Sri Mulyani Indrawati ini mungkin kesempatan kedua buat anda…

17 Okt

World-Bank-imageSaya pribadi tahu anda adalah ekonom bermahzab NEOLIB. Cara anda menerbitkan SUN dengan suku bunga tinggi yang mencekik leher bangsa ini dan menguntungkan pemilik modal kapitalis global adalah salah satu bukti yang tak terbantahkan anda percaya dengan cara-cara NEOLIB menggenjot pertumbuhan: berhutang demi pertumbuhan ekonomi tinggi. Tentu saja mudah buat kita semua untuk menambah daftar bukti lagi bahwa anda memang Ekonom bermahzab Neolib.

Saya pribadi juga yakin anda AGEN WB. Cara WB menyelamatkan karir dan martabat anda saat terkena kasus Century adalah bukti nyata anda adalah AGEN WB yang diselundupkan ke Indonesia. Adalah naif jika anda diangkat Direktur di WB karena kepandaian anda semata. Kalau cuma untuk mencari 1 Ekonom yang pandai selevel anda di dunia ini banyak. Kasarnya, saya bisa dengan mudah sebut nama Ekonom yang punya prestasi selevel anda di Eropa ini saja; dalam 1 jam maka 1 Truck penuh akan terkumpul Ekonom yang kualifikasinya selevel anda. Tapi kenapa WB tidak memilih mereka malah begitu cepatnya memutuskan memilih anda?

Jadi, ceto welo-welo kok, kalau anda dipilih jadi Managing Director WB padahal saat itu justru reputasi anda hancur karena kasus Century maka itu mudah kita pahami bahwa anda adalah KEKAYAAN WB sehingga mereka harus selamatkan.

Hanya jangan khawatir atas fakta itu: Nobody prefect! Anda juga punya kelebihan nyata yang dibutuhkan bangsa ini yaitu:

1. Anda adalah pemimpin birokrasi yang yang efektif. Cara anda membangun Depkeu secara profesional adalah catatan baik kemampuan manajerial anda memimpin birokrasi.

2. Anda berani melawan Mafia Pajak. Keberanian anda dalam melawan Mafia Pajak amat menganggumkan seperti Srikandi yang berani membabat habis para Kurawa.

3. Anda bersih dari korupsi. Memang anda AGEN yang mungkin isi kepala anda tentang mahzab Ekonomi bersesuaian dengan Para Godfather WB. Jadi, kebijakan-kebijakan Ekonomi anda sangat mungkin pro dengan metode WB. Hanya anda lakukan itu bukan karena niat ingin mengambil keuntungan ekonomi pribadi apalagi untuk korupsi. Tidak, tidak demikian, anda bersih dari korup. Hanya kebijakan ekonomi anda sesuai dengan harapan WB karena isi kepala anda setuju dengan metode WB. Anda memang AGEN WB tapi anda bukan seorang koruptor. Anda bersih dari kasus korup, itu nilai penting buat Indonesia.

Harapan saya pribadi buat anda jika anda terpilih jadi Menteri adalah: (1) Tetap berani lawan Mafia yang ada di Indonesia baik itu Mafia Pajak, Mafia Migas dan Mafia-Mafia lain serta (2) bereskan sistem penganggaran pada seluruh Departemen di Indonesia sehingga tidak ada lagi anggaran yang bocor.

Tidak apa-apa jika anda tetap merasa yakin dengan metode IMF yang cenderung Neolib harus diterapkan di Indonesia maka tetap lah dengan keyakinan anda dan jalankan jika anda mampu…

Saat yang sama harapan saya buat Jokowi-JK, jika anda pilih SMI karena SMI diharapkan berani melawan para Mafia di Indonesia, untuk membenahi birokrasi Departemen yang berhubungan dengan ekonomi atau untuk merapihkan sistem pajak maka boleh-boleh saja, itu memang kompetensi SMI.
Tapi mohon diingat, SMI itu majikannya WB bukan panjengan Pak Jokowi-JK. Jadi, harus dibuat sistem penyeimbang agar SMI tidak bebas menjalankan agenda WB di Indonesia. Pilih juga menteri lainnya di bidang ekonomi yang kredibel yang pro nasionalis dan pro ekonomi pemerataan untuk mengimbangi gerak SMI.

Memang mustahil mendapatkan orang yang sempurna tanpa cacat. Tapi amat niscaya bisa terwujud untuk membentuk tim kabinet dengan sinerji yang nyaris sempurna. Harapan bangsa ini Pak Jokowi-JK bisa membentuk kabinet yang mampu bersinerji menjalankan seluruh janji-janji kampanye anda. Jadi, sekali lagi semoga Jokowi-JK bisa memilih Menteri-Menterinya secara tepat sehingga bisa bersinerji nyaris sempurna.

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Bea Siswa Study di Jerman untuk semua!

16 Okt

hs_bremen_vp_540x235Dari celotehan di twitt saya yang saya copas disini https://twitter.com/ferizalramli :

1. Semua yg skolah di Jerman itu dpt bea siswa! Bedanya ada yg trima 50%, 100%, 200% ato malah 300% bea siswanya. Tapi yg pasti semua dapat!

2. Dapat bea siswa 50% berarti dia kuliah gratis di Jerman dg biaya hidup sendiri. Tapi yg pasti dia TIDAK bayar tution fee ratusan juta.

3. Dpt bea siswa 100%: stelah lulus daftar ZAV, lalu dicarikn kerja di tanah air, bayarkan tiket pulang n disubsidi 600 euro/bln slm 2 thn.

4. Dpt bea siswa 200% brarti, saat studi di Jerman anda dpt bea siswa mislkn DAAD, lulusnya pun dpt Subsidi ZAV 600 eur/bln slama 2 tahun.

5. Bea siswa 300% berarti dpt bea siswa DAAD, subsidi ZAV, slain itu saat kuliah praktikum di perush Jerman digaji antara 400-900 eur/bln

6. Bea Siswa 300%++ brarti dpt bea siswa DAAD, digaji saat prktikum, stelah lulus kerja di Jerman yg mnrt aturan gaji min circa 40k euro/thn

7. Jadi kenapa ragu untuk kuliah di Jerman? Dimana tradisi universitasnya cuma punya 2 standar kualitas: amat bagus dan bagus sekali! :)

Dari tepian lembah Sungai Elbe

Keterangan Gambar: FH Bremen

TNI itu harus menjadi raksasa berwibawa! Perang itu sesuatu yang nyata bisa terjadi di Indonesia!

12 Okt

su_30mk2_tni_au_v1_by_siregar3d-d4a7mkx

Saat sekitar bulan Februari kemarin saya diundang di KBRI Berlin, saya bertemu dengan seorang Professor Emiritus dari Universität Frankfurt spesialis studi Indonesia. Dia (Si Prof. Emiritus tadi) menceritakan kekhawatirannya seperti ini:
“Saya ke daerah Banjarnegara, salah satu tokoh masyarakat sana bilang bahwa Banyumas perlu buat Propinsi baru, karena selama ini Banyumas dijajah oleh orang-orang dari Mataraman”, begitu cerita si Prof. Emiritus mengabarkan pengalamannya saat blusukan ke daerah Banyumas.

Saya tidak berkomen banyak untuk hal itu. Andaikata saja cerita itu valid, saya masih berusaha memutar otak untuk memaknai sebenarnya apa mindset dibalik kalimat: “Banyumas dijajah Mataram!”

Beberapa waktu lalu, demi kepentingan riset saya, saya ke Universität Bundeswehr (University of the German Federal Armed Forces) di Hamburg. Seperti biasa, terkadang saya ngobrol dengan Perwira-Perwira militer dari banyak negara yang mereka juga terkadang menyelesaikan Doktoral atau cuma riset biasa. Akhirnya, terlibatlah saya dalam perbincangan dengan salah seorang perwira dari Rusia. Tampaknya dia amat perhatian tentang Indonesia.

Kalimatnya yang membuat dahi kepala saya berkerut adalah: “Jika anda (Indonesia) perang lawan Malaysia (tanpa bantuan Inggris dan Commonwealth sekalipun), anda pasti kalah!”

Negara anda itu tidak stabil secara ikatan kebangsaan serta terlalu bergantung dari Jakarta. Begitu Jakarta diserang maka daerah akan kocar-kacir tanpa konsolidasi. Jika perang berlangsung 1 tahun saja, itu wilayah di negara anda akan merdeka sendiri-sendiri. Jadi, negara anda TIDAK boleh perang karena jika perang pasti akan kalah! Kalah bukan lawan negara lain, kalah karena daerahnya akan merdeka sendiri-sendiri.

Saya seketika tersadar dengan perkataan si Professor Emiritus beberapa yang bulan lalu. Jika saja sesama Jawa Tengah saja ada ikatan primordial yang amat kuat antar keresidenan, bagaimana dengan antar pulau di negara kita?

Dari sini saya mulai tanpa sadar berhitung tentang Angkatan Perang kita, tentang TNI kita! Saat ini kebutuhan minimal kekuatan TNI kita meskipun sudah dibenahi tapi belum amat signifikan menjadi “Herder” yang menakutkan bangsa lain.

Harusnya TNI menjadi “Herder” yang menakutkan bangsa lain. Kekuatan TNI harus terekam dalam keyakinan bangsa lain bahwa TNI mampu memukul habis musuh dalam 1 atau 2 kali penyerbuan. Sebuah bangsa menjadi musuh Indonesia akan bisa porak poranda saat TNI melakukan penyerbuan hanya dalam 1 kali pukulan mematikan. Jika negara lain merasa yakin mampu bertarung lawan TNI dalam waktu lama, maka bangsa lain akan yakin kemenangan ada di tangannya. Dikarenakan saat Jakarta terisolasi maka daerah-daerah lain di Indonesia akan tercecer-cecer seperti “anak ayam kehilangan induk”.

Tapi selama kekuatan TNI tidak meraksasa dan berwibawa maka perang yang melibatkan Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Negara lain berani bermain-main dengan batas negara, apalagi yang kaya kandungan alam. Saat kita mau gertak, mereka sama sekali tidak takut.

Lalu pilihannya bagi kita cuma 2: Perang atau Mengalah. Mengalah jelas akan hancurkan harga diri dan kedaulatan kita. Perang jika ternyata benar analis diatas, bahwa jika dalam jangka lama perangnya malah menyebabkan separatisme, maka perang justru membuat kedaulatan kita makin terkoyak.

Terlepas banyak faktor yang melatarbelakanginya dalam banyak kasus untuk menghindari perang ternyata kita pun mengalah pada Sipandan-Ligitan atau Timor Leste, atau juga mengalah atas eksploitasi tambang di Papua. Dikarenakan jika kita bertarung maka kita akan mendapatkan kekalahan yang menyakitkan.

Jadi, harus disadari bersama: TNI kuat, besar dan wibawa adalah mutlak jika kita ingin terus maju membangun secara stabil tanpa diganggu bangsa lain. Perang memang tidak terjadi di jaman modern tapi kalau kita lemah maka orang yang mengacam kita untuk ngajak perang itu banyak. Mengalah sama artinya ada kepentingan nasional kita yang dikorbankan. Jadi, kenapa musti ragu membuat TNI besar, kuat dan berwibawa?

Ini bukan semata-mata urusan militer. Ini sesungguhnya urusan kelangsungan pembangunan dan eksistensi bangsa :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Saya Optimis Indonesia menjadi bangsa besar!

9 Okt

11Saat McKenzie, PriceWaterhouseCooper dan World Bank beberapa tahun lalu memuji-muji Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi no: 7 bahkan ada juga yang bilang no: 6 terbesar di dunia, waktu itu saya cuma nyengir saja. Saya sedang mikir apa maksud dari lembaga-2 neolib ini memuja-muja Indonesia. Adakah “udang dibalik rempekyeknya” :D atas pujian itu. Apalagi saya lihat di bawah SBY di periode keduanya, merupakan 5 tahun negara dalam kondisi Autopilot! Jadi, di kepala saya pujian itu lebih saya maknai sebagai “bunga-bunga kehidupan” di tengah penatnya berita politik yang tidak karuan…

Mata hati saya mulai optimis saat Jokowi Widodo menggandeng Jusuf Kalla untuk maju dalam pemilu Presiden. Wah ini ideal buat bangsa kita. Apalagi saat tokoh muda idialis seperti Anies Baswedan turut serta berpartisipasi mendukung Jokowi-JK beserta puluhan juta relawan lainnya. Baru pertama kali dalam hidup saya, saya begitu aktif terlibat dalam pemilu. Suka cita saya menemukan puncaknya saat Jokowi-JK resmi terpilih jadi Presiden. Kita benar-benar punya pemimpin eksekutif yang terbaik!

Lalu tidak lama kemudian Pimpinan DPR dan MPR dikuasai Koalisi Merah Putih (KMP). Banyak rakyat Indonesia begitu khawatir dengan fakta ini, tetapi saya berpikir agak sebaliknya. Tentu saja awalnya saya pun khawatir. Hanya setelah saya renungkan kembali dengan tenang, saya justru berterima kasih KMP memenangkan kepemimpinan di Parlemen.

PERTAMA, Proses cross check antara Eksekutif dengan Parlemen justru menjadi relatif berimbang. Pada akhirnya rakyat akan disuguhi pertontonan dimana kekuatan politik yang saling berseberangan terpaksa menunjukan yang terbaik buat rakyat. Jika tidak, justru mereka akan mendapat perlawanan dari rakyat.

KEDUA, jika yang terjadi Jokowi dengan PDIP yang kuat di Parlemen, sangat mungkin justru itu belum tentu menguntungkan Jokowi. Di PDIP itu ada Putri Kencana yang masih remaja manja yang sulit dikendalikan Jokowi. Jika PDIP kuat maka sang Putri Kencana akan lebih banyak ngerecoki Jokowi untuk kepentingan pribadinya. Jokowi lebih sulit menghadapi “kenakalan” si Putri Kencana karena tidak enak hati. Jokowi malah lebih mudah bertarung dengan KMP di Parlemen.

Ingat lah contoh kecil saja pada Ibu Risma Walikota Surabaya. Yang justru ngerecoki Ibu Risma malah PDIP, sementara partai Lain malah mendukung program-program Ibu Risma yang pro rakyat. Jadi, PDIP kuat di Parlemen dan Putri Kencana jadi Ketua DPR misalkan maka belum tentu menguntungkan Jokowi, bisa jadi malah Jokowi dipaksa ikuti maunya PDIP yang aneh-aneh. Sulit bagi Jokowi untuk bersikap jika ketua DPR sang Putri Kencana yang terkenal manja ini.

KETIGA, KMP sendiri demi mendapatkan simpatik rakyat justru sekarang ingin membatalkan banyak UU yang pro asing. KMP ingin mencabut UU Perbankan, UU tentang Migas dan lain-lain yang pro asing. Padahal rakyat tahu persis bahwa UU itu disahkan oleh kelompok orang yang sama dulu, baik yang digolkan di masa Poros Tengah berkuasa di Parlemen atau saat mereka bergabung dalam koalisi besar SBY.

Padahal dulu orang-orang yang sama inilah yang justru membuat UU kita begitu liberal. Sekarang saat mereka bergabung di KMP justru mereka “dipaksa” sadar atas kesalahannya sehingga malah ingin mencabut dan mengkoreksi UU liberal tersebut yang nota bene dulu mereka juga yang mengesahkan.

Tentu saja sebagai politisi sejati mereka tidak akan mengakui kesalahan masa lalunya. Politisi itu pantang ngaku salah. Tetapi karena ingin menunjukkan yang terbaik bagi rakyat maka saat mereka bergabung dalam KMP, mereka mengkoreksi kesalahannya. Tidak mengapa mereka tidak mengaku salah yang penting mereka bersedia mengkoreksi. Ini jelas bagus buat rakyat Indonesia. Jadilah KMP di Parlemen pun ingin berbuat yang terbaik buat bangsa ini.

Jadi sebenarnya ini semua hikmahnya adalah justru membuat kita optimis dengan masa depan bangsa kita. Tentu saja ada kekhawatiran bahwa Jokowi-JK akan direcoki KMP terus. Kekhawatiran ini beralasan. Hanya jangan remehkan jejak rekam Jusuf Kalla yang selalu berhasil menyelesaikan konflik sebesar apapun. Mendamaikan konflik Poso, Ambon, Kalimantan, Aceh saja selesai di tangan JK.

Lihatlah, begitu juga periode pemerintahan SBY-JK yang awalnya cuma didukung PD yang lebih kecil dari PDIP saat ini. Toh dengan keluwesan JK, parlemen periode SBY-JK amat baik bekerja sama dengan pemerintah. Justru saat PD besar dan SBY tinggalkan JK, malah Parlemen membuat pemerintahan SBY-Boed lemah.

Ini semua menjadi bukti jejak rekam JK amat baik membangun komunikasi dengan Parlemen. Saat bersamaan jejak rekam Jokowi sangat baik berkomunikasi dengan rakyat. Sebuah paduan pemimpin eksekutif yang nyaris sempurna. Akan lebih sempurna lagi jika Anies Baswedan sebagai tokoh muda yang kaya dengan konsep idialisnya terlibat dalam merumuskan kebijakan pemerintah yang pro rakyat.

Dari sini saya akhirnya menjadi yakin bahwa ramalan para instititusi neolib seperti dari McKenzie, PriceWaterhouseCooper dan World Bank tidak cuma mampu kita wujudkan bahkan mungkin kita bisa lampauinya! Artinya kita tidak cuma tumbuh menjadi kekuatan ekonomi 6 atau 7 besar dunia tetapi kita pun menjadi negara yang bisa membangun kesejahteraan secara merata!

Baru kali ini saya begitu amat optimis dengan bangsaku :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Prabowo Subijanto sosok tokoh yang selalu kalah

9 Okt

28d3424b13608365e679a06a4619c401_prabowo-berkudaAda sebuah ironis antara klaim yang dilakukan oleh Prabowo yang selalu mempresentasikan dirinya sebagai Grandeur, tokoh besar dan hebat, a great man, dengan realitas track record-nya dalam berkompetisi.

Saya membayangkan betapa Prabowo akan terlihat seperti anak bawang jika dia harus berhadapan dengan tokoh model Barack Obama, Angela Merkel, David Cameron, Xi Jinping, Vladimir Putin atau Shinzo Abe. Jangankan lawan mereka, ketemu PM Malaysia atau PM Singapura tampaknya Prabowo akan kalah kelas saat harus adu strategi.

Anda tidak setuju dengan statement saya? Kalau tidak setuju silahkan utarakan sudut pandang anda. Tapi ijinkan saya ajak anda mengikuti jejak rekam Prabowo di masa lalu.

Nyaris hampir semua kesuksesan Prabowo dikarenakan dukungan dari mertuanya Soeharto yang menjadi penguasa tunggal selama ORBA 32 tahun. Tapi saat Soeharto dalam kejatuhannya, Prabowo gagal untuk bisa berdiri tegak diatas kakinya sendiri. Dia terlempar bahkan dipecat dari karir militernya. Yang amat memilukan dan menjadi aib para lelaki adalah, hanya untuk mempertahankan istrinya saja dia gagal. Dia pun harus terseok-seok melarikan diri keluar negeri selama bertahun-tahun di pengasingan.

Sepulang dari luar negeri dengan kekayaan yang dulu dia miliki sebagai mantan mantu Soeharto, Prabowo berpolitik melalui Gerindra. Lagi-lagi Prabowo tertipu oleh “langkah kuda” SBY dalam kasus Century. Saat voting tentang kasus Century tepatnya “Perpanjangan Tim Pengawas Proses Hukum Century” di Parlemen, Prabowo bela SBY dengan harapan dikasih kursi Menteri Pertanian. Nyatanya Prabowo dikadali SBY. Disini terlihat begitu mudahnya Prabowo menari dalam gendang yang ditabuh SBY.

Di Pilpres 2014 kemarin, kembali Prabowo menelan kekalahan. Belasan tahun mengkampanyekan diri untuk jadi Presiden, ternyata kalah dengan Jokowi yang hanya butuh waktu beberapa bulan saja dalam mengkampanyekan diri jadi presiden. Disini terlihat ketidakmatangan Prabowo membaca peta politik.

Lalu dibuatlah KMP (Koalisi Merah Putih) untuk menghadapi Jokowi. KMP memang cukup kuat mengalahkan KIH (Koalisi Indonesia Hebat) pendukung Jokowi di Parlemen. Hanya KMP itu bukan lah Prabowo. Keliru jika anda anggap KMP itu Prabowo. KMP itu ada Golkar dengan Akbar Tandjung-nya, ada PAN dengan Amien Rais-nya, ada PKS dengan platform militannya yang kepentingan mereka secara idiologi, visi, strategi amat berbeda sekali dengan Prabowo. Yang menyatukan KMP itu cuma kepentingan taktis semata: kursi kekuasaan!

Nah dalam permainan internal di KMP ini kembali kepemimpinan Prabowo kedodoran. Sebagai partai pemenang nomor 3 dalam pemilu, Gerindra nyaris cuma dapat hadiah hiburan yaitu wakil ketua DPR. Ini jelas kalah jauh dengan pencapaian PKS yang saat ini nota bene PKS ditekan sana-sini karena kasus sapi-nya, toh tetap berhasil meraih kursi kekuasaan lebih baik dari pada Gerindra.

Jangan tanya dengan PAN. Amien Rais bahkan membuat besannya menjadi ketua MPR. Selain itu juga mendapat kursi wakil ketua DPR. Golkar dengan arsitek Akbar Tandjung berhasil meraih kursi yang amat strategis yaitu ketua DPR plus wakil ketua MPR. Permainan di KMP itu sepenuhnya didikte oleh Akbar Tandjung dan Amien Rais. Prabowo itu cuma jadi anak bawang dihadapan mereka berdua.

Prabowo pun harus merelakan orang yang pernah kurang ajar padanya yaitu Omar Sapta Odang untuk dia dukung jadi wakil MPR, sementara Gerindra justru ndak dapat kursi disana. Klo Prabowo dan Gerindra menghibur diri dengan mengatakan ini bagian dari pengorbanan Gerindra untuk konsolidasi dan solidaritas KMP, maka Prabowo dan Gerindra betul-betul tidak paham politik.

Lihatlah Prabowo, kepentingan pribadi Amien Rais aja dia golkan kok dengan menjadikan besannya ketua MPR.
Lihatlah Prabowo, PKS aja ndak mau ngalah kok ke PPP demi berbagi kursi MPR padahal PKS sudah dapat kursi DPR. Akibatnya, PPP pergi.
Jadi pahami Prabowo, ini adalah masalah kekuasaan yang ndak mungkin diberikan ke orang lain meskipun atas nama koalisi KMP :)

Ndak ada ceritanya dalam politik itu pakai “Filsafat Lilin” yaitu membiarkan diri meleleh habis terbakar demi menerangi orang lain.

Untunglah Prabowo tidak jadi Presiden Indonesia. Apa jadinya kalau jadi Presiden kita, sementara itu orang track record-nya kalahan melulu. Baru dengan sesama politisi dalam negeri saja sudah kedodor-dodoran terus. Bagaimana mau hadapi orang-orang hebat seperti Barack Obama, Angela Merkel, Vladimir Putin, David Cameron, Shinzo Abe atau Xi Jinping? Bisa di-plokotho habis-habisan si Prabowo itu. Kita pikir dia Macan Asia, ternyata tidak berdaya :D

Apalagi mereka-mereka (para pemimpin negara-negara hebat itu) tidak cuma terkenal cerdik dan cerdas tapi juga naluri membunuh mereka amat sempurna sekaligus negara mereka adalah negara-negara yang punya catatan sejarah sebagai pemenang. Bisa habis kita diplokhoto karena lemahnya Prabowo dalam berstrategi :)

Ternyata klaim Granduer itu amat bertolak belakang dengan catatan keberhasilannya berkompetisi dengan rivalnya :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

KMP Menang, Gerindra tetap lah Pecundang Sejati

8 Okt

PAN_dan_GolkarSayang sekali Gerindra tidak menyadari bahwa dia adalah pecundang dalam 2 pertarungan besar yaitu dalam pertarungan di Eksekutif dimana jagonya Prabowo Subijanto kalah oleh Jokowi, serta dalam pertarungan di Parlemen pun Gerindra hanya mendapatkan hasil minimalis yaitu cuma wakil ketua DPR yang diduduki Fadli Zon.

Seperti biasa Golkar yang diarsiteki oleh Begawan politik piawai Akbar Tandjung berhasil meraih kursi yang amat strategis yaitu ketua DPR plus bonus wakil ketua MPR. Golkar benar-benar meraih keuntungan maksimal disini.

Selain Golkar yang juga minikmati kue kemenangan di parlemen adalah PAN. PAN sebagai partai papan tengah berhasil mencetak angka sempurna yaitu meraih ketua MPR serta wakil ketua DPR. Peran Resi trengginas Amien Rais yang mendikte partai politik lain demi keuntungan politik PAN benar-benar terbukti maknyus :)

Yang paling nelangsa itu Gerindra. Partai pemenang nomor 3 dalam pemilu ini hanya mendapatkan hadiah hiburan yang bahkan jauh lebih kecil dari capaian PKS teman koalisinya di KMP.

Lebih parah lagi dalam keadaan menjadi pecundang pun Partai Gerindra justru begitu jumawa. Tokohnya Hashim Djojohadikusumo sang adik Prabowo ini berkali-kali mengeluarkan ancaman untuk mem-veto pemerintahan, atau ancaman untuk menjegal kebijakan Jokowi serta akan membalas dendam sakit hatinya pada Jokowi. Ancaman ini akan dimaknai rakyat sebagai perilaku politisi bengis penuh dendam. Ini adalah blunder si pecundang yang membuat rakyat malah meletakkan Gerindra sebagai musuh bersama yang berbahaya yang harus dilawan bersama.

Sayang sekali Gerindra gagal paham bahwa di Koalisi Merah Putih dia dikerjai oleh dua jago tua yang amat piawai dalam politik. Begitu cantiknya duo permainan Akbar Tandjung dan Amien Rais ini sehingga Prabowo Subijanto pun serta Gerindra tidak sadar telah dikadali :D

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

PDIP kurang orang Pandai dalam bermain politik

8 Okt

PDIPKekalahan KIH sebenarnya sebuah kewajaran belaka. KMP disana ada Resi Tua tokoh Politik seperti Akbar Tandjung dan Amien Rais yang piawai dalam berstrategi menjadi begitu mudah mempecundangi KIH. Ini menunjukkan PDIP memang MISKIN dan MINUS tokoh-tokoh politik yang ahli strategi di Parlemen.

PDIP perlu menarik para politisi yang bisa main cantik dan luwes di politik untuk dijadikan anggota Parlemennnya. PDIP itu harus bisa menjadi jago lobby dan negosiasi dalam sidang dengan tidak harus terlihat mempertontonkan “politik dagang sapi”. Negosiasi dalam politik memang sejatinya bagi-bagi kursi, hanya keluwesan dalam lobby bisa membuat hal itu tidak cuma urusan bagi-bagi kursi tapi bisa mengarah pada komitmen membangun visi!

Saya ingat saat kuliah dulu pernah menjadi Ketua Umum Kongres III -Lanjutan (yang sempat deadlock berkali2) Senat Mahasiswa UGM; bagaimana lobby, argumentasi dan strategi menjadi titik krusial penting “menguasai” sidang kongres. Terkadang ekstrimnya, disengaja debat di kongres berlangsung puluhan jam tanpa istirahat marathon sampai lelah dan letih sekali, akhirnya banyak yang menyerah tidak kuat lagi berdebat. Nah disaat lelah dan letih memuncak itulah voting dilakukan dalam kondisi emosi lawan tidak menentu. Jika anda mudah menyerah secara mental maka kalahlah anda dan tim anda

Saya pun pernah ingat ketika Tim Senat Mahasiswa UGM (kebetulan saya salah satu pimpinan SM-nya) berdiskusi dalam sidang dengan Fraksi ABRI (saat ini F ABRI sudah almarhum), Fraksi Golkar, Fraksi PDIP dan Fraksi PPP. Terutama diskusi dengan F ABRI dan F Golkar yang saat ORBA ditempatkan sebagai musuh masyarakat, bersidang dengan mereka benar-benar melelahkan dan menguras emosi serta membutuhkan keuwesan beragumentasi.

Sidang HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) malah lebih frontal dan brutal lagi dimasa itu. Pengalaman saat saya pernah menjadi Ketua Umum sidang HMI Badko Jawa Tengah-DIY, terasa betul kepentingan politik antar kelompok harus bisa diakomodasikan jika kita ingin meloloskan target kita. Jika gagal mengakomodasikan berbagai kepentingan maka kita akan menjadi musuh bersama semua kelompok dalam sidang. Ini akan membuat kita menjadi sasaran tembak sendirian!

Dari sana saya belajar bahwa menang dalam pemilu itu satu soal, tapi menang dalam sidang-sidang di kongres adalah hal lain yang terkadang tidak terkait satu sama lain; Untuk menang di Pemilu anda harus populer di mata pemilih. Untuk menang dalam sidang-sidang penting di Kongres anda TIDAK butuh populer. Yang dibutuhkan anda harus cerdas berstrategi dan argumentasi, serta luwes dalam lobby!

PDIP harus menyadari bahwa strategi memenangkan pemilu itu karakternya amat berbeda dengan strategi memenangkan sidang di Parlemen!

Di KMP ada tokoh jago tua yang teruji piawai dalam strategi sidang yaitu: Akbar Tandjung dan Amien Rais. Di KIH sayang sekali tidak ada. Seharusnya Anies Baswedan yang menghadapi jago tua itu. Sayang ini belum waktunya buat Anies Baswedan diberi kesempatan in action!

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe (Bukan Politisi dan sama sekali tidak pernah terlibat dalam Partai Politik)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 201 pengikut lainnya.