Century tidak layak disamakan dengan Northern Rock Bank dan Hypo Real Estate Bank.

Itu menurutku lho Kang Suheng. Maturnuwun sangat atas di-tag-nya aku oleh sampeyan :)

Salam hangat,
München – Dari tepian Lembah Sungai Isar

Ferizal Ramli

XXXXXXXXXXXXXXXX
Berikut ini Jawaban Sdr. Rimawan Pradiptya:

Rimawan Pradiptyo
Mas Ferizal, matur nuwun komentarnya. Saya hanya sharing info ttg pengetahuan saya tentang ‘rasionalitas ekonomi’ dan psikologi pasar yang sebenarnya tidak mudah untuk difahami. Kebetulan saya spent waktu lama berkutat di topik yang tidak menarik ini, yaitu rasionalitas ekonomi vs rasionalitas manusia. Kesimpulan saya, rasionalitas manusia sangat kompleks, dan ilmu ekonomi mengasumsikan dengan cara yang over simplistis.

Untuk kasus Century, saya hanya mencoba melihat dari ilmu yang saya pelajari. Saya lihat ada 3 supergames di sana, yaitu ketika tahap merger, tahap bailout dan tahap pasca bailout. Ketiga supergames tadi terdiri dari beberapa games dengan pemain yang berbeda. Sekarang yang muncul seakan ketiga supergames ini jadi satu. Menurut saya di situ ada 3 supergames yang masing-masing supergame terdiri dari beberapa games dengan pemain yang seringkali berbeda.

Mengapa saya angkat tentang pentingnya judgement? Mohon Mas Ferry tanya ke bank of England atau Bundes Bank. Kalau ada bank di sana yang kalah kliring malam itu, dan besok pasti akan kena rush, tanyakan kepada mereka, data kuantitatif apa yang mereka miliki? Berapa time lag-nya? apakah mereka punya data untuk sedetik yang lalu? Saya agak skeptik kalau jawabannya positif. Kalau saja mereka bisa dapatkan data seminggu lalu, itu sudah untung. Hanya saja, data seminggu lalu tidak relevan lagi untuk bank yang besok akan di rush karena malam itu kalah kliring. … See More

Sejauh pengetahuan saya, hanya BI satu-satunya bank sentral di dunia yang mewajibkan bank-bank umum dan BPR untuk mengumpulkan data keuangan per bulan dan itu wajib hukumnya. Kalau Njenengan sangsi dengan fakta ini, tanyakan bank setempat di Germany nggih?

Mengapa saya ambil contoh perang? karena dalam perang seringkali jendral2 dihadapkan untuk mengambil keputusan dengan data yang minim. Di Kurst, tentara german yang mati dan terluka 50,000, tapi tentara jendral Zukov lebih banyak lagi. Hal yang sama namun lebih ekstrim terjadi Stalingrad. Maksud saya, dalam kehidupan keseharianpun seringkali kita tidak sekonsisten apa yang diasumsikan teori ekonomi.

Bahwa Century = bank nakal, saya sepakat dengan itu. Namun dalam konteks ekonomi krisis seperti itu, kemungkinan rush di century dan bank2 setara adalah hal yang berbeda. Dampak bailout tidak tentu menghilangkan rush, karena pernah terjadi di tahun 1997, BCA dan Niaga di bailout tapi saat itu tidak mengurangi hasrat masyarakat untuk tetap rush the banks. Cilakanya Mas, itu terjadi di negara kita Mas. Begitu tingginya uncertainty di Indonesia, bahkan Soros main di Bath, malah kita yang paling terpuruk.

Bagi saya hal tersebut adalah pertanyaan besar, namun itu menambah keingintahuan saya untuk belajar lebih lanjut tentang bagaimana orang mengambil keputusan. Nuwun.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

(Berikut ini artikel lengkap Sdr. Rimawan Pradiptya yang men-tigger terjadinya diskusi)

Tulisan Pertama Sdr. Rimawan Pradiptya
Memahami Psikologi Pasar (Koran Jakarta, 29/12/2009)

http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=41216

Sejak kasus Bank Century mencuat ke permukaan, salah satu topik yang banyak diperdebatkan adalah masalah psikologi pasar. Tidak perduli apakah perdebatan dilakukan di warung kopi maupun di media massa nasional, banyak pihak seolah memahami dengan benar tentang psikologi pasar dan bagaimana cara bekerjanya.

Satu hal yang sering dilupakan dalam diskusi-diskusi tersebut adalah kenyataan bahwa bagaimana pasar bekerja adalah hal yang paling misterius dikalangan para pakar Ekonomika kaliber dunia sekalipun. Adalah suatu kenyataan bahwa para ekonomikawan menghabiskan sebagian besar waktunya mempelajari dan menganalisis pasar. Ironisnya, tidak ada satupun ekonomikawan yang faham betul bagaimana mesin ekonomi dan pasar sebenarnya bekerja.

Masih segar diingatan kita, krisis ekonomi di tahun 1997 dipicu oleh penurunan nilai Bath Thailand akibat spekulasi yang dilakukan George Soros. George Soros tidak melakukan spekulasi di Rupiah ketika itu. Namun, mengapa justru nilai Rupiah mengalami tekanan yang luar biasa dan akhirnya terpuruk?
Sebelum krisis terjadi, apakah orang pernah berfikir atau membayangkan bahwa hal tersebut terjadi?

Ekonomika atau Ilmu Ekonomi boleh saja berkembang pesat, namun bagaimana mekanisme pasar bekerja tetaplah merupakan hal yang paling misterius bagi para Ekonomikawan. Tak kurang dari Adam Smith (1776) hanya bisa menggambarkan cara kerja pasar sebagai ‘the invisible hands’ atau sesuatu yang tidak bisa dilihat kasat mata namun bisa diketahui keberadaannya.

Pasar adalah interaksi antara permintaan dan penawaran yang bersifat agregat yang dibentuk oleh permintaan dan penawaran di tingkat individu. Artinya adalah bahwa bagaimana pasar bekerja sebenarnya dipengaruhi oleh pengambilan keputusan di tingkat individu yang kemudian diagregasikan. Implikasinya adalah bahwa psikologi pasar adalah kumpulan dan sangat dipengaruhi oleh persepsi dari setiap individu yang terlibat di dalam pasar.

Psikologi pasar adalah terminologi yang digunakan untuk menunjukkan bagaimana individu-individu yang berada di dalam suatu pasar bereaksi, baik terhadap suatu informasi, maupun strategi perusahaan maupun kebijakan pemerintah. Implikasi dari pengertian ini adalah bahwa salah satu upaya untuk memahami psikologi pasar dapat dilakukan dengan memahami bagaimana individu mengambil keputusan.

Rasionalitas Robot atau Manusia?

Dalam Ekonomika diasumsikan bahwa manusia selalu berperilaku rasional. Keputusan individu dianggap rasional, apabila keputusan tersebut konsisten. Permasalahannya adalah bahwa ketika konsistensi dijunjung tinggi, seringkali keputusan yang dilakukan tidak sesuai dengan konteks pengambilan keputusan. Misalnya, para penggemar minuman anggur pasti lebih menyukai minuman anggur daripada jus jeruk. Tapi apakah mereka akan tetap meminum anggur ketika sarapan pagi? Jawabannya jelas tidak.

Definisi rasionalitas di Ekonomika mensyaratkan konsistensi pengambilan keputusan. Namun ketika konsistensi tidak mempertimbangkan konteks saat pengambilan keputusan diambil, maka kita jadi bertanya, apakah ini rasionalitas manusia ataukah rasionalitas robot?

Pengertian rasionalitas di Ilmu Ekonomi lebih tepat digunakan untuk menganalisis robot daripada manusia. Manusia rasional, menurut ilmu Ekonomi, tidak lebih dar sekedar seperangkat super komputer yang bisa berjalan dan mengenakan pakaian. Manusia rasional, seperti halnya robot atau komputer, sangat menjunjung tinggi konsistensi pengambilan keputusan tanpa mempertimbangkan konteks dan suasana yang melingkupi saat pengambilan keputusan tersebut.

Unsur psikologis, unsur sosial-budaya dan bahkan agama maupun identitas etnik, seringkali berpengaruh dalam pengambilan keputusan oleh manusia. Rasa cinta, dengki, iri, takut, marah, adalah contoh dari beberapa faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan manusia. Hal inilah yang membuat sistem pengambilan keputusan oleh manusia tidak bisa hanya didasarkan perhitungan matematis semata, namun sebenarnya adalah sangat kompleks dan masih merupakan misteri untuk difahami.

Boleh saja seseorang memiliki pendapatan yang terbatas dan terpaksa hidup sederhana. Namun ketika dia jatuh cinta dan ingin membahagiakan pasangannya, seringkali seseorang melakukan pengeluaran yang lebih tinggi daripada pengeluaran rata-ratanya.

Seringkali kita jumpai orang terpaksa berhutang agar bisa merayakan pernikahan anaknya dengan pantas. Tentu saja istilah ‘pantas’ di sini sangat subyektif dan sangat bervariasi antar satu daerah dengan daerah lain. Di beberapa daerah terpencil di Pulau Jawa, masih banyak masyarakat yang merayakan perhelatan pernikahan minimum tiga hari tiga malam dengan berbagai pertunjukkan kesenian. Apakah semua masyarakat di daerah tersebut kaya raya? Jawabannya tentu saja tidak, namun tradisi tersebut masih dilakukan masyarakat hingga kini.

Contoh klasik lain adalah apa yang terjadi pada perang Kurst, yang terjadi saat tentara Jerman menginvasi Uni Soviet saat Perang Dunia II, dan Perang Vietnam. Tidak dipungkiri bahwa pada kedua perang tersebut, baik tentara Nazi Jerman dan USA sama-sama menderita kehilangan korban jiwa yang jauh lebih sedikit dibandingkan lawan-lawan mereka. Namun pertanyaannya, mengapa justru kedua negara tersebut yang mundur dari medan peperangan?

Kalau saja rasionalitas ekonomi yang digunakan oleh pihak Nazi Jerman dan Amerika Serikat pada kedua perang tersebut, idealnya mereka tidak akan mundur dari medan perang. Perhitungan matematis menunjukkan lebih banyak tentara Uni Soviet yang gugur daripada tentara Nazi. Hal yang sama juga terjadi pada pihak Amerika Serikat relatif dibandingkan pihak Vietnam Utara.

Keputusan kedua negara tersebut mundur dari perang ternyata bukan disebabkan oleh perhitungan matematis yang kaku semacam itu. Bagi Nazi Jerman dan Amerika Serikat, nilai anak bangsa yang gugur ternyata dinilai secara subyektif sangat tinggi sekali, melebihi penilaian kedua negara lawan mereka. Di samping itu banyak faktor lain di luar unsur teknis perang yang menjadi pertimbangan, antara lain adalah masalah ketersediaan logistik dan juga tekanan politis.

Kembali ke psikologi pasar, jika keputusan di level individu masih merupakan misteri bagi ekonom kelas dunia sekalipun, maka hal yang sama juga terjadi pada psikologi pasar. Psikologi pasar sangat sulit ditebak, terlebih di negara sedang berkembang di mana sistem perekonomiannya syarat dengan ketidaktentuan. Perhitungan matematik dan statistik seringkali tidak mampu menerangkan kompleksitas keputusan di tingkat individu maupun psikologi pasar. Pada titik seperti ini, manusia pada umumnya tidak akan mengikuti rasionalitas Ekonomika yang lebih cocok untuk robot. Manusia cenderung mengambil keputusan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi yang melingkupi saat pengambilan keputusan tersebut.

XXXXX

Anomali Psikologi Pasar (Koran Jakarta, 30/12/2009)

URL: http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=41294

Remark: ‘Hanya professional judgement dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya-lah yang mampu membuat kebijakan untuk mengantisipasi psikologi pasar, itupun tentunya tidak luput dari resiko kesalahan pengambilan keputusan yang wajar terjadi pada manusia’

Kemarin kita diskusikan sulitnya memahami dan memprediksi psikologi pasar. Psikologi pasar dibentuk oleh interaksi dari pengambilan keputusan oleh seluruh individu yang terlibat di dalam pasar. Kenyataan menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan oleh individu ternyata jauh lebih kompleks dari apa yang diasumsikan di Ilmu Ekonomi.

Di dunia nyata, berbagai unsur sosial psikologi, agama dan budaya seringkali berpengaruh dalam proses pengambilan keputusan oleh individu. Di Ilmu Ekonomi, di sisi lain, mengasumsikan bahwa individu yang rasional akan membuat pilihan yang konsisten didasarkan pada perhitungan matematis semata.
Terdapat kesenjangan yang besar antara konsep rasionalitas yang diasumsikan Ilmu Ekonomi dengan konsep rasionalitas yang digunakan manusia dalam mengambil keputusan di dunia nyata.

Kesadaran akan kompleksitas pengambilan keputusan oleh individu sudah disadari oleh para ekonomikawan dan juga para matematikawan sejak lama. Bernaulli (1737) menemukan paradoks dalam pengambilan keputusan manusia, yang kemudian dikenal dengan sebutan St Petersburg Paradox. Lebih dari dua ratus tahun kemudian ditemukan paradoks-paradoks lain dalam pengambilan keputusan, yaitu Allais’ Paradox (1953), Ellsberg’s Paradox (1961) dan preference reversal (Plott, 1979).

Semua paradoks tersebut terkait dengan pengambilan keputusan dalam menghadapi resiko (risks) dan ketidaktentuan (uncertainty). Suatu pilihan dianggap mengandung resiko jika probabilitas munculnya hasil dari pilihan tersebut diketahui. Misalnya adalah probabilitas munculnya angka 6 dalam sebuah lemparan dadu adalah 1/6.

Suatu pilihan dikatakan mengandung ketidaktentuan (uncertainty) jika probabilitas munculnya hasil dari pilihan tersebut tidak diketahui. Misalnya dalam balap mobil formula satu, probabilitas kemenangan seorang pebalap tidak bisa diketahui. Mika Hakinen, misalnya, pernah memimpin lomba Formula 1 dari mulai dari start, namun ternyata mobilnya mengalami kerusakan mesin hanya 100 meter menjelang finish dan akhirnya kalah dari Michael Schumacher.

Anomali

Anomali pengambilan keputusan semakin banyak ditemukan sejalan dengan munculnya cabang baru ilmu Ekonomi, yaitu Experimental Economics atau Ekonomika Eksperimen. Cabang Ekonomika ini menerapkan eksperimen kepada manusia dan mengamati mereka bagaimana cara mengambil keputusan. Subyek di dalam eksperimen dihadapkan pada suatu permainan yang sederhana, dan mereka akan mendapatkan imbalan finansial sesuai dengan keputusan yang diambil dan hasil yang diperoleh dari permainan tersebut.

Meski metoda eksperimen telah dipakai sejak dekade 1950-an, namun perkembangan pesat cabang Ekonomika ini terjadi mulai dekade 1990-an. Berbagai hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang sistematis antara pengambilan keputusan manusia dengan apa yang dimodelkan di Ekonomika. Ekonomika Eksperimen berhasil mengungkap dan menjelaskan peran dari faktor-faktor non ekonomis yang berperan dalam pengambilan keputusan pelaku ekonomi.

Salah satu anomali yang terjadi di pasar modal disebut dengan equity premium puzzle (Mehra dan Prescott ,1985). Dengan menggunakan data di pasar saham selama 100 tahun mereka menemukan bahwa rata-rata keuntungan dari saham dan obligasi berturut-turut adalah 6% dan 0,25% per tahun. Jika investor memiliki rasionalitas seperti di Ekonomika, seharusnya tidak ada seorangpun yang akan membeli obligasi. Kenyataan menunjukkan bahwa investor memegang saham dan obligasi pada saat yang bersamaan.

Jika orang memiliki rasionalitas seperti yang diasumsikan di Ekonomika, maka orang akan cepat menyesuaikan tingkat konsumsinya sejalan dengan peningkatan atau penurunan tingkat pendapatan. Penelitian oleh Shea (1995) menunjukkan bahwa manusia ternyata melakukan reaksi yang berbeda terhadap kabar baik dan kabar buruk terkait dengan pendapatannya.

Jika seseorang mendengar informasi bahwa pendapatannya akan menurun, tingkat konsumsinya tidak berubah hingga beberapa saat setelah pendapatannya benar-benar turun. Ironisnya, ketika seseorang mendengar bahwa pendapatannya akan meingkat, tingkat konsumsi cenderung mulai ditingkatkan setelah mendengar informasi tersebut.

Kembali pada psikologi pasar, apabila pengambilan keputusan di tingkat individu penuh diwarnai anomali, maka demikian pulalah dengan psikologi pasar. Pasar seringkali berperilaku di luar prediksi ekonom. Di Inggris misalnya, sebagian besar praktisi sektor properti dan ekonom telah memprediksikan kelesuan dan bahkan kehancurkan sektor properti di negara itu sejak tahun 2003. Dari tahun ke tahun, psikologi pasar ternyata justru berlawanan dengan prediksi dan analisis itu.

Pasar memang sulit untuk diprediksi, namun kebijakan yang tepat untuk mengantisi psikologi pasar akan mendatangkan manfaat yang besar bagi masyarakat. Keputusan bailout pada Northern Rock, suatu lembaga keuangan berskala kecil di Inggris, adalah contoh yang menarik untuk dikaji.

Pada musim panas 2007, terjadi rush pada Northern Rock akibat subprime mortgage yang terjadi di USA. Ketika tersiar bank tersebut mengalami kesulitan keuangan, berbondong-bondong para nasabahnya antri di depan kantor-kantor bank tersebut diseluruh kota di Inggris.

Saat itu, lembaga keuangan yang gagal di USA tidak di bailout oleh pemerintah USA. Banyak spekulasi di Inggris saat itu bahwa nasib Northern Rock-pun tidak akan berbeda. Setelah mengalami rush beberapa hari, orang pun mulai berfikir untuk menarik dananya dari bank-bank dan lembaga keuangan yang berskala sama dengan Northern Rock.

Tibalah kemudian keputusan dari pemerintah dan Bank of England untuk melakukan bailout kepada Northern Rock. Keputusan ini tentu memerlukan biaya yang besar dan polemikpun tidak terhindarkan. Lepas dari polemik yang ada, keesokan harinya, tidak ada lagi nasabah yang antri di kantor-kantor Northern Rock. Rush yang terjadi pada lembaga keuangan lain dengan skala yang sama-pun langsung hilang saat itu.

Keputusan kontroversial yang ditempuh saat itu, ternyata mampu menstabilkan dan menyelamatkan sektor perbankan dan sektor-sektor terkait seperti halnya sektor properti di Inggris dari kehancuran. Harga properti-pun tetap stabil akibat kebijakan bailout tersebut dan roda perekonomian kembali berputar seperti sedia kala.

Hingga saat ini, tidak ada satu alat analisis statistik dan matematis-pun yang mampu memprediksi dengan akurat psikologi pasar. Hanya professional judgement dari orang-orang yang berkompeten di bidangnya-lah yang mampu membuat kebijakan untuk mengantisipasi psikologi pasar, itupun tentunya tidak luput dari resiko kesalahan pengambilan keputusan yang wajar terjadi pada manusia.

Diskurus ini dimulai dari Status FB-ku yang intinya menolak pendapat sebagaian orang bahwa para pengambil kebijakan 6,7 Trilyun dalam Skandal Century tidak boleh dituntut pidana. Jadilah saling celotehan ringan menanggapi status FB-ku ini…

” Kebijakan Sri Mulyani & Boediono 6,7 T Century terindikasi kuat adanya kejahatan kriminal (hasil audit BPK). Di Indonesia tampaknya kebijakan tidak bisa dipertanggungjawabkan di pengadilan. Jika Hitler dan Nazi dulu orang Indonesia maka betapa beruntungnya mereka karena kebijakan pemusnahan Ras asing-nya tidak bisa dituntut ke pengadilan…” (Status FB 13.12.2009)

XXX

(Sholi Desu)
udah Baca laporan auditnya ya…..

(Ferizal Ramli)
Sudah jeng!

(Sholi Desu)
halaman berapa itu ada kata-kata soal kriminal.
Saya sedang siap2 diaudit lagi, jadi belum bisa baca auditan orang lain.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: untuk pertanyaan-2 informatif lihat aja di google. Atau minta ketemen-2 kita di Kagamamuda yang terlihat di ICW atau MTI untuk kirim dokumennya.

Klo aku sih lebih senang diskusi dengan sampeyan yang lebih serius seperti: benarkah menurut anda kebijakan itu bebas nilai dan tidak boleh dibawa kepengadilan? atau bagaimanakah sebuah iinstitusi seperti KPK bisa bekerjasama dengan institusi korup model polisi atau jaksa.

(Ferizal Ramli)
Sampeyan bilang SMI tidak bisa dituntut karena dia pemegang kebijakan?
Tidak kah sampeyan pernah belajar tentang bagaimana korupsi terjadi? Korupsi paling kronis dan sistemik itu adalah korupsi kebijakan.

(Sholi Desu)
Nanti Kalau sempet, Saya main ke ICW. Udah lama nggak kesana ketemu Eson cs.
Saya tidak bisa bilang Bahwa kebijakan itu bebas nilai. Ada mekanisme yang harus dipenuhi dalam “mengkritisi” sebuah kebijakan. Kalau mekanisme di kantor Saya, ya dengan menyiapkan evaluasi dan kajian, baru merumuskan saran dan pertimbangan, dikirimkan kepada Presiden.
Soal institusi lain, mungkin beda model dalam “mengkritisI”.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Ayu Sholi: nah, aku suka saat sampeyan mengatakan mekanisme di kantor. Sekarang yang perlu sampeyan elaborasi sehingga bisa jadi sharing adalah:

1. Apakah kantor-mu bagian dari institusi pemerintah atau bagian dari infrastruktur organisasi negara?
2. Ataukah itu adalah pemberdayaan masyarakat? Jika itu lembaga pembedayaan masyarakat pertanyaan lanjutnya adalah apakah dia partner kolaborasi atau partner kritisnya?

Setelah positionning-nya kita tahu maka sharing-lah bagaimana mereka organisasi tempat kerjamu bersinergi dengan Depkeu misalkan…

Itu pasti menarik :)

(Sholi Desu)
BTW, Saya tidak pernah bilang Bahwa SMI tidak bisa dituntut Karena kebijakan. Saya minta melihat dari kacamata kebijakan. kebijakan dalam artian di posisi SMI. What is the alternatives if you’re in her position. Saya bukan ekonom. Saya nggak memposisikan tahu kebijakan ekonomi. Saya Ini tukang ketik dan juru stempel semata.
Mohon maaf, Tadi Saya dlm perjaalanan dari Sby menuju Yk.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: alternatif saya jelas. Tidak ada itu sistemik pada bank gurem. Apanya yang membuat sebuah Bank Gurem bisa membuat perekonomian sebuah negara hancur?

Jangan contoh Inggris yang membela Royal Scotland Bank atau Barclays Bank dong. Klo kedua Bank itu assetnya saling terkait dengan asset bank lain. Jika mereka sampe hancur maka akan membuat bank lain terseret. Itulah artinya dampak sistemik. Lah Century? Asset bank mana yang ikut terseret jika Century ditutup?

Saya konsultan berbagi perusahan multinasional, pernah terlibat menjadi konsultan di berbagi lembagi keuangan yang jauh lebih besar klo cuma level BNI, Mandiri atau BCA. Dan aku terlibat di headquarter mereka.

Aku tahu persis apa dampak sistemik itu. Dan Bank Gurem model Century akan berdampak sistemik? he,he,he, itulah sebabnya kita perlu KPK untuk menjawabnya :)

(Sholi Desu)
lihat saja di profile Saya.
bersinergi dengan depkeu sama halnya dengan institusi lain. Pengelolaaan anggaran, kebijakan keuangan, kebijakan2 lain yang berkait dengan perekonomian.
Saya tidak buta Soal kekaguman Saya dengan SMI.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: great sampeyan kerja di KPPU. Mekanisme yang sampeyan paparkan dalam kritik dan sinerji pada pemerintah jelas tepat dengan melakukan evalusi dan merumuskan saran ke Presiden. Itu benar karena KPPU adalah lembaga publik yang punya kekuasaan untuk melakukan itu. Masak KPPU harus melakukan parlemen jalanan misalkan? :) Jadi, yah itulah mekanisme KPPU “mengkoreksi” kebijakan.

Yang “salah” dari Jeng Sholi adalah jika meminta masyarakat umum pembayar pajak melakukan hal yang sama dengan cara yang dilakukan KPPU saat melakukan proses kritik. Tidak bisa masyarakat umum tidak bisa harus dipaksa sama menyampaikan aspirasinya seperti KPPU memberikan saran.

Buku Model of Democrazy, David Held jelas gamblang menjelaskan; pada masyarakat karakteristiknya tidak punya akses kekuasaan maka mekanisme pemberian sarannya adalah dengan melakukan komunikasi publik dengan berbagi media. Dari komunikasi itu akan terbentuk kesadaran bersama yang akhirnya menjadi pressure group bagi pengambil kebijakan agar melakukan koreksi terhadap kesalahan…

(Sholi Desu)
baiklah….kita tunggu KPK Kalau begitu.
kalaupun Nanti SMI divonis bersalah dalam “pengadilan yang fair” karena kebijakan yang diputuskannya , bagi Saya, beliau masih orang yang berintegritas. I do respect her. Highly respect her.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: sampeyan respek pada SMI, aku hargai. Dalam tulisanku sebelumnya aku juga memberikan apresiasi atas kebijakannya untuk tidak intervensi pasar dan tidak buybuck saham demi menyelamatkan Bakrie Group. Itu brilyant.

Hanya aku itu sudah sepakat dengan sebuah pakem penting dalam meritokrasi:

Yang pertama harus diperjuangkan adalah sistem. Keinginan kita untuk membangun sistem hukum yang bersih dari korup itu yang utama.

Prioritas kedua adalah organisasi.

Prioritas yang ketiga adalah tokoh.

Bagiku, jika SMI terlibat dalam skandal Century maka apapun yang telah diperbuat dia harus mundur dan jika itu kriminal maka harus ada pertanggungjawaban hukum.

Karena jika dia tidak mundur maka tatanan sistem ikut suffer karenanya. Masyarakat menjadi tidak percaya lagi pada sistem. Tanpa trust semua bisa chaos. Oleh karena itu, tokoh harus dieliminasi jika karena kebijakannya telah membuat sistem menjadi tidak benar…

Sayangnya di masyarakat kita yang masih amat patronisme, kita mengedepankan tokoh. Terkadang kita biarkan sistem dan organisasi suffer karena demi menjaga kehormatan seorang tokoh.

Saya pikir paradigma sistem dan organisasi mengalah pada tokoh harus kita rubah secepatnya…

(Sholi Desu)
mengenai Pak Boed, Saya hanya sempat tahu Bahwa beliau mendukung penciptaan “good governance” dalam regulatory reform. Waktu itu Sbg tukang ketik, Saya membantu boss mmengetik Soal regulatory reform.

(Sholi Desu)
di bagian mana sih Saya melarang masyarakat menyuarakan pendapatnya dengan mekanisme “jalanan “. Tidak mas, Saya merespon Anda Soal “mengkritisi” kebijakan. Saya coba jawab yang “resmi” . Be my guess Kalau mau turun ke jalan. Pelajaran sistem politik juga cerita Soal pressure group dan komunikasi politik.
Saya menjalankan fungsi Saya sebagai pelayan publik, semampu Saya. diteror, dipisuhi, sudah biasa. Saya anggap yang menteror mencoba menyuarakan pendapat. Saya Tdk take it personally.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: bagian mana sampeyan melarang? Bagian yang sampeyan tidak setuju jika masyarakat menggunakan media mengkomunikasikan secara kritis pendapatnya. Tapi jika sampeyan anggap, bahwa sampeyan tidak pernah melakukan hal itu maka (untuk menghindari polemik) saya cabut statemen saya. Soalnya diskusi dengan sampeyan indah, jadinya semua yang menjurus ke polemik misunderstanding saya cabut :)

Klo tentang Pak Boed, yang saya tahu blio adalah Direktur BI (saya lupa bagian apa) tapi yang paling bertanggungjawab dalam pencairan Kredit BLBI 700 Trilyunt (benar-2 Mega kerugian dalam sejarah bangsa kita) yang sampai hari ini menguap begitu saja. Itulah Boediono yang saya kenal :)

(Sholi Desu)
Saya kurang paham, yang Anda Maksud dengan tokoh itu siapa.
Kalau memang SMI itu bersalah, beliau bersalah. Pastinya, Jangan dibikin Salah.
Yang Anda tulis itu nampaknya tercakup dalam program Penerapan good governance : reformasi birokrasi. Saya melihat semangat ke arah itu sudah ada.

(Sholi Desu)
Saya tidak pernah melarang media kok. Maksud Saya sebenarnya , Saya ingin media berimbang. Itu saja.
Saya harus selalu bekerjasama dengan media. Saya sering mentolerir media, karena mereka teman saya . Pernah Saya di Tlp wartawan, ditanyain Soal satu kasus. Saya jawab singkat by phone. Besoknya keluar berita panjang yang katanya hasil interview dengan Saya di kantor.
Karena kontennya nggak “berbahaya”, Saya biarkan saja.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: saat saya menyatakan tokoh maka itu tidak me-refer SMI. Kritik saya berfokus pada bahwa sebuah KEBIJAKAN dari seorang tokoh jika diduga bersalah maka harus dipertangganggjawabkan, jika mengarah kriminal maka harus ada pidananya.

Karena kasus Century tidak terlepas pada SMI maka SMI by default akan tersebut saat aku bilang tokoh.

Hanya spirit dari pernyataanku adalah aku ndak akan pernah karena kegaguman pada sesorang lalu aku membuat penolakkan dengan sebuah argumentasi yang kubuat menurut kegemaranku sendiri misalkan: kebijakan seorang tokoh tidak boleh dipertanggungjawabkan secara pidana…. See More

Itulah spiritku menulis status FB-ku diatas.

Tapi tampaknya Jeng Sholi juga setuju dengan aku. Jika bersalah maka dia harus mempertanggungjawabkan.

Mungkin bedanya kita adalah pada caranya. Klo aku dari lama sudah bersetuju bahwa hubungan antara penguasa dan masyarakat itu TIDAK simetris. Apalagi pada negara yang sistem hukumnya korup.

Untuk itulah membiarkan sebuah proses yang diduga bersalah tanpa pengawalan ketat masyarakat akan membuat kasus itu menguap. Oleh karena itu, keyakinanku pribadi masyarakat harus ketat mengawalnya sehingga proses ini berjalan transparan. Jadi, sebaiknya tekanan media dan masyarakat atas kasus Century harus dimaknai sebagai ikhtiar bersama untuk mengawal transparansi sehingga kebenaran menjadi benderang…

Senang sekali biksa berdiskusi dengan sampeyan Jeng ayu…

(Sholi Desu)
Saya malah pengin masyarakat mengawal semua kebijakan pemerintah. Mengawal penyelenggaraan pemerintahan.
Hanya saja, provokator yang cuma berisik mencoba mencari celah dan kesempatan untuk dirinya sendiri, Jangan sampai mendapat angin.
Mari kita waspadai.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: selalu ada ekses, selalu ada penumpang gelap. Itu semua selalu ada.

Saya memaknai warning sampeyan tentang Provokator agar kita tetap aware terhadap para opportunis. Tapi itulah seninya hidup: setiap ada tujuan mulia selalu ada tujuan opportunis yang ikut memboncengnya…

Klo aku pribadi, he,he,he…, aku terlalu “kaya” untuk sudi cari makan dari politik apalagi jadi provokator :)

(Sholi Desu)
yaaaaah….benar adanya.
Opportunis kata yang lebih tepat.

*Saya nggak kaya, tapi nggak sudi juga jadi provokator opportunis*

(Danang Pratama)
hm sebenarnya ada apa ini kok cuman dua pejabat publik itu saja yg dikejar-kejar…persoalan-nya kan tdk sesederhana itu…lalu bgmn dgn kasus lumpur lapindo yg sdh jelas2 bikin bencana..sampai skrg oknum penyebabnya msh mringas mringis di berbagai media…kira2 lebih kriminal yg mana ya…,
yg jelas dua2nya kriminal cuma mungkin bobot-nya saja yg berbeda…kalo century tdk merusak lingkungan tapi negara rugi…yg lapindo lingkungan & infrastruktur yg dibangun negara hancur…kalo 6.7 T digunakan utk penanganan lapindo persoalan selesai shg oknum yg harusnya digugat bs bebas dr tanggung jawab….wis lah dab ra sah melu mikir, wis ono sing ngurus…kita berdoa saja smg bangsa ini segera bebas dari budaya korupsi…jauh dari iri dan dengki… yg penting rejeki halal paringan saking Gusti Allah SWT hrs kita syukuri spy berkah utk klg syukur2 bs berbagi dgn yg lain..

(Sholi Desu)
@Danang: Saya punya pertanyaan yg sama.

(Ferizal Ramli)
@Kang Danang: Pertanyaanku siapa yang ndak kejar-2 itu Lumpur Lapindo? Tahunan masyarakat berjuang tentang Lapindo. LHa wong Presiden-mu sendiri kok yang membiarkan sehingga Poilisi MENGHENTIKAN peyelidikikan pidana pada Lapindo.

Bahkan waktu saat Presiden-mu mau bela si Bakrie dalam kasus buyback saham, aku malah bilang itu keputusan yang dungu. Aku pernah sampai 3 tulisan yang menetang pemerintah membela Bakrie.

Jadi masyarakat mana yang diam atas 2 kasus tsb? Lha wong aku yang jauh aja tahu kok masyarakat melawan. Tapi yah itu tadi Presiden-mu itu yang melindungi. Pada kasus Lapindo, masyarakat harus terima kenyataan pahit bahwa masyarakatlah yang kalah dengan kebijakan Presidenmu.

Pada kasus Buyback, masyarakat yang menang dan oatut dicacat SMI berperan dalam kemenangan masyarakat ini. Itulah sebabnya aku memuji SMI pada kasus ini.

Sekarang kita berada pada kasus Century yang kebetulan malah SMI yang terlibat. Sekali lagi, aku pribadi konsernya bukan pada orang. Konsernku adalah value dan sistem. Jika seseoarng keliru siapapun orangnya sehingga berpotensi merusak value dan sistem kita sehingga tidak berpihak pada keadilan hukum, maka kita LAWAN. Masalah perlawan kita berhasil atau tidak itu urusan belakangan. Yang jelas jika ada yang salah yah koreksi.

Sayangnya, presiden-mu seperti biasa selalu membela dipihak “yang ndak benar”. Biasalah dia itu. Nah, seperti biasanya juga masyarakat sekarang “melawan-nya” dengan kekuatan demokrasi.

Kita akan lihat akankah Century berujung pada Lapindo dimana masyarakat menelan kecewa atau malah berujung pada sebaliknya. Orang-2 yang bertanggung jawab secara gamblang mempertanggungjawabkan kesalahannya.

Ke arah sana lah biduk perahu diarahkan…

(Ignatius Sapto Condro AtmawanBisawarna)
Baru indikasi, belum terbukti…

(Yan Arsyah)
Mas ferizal: analisa pelaku kejahatan boleh2 saja
Kalo sistemik berarti ada path kejadiannya
Tidak mungkin ada kebijakan bail out jika tdk ada penyebabnya
Yang perlu dilihat adalah penyebabnya
SMI hanyalah suatu akibat.
Mestinya skrg yg perlu dikejar adalah aliran dana dan bukan SMI
Shg akan jelas peran nama2 yg anda sebut
Tapi skrg yg disebut2 hny SMI
Itu sdh tendensius ke arah politis
Akibatnya banyak org yg ga ngerti mjd bingung dan sok tau
Tapi saya heran, kok tdk ada yg ngotot korupsi di departemen, pemda, lembaga pemerintahan yg laen
Pdhl jumlahnya lbh dr century lho
Coba liat mafia anggaran di senayan

(Ferizal Ramli)
@Kang ISCAB: ketnggalan kereta sampeyan. Belum tahu audit BPK yah?

Kutanya deh kenapa Partai demokrat akhirnya setuju hak angket? Karena hasil audit BPK menyatakan ada yang salah dengan Lapindo :)

@Kang Yan: SMI dan Boediono tersebut dala kasus Century karena dialah ketua dan wakil ketuanya saat penggelontoran. Makanya entry point-nya dari mereka.

Nah, klo mereka tidak terlibat yah mereka declear saja secara detail kemana aja aliran dana 6,7 T sampai pada orang terakhir menerima. Lha wong itu perkara gampang kok :)

Tentang politisi, sekali lagi dalam sebuah negara, orang-2 opportunis selalu ada. Silahkan diwaspadai. Yang tidak tepat adalah jika menggunakan alibi politisasi sehingga siapa yang tanggug jawab dalam skandal Century malah tidak tersebut lagi :)

(Yodhia Antariksa)
Soalnya kemudian adalah ini : apakah laporan BPK juga kredibel?? Apakah orang yang melakukan audit juga punya kompetensi teknis yang memadai tentang banking system?

Mungkin ada dua segi ya : “konten substansi kebijakan” dan “prosedur pengambilan kebijakan”.

Mengenai konten kebijakan, risalah dari lembaga riset danareksa dengan berbasis pada model empirik menunjukkan efek negatif kalau BC tidak diselamatkan (diterbitkan Kompas, saya lupa tanggalnya). Sejauh ini, risalah riset ini yang menurut saya paling komprehensif membahas isu teknis BC dari segi disiplin ilmu ekonomi makro (bukan sekedar retorika).

Kalau segi “proses/prosedur pengambilan kebijakan”….ini yang mungkin ada ruang bagi kekeliruan. And again, disini memang perlu dieksplorsi dengan tuntas.

[....Kebijakan Sri Mulyani & Boediono 6,7 T Century terindikasi kuat adanya kejahatan kriminal (hasil audit BPK)...] Sebuah kalimat yang heroik; namun kok agak overshoot ya.

(Ferizal Ramli)
@Kang Yodhia: Menarik sampeyan berkomentar. Sejak dulu di mahasiswa aku penikmat tulisan sampeyan.

Tentang Status saya? Itu dilandasi untuk capture awarness akan terjadinya penyesatan opini saat ini bahwa Kebijakan itu TIDAK bisa dipidanakan. Lalu saya kasih contoh kebijakan Hitler dan Nazi saja. Bagaiman sebuah kebijakan itu bisa berakhir pada hukuman gantung! Klo menurut sampeyan ekstrim, menurutku tidak. Itu adalah bukti nyata bahwa sebuah kebijakan bisa dipidanakan :)

Tentang apakah BPK kredibel?
BPK lembaga assessment yang kita miliki yang dilindungi UU. Meragukan kredibilitas hasil audit BPK boleh saja, sama dengan kita meragukan kredibilitas Pengadilan yang men-vonis Prita bersalah misalkan. Cuma saya lihat masyarakat punya nurani kok. Nyatanya, saat melihat keputusan tentang Prita yang TIDAK kredibel masyarakat membela Prita.

Kita juga melihat bagaimana masyarakat membela Bibit-Chandra ketika keputusan Polisi TIDAK kredibel. Yang agak saya sayangkan dari sampeyan adalah pernyataan TIDAK kredibel-nya didasarkan pada syak wasangka. Tidak bisa dong sampeyan meragukan orang yang terlibat audit di BPK itu tidak ngerti teknis audit tentang Perbankan system. Sebagai orang yang dulu pernah mengaggumi argumentasi cemerlang anda, maka kompetensi pernyataan sampeyan tentang hal ini memilukan :)

Memangnya menurut sampeyan Industri Perbankan itu industri super spesifik yang langka sehingga orang sulit memahaminya?

Kang Yodhia, Perbankan adalah industri yang tidak istimewa yang dikenal dalam peradaban ekonomi setua umur manusia. Terlalu banyak orang yang tahu apa itu banking system. Dan buat orang-2 terdidik, mempelajari banking system itu “mudah”, semudah mempelajari manufacture system atau retail atau mining system atau cross section industry lainnya.

PSAK juga sudah mengatur hal itu secara detail kok. IFRS (International Financial Report System) juga sudah mengaturnya kok, belum lagi Sarbanes Oxley Act. Artinya apa? artinya asumsi sampeyan Kang Yodhia yang meragukan kemampuan auditor dalam banking system itu asusmsi yang dipaksakan. Banking system itu bukan industri langka yang hanya sedikit orang menguasainya.

Asumsi anda tentang keraguan tersebut bisa saya terima jika anda mengutarakan alasan yang logis, bukan syak wasangka :)

Ferizal Ramli
@Kang Yodhia (lanjutin yah):

Untuk membantah riset danareksa:

Tentang sistemik? Lihat dong kasus perbankan dunia. Mana ada bank gurem yang tidak punya asset saling terkait bisa menyebabkan kehancuran sebuah negara? Kasih saya contoh untuk itu jika sampeyan punya contoh. Saya ragu sampeyan mampu memberi contoh nyata, karena memang TIDAK ada.

Jangan samain dengan Lehman Brother (LB) yang ndak dibantu Pemerintah lalu perekonomian Amrik goncang. LB itu lembaga keuangan terbesar di Amrik. Klo di Indo selevel BCA atau Mandiri. Jika itu BCA atau Mandiri collaps maka logis bisa berdampak sistemik. Lha ini Century? Apalagi kita juga punya preseden bagaimana Bank global (bener ndak sih dulu itu namanya Bangk Global? Lali je karena memang ora berpengaruh blas untuk dingat) bangkrut juga ndak apa-2, bahkan masyarakat malah ndak tahu klo Bank Global itu pernah bangkrut :)

Lha begitu banyak negara kok membiarkan sebuah lembaga keuangan bangkrut kok dalam bisini. Itu normal amat normal sebuah kebangkrutan dalam bisnis.

Salam hangat,

Ferizal

(Yan Arsyah)
Gini lho kang
Follow the money bukan soal mudah
SMI-boed hanyalah pelaku yg hrs menggelontorkan 6,7t
PPATK jg blm clear
Artinya tuduhan kpd smi-boed terlalu dini… See More
Ini kasusnya saja blm clear
PPATK blm mengeluarkan data transaksi
So semua br meraba2
Temuan bpk br sebagian kecìl dr kasus ini
Jd seharusnya jgn mengarah ke 2 org itu saja
Sekali lagi kalo cuma smi-boed yg dikorek, saya yakin pasti kejahatan perbankan akan terulang lg
Karena kita selalu terjebak eforia dan bukan melihat substansi mslh
Kalo memang stlh semua data sdh lengkap dan smi-boed terbukti salah ya kita gantung rame2
Jangan tll cepat menyimpulkan kang
Temuan bpk hanyalah awal dr kasus ini
Skrg kita hrs kawal kpk utk mengungkap kasus ini

Kang ferizal, (enaknya sambil ngopi bareng…)
Aku tuh liat kejahatan2 keuangan di negeriku tercinta ini sudah spt gurita, spt bola api yg tak berujung
Aku jg sdh muak
Tapi yg selalu diributkan yg keliatan di permukaan saja
Kalo panjenengan sempat coba tengok APBD/APBN kita
Menurut panjenengan realistis ga?
Tapi kok ga ada yg komplain
Makelar bebas berkeliaran
Dalangnya tetep main wayang
Pdhl ordenya ga kalah lho ma century
Aku cuma khawatir penyelesaian kasus ini berhenti ditengah jalan
Shg uang negara hilang tapi ga ada yg bertanggung jawab
Tapi ya susah…
Dimana2 penyelesaian kasus perbankan hrs melibatkan polisi dan meja pengadìlan.
Lha kalo disini…
Polisinya hebat2 (nembak kaki kena kepala)
Pengadilan juga sangat jeli (cuma krn buah 2 biji saja bs kena hukuman)
Mestinya kan century bs terungkap gamblang

Gitu lho kang
(Kalo balik ke negriku dan ada kesempatan aku pingin diskusi di kaki sindoro…)

(Ferizal Ramli)
@Kang Yan:
Aku tuh 100% sama dengan sampeyan. Lha kita sejak mahasiswa bareng, demo bareng neng gelanggang sampai dikepruki Brimob atau Batalyon Pamungkas kan karena alasan sama: muak dengan berbagai skandal…

Iya, kejahatan keuangan ini memang memuakkan kok. Juga kasus Century itu memuakkan.Dan aku juga muak kok dengan orang-2 yang belaga pilon bilang bahwa sebuah kebijakan TIDAK bisa dipidanakan :)

Hanya saat ditanya dari mana kita mulai mengatasi masalah? AKu pikir sebagai masyarakat adalah segera menyelesaikan masalah yang ada di depan matanya dan yang telanjang terlihat kejadiannya. Jika itu didiamkan maka akan menjadi distrust terhadap sistem. Itu sebabnya kasus Century harus tuntas.


Tentang aliran Dana: Yah SMI dan Boed bertanggung jawab dong untuk tahu kemana aliran dana itu. Mosok menggelontorkan 6,7 T ndak tahu kemana alirannya? Lagian BI itu punya hak 100% meminta PPATK membukanya. Klo memang merasa ndak bersalah maka mereka yang saat ini dicurigai (SMI dan Boed) langsung aja memerintahkan membukanya atau minta ke Presiden untuk mengeluarkan perintah membukanya. Lha Presiden juga dalam orasi deklamasinya mengatakan itu harus dibuka semuanya.

Jadi, lha apa yang sulit membukanya? kenapa sampai hari ini tetap tidak dibuka? Ini yang akhirnya masyarakat menekan SMI dan Boed. Coba klo dibuka langsung tanpa diulur maka semuanya akan jelas yang salah dan benar. Kecuali jika SMI dan Boed sertai SBY punya kepentingan untuk TIDAK dibuka sampai ujungnya.

Nah, tidakkah Kang Yan terpikir ke arah ini? :)

(Ferizal Ramli)
@Kang Yan (lanjutin yah):

Tentang APBN, secara kajian akademis iya aku tahu kang itu bermasalah. Cuma sampeyan harus ikuti logika berpikir antara masyarakat dong.

Masyarakat karena keterbatasan akses dan kekuasaan hanya bisa bereaksi atas sesuatu yang telah terang benderang. Lantas, bagaimana itu menjadi terang benderang?

Sebuah skandal itu bisa terang benderang diketahui masyarakat jika:
Pertama, orang yang terkait dan punya akses untuk tahu masalah membukanya ke publik! Biasanya ini dibuka oleh pejabat pemerintah yang bersih dan jujur.

Kedua, lembaga pengawas (seperti BPK, KPK, Polisi, Kejaksaan, BPKP dan Inspektorat) menemukan bukti nyata indikasi kecurangan.

Ketiga, politisi di DPR atau DPD dalam tugas pengawasannya menemukan indikasi skandal.

Keempat, by accident skandal itu terkuak.

Selama ketiga hal itu tidak terjadi maka masyarakat tidak akan bereaksi karena terlalu abstrak baginya. Nah, itu sebabnya tugas para pemegang kebijakan, para pengawaslah yang mengkomunikasikan ke publik sesuatu yang salah telah terjadi. Jika tidak ada komunikasi publik maka msyarakat tidak akan pernah tahu dan mengerti.

Disinilah pentingnya kebebasan Media dalam sistem demokrasi :)

Salam hangat Kang Ya…

(Sholi Desu)
Mas Ferizal, Saya nanya lagi sblm Saya brkt ke SBY lagi.
Jadi, yang Anda sampaikan Bahwa Karena BC adlh Bank Gurem, makanya nggak perlu diselamatkan adlh asumsi Anda ya…..
Bagaimana dgn kondisi riil yang melandasi pengambilan keputusan dalam bail out BC.
BTW, Hari Ini seru. Di tipi-tipi lokal, SMI menyerang balik.

(Ferizal Ramli)
@Jeng Sholi: kondisi riil saham jatuh? kondisi riil apa?

Lihat, saham BUMI dan Bakrie Group juga ndak diselamatkan kok saat bursa hancur lebur. Toh apakah dengan begitu Bursa Indonesia jadi babak belur lalu sektor riil Indonesia ikut hancur?

Lihat aja Madoff. Dia malah lembaga keuangan yang jauh lebih besar dari Century. Assetnya membelit sampai seluruh Amrik dan Eropa. Apakah itu diselamatkan? Itu terjadi jelas-2 saat Amrik dalam keadaan krisis. Toh dibiarkan aja tuh bangkrut.

Lantas apa yang menyebabkan Century diselamatkan? Klo saya sudah tulis bahwa Century itu sama sekali ndak sistemik. Yanuar Rizky juga mengatakan hal sama.

Nah, ini debatable. Secara akademis pun bisa tetap debatable apalagi jika itu menyangkut kebijakan negara dimana ada saja politisi opportunis yang bermain di dalamnya.

Untuk itulah, diperlukan lembaga audit BPK untuk melakukan audit investigasi. Hasil audit mengatakan kebijakan 6,7 T terindikasi pidana. Lalu ada 2 pnyelesaian yang terjadi:
(1) secara Hukum dengan KPK
(2) secara Politik melalui Hak Angket
Nah, masyarakat mengawalnya melalui komunikasi publik di berbagai media.

Klo saya sih, dari pada ini buang energi banyak bagi masyarakat apalagi SMI dan Boed adalah tokoh kunci pemerintahan negara kita, maka sudahlah SBY itu kasih kepres atau apalah namanya: buka secara terang benderang kemana itu dana mengalir 6,7 T.

Gampang kok, kenapa kok jadi begitu susah yah? :)

(Sholi Desu)
waaah……sampeyan harusnya jadi saksi ahli di rapat Pansus.
Diusulke Apa piye ?.

*siap-siap naik bis*

(Yan Arsyah)
Gini lho kang…
Aku cuma pingin kita teriakin PPATK utk membuka data transaksi century
Spy tdk ada syak wasangka dlm kasus ini
Salah kebijakan itu mungkin
Tapi perampoknya mana?
Aku cuma tdk setuju atas blow up smi-boed
(Tenang wae kang… Aku konsisten non partisan kok)
Yg jelas komen2 dr lawan politik sby sdh ga logis
Panjenengan mgkn bisa mengkritisi sepedas-pedasnya tanpa perlu ikutan blow up smi-boed
Yg jelas kita ini kan para intelektual muda jadi ga perlu ikut2an oportunis2 itu
Kita kawal kasus ini secara intelek (bukan berarti ga galak lho)
Skrg kita kawal kerja tim 9
Jgn sampai cuma krn tendensi politìs sj
Naga2nya begitu kang
Takutnya lagi sudah heboh gini tp substansi mslh ga di selesaikan
Liat kasus kpk kang
Substansinya ga kelar to
Tapi kok ga ada yg teriak2 lagi
Aku takut kasus ini cuma jd KASUS POLITIS
Hanya fatamorgana keadilan
Spt kasus yang lain
Suatu hal yg sangat menyakitkan kang
Justru hal begini membutuhkan orang cerdas spt panjenengan
Coba liat orang yg ngotot hak angket, menurutku cuma jualan kecap aja
Kental aroma politiknya dan bukan aroma keadilan atas rakyat kang
Naif banget!

Kang ferizal, skrg dirimu jg hrs ngawal pansus hak angket
Takut aja plesetan2 politik keluar dr pansus

Ngeliat proses pembentukan pansus aja aku dah pesimis sejak awal
(Hmmh… Mau kubikinin kopi toraja kang?)

Kata seorang kawan senior ‘cikal bakal carut marut negeri ini karena sudah kehilangan ruh nasionalisme

Setelah kurenungkan tnyt benar
Kerja jg sdh ga pd ikhlas

Finally…
Lets see bro…
(Minum kopi lagi kang?)

(Ferizal Ramli)
@Kang Yan: he,he,he…mestine kita diskusi di Tambi opo neng Kledung yah kang, di kaki gunung Sindoro seperti dulu. Sambil kopi jahe. Wauhhh maknyus tenan :)

Sebenarnya Kang, aku ora punya masalah pada person. Aku fokus pada konten. Lha yang tertera dalam audit kan tersebuta SMI dan Boed thoh? Yah, klo kita lalu melebar ke PPATK misalkan maka menjadi ndak fokus.

Audit mengatakan yang “bermasalah” adalah kebijakan 6,7 T dimana SMI dan Boed paling bertanggungjawab. Nah, klo aku diposisi mereka dan aku merasa tidak bersalah maka yang kulakukan dengan wewenangku (atau minta bantuan Presiden) membuka semuanya secara terbuka. Membuka aliran keuangan sedetail mungkin dan secepatnya kulakukan…. See More


Klo untuk tema korupsi APBN dan anggaran lainnya aku dulu juga pernah nulis itu. Menurut hematku, jika pemerintah benar-2 ingin bersih maka metode anggaran yang biasanya menerapkan “item lines” dan “incremental cost” harus diubah menjadi “Zero Based Anggaran”. Nah, metode Zero Based Anggaran akan menghilangkan pos-2 anggaran yang selama ini menjadi pos utama terjadinya kebocoran.

Tapikan memperjuangkan ini buat rakyatkan rumit. Apa pula itu istilah Zero based Budgeting, dsb, dsb.di mata masyarakat? Nah, oleh karena itu, ini adalah tugas para idialis yang berada di pemerintahan untuk memperjuangkannya.


Rakyat itu cuma bisa reaksi terhadap sebuah kejadian yang telah ter-publish. Sebagai rakyat, saya menggunakan logika yang sama: bereaksi atas kejadian yang terpublish.

Sebagai orang yang kebetulan belajar banyak terntang Sistem Akuntansi dan SIM serta good corporate governance, aku sepakat banyak pos APBN yang bisa dikorup, belum lagi yang non budgeter. Yang bisa kita lakukan dalam hal ini adalah sharing pengetahuan.

Hanya saat sharing berlangsung tetap saja kasus yang telanjang di depan mata harus diselesaikan biar tidak terjadi distrust. Artinya, kita ndak bisa beralibi mari lupakan kasus Century karena masih ada kasus besar lainnya di APBN.

Saya ndak bisa terima logika seperti itu.


Tentang politisi di DPR dan para opportunis lainnya, marilah kita amati semua itu secara kritis. Anggota Pansus sangat mungkin bermain politis dan wacana publik. SMI dan Boed juga bermain politik dan wacana publik. Lihat aja si Wilmar Witular sekarang menjadi PR yang mengarahkan ini seakan-2 konflik pribadi :)

Semua bermain. Hanya, aku pribadi berprinsip: apapun tarian yang dimainkan aku akan bersikap:

1. Kebijakan seorang pejabat publik itu harus dipertanggungjawabkan dan jika ada indikasi korup maka dia bisa dipidanakan.

2. Masyarakat harus mengawalnya proses pertanggungjawab tersebut melalui pressure group di berbagai media agar mendapatkan keterbukaan informasi yang transparan.

3. Hanya masyarakat tidak bisa menjadi wasit yang mengatur misalkan: media harus seimbang, atau anggota DPR tidak boleh opportunis atau pejabat publik tidak boleh membelokkan isu. Semua itu diluar kuasa masyarakat. Yang bisa dilakukan masyarakat adalah berbagi pengetahuan melalui media yang ada dan melakukan pressure dalam bentuk parlemen jalanan…

(Yodhia Antariksa)
Zal, ada tulisan Tony Prasetyantono hari ini di Kompas (14 Desember 2009).

Initinya : kebijakan penyelematan BC adalah langkah yang tepat. Argumennya ada di tulisan itu. Mungkin bisa dibrowse juga.
Linknya:

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/14/03082155/untung-rugi.selamatkan.century

Ada juga tulisan panjang di Infobank; yang membahas BC dari sisi perbankan. Link :

http://www.infobanknews.com/index.php?mib=news.detail&id=15840

(Ferizal Ramli)
@Kang Yodhia: saya ingat Tonny beberapa tahun lalu pernah nulis Jalan Pedang Privatisasi. Semua harus diprivatisasi —begitu kata si Tonny. Lha belum sampai 1 tahun dari dia nulis opininya di Kompas, Amrik dan UK jebol yang pro privatisasi. Apa jadinya jika kita dulu ikuti omongan Tonny tentang privatisasi?

Lalu saat tahu bahwa negara berperan untuk menyelamatkan pasar, sekarang malah Tonny bicara tentang ekonomi pro rakyat dan nasionalis :)

Sekarang si Tonny ngarang lagi tentang itung-2 angka ongkos Century. Dari mana dia berkhayal bahwa dana penyertaan pemerintah untuk menyelamatan Century pasti akan kembali 100%?

Preseden BLBI itu fakta nyata yang menunjukkan bahwa dana penyertaan pemerintah untuk menyelamatkan bank hanya sekitar 20% bisa kembali. Artinya, dengan menggunakan preseden BLBI maka ongkos penyelamatan Century itu mencapai sebesar 5,5 T -an.

Lalu dia ngarang klo dibiarkan Century bangkrut akan akan ada jaminan dana 6 T? Itu data masih perlu diverifikasi itu. Itu data ngarang itu. Sama ngarangnya Tonny saat nulis tentang “Jalan Pedang Privatisasi” sehingga seluruh BUMN Indonesia dijual saja.

Selain itungan ngawur diatas mestinya ada 2 hal yang menjadi pertimbangannya nyata bahwa Bank Century ndak layak diselamatkan:

Pertama, ndak ada itu sistemik pada Bank Gurem. Mana ada Bank Gurem bisa menghancurkan sebuah perekonomian?

Kedua, kejahatan Perbankan itu ndak akan diselamatkan. Madoff adalah contoh nyatanya…

(Ferizal Ramli)
@Kang Yodhia:

Satu lagi yang harus diingat dari NGAWUR-nya analisa Tonny.

Jika dalam neraca tertera Asset Century itu 14 T, memangnya saat bangkrut itu asset bernilai 0? Sehingga untuk jamin dana nasabah (yang kata Tonny 6 T itu, entah benar atau khayal Tonny ngomong) itu dari dana pemerintah semua? dana LPS semua? Lha jaminan Asset Century untuk apa?

Kecuali jika BI benar-2 dihapusi habis-2 oleh Robert Tantular sehingga asset yang tertulis Rp 14 T itu sebenarnya cuma Rp 0. Klo ini yang terjadi, he,he,he mungki Boediono dan seluruh orang BI digantung di Tugu Monas aja :p
Mahasiswa yang belajar auditing 3 juga TAHU apa bedanya asset Rp. 14 T dengan asset Rp 0 :) )

(Early Rahmawati)
catatan yang rapi…:) menurut saya, bisa saja kebijakan dipertanyakan dan jika ada indikasi perdana/pidana ya bisa saja dibawa ke pengadilan.

(Candra Sosiawan)
kata pak amien, kalo kebijakan tidak bisa diadili, mengapa kita merebut kemerdekaan dari Belanda, toh yang dialkukan kerajaan belanda kebijakan juga (kebijakan kolonial….kalo sekarang kebijakan neoliberal)…he3 pintar juga mr.aamien

(Iwan Sams)
: Ferizal, luar biasa. Argumentasimu kuat, analisismu dalam. Saya berada dalam posisi wait and see dalam kasus ini karena tidak mengerti sama sekali soal ekonomi. Tapi hati nurani saya meronta. Buat saya Rp 6,7 Triliun itu harus dipertanggungjawabkan. Kemana aliran uang itu? Kenapa hal yang begitu gampang untuk dijawab kok jadi dipersulit?

(Bambang Priyantoro)
indonesia, anggodonesia, roberttantularnesia, memang negeri ini benar-bener surganya para elit, termasuk elit kebijakan… tak tersentuh hukum, Lapindo, pengrusakan alam, pembalakan liar, korupsi, kolusi, nepotisme, raja kecil tumbuh subur dimana-mana…karena penguasa dan pengusaha tak kan pernah salah…. yang salah cukuplah mbah minah yg mengambil 3 biji kakao…

(Yodhia Antariksa)
Lalu bagaimana komentar sampeyan dengan tulisan yang di INFOBANK itu, kang.

http://www.infobanknews.com/index.php?mib=news.detail&id=15840

Tulisan yang di Infobank ini kayaknya menarik ya….sebab ada beragam pandangan yang muncul disitu. Sebagian merupakan pandangan dari praktisi perbankan.

Kalo sampeyan ada waktu, mungkin tulisan di Infobank itu bisa dibaca ya. Mungkin bisa memberikan perspektif lain.

(Ferizal Ramli)
@Kang Yodhia:

Sebenarnya, saya ndak terlalu beminat mengomentari InfoBank. Yang dikutipkan pendapatnya Gatot Suwondo (BNI), Darmin Nasution (BI), Muliaman D. Hadad (BI), Sri Mulyani (Menkeu), Firdaus Djaelani (LPS), Agus Martowardojo (Bank Mandiri).

Mana praktisi perbankannya riil-nya? Itu sih semua orang pemerintah:) Mandiri dan BNI memang orang Bank, tapi sulit mempoisikan mereka sebagai anak buah-nya Sri Mulyani dan BI, atau praktisi yang bicara sesuai dengan kompetensinya?

Klo sampeyan baca pendapat mereka secara jeli maka itu mirip aja kok dengan Tonny Prasetianto (BNI) yang pro pemerintah dengan logika-2 diulang-2 saja.

Bahkan pendapat Drajat Wibowo yang mencoba melihat kritis langsung aja di-minimal-kan sekali dalam artikel itu. Pendapat Drajat Wibowo dikutip tidak utuh sehingga orang tidak bisa mengkap value positif dari Drajat Wibowo.

Bagiku pribadi, tulisan InfoBank itu sih lebih mirip pers rilis dari pada artikel tentang analisa perbankan :) Logika yang mucul juga logika-2 yang sudah begitu mudah dibantah:

Pertama, Mereka bilang dana LPS itu ndak terkait dengan dana negara, benarkah bahwa LPS tidak terkait dengan dana negara? Bah, klaim apa pula ini :)

Kedua, mereka bilang adanya dampak psikis karena sedang krisis sehingga Century haris diselamatkan.

Lha Madoff (lembaga keuangan 5 besar) di Amrik saat krisis juga dibiarkan hancur saat ada perampokan dari pemilik, bukankah begitu? Semua institusi bisnis jika itu menyangkut adanya kejahatan maka tidak akan dibiarkan hidup :)

Ketiga, Mereka berpendapat Bank Century itu bank menengah yang bisa berdampak sistemik. Lha Century dan Global kan sama besarnya? Knapa yang Century masuk katagori menengah sementara global katagori Gurem sehingga Century perlu diselamatkan sementara Global harus mati?

Keempat, Mereka berpendapat jika Bank Century tutup akan memicu sentimen pasar negatif. Ini ndak ada ukurannya atas statemen itu. Ini cuma klaim aja :)

Toh saat yang hampir bersamaan: saat Bursa saham jatuh habis-2an drastis, lalu saham Bakrie hancur lebur dibuatnya. Bisa sampeyan bayangkan jika sebuah Holding yang terbesar di Indonesia hancur maka tidakkah berdampak pada perekonomian?

Nyatanya, pemerintah membiarkan kok mekanisme pasar berjalan. Akhirnya malah normal kembali. Pemerintah tidak intervensi apakah Bakrie akan hancur atau tidak dalam krisis saat itu. Lha kenapa saat Century, pemerintah intervensi atas alasan sentimen pasar?

Piye, kang Yodhia perspektif baru apa yang ditampilkan dalam artikel InfoBank tsb? :)

(Iwan Sams)
Ucapan Sri Mulyani tentang bencana sistemik yang terjadi apabila Bank Century tidak ditalangi adalah ucapan yang menghina kecerdasan orang Indonesia.

Oleh: ferizalramli | Desember 7, 2009

Demi Tuhan memberantas korupsi itu gampang sekali!

(Tulisan lawas yang saya tulis sekitar pertengahan tahun 2007-an. Tulisan itu saya tulis karena melihat begitu banyaknya orang yang frustasi menghadapi penyakit kronis korupsi. Jadi, saya tulislah pemberantasan korupsi dalam bahasa warung kopi, he, he, he… )

Demi Tuhan menyelesaikan korupsi itu gampang sekali!

“Hoffnung stirbt zuletzt” —Terjemahan ngawurnya kira-kira: “Harapan (hope) harus yang paling terakhir mati”. Harapan baru kita ijinkan boleh mati setelah nyawa kita telah meninggalkan badan!, —itu prinsip bangsa Jerman.

Banyak yang mengatakan bahwa memberantas korupsi di negara kita itu sulit. Butuh berganti beberapa generasi dulu baru berhasil. Sayangnya saya tidak percaya statement itu. Memberantas korupsi itu mudah, bahkan teramat mudah. Jadi sampeyan semua ndak perlu putus harapan :)

Saya kasih ilustrasi gampang…
Andai saja saya jadi Presiden Negara Kesatuan Republik Ngawur (NKRN) di negeri antah berantah. Dimana korupsi membudaya mirip, persis, identik dengan praktek korupsi di Indonesia. Saya jamin dalam tempo 2 tahun saja korupsi sudah bisa diberantas dengan mudah, ndak perlu tunggu masa jabatan habis bahkan ndak perlu 2 periode segala seperti maunya SBY =))

Ini Program kerjanya:
Hari 1: Pagi dilantik, sore angkat Menteri UU dan suruh langsung merumuskan UU hukuman mati buat koruptor dan langsung diajukan ke DPR.

Hari 2: Beli 1 peti mati khusus untuk saya jika selama 2 tahun memerintah terlibat korupsi.

Hari 3: Bersama Jakgung yang baru dilantik, ke Gedung Bundar, kasih woro-woro. Saudara-2 Jaksa semua terima kasih untuk dedikasi anda. Mulai hari ini bagi anda (seluruh jaksa di NKRN) yang telah berumur 35 tahun tanpa terkecuali saya pensiunkan dan saya beri pesangon layak untuk masa depan anda.

(Paling banter kalau korps kejaksaan mogok dan memboikot kebijakan saya maka kasus-2 hukum di meja pengadilan terhenti 1-3 bulan. Ndak masalah. Ndak akan ganggu perut rakyat NKRN. Meskipun seluruh pegawai kejaksaan mogok, emangnya guwe pikirin, toh perekonomian tetap jalan. Gitu aja kok repot!)

Hari 4: “Jika tidak ingin mendapat buah busuk di keranjang maka petik buah langsung dari pohonnya”. Umumkan penerimaan Jaksa baru yang masih muda, fresh dan belum tercemari tangan kotor mafia peradilan untuk bergabung menjadi Jaksa-2 muda ala “Judge Bao”.

Hari 5: Akhir pekan, bercinta dengan istri di rumah. Edan apa gara-2 ngurusin korupsi jadi lupa kasih nafkah bathin istri cantik saya di rumah =))

Satu bulan setelah dilantik, seluruh proses rekruitmen Jaksa baru se-NKRN selesai. UU Hukuman Mati buat Koruptor juga telah disetujui.

Cara yang sama mulai dilakukan juga pada seluruh hakim dengan “memaksa” ketua MA melakukan hal serupa. Jadi, ndak cuma Jaksa, Hakimnya juga harus ala “Judge Bao”.

-1 H dari 3 bulan setelah dilantik, sudah ada tanah kosong ber-hektar-2 tersedia dipinggiran kota Jakarta dan kota-2 besar lainnya.

Persis 3 bulan setelah dilantik setelah semua persiapan dimatangkan maka di depan para Jaksa dan Hakim ala Judge Bao saya woro-woro: “Saudara-saudara Jaksa dan Hakim muda idialis, demi wanita yang telah melahirkan anda ke dunia maka saya minta tolong agar tanah-tanah kosong itu dalam tempo 2 tahun kurang 3 bulan harus sudah dipenuhi oleh bangkai para koruptor.

Persis 2 tahun setelah saya dilantik, saat tanah-2 kosong itu sudah dipenuhi oleh bangkai para koruptor maka saya memutuskan untuk mengundurkan diri. Biar wakil saya yang melanjutkan pemerintahan dengan koruptor yang telah jauh berkurang secara drastis.

Jadi, gampang sekalikan membebaskan suatu bangsa dari penyakit korupsi, bahkan teramat gampang kan?! :) )

Moral pointnya: Jangan percaya seandainya ada Pemimpin, atau pejabat atau para politisi yang berkata bahwa korupsi itu sulit diberantas. Bohong besar itu. Klo mereka sampai bilang bahwa korupsi sulit diberantas maka dapat dipastikan darah mereka aja yang telah mengalir infeksi darah Zombi korupsi. Akibatnya, mereka ndak sanggup memberantas korupsi dengan cepat.

Jadi, jika ada yang kelihatan toleran dengan korupsi maka lawan aja. Siapapun yang toleran dan ragu-2 memberantas korupsi maka dapat dipastikan dia telah terinfeksi koruptor Zombi. Jangan mau dipimpin oleh Zombi korup. Jika Zombi yang memimpin kita maka suatu ketika kita akan tertular menjadi Zombi berikutnya. Saatnya kita menyelamat darah kita dari pemimpin Zombi. Kecuali jika memang anda semua ingin menjadi Zombi? =))

Salam,
Dari tepian lembah Sungai Elbe…

Ferizal Ramli

salam,

Oleh: ferizalramli | Desember 6, 2009

Jadi Presiden Indonesia!

Seorang ayah dengan rambut mulai memutih, yang telah belajar perihnya kehidupan, memanggil keempat anak lelakinya yang mulai menginjak remaja. Satu persatu ditanyai kelebihan para putra-2 tercintanya.

Jawab anak Pertama: Kelebihanku Ayah, aku tahu kapan saatnya aku disantet!
Jawab anak Kedua: Kelebihanku Ayah, aku tahu kapan saatnya aku dijadikan sasaran Teroris!
Jawab anak Ketiga: Kelebihanku Ayah, aku tahu kapan saatnya aku akan didemo masyarakat!

Lalu Putranya yang keempat yang masih kecil baru lepas Balita dengan tercadel-2 ndak mau kalah dengan kakak-2nya lantang menjawab: Kelebihanku Ayah, aku jago berdeklamasi, jago curhat bahkan bisa mengeluarkan air mata buaya!

Dengan senyum bangga sang ayahpun menjawab: “Bagus! Kalo gitu besok kalian semua pantas menjadi Presiden Republik Indonesia!”

Sebenarnya sebagai Presiden terpilih dengan suara mayoritas SBY punya kesempatan besar untuk menegakkan kejujuran dan kebenaran dalam memberantas korupsi kronis di negera ini. Adalah KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) saat ini sebagai institusi terdepan dalam pemberantasan korupsi. Selama ini prestasi KPK adalah nyata dalam pemberantasan korupsi. Apabila SBY terus mendukung eksistensi dari KPK maka kemajuan pemberantasan korupsi akan memberikan dampak yang baik bagi bangsa Indonesia. Negeri yang berkubang korupsi ini akan mucul menjadi wajah yang lebih jernih dan bersih.

Hanya sayangnya, alih-2 SBY mendukung eksistensi KPK yang terjadi justru sikapnya sampai saat ini malah anomali. SBY membiarkan Polri dan juga Kejaksaan Agung mengkebiri KPK. Pimpinan KPK ditahan Polri untuk sebuah alasan yang tidak pernah bisa dijelaskan bahkan oleh Polri sendiri. Ini jelas bentuk kesewenang-wenangan Polri. Ini bentuk hukum rimba dari penguasa. Hanya saja, atas kesewenang-wenangan kekusaan ini, SBY bukannya segera bertindak untuk mencegahnya malah mendiamkan, menutup mata dan telinga.

Penangkapan para pimpinan KPK yang nota bene garda terdepan pemberantasan korupsi ini justru memberikan indikasi nyata matinya nurani di negara kita. Penangkapan KPK ini juga seperti „ancaman“ langsung kepada BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) yang saat ini sedang mengaudit adanya kemungkinan penyalahgunaan dana 7 Trilyun Bank Century. Pesannya jelas, jika BPK berani macam-macam maka akan ditangkap seperti KPK. Jika BPK berani mengeluarkan hasil audit yang „tidak menguntungkan“ penguasa maka akan di-KPK-kan! Sangat mungkin kejadian KPK ini dijadikan intimidasi psikologis pada siapapun yang berani melawan korupsi. Ini jelas merupakan kematian hati nurani dan kejujuran pada bangsa ini.

Dalam kondisi ini maka dimungkinkan ada dua skenario yang bisa berjalan yang menarik dicermati untuk dianalisa:

Skenario pertama, Polri berhasil dengan teknik kesewenang-wenangannya. Pimpinan KPK tetap di Penjara. Pihak lain seperti BPK menjadi tertekan dan terancam melihat dipenjaranya para pimpinan KPK. Ini menjadi intimidasi nyata bahwa mereka (BPK atau lainnya) pun bisa di-KPK-kan (di penjara) oleh Polri untuk sebuah alasan yang tidak ada alasannya. Akibatnya, semua komponen bangsa takut melawan korupsi dan akhirnya korupsi berjalan normal tanpa hambatan sama sekali. Benarkah ini yang diinginkan SBY?

Skenario kedua, masyarakat melawan tindakan kesewenangan ini. Biasanya para mahasiswalah yang berada pada garda terdepan. Sangat dimungkinkan kejadian penguasaan Gedung DPR oleh mahasiswa terulang lagi. Apabila BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) seluruh Indonesia bersatu dan berkumpul di Trunojoyo dan mengepung MABES Polri memprotes kesewenang-wenangan maka akan terjadi nurani idialisme Mahasiswa yang membela KPK akan berhadapan dengan kesewenang-2an Polri. Ini bisa menjadi bola liar buat Polri dan pemerintah SBY jika tidak cepat diselesaikan secara bijak.

Sangat dimungkinkan akan berkembang pada terjadinya pembangkangan sipil terhadap institusi Polri sebagai bentuk solidaritas memperjuangkan nurani. Akibatnya, masyarakat tidak tunduk lagi pada Polri. Mereka tidak ikuti aturan Polri lagi. Mereka tidak menghormati Polri sebagai institusi hukum. Akibatnya bisa fatal. Bisa terjadi kekacauan hukum di Indonesia. Skenario kemungkinan terjadinya pembangkangan sipil jangan dianggap sepele. Dalam banyak kasus di banyak negara, kekuasaan yang didemostrasikan secara sewenang-wenang bisa membuat masyarakat menjadi tergerak untuk melawannya secara bersama-sama. Ini juga bisa mengancam kelangsungan pemerintahan SBY dan berarti kerugian bagi seluruh bangsa Indonesia. Apakah seperti inikah yang diinginkan SBY?

Berangkat dari kekhawatiran itulah maka sebaiknya SBY segera bersikap. SBY harus berpihak pada nurani dan kebenaran. SBY adalah presiden pilihan sebagian besar masyarakat Indonesia. Terpilihnya SBY jelas sebagai wujud cintanya masyarakat pada SBY. Jika SBY menunjukkan pada masyarakat bahwa SBY berpihak pada nurani maka masyarakat yang telah memilih SBY beberapa waktu lalu akan lega dan bahagia. Mereka tidak salah memilih…

Tapi jika SBY tetap diam dan membiarkan kesewenangan ini terjadi maka orang tua kita sering memberi nasehat: ”Gusti Allah itu boten sare…”

Dari tepian lembah Sungai Isar

Tulisan Sebelumnya »

Kategori