Antara Luxembourg dan Singapore

23 Jul

47380_1554754559620_7177581_nSaya sudah melihat beberapa kota Asia dan Kota-kota Eropa. Kesan saya (tentu saja saya bisa salah), saya lihat orang Asia itu seneng PAMER dengan bangunan phisik. Tulisan dibawa ini saya potret dalam sudut pandang subyektif saya tentang kesan kota maju di Eropa dan Asia:

Antara Luxembourg dan Singapore

Saat pertama kali akan menginjakan kaki di Negara Kota Luxembourg maka terbayang di mata bak Kota Negara makmur negeri Jiran Singapura. Singapore Central Business District, salah satu pusat keuangan dan bisnis terbesar di Asia.

Jika Singapura di Asia maka Luxembourg adalah padanannya di Eropa. Luxembourg adalah kota sejuta Investment Banking, Fund Manager dan Banker. Dalam bayangan di Luxembourg akan bertempuk Pencakar Langit melebihi Pusat Keuangan Frankfut.

Tapi begitu terkejutnya sang isteri tercinta saat melihat Luxembourg, berguman tanpa sadar: “Lho kok cilik men seperti kota Klaten?!” Bayangan sang istri langsung membandingkan kota Luxembourg dengan kota masa kecilnya Klaten tercinta. “Lha iki mah lewih cilik dari kuto Yogya yah nduk?”, kataku menimpali sambil terheran-2 mirip uwong udik.

Luxembourg memang terlalu “sederhana” jika dibandingkan dengan kemewahan Singapura. Tidak ada gedung pencakar langit. Bangunan paling tinggi yang terlihat hanya 4 lantai saja. Tidak ada hiruk pikuk berlebihan dari para bisnisman. Tidak ada tumpukan mal-2 pertokoan. Tidak ada juga hiruk pikuk kendaraan bermotor. Tentu saja anda dengan mudah akan menemui Mercedez, BMW, Porsche, Ferrari, Aston Martin atau Jaguar disini. Hanya sama sekali tidak terlihat hiruk pikuk di jalan.

Yang ada adalah bangunan goethik tua, lembah, ngarai, jurang dalam kota dan hutan yang lebat di tengah kota. Orang-2 begitu santainya menikmati kehidupan tanpa stress dalam kesibukan…

Tapi ingat, pendapatan per kapita Singapura kurang setengah dari Luxemborg. Singapura hanya 35.000 USD sementara Luxemburg itu 77.000 USD. Dalam sudut kesejahteraan rakyatnya, Singapura terlalu jauh untuk mampu mengimbangi Luxembourg…

(Tulisan Lawas di musim gugur 2010)
Dari Tepian Lembah Sungai Isar

ICE-3 versus TGV Réseau: unsur ergonomics yang “terlupakan”!

23 Jul

ICE adalah kereta tercepat kebanggaan Jerman, sementara TGV kereta tercepat kebanggaan Perancis yang beroperasi di benua Eropa.

Ini adalah pengalaman pribadi saya beberapa tahun yang lalu yang begitu sering berlangganan naik salah satunya ICE atau TGV setiap perjalanan dinas pagi-pagi dari München ke Stuttgart atau Karlsruhe. Dari sini saya bisa bandingkan kenyamannya dari keduanya…

Awalnya saya mengira kecepatan maksimal operasional (bukan eksperimental) TGV Réseau (kalau tidak salah tipe TGV yang biasa saya naikin dari München-Stuttgart atau sebaliknya) itu lebih cepat dari ICE-3. Dikarenakan bentuk TGV Réseau itu “sangar” terkesan lebih aerodinamics dan juga kabin dalamnya terlihat amat kompak dan mungil. Tiada sisi tersisa sia-sia karena badan kereta dibuat se-kompak mungkin untuk membuat TGV Réseau terkesan aerodinamics. Apalagi fakta lapangannya jika saya naik KA dengan TGV Réseau itu biasanya waktu tempuhnya dari München ke Stuttgart lebih pendek 5 menit dari pada ICE-3. Ya memang cuma 5 menit tapi secara psikis membuat kesimpulan sendiri di hati TGV Réseau lebih cepat dari ICE-3.

Hanya saat saya lihat di Wikipedia ternyata kecepatan maksimum TGV Réseau itu lebih lambat dari pada ICE-3. TGV Réseau kecepatan maksimalnya 320 km/jam sementara ICE-3 330 km/jam. Saya tidak tahu apa pertimbangannya kenapa kok waktu tempuh riil ICE-3 dari München ke Stuttgart atau sebaliknya, 5 menit lebih lama dari TGV Réseau. Mungkin pertimbangan ekonomis (bahan bakar atau apapun) yang menjadi alasannya.

Tapi bukan itu sebenarnya yang menarik pikiran saya. Awalnya dengan bentuk yang terkesan aerodinamics, saya pikir TGV Réseau itu lebih cepat dari ICE-3. Kenyataannya justru ICE-3 yang bisa memacu lebih cepat dari TGV Réseau. Di titik teknis TGV Réseau dibawah ICE-3. Hanya yang paling frontal membuat saya cuma mau naik TGV kalau hanya terpaksa sekali adalah karena kenyamanan TGV Réseau secara ergonomics jauh bahkan amat jauh dibawah ICE-3! Kabin TGV Réseau sempit sedang kabin ICE-3 itu begitu lebar, luas dan nyaman sekali.

Satu baris ICE-3 maupun TGV Réseau kelas 2 itu sama-sama ada 4 tempat duduk. Untuk TGV Réseau jika anda naik kelas 2 maka serasa sempit sekali tempat duduknya antara kursi kita dengan kursi samping sebelahnya. Gang tempat jalan lalu lalang di TGV Réseau pun amat sempit. Saya pasti amat stress jika habis ketemu klien sepanjang hari begitu lelah, lalu tidur di KA TGV Réseau kelas 2: terlalu sempit tempat duduknya. Jadi, harus pilih kelas 1 TGV Réseau biar nyaman.

Akan tetapi, jika naik ICE-3 kabinnya begitu nyaman dan luas. Anda bisa tidur begitu nyenyak di kelas 2. Anda nyaris tidak butuh kelas 1 untuk nyaman ICE-3. Tentu saja jika ingin kenyaman luxuary maka di kelas 1 ICE-3 tersedia tempat duduk luas berbalut kulit atau meubel mewah membuat anda nyaman tenggelam dalam mimpi setelah begitu lelah ketemu klien. Tetapi di kelas 2 pun sudah amat nyaman.

Hanya satu hal yang membuat saya memberi point BURUK pada insinyur2 Perancis yang mendesai TGV Réseau:
“Mengapa mereka gagal mempertimbangkan kenyamanan penumpang secara ergonomics saat mendesain KA TGV Réseau ini?”
“Kenapa ICE dengan kecepatan teknis maksimal yang lebih baik tinggi, justru kabinnya amat comfortable, begitu ergonomics?!”

Kenyamanan penumpang adalah masalah fundamental sekali tapi kenapa para insinyur Perancis tidak memperhitungkannya?
Atau ada diantara anda yang juga punya pengalaman pengguna TGV dan ICE bisa memberikan sudut pandang yang berbeda dengan saya?

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Ferizal Ramli

Keterangan Gambar:
1. Gambar 2 KA yaitu ICE-3 yang bergaris Merah dan TGV Réseau yang bergaris Biru
2. Kabin Kelas 2 TGV Réseau dengan 4 tempat duduk warna merah dan merah tua
3. Kabin Kelas 1 TGV Réseau dengan 3 tempat duduk warna kuning gelap dan abu-abu
4. Kabin Kelas 2 ICE-3 dengan 4 tempat duduk warna biru
5. Kabin Kelas 1 ICE-3 dengan 3 tempat duduk warna merah

fra_parisgno_tgvr_ice3_L
TGV_Lacroix_2e_cl_m
0
die-innenansicht-des-ice-1-109169
Bild-013

Gelombang Mudik itu juga terjadi di Jerman

23 Jul

image

Saya, beberapa tahun lalu tentu saja di musim dingin, saat bertepatan dengan perayaan malam natal di akhir pekan harus naik KA ICE —KA tercepat di Jerman secara teoritis bisa mencapai kecepatan 330 km/jam***— dari Düsseldorf ke München sejauh 630 km selama perjalanan 8 jam HARUS berdiri atau duduk di samping WC berdesakan!

Di Jerman pun KA yang biasanya tepat waktu, saat mudik KA bisa terlambat berjam-jam. Pernah mengalami peristiwa pahit: tiba di Köln terlambat 30 menit, di Frankfurt terlambat 1,5 jam, di Wurzburg terlambat 2 jam, di Nürnberg terlambat 2,5 jam dan saat tiba di München terlambat 3 jam! Dari waktu tempuh wajar 5 jam menjadi 8 jam!!!

Ini lah romantika Mudik tidak di negeri sendiri atau di negeri orang: berdesak-desakan dan sering terlambat sampai tujuan…

Selamat mudik buat anda semua. Jaga keselamatan dan kesehatan. Semoga bisa bersilahturahmi dengan keluarga di Kampung Halaman…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe,
yang kangen dengan romantika mudik lebaran di tanah air…

***jangan kaget meskipun ICE secara teknis bisa berlari 330 km tetapi secara ekonomis kecepatan rata-ratanya yang dipacu jauh dibawah itu, mengingat harus memperlambat kecepatannya setiap mau masuk stasiun, di track yang curam pun tidak akan melajut cepat, dll.

UGM

23 Jul

gedungpusatugm1Disana ada Joko Widodo sang Mastro Utama, ada Anies Baswedan yang menjadi Ahli Strateginya, ada Ganjar Pranowo yang menjadi Adipati Jateng penentu kemenangannya, ada Muhaimin Iskandar sebagai Tumenggungnya, ada Hasto Kristianto senopatinya bahkan ada Sri Sultan Hamengkubowono X Raja yang memberi restunya!

Disisi lawannya ada Tokoh Persilatan tua Amien Rais sebagai penasehat utamanya, ada Mahfud MD yang menjadi senopati utamanya…

…dan mereka pun “bertempur” satu sama lain untuk memperjuangkan idialisme yang mereka yakini…

Akankah mereka ingat dengan Paragraf kalimat ini yang dulu mereka nyanyikan dalam kesungguhannya?
“Untuk mewujudkan janjinya memenuhi Panggilan Bangsa, menjunjung kebudayaan dan kejayaan Indonesia?!”

Bakti kami mahasiswa Gadjah Mada semua
Kuberjanji memenuhi panggilan bangsaku
Di dalam Pancasilamu jiwa seluruh nusaku
Kujungjung kebudayaanmu kejayaan Indonesia

http://www.youtube.com/watch?v=IqUV9C4tf9A

 

The Patriot – Tragedi Kekalahan Sang Letnan Jenderal Aristokrat!

21 Jul

patriot1Saya teringat pada fragmen terakhir film Legendaris The Patriot yang dibintang Mel Gibson. Flim yang menceritakan perang kemerdekaan Amerika melawan imperialisme Inggris. Saat itu tentara Inggris sudah amat tersedesak oleh tentara relawan Amerika. Kekalahan tentara Inggris sudah nyata di depan mata. Tetapi Letnan Jenderal Aristokrat “The Earl Cornwallis” tetapngotot berperang dan tidak pernah percaya bahwa kekalahan nyata diderita pasukannya.

Letjend Aristokrat Lord Cornwallis yang besar dari kalangan Aristokrat terdidik tidak percaya kalau pasukannya dikalahkan oleh seorang Jenderal Kampung George Washington dengan pasukan yang sebagian besar hanya relawan milisia. Kekalahan pasukannya yang didukung persenjataan canggih melawan relawan adalah sesuatu yang sulit dia pahami oleh akal sehat sang Jenderal Aristokrat ini.

Di titik inilah ada adegan yang begitu mengharukan terjadi. Asisten kepercayaannya, yaitu Brigadir Jenderal O’Hara dengan penuh permohonan kepada atasannya (Letnan Jenderal Lord Cornwallis) memohon untuk segera menghentikan pertempuran. Dalam bahasa yang amat santun menyarankan pada atasannya agar memerintahkan seluruh pasukan untuk menyerah: “My lord, I beseech you. You must order the surrender”.

Saran dari orang kepercayaannya yang memang seorang Jenderal yang kredibel inilah yang akhirnya dituruti oleh Panglima Tentara Inggris Letnan Jenderal Aristokrat Lord Cornwallis untuk mengibarkan bendera putih. Brigjend O’Hara tahu jika mereka terus berperang maka akan mengalami kekalahan total yang memalukan. Brigjend O’Hara adalah Jenderal Lapangan yang tahu kapan saatnya mengakhiri perang dan dia tahu bagaimana melaporkan keadaan pasukannya secara jujur pada Panglimanya sehingga sang Panglima bisa mengambil sikap dengan benar.

Film The Patriot karya legendaris Mel Gibson hampir 20 tahun lalu ini kembali terngiang di memori saya. Saya jadi berempatik dengan apa yang terjadi pada Sang Letnan Jenderal Aristokrat Prabowo Subianto di detik-detik mencekam ini. Letjend Aristokrat Prabowo Subianto sudah amat terdesak tanpa harapan menghadapi pasukan milisi relawan yang dipimpin Jenderal Ndeso Joko Widodo. Letjend Aristokrat Prabowo akan menghadapi kekalahan yang amat memalukan jika dia memaksakan diri terus berperang. Dia akan bernasib sama dengan si Otoriter Jenderal Adolf Hitler yang akhirnya ditinggal sendirian oleh para Jenderal kebanggaannya. Jadilah Hitler bunuh diri dalam kesendirian yang diselimuti kekalahan yang memalukan.

Sayangnya, di sekitar Letjend Aristokrat Prabowo tidak ada penasehat yang kredibel sekelas Brigjend O’Hara seperti dalam film The Patriot. Disekitar Letjend Prabowo adalah kumpulan Barisan Sakit Hati, Barisan Opportunis dan Barisan Nasi Bungkus. Mereka tidak cukup punya kredibilitas untuk memberikan saran akurat pada sang Jenderal. Mereka adalah kumpulan petualang politik yang greedy, mencaplok setiap kesempatan untuk kepentingan pribadinya.

Mereka adalah kumpulan Para Intelektual Tukang yang mengadakan Survey Abal-Abal untuk membohongi Sang Jenderal.

Mereka adalah juga kumpulan Para Intelektual Tukang yang mengadakan Quick Count Abal-Abal untuk menyenangkan hati sang Jenderal. Mereka adalah aktivis Politisi Petualang yang mengadakan Real Count Abal-Abal untuk membuat sang Jenderal hatinya penuh bunga atas fakta semu yang ditampilkan.

Sang Letjend Aristokrat Prabowo bukanya tidak tahu perilaku buruk mereka. Ini perilaku tanpa kredibilitas dan tanpa integritas. Oleh karena itu justru ini menjadi boomerang bari sang Letjend Aristokrat. SLetjend Aristokrat malah kebingungan sendiri dalam bersikap. Galau, karena tidak tahu nasehat siapa yang harus didengar.

Sekarang saatnya Sang Letjend Aristokrat Prabowo Subianto perlu kontemplasi sejenak dalam kesendirian. Sang Letjend Aristokrat sudah tidak punya orang yang dia percayai. Satu-satunya yang dia percayai adalah nuraninya. Waktu amat mendesak. Jam berjalan cepat: tik…tak…tik…tak…

Jika saja mengambil keputusan salah maka kekalahan memalukan dan amat tidak terhormat akan menimpanya: dari Letjend Aristokrat menjadi Pencundang yang terseok-seok! Semoga sang Letjend Aristokrat mampu berdialog dengan nuraninya…

Semoga saja doa sederhanaku di Bulan Ramadhan ini buat Sang Letjend Aristokrat ini bukanlah sebuah hal yang terlalu mewah untuk Engkau kabulkan ya Tuhan…

 

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe…

 

Ferizal Ramli

 

Indonesia Hebat adalah Indonesia Sejahtera Merata dan Indonesia yang menginspirasi bangsa lain…

20 Jul

Flag-map-of-indonesiaAku ingin tidur sebentar dan setelah itu kembali berkarya!

Pemilu ini mengajarkan banyak hal pada bangsa ini. Politik dan intrik fitnah, kampanye hitam, ayat-ayat agama berseliweran untuk kepentingan kekuasaan, kekuatan uang, manipulasi media dan TV semuanya dipertontonkan secara vulgar. Benar-benar proses belajar yang berharga meskipun begitu amat berat harus dilewati oleh bangsa Indonesia.

Ada beberapa pemaknaan yang membuat ku begitu optimis akan masa depan bangsa ini:

1. Rakyat ternyata tidak tunduk dengan politik fitnah. Justru mereka melawan bersama-sama tanpa pamrih bahkan bersedia mengorbakan apa yang mereka bisa korbankan; uang, waktu, tenaga dan ilmu untuk melawan politik fitnah dan memilih berdasarkan yang mereka yakini benar.

2. Rakyat ternyata tidak mudah terprovokasi untuk melakukan kericuhan meskipun perbedaan pandangan begitu tajam, tetap saja tidak terjadi kericuhan dan jauh dari terjadinya tumpah darah. Rakyat memilih dengan cara damai. Kualitas demokrasi rakyat Indonesia ini jauh diatas negara2 lain di dunia hanya negara-2 maju Eropa dan Amrik saja yang mampu mensejajarinya.

3. Mesin politik yang baik dalam pilihan presiden itu bukan uang atau dukungan partai politik. Mesin politik utama dalam pemilihan presiden adalah integritas sang calon pemimpin. Ternyata nurani bangsa ini benar-benar ingin pemimpin yang berintegritas.

4. Para intelektual dan masyarakat terdidik kita ternyata adalah para intelektual yang punya semangat dan tanggung jawab untuk turun tangan bersikap. Mereka dengan segala cara mengkomunikasikan pilihan sikapnya pada masyarakat sehingga masyarakat sadar akan pilihan politiknya. Ini menghindari terjadinya “beli kucing dalam karung”.

5. Saat ini adalah saat yang tepat untuk rekonsiliasi. Jokowi-JK menang adalah sebuah keniscayaan dan tinggal tunggu waktu. Lalu mulai kita semua masing-masing perlu menjalankan 3 peran sekaligus untuk Indonesia Hebat:
1) Terus berkarya penuh semangat dan hidup jauh dari korupsi!
2) Beri dukungan sungguh-sungguh pada pemerintahan baru
3) Tetap kritis untuk mengurangi terjadinya salah urus pada pemerintahan yang baru

Sekarang saatnya tidur sejenak dan bertafakur untuk mengambil hikmah atas proses demokrasi yang telah kita alami bersama ini. Setelah itu, kita kembali berkarya untuk bersama-sama membangun Indonesia Hebat!

Saatnya ke depan, semoga Indonesia dibawah kepemimpinan pemerintah yang bersih dan berintegritas ini, di bawah Jokowi-JK dan juga dibantu Anies Baswedan serta orang baik lainnya maka Indonesia Hebat akan terwujud,

yaitu:
– Indonesia yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme serta sama di hadapan hukum
– Indonesia yang mengangkat harkat hidup masyarakatnya sejahtera merata
– Indonesia yang memimpin dunia; menjadi Pemimpin Asean, Pemimpin Negara-Negara Islam (OKI) dan Pemimpin Negara-Negara Non-Blok! Indonesia yang terhormat di mata bangsa lain…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe
Dalam Sejuknya Musim Hangat dan Membucahnya Harapan akan Hari Esok Lebih Baik…

Ferizal Ramli

Mengingat kembali Napak Tilas para Tokoh di Era Reformasi 98

20 Jul

reformasi-indonesia-foIjinkan saya menulis dari sudut pandang positif saja tentang catatan dedikasi mereka. Saya pribadi ingin mengakhir hiruk-pikuk politik saat ini dengan mengambil hikmahnya. Yang saya tahu dari Ustadz Kampung saya saat beri tausyiah adalah: “Ilmu Pengetahuan tertinggi itu adalah hikmah!” Bukan kah hidayah tertinggi adalah saat kita mendapat Hikmah di bulan Ramadhan?

Itu sebabnya saya ingin mengenang yang baik-baik saja dari mereka. “Mikul duwur, mendem jero”.

Ada tokoh-tokoh era reformasi yang bisa saya catat dalam memori saya, yaitu: BJ Habibie (BJH), Abdurahman Wahid (GD), Megawati Soekarno Putri (MSP), Muhammad Amien Rais (MAR), Akbar Tandjung (AT), Adi Sasono (AS), Sri Sultan Hamengkubuwono (HBX), Nurcholish Madjid (NM) dan Wiranto. Saya ingin mencoretkan kenangan saya pada mereka dari sudut pandang positif saya.

Jadi, mohon jangan paksa saya untuk berdebat mengkritisi para tokoh yang saya tulis dibawah ini:

 

BJH – BJ Habibie

Beliau berhasil menghentikan secara cepat dan nyaris sempurna kerusakan parah ekonomi yang terjadi pada bangsa Indonesia. Saat krisis begitu bergejolak dengan tekanan ekonomi begitu berat, dengan cepat khas BJH, beliau sukses menurunkan mata uang Indonesia yang saat itu meleleh tanpa daya terhadap USD di titik 16.000 menjadi sekitar 8.000! Sebuah prestasi yang sampai saat ini tidak bisa diraih oleh pemerintahan berikutnya. Pada titik itu, BJH berhasil memulihkan kembali kepercayan diri bangsa. BJH juga yang memperkenalkan kebebasan pers dalam sistem demokrasi kita. BJH ini peletak dasar sendi-sendi demokrasi bangsa ini. Kebebasan pers yang kita nikmati saat ini adalah tidak terlepas dari peran besar BJH.

Di titik akhir hari-hari ini BJH kembali menunjukkan sikap negarawananya dengan tidak mmemberikan dukungan terbuka kepada salah satu capres, meskipun sebagai tokoh besar BJH tetap memberikan arahan kepada bangsa, siapa tokoh yang sebaiknya dipilih untuk jadi pemimpin Indonesia.

 

Gus Dur – Abdurahman Wahid

Catatan emas beliau yang tidak pernah terlupakan oleh bangsa Indonesia yang membuat kita semua harus berterima kasih padanya adalah berkontribusi besar menghapus dwi fungsi ABRI. Di bawah Gus Dur, peran social politik ABRI benar-benar beliau hilangkan. Begitu banyak tantangan berat yang harus dihadapi Gus Dur, tetapi seperti „Buldozer“ tanpa mengenal takut Gus Dur selalu libas habis semua peran sosial politik ABRI. ABRI tidak lagi menjadi institusi “über alles” di Indonesia. Lalu akhirnya, ABRI pun membangun kesadaran diri untuk menjadi Tentara Profesional yang berfokus pada fungsi pertahanan. Ini semua tidak lepas dari peran besar Gus Dur.

Di akhir hidupnya, Gus Dur pun tetap konsisten memperjuangkan semangat menghormati keberagaman bangsa yang ber-bhineka ini. Gus Dur bersama Buya Syafii Maarif adalah salah satu Guru Bangsa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.

 

MSP – Megawati Soekarno Putri

MSP adalah arsitek dari sistem demokrasi langsung di Indonesia. Dengan penuh keberanian, MSP menyetujui pelaksanaan sistem pemilihan langsung untuk presiden. Sebenarnya jika MSP ingin kukuh membuat sistem pemilihan Presiden tetap melalui MPR maka peluang MSP menang untuk tetap jadi Presiden 2004 amat besar. Hanya saat itu terjadi kegelisahan dan ketidakpercayaan besar akan terjadinya politik uang di antara para anggota MPR dalam memilih Presiden. MSP dengan berani mengambil keputusan untuk membangun sistem pemilu langsung dipilih rakyat yang berisiko merugikan posisinya. Keputusan tentang pilpres langsung inilah yang membuat seluruh rakyat partisipatif dalam memilih pemimpinnya adalah karya agung dari MSP.

Di saat ini pun MSP menunjukkan perilaku kenegarawannya dengan memberi contoh bahwa Ketua Partai tidak harus secara otomatis memaksakan partainya untuk mendukung jadi Presiden. MSP bisa menangkap aspirasi masyarakat dengan jernih dengan mencalonkan Joko Widodo sebagai Calon Presiden

 

MAR – Muhammad Amien Rais

MAR adalah tokoh kunci utama reformasi Indonesia. Di saat bangsa ini, kala itu benar-benar tenggelam dalam keputusasaan terhadap massif-nya praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme jaman ORBA, MAR adalah energi bangsa kala itu untuk membuat kita tetap semangat melawan praktek KKN. MAR adalah orang yang tepat, pada saat yang tepat dan memimpin bangsa ini dengan cara yang tepat sehingga kita bisa melewati fase genting keruntuhan ORBA berganti ke pemerintahan transisi. MAR saat reformasi seakan spirit harapan bangsa untuk membangun fase baru pemerintahan yang lebih bersih. MAR juga berhasil mengantarkan proses reformasi yang dia pimpim tanpa pertumpahan darah.

Di saat ini rakyat Indonesia menunggu dengan harap-harap cemas sikap kenegarawan MAR terhadap hasil akhir pemilu presiden 2014 ini. Akan kah MAR kembali menunjukkan sikap kenegarawanannya dengan pengaruh yang dimilikinya, untuk membuat pilpres ini berakhir damai jika hasilnya tidak menguntungkan kelompoknya? Itu harapan seluruh bangsa Indonesia.

 

AT – Akbar Tandjung

Akbar Tandjung berperan besar dalam membangun sistem administratif politik yang modern disaat partai politik Indonesia kala itu secara mana manajem pengelolaan begitu primitif. Akbar Tandjung sangat mungkin bisa disebut sebagai Bapak Partai Modern Indonesia. Saat reformasi berlangsung maka semua kemarahan dipancarkan kepada Golkar. Semua orang ingin Golkar ditutup. Hanya sesungguhnya Golkar itu infrakstruktur politik modern milik bangsa Indonesia yang menjadi aset bangsa. AT lah yang berperan besar mereformasi partai Golkar yang tadinya hampir bubar menjadi partai dengan sistem administrasi, jenjang pengkaderan paling modern di Indonesia. Ke depan dalam hal pengelolaan (catatan: bukan dalam hal visi dan platform), parpol di Indonesia mesti melihat Golkar sebagai referensi.

Disaat ini pun AT menunjukkan bahwa berpolitik dalam pilpres itu tidak harus diakhiri dengan permusuhan. AT menunjukan pada publik Indonesia kalah dan menang dalam politik adalah biasa, dengan cara mengunjungi seterunya Jusuf Kalla untuk bersilahturahmi di markas JK.

 

AS – Adi Sasono

AS merupakan salah satu tokoh kunci reformasi melawan KKN jaman Orba. Setelah proses alih transisi pemerintahan selesai, Adi Sasono yang menjadi Menteri Koperasi kala itu segera kebut dengan programnya pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah. Simpul-simpul sektor-sektor ekonomi rakyat dia gerakan. Adi Sasono fokus membangun sistem ekonomi mandiri yang tidak tergantung pada kekuatan asing. Akibat kebijakannya yang amat nasionalis ini maka oleh majalah Asiaweek dan Far Eastern Economic Review dicap sebagai “the most dangerous man” dari Asia. Dikarenakan kebijakan ekonomi Adi Sasono amat merugikan kepentingan pemodal asing. Adi Sasono tercatat sebagai salah seorang yang menyadarkan kita kembali pentingnya membangun ekonomi nasional yang mandiri.

Di saat ini Adi Sasono sudah meninggalkan gelanggang politik tetapi tetap konsisten dengan kerja-kerja riilnya membangun simpul-simpul ekonomi sektor UKM dan koperasi.

 

HBX – Sri Sultan Hamengkubowono X

Keberanian HBX yang menginspirasi seluruh rakyat Indonesia adalah sebagai pencetus awal terjadinya “people power”. Disaat banyak tokoh lain masih diam dalam situasi krisis ekonomi dan tidak berani bersikap atas rejim politik ORBA, HBX justru secara terbuka menggerakkan „people power” untuk pertama kalinya secara besar-besaran. Tercatat sekitar 1 juta orang untuk pertama kalinya dalam sejarah ORBA, secara terbuka menentang rejim ORBA, melakukan “long march” dari Kampus UGM ke Kraton Yogyakarta. Keteguhan HBX dari Yogyakarta inilah mengirim pesan inspirasi ke daerah lain bahwa kita harus berani menurunkan rejim ORBA yang otoriter dan penuh KKN. Sesungguhnya HBX itu seperti layaknya ningrat Jawa adalah tokoh yang amat santun. Hanya disaat nuraninya terganggu maka HBX menjadi salah satu tokoh terdepan menggerakan “people power”

Di saat ini pun HBX lebih memilih terus menjalankan perpolitik santun dan teduh.

 

Cak Nur – Nurcholis Madjid

Cak Nur berperan besar menjadi penasehat Pak Harto di saat-saat genting. Cak Nur yang pro reformasi tapi dikarenakan pribadinya yang terhormat dan humanis menjadi kepercayaan Pak Harto dalam mengambil keputusan menyikapi gerakan masyarakat anti Soeharto. Atas saran Cak Nur inilah akhirnya Pak Harto bersedia mundur dengan cara elegan tanpa ada perumpahan darah. Jadilah alih pemerintahan yang menandakan berakhirnya era ORBA berlangsung damai.

Sampai akhirnya hayatnya Cak Nur dikenal dengan pemikiran yang humanisnya tentang Islam. Cak Nur seperti juga Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang menghormati kebhinekaan bangsa Indonesia.

 

Wiranto

Wiranto adalah orang yang mempunyai jasa besar bagi bangsa Indonesia yang bersedia menjunjung tinggi kepentingan bangsa kala Indonesia sedang chaos pasca kerusuhan besar di era reformasi. Wiranto saat itu diberi mandat oleh Pak Harto untuk membangun Junta Militer dibawah kepemimpinannya. Hanya Wiranto cukup mampu membaca keinginan bangsa Indonesia. Meskipun Wiranto saat itu punya kekuasaan nyaris mutlak tapi Wiranto memutuskan untuk tunduk pada keinginan rakyat dengan membiarkan reformasi berlangsung secara damai. Wiranto memilih lebih tunduk pada konstitusi.

Saat ini Wiranto berjuang dengan Jokowi-JK untuk ikut terlibat lagi dalam membangun pemerintahan. Semoga kelak jika kembali di kekuasaan dalam kesempatan kedua kalinya, Wiranto bisa memberikan dedikasi terbaiknya.

 

Dari Tepian Sungai Elbe

Di saat Musim Sommer yang cerah, secerah menyambut masa depan Indonesia Hebat

 

Ferizal Ramli

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 168 pengikut lainnya.