Yang kami lawan adalah Para Politikus Money Politics perampas hak kami!

30 Sep

dugaanmoneydAnda keliru jika anda pikir saat kami rakyat marah atas Pilkada tidak langsung itu dianggap kami pendukung PDIP! Salah klo anda berpikir demikian. Kami sama sekali bukan pendukung PDIP saat ini.

Lebih keliru lagi jika anda pikir PDIP yang kalah saat voting Pilkada tidak langsung. Anda keliru sekali klo berpikir PDIP yang kalah. PDIP itu partai berkuasa, dia menguasai seluruh infrastruktur pemerintah, birokrasi serta menguasai APBN. Dia akan lebih mudah deal dengan Parpol saat Pilkada tidak langsung dari pada PDIP deal dengan rakyat jika Pilkada langsung. Jadi malah PDIP dan Jokowi amat diuntungkan dengan Pilkada tidak langsung.

Jika Pilkada langsung dilakukan, maka saat performance Jokowi dan PDIP jelek maka rakyat bisa hukum dengan tidak memilih jago PDIP di Pilkada. Tapi karena pilkada tidak langsung maka rakyat tidak bisa menghukumnya. Yang terjadi deal-deal di Parlemen. Nah, untuk deal di Parlemen peluang PDIP menang amat besar lah wong dia partai berkuasa dan menguasai resources!

Jadi, kalau kita rakyat protes karena kita kehilangan hak kontrol untuk menghukum PDIP dan Jokowi jika Jokowi tidak perform. Lebih dari itu kita pun merasa tidak percaya bahwa DPRD yang korup itu akan bebas dari money politics saat pilih kepala daerah.

Hanya sebenarnya, PDIP itu diuntungkan oleh keputusan Pilkada tidak langsung ini. Yang keliru dan blunder itu adalah KMP dan SBY. Dia justru mati langkah disini. Dia saat ini dibenci oleh rakyat yang dicatat sebagai perampas hak rakyat.

Yang diuntungkan juga dalam kemenangan Pilkada tidak langsung ini adalah arsitek dari elit Golkar dan PAN. Ini membuat posisi tawarnya dihadapan Jokowi-JK menjadi besar dan kuat. Akibatnya, mereka akan memanen kompensasi dari Jokowi-JK untuk masuk gerbong pemerintahan.

Ini lah politik bung. KMP itu pencundang, SBY itu pecundang yang memalukan, dan kita seluruh rakyat yang jadi korban teraniaya atas ngawurnya KMP dan SBY/PD :)

SBY sang Pecundang

29 Sep

SBYKMP anda itu pecundang, bukan pemenang
SBY anda pencundang yang memalukan

Sebenarnya pada titik ini tidak ada alasan kami rakyat Indonesia marah pada anda karena anda itu sebenarnya pecundang yang memilukan.

Jika kami marah, karena hak kami dalam Pilkada langsung dirampas karena “kebodohan” anda. Kami ingin pilkada langsung karena kami tidak punya “trust” pada parpol dan anggota DPRD untuk memilih pemimpin daerah dengan nuraninya. Yang kami tahu DPRD/DPR itu adalah instititusi paling korup, bagaimana kami harus mempercayakan anda memilih pemimpin kami? Dititik ini lah kami marah pada anda KMP dan SBY!

Tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya andalah yang pecundang KMP dan SBY. Pilkada tidak langsung justru membuat posisi anda rentan bahkan amat rentan. Ini cuma menguntungkan amat sangat beberapa elit Golkar atau elit PAN untuk menaikan posisi tawarnya pada Jokowi-JK agar mereka bisa masuk gerbong pemerintahan. Kami semua tahu arsitek politik Golkar dan PAN adalah “Tokoh Politik Kawakan” yang sangat lihai dalam politik tawar menawar :)

Saat kepentingan elit Golkar atau elit PAN terakomodasi dan mengucapkan selamat tinggal “Koalisi Merah Putih”, lalu bergabung dalam gerbong pemerintahan Jokowi-JK maka percayalah KMP, anda akan menyesal selamanya atas keputusan anda membuat pilkada tidak langsung. Itu posisi Kepala Daerah akan disapu habis oleh Gank Jokowi-JK. Anda (KMP dan SBY/PD) kalah suara di Parlemen saat bersamaan anda dibenci rakyat karena keputusan anda tentang Pilkada itu oleh rakyat dianggap pengkhianatan. Jadilah PKS, Gerindra dan PD cuma menangis pilu atas kekeliruan strateginya…

Saya pendukung Jokowi-JK tapi saya tidak mau koalisi Jokowi-JK menyapu habis kursi Kepala daerah. Saya ingin Jokowi-JK saat memerintah ada penyeimbang. Tapi KMP dan SBY, blunder yang anda lakukan justru amat menguntungkan Jokowi-JK. Lebih dari itu blunder anda KMP dan SBY benar-benar telah menyakiti kami, karena saat ini kami harus membiarkan para anggota DPRD yang terkenal korup bebas melakukan money politics saat memilih kepala daerah.

KMP dan SBY secara moral keputusan anda itu keputusan culas.
Secara politik, justru anda lah pecundangnya…

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Benarkah Ibu RT yang diusia 40 tahun terlambat untuk berkarir?

29 Sep

momAda pertanyaan menarik begini: benarkah Ibu RT yang diusia 40 tahun terlambat untuk berkarir?

Buat Ibu Rumah Tangga yang Putra/Putri telah beranjak dewasa dan sudah mulai mandiri sehingga ingin memulai berkarir atau bekerja atau berkarya untuk masyarakat, pertanyaan diatas menarik untuk dianalisa.

Jika KPI (Key Performance Indicator)-nya cuma jenjang karir maka wanita yang memulai karir diusia 40 tahun akan kalah dengan memulai diusia 25 tahun.

Tapi benarkah KPI wanita itu cuma sukses dikarir?
Saya pikir kita harus gunakan KPI yang lengkap, saya rumuskan paling tidak 5 KPI-nya:
1. Jenjang Karir
2. Stabilitas Finansial
3. Keharmonisan Keluarga
4. Pengembangan Anak
5. Sekolah lanjut

Jika saja seorang wanita diusia 40 tahun yang awalnya ibu RT lalu dia berkarir maka yang dia terlambat dibandingkan usia 25 tahun itu cuma karirnya.

Tapi bisa jadi secara finansial dia sudah stabil. Selama ini dia bantu karir suaminya dan suaminya sudah agak mapan secara finansial sehingga dia ndak perlu harus fokus dengan reward finansial dan terlalu sibuk dengan intrik manajemen perkantoran.

Dia pun sudah mapan membangun keluarga harmonis. Begitu banyak orang yang memulai karir diusia 25 tahun sukses tapi saat diusia 40 tahun keluarganya terbengkalai.

Begitu banyak juga dia kehilangan “golden age” dengan anak2nya. Pertanyaannya apakah benar2 menguntungkan menukarkan keberhasilan karir dengan kehilangan kebersamaan mendidik dan merawat buah hatinya? Tapi tentu saja harus bersyukur buat wanita yang bisa jalankan multi fungsi ini secara sempurna. Dalam banyak kasus salah satu akan terkalahkan; apakah karir atau keluarga.

Tentang sekolah juga ternyata banyak wanita yang mulai karir usia 25 tahun (jika bukan dari keluarga orang tua kaya) tidak punya kesempatan sekolah lanjut lebih tinggi. Paling cuma tunggu bea siswa yang belum tentu dapat. Bisa jadi yang usia 40 tahun dia dapat support dari suaminya untuk sekolah atau sudah punya tabungan untuk sekolah lagi.

Jadi klo pakai KPI yang lebih lengkap maka belum tentu yang usia 40 tahun itu tidak punya kesempatan untuk memulai berkiprah selain urusan RT.

Tapi bukan berarti umur 40 tahun mudah untuk memulai karir. Dia sudah terlambat untuk memulai jadi memang perlu suaminya membantu. Jika tidak dibantu memang sulit sekali untuk memulai diusia 40 thun.

Sekarang tinggal kesadaran suaminya dan kesepakatan dengan istrinya tentang value apa yang perlu mereka perjuangkan. Jadi, tinggal dipahami sisi kelebihan dan kekuarangannya setelah itu yang saling kerjasama untuk mendukung sang istri berkiprah. Tidak harus kerja di perusahaan, kerja nir laba juga bagus atau jadi business owner juga bagus. Yang penting jangan selamanya si istri deprok ngurusin hal internal Rumah tangga terus…

 

Surat Pribadiku buat Dedikasi Wanita Terhormat dalam Situasi Sulit

25 Sep

usaha-rumahan-ibu-rumah-tanggaSayangku terima kasih atas waktumu yang satu dekade lebih untuk kamu fokuskan hanya untukku, bagiku. Terima kasih atas waktu dan dedikasimu yang dengan kecerdasaan kewanitaanmu mendukung aku dengan mengorbangkan semua kepentinganmu, demi aku bisa merangkak dari titik terendah karirku hingga mencapai perjalanan yang begitu jauh…

Terima kasih juga untuk seluruh kecerdasaanmu yang kamu tiupkan dalam nafas spirit hidup anak-anak kita. Mereka sekarang tumbuh cantik, cerdas, sehat, punya empatik pada lingkungannya serta begitu optimis mengepakkan sayap-sayap jati diri dan bahasa citranya. Ini tidak bisa terjadi begitu saja. Ini terjadi karena buah karya masterpiece-mu yang penuh kasih sayang mendidik mereka bertahun-tahun.

Sayangku, aku tahu saat ini kamu sedang merenung berdialog dalam atas jati dirimu. Anak-anak kita sudah mulai mandiri. Sebentar lagi mereka akan meninggalkan masa kanak-kanaknya. Jika dulu kamu harus melindungi dan merawat, kemudian semakin berkurang ketergantungannya padamu dan terus berkurang. Lalu mereka cuma butuh dididik dengan cara diberi keteladanan, diajarkan tentang nilai benar dan salah. Sekarang bahkan terutama buat si sulung „hanya“ butuh menjadi teman diskusi dan sahabat.

Sayangku, aku tahu kamu mulai gamang dengan eksistensimu. Saat kamu mulai memutuskan ingin kembali mewujudkan mimpi-mimpimu tentang karirmu yang dulu lama kamu pendam maka kamu lihat ada tembok besar yang menghalangi langkahmu. Belasan tahun saat kamu putuskan hanya untuk mengabdikan dedikasi dan ilmu yang kau miliki dengan membangun keluarga ini, membuatmu butuh kekuatan baru agar mampu mewujudkan mimpi-mimpimu yang dulu tertunda.

Sayangku, kukatakan padamu, jangan khawatir. Dulu kaulah yang membantu aku dari titik terendah untuk membangun semuanya sampai sejauh ini. Itu kamu lakukan tanpa pamrih dengan melepaskan semua ego mimpi-mimpimu. Sekarang ijinkan aku yang di belakangmu untuk membantumu mewujudkan mimpi-mimpimu.

Wujudkan lah mimpimu sayang. Jika kamu ingin mengembangkan eksistensi dan jati dirimu maka lakukan lah. Aku di belakangmu. Aku siap membantumu dengan sepenuh hatiku.

Yang pertama harus kau lakukan adalah kembali belajar. Pelajari B. Jerman sebaik mungkin dan setinggi mungkin. Penguasaan B. Jerman yang baik adalah titik awal agar kamu bisa melenting menggapai visimu. Lalu mulailah sekolah lagi. Kamu bisa ambil sekolah profesi, sertifikasi atau pun master, atau malah semuanya. Sekolah setinggi yang bisa kamu raih.

Aku akan bantu menyelesaikan tugas-tugasmu saat kamu sekolah baik kita berbagi tugas untuk urusan keluarga maupun membantu tugas-tugas sekolahmu yang pasti akan sulit dengan standard akademik Jerman yang terkenal ketat dan berkualitas tinggi. Anak kita sudah mulai besar. Dia „tidak perlu“ kita rawat seperti saat usia-usia balita dulu. Dia hanya cukup kita curahkan kasih sayang dan keteladanan. Sekarang saatnya lah buat mu untuk mengepakkan sayap talentamu.

Jika kamu kelak ingin berkarir dalam duniamu maka berkarir lah. Bukan untuk mendapatkan uang dan kebutuhan materi sayangku. Bukan untuk uang sayangku. Percayalah aku amat tahu, dalam agama kita tugas finansial itu adalah kewajiban mutlak seorang lelaki pada keluarganya yang harus dia penuhi bahkan kalau harus berkorban jiwa raga maka itu mestia dia lakukan. Itu tugasku memenuhi semua kebutuhan materi kita. Kamu tidak perlu terbebani untuk itu.

Jadi jika kamu ingin berkarir, itu harus semata-mata demi eksistensimu sebagai pribadi yang penuh talenta. Sebagai pribadi yang dikaruniai talanta, dan talenta itu harus kamu dedikasikan pada masyarakat. Jangan perdulikan dengan keuntungan finansial. Yang terpenting, kamu bisa kembangkan talentamu buat masyarakat sehingga kelak kamu bisa tersenyum bahwa kamu bisa mempertanggungjawabkan talentamu pada Sang Khalik saat Beliau bertanya padamu: „Apa yang telah kamu perbuat atas bakat yang telah kamu miliki?“

Jawabmu dengan tersenyum: „Aku tidak pernah sia-siakan talentaku, kudukung suamiku, kurawat dan didik anak-anakku serta kuberkarya buat masyarakatku“

Selain itu, aku pasti amat bangga penuh binar saat kutahu kamu juga bisa memberi manfaat pada banyak orang tidak cuma padaku dan anak-anak kita atas talenta yang kamu miliki.

Sayangku, menjadi Ibu Rumah Tangga itu profesi amat terhormat jauh lebih terhormat dari pada wanita yang gagal memberikan kasih sayang cukup pada anak-anaknya dan pada suaminya. Hanya menjadi wanita yang punya karya dalam kerja-kerjanya juga adalah profesi yang terhormat. Keseimbangan keduanya adalah sebuah kondisi yang ideal buat wanita.

Hanya aku tahu persis, itu kondisi yang nyaris begitu sulit untuk bisa diraih oleh banyak wanita: menjadi Ibu Rumah Tangga yang penuh kasih sayang sekaligus mempunyai karya dalam kerja-kerja nyata. Oleh karena itu, ijinkan lah aku saat ini membantu agar kamu bisa meraih semua itu. Selama ini kamu lah yang telah membantuku mewujudkan visi-visiku. Sekarang saatnya aku membantumu mewujudkan visimu: „Bermetamorfosa menjadi wanita yang utuh dan lengkap: sebagai ibu rumah tangga yang mencurahkan kasih sayang pada keluarganya serta sebagai wanita yang punya dedikasi kerja-kerja nyata!“

Dari tepian Lembah Sungai Elbe

Hapus Pilkada Tingkat I dan lakukan Pilkada Langsung hanya TK II

14 Sep

20140904_114357_Pilkada_LangsungDiskusi Pilkada langsung dengan dipilih oleh DPRD adalah diskusi yang tidak relevan. Lebih tidak relevan lagi jika kita menyeretnya pada urusan politik praktis hanya untuk kepentingan Parpol jangka pendek belaka.

Demokrasi kita sudah “on the track”. Yang perlu diperhatikan adalah membangun tradisi politik dan birokrasi yang meritokrasi alias pemimpin, sistem dan institusi itu harus berjalan efektif. Oleh karena itu bagaimana menentukan mekanisme memimpin daerah harus disesuaikan dengan “Job Description”-nya.

Secara manajemen publik kita sudah menyepakati bahwa kita itu Otonomi Daerah Tingkat II bukan Otonomi Tingkat I (sebagai bentuk penolakan Negara Federasi). Ini artinya apa?

Artinya bahwa Otonomi kita itu didelegasikan ke tingkat II. Jika kita sepakat tingkat II adalah otonom maka Bupati/Walikota itu yah harus dipilih langsung oleh Rakyat. Ini harus Pilkada Langsung. Bupati/Walikota bertanggung jawab langsung ke rakyat dengan menjalankan janji kampanyenya. Agar proses bertanggung jawab ke rakyatnya akuntabilitas maka perlu ada DPRD II yang mengawasinya.

Jadi, Bupati/Walikota punya otonomi penuh menjalankan pemerintahnya. Dia tidak bisa dipecat oleh siapapun kecuali terlibat kasus kriminal. Oleh karena itu, Bupati/Walikota harus dipilih langsung.

Lantas bagaimana dengan Gubernur? Saat kita sepakat Otonomi di TK II maka kekuasaan Gubernur sebagai Kepala Daerah itu “melompong”. Jadi birokrasi di Tingkat I benar-benar dibuat sekecil mungkin. DPRD I DIHAPUS karena tidak berguna mengawasi Gubernur karena kekuasaan sebagai Kepala Daerahnya tidak ada.

Lantas siapa yang angkat Gubernur? Gubernur diangkat Presiden seperti Menteri yang diangkat Presiden! Gubernur menjadi kepanjangan tangan pemerintah pusat di daerah agar daerah-daerah tingkat II saat menjalankan otonominya berkesesuaian dengan pemerintah pusat. Gubernur tidak membutuhkan wakil Gubernur.

Tugas Gubernur menjadi Pemerintah Koordinator antara Kabupaten/Kota di propinsinya melalui 2 instrumen penting:

1. Persetujuan Distribusi Anggaran Daerah
Jika Gubernur melihat sebuah daerah TK II menjalankan pemerintahnya tidak akuntanbel maka Gubernur bisa menunda atau tidak menyetujui anggaran daerah yang diajukan oleh Pemda TK II

2. Persetujuan Peraturan Daerah
Perda-Perda Daerah baru bisa berlaku setelah Gubernur memberi persetujuan. Ini akan menghindari ketidaksingkronan antara peraturan daerah dengan peraturan di tingkat nasional.

Selain menjadi Koordinator Daerah, tugas Gubernur lainnya adalah membawa aspirasi daerahnya ke tingkat pusat sehingga persoalan-persoalan yang tidak bisa diselesaikan di level daerah akan diperjuangkan Gubernur di tingkat pusat seperti: pembangunan infrastruktur listrik, jalan, bangunan, area industri, pelabuhan, bandara, bendungan, rumah sakit, sekolah-sekolah, dan lain-lain. Rancangan Pembangunan Infrastruktur Daerah ini menjadi tugas Gubernur untuk dia perjuangkan ke level nasional.

Gubernur juga menyelesaikan persoalan daerah yang tidak perlu sehingga tidak harus dibawa ke pusat seperti ada kepala daerah TK II korupsi maka ijin untuk memeriksanya tidak perlu tunggu persetujuan Presiden. Itu cukup dilakukan Gubernur saja.

Nah kinerja dan performa Gubernur ini diawasi oleh DPD (Dewan Pertimbangan Daerah). Ini juga akan memberdayakan DPD sebagai lembaga perwakilan daerah yang selama ini kalah otoritasnya dibandingkan DPR.


Jika kita sudah melihat Job Description-nya maka jelas bahwa:
1. Bupati/Walikota itu dilakukan melalui Pilkada langsung. Agar hemat biaya maka lakukan secara serentak paling tidak per propinsi atau gabungan beberapa propinsi secara bersamaan.

Lebih bagus lagi jika pelaksanaan Pilkada Daerah ini dilakukan 1 tahun sebelum pemilu. Jadi, koalisi parpol dan politisi itu dilakukan sebelum pemilu diadakan. Ini juga akan membuat pemerintah nasional yang terbentuk akan kuat karena koalisinya sudah terekat sejak Pilkada.

2. Pemilu Nasional dilakukan secara serentak untuk memilih Presiden/Wapres, DPR, DPD dan DPRD (Hanya tingkat II).

3. Setelah Presiden dilantikan maka menyusun kabinet serta memilih gubernur. Partner kerja Kabinet (Menteri) adalah DPR dan partner kerja Gubernur adalah DPD.

Jadi, dalam hemat saya untuk membangun tradisi meritokrasi dalam demokrasi kita, Pilkada Tingkat II itu dilakukan pemilihan langsung. Untuk Pilkada Tingkat I DIHAPUS. Tentu saja harus diberi kekhususan pada beberapa propinsi yaitu NAD, DKI, DIY serta Propinsi-Propinsi di Papua.

-dari Tepian Lembah Sungai Elbe di awal Musim Gugur-

Pulang ke Tanah Air sebagai sebuah kontemplasi…

6 Sep

Rice-Paddy-Terraces-in-Bali-Indonesia-wallpaperIni adalah kebiasaan orang Indonesia yang hidup diluar negeri (mengambil kasus temen-temen saya di Jerman), menurut saya:

Tahun ke 1 s.d. 5, inginnya pulang. Homesick! Kangen dengan tanah air, negeri indah rayuan pulau kelapa khatulistiwa. Semua tentang Indonesia begitu amat ngangeni. Geding-gending Jawanya, tata bahasa halusnya yang penuh ramah tamah, masakan Padangnya, Panorama Pantai dan Gunung-Gunung Api yang begitu eksotis. Ada penjual bakso di malam hari, mie teg-teg, pecel lele, siomay, burjo, nasi kucing, dll, dll. Bisa berdebat dengan temen2 sampai subuh dengan begadang sambil ngakak-ngakak bersama. Ini benar-benar kaya spirit hidup yang indah.

Tahun ke 5 s.d. 10, sudah mulai amat merasakan begitu nikmatnya sistem ekonomi sosialis Jerman. Sistem sosial yang begitu luar biasa hebat secara merata. Sistem asuransi kesehatan begitu amat sempurna yang nyaris semua penyakit dijamin asuransi. Sistem pendidikan yang bagus dan gratis. Kriminal yang amat rendah. Transportasi publik yang nyaris sempurna, dll. Semua ini begitu terasa nikmatnya.

Tahun ke 10 dst… wah saat menjenguk ke tanah air sebentar saja malah stress berat. Ampun dengan macetnya dimana2 orang melanggar lalu lintas seenaknya. Panas gersang karena pohon-pohon besar hutan kota berubah jadi onggokan pusat shopping tidak bernilai budaya. Kriminal di ruang publik adalah biasa. Korupsi begitu terasa di seluruh lini kehidupan. Sekolah2 yang berantakan kurikulumnya. Sistem kesehatan dan rumah sakit yang seenaknya aja pada pasien. Begitu banyak orang yang main serobot antrian. Orang-orang begitu amat mata duitan dan gilanya lagi malah lebih materialistik dan individualis dari pada orang-orang Jerman sekalipun dalam urusan uang.

Yang paling membuat amat takjub adalah begitu hebatnya para koruptor itu bisa amat fasih memberi nasehat tentang kebajikan tanpa merasa bersalah di ruang publik. Mereka pun bisa cengar-cengir tebar pesona saat ketangkap korupsi seakan ingin pamer mewartakan ke publik bahwa korupsi itu perbuatan lumrah karena semua orang melakukannya, jadi kenapa mesti malu ketangkap korupsi? Tampaknya batasaan nilai benar salah itu nyaris tidak ada, kecuali di pencitraan saja orang bicara tentang nilai2 kebenaran.

Parah sekali 50 tahun lalu saat Budayawan Mochtar Lubis pernah mengatakan 12 sifat buruk manusia Indonesia ternyata itu masih belum berubah menjadi lebih baik hingga hari ini. Padahal saat itu kala saya mahasiswa 20 tahun lalu, saya amat “marah” tersinggung dengan tulisan budayawan Mochtar Lubis itu. Sekarang saya mulai mengangguk-angguk mengakui kebenarannya. Inilah perkataan Budayawan Mochtar Lubis yang dulu membuat saya amat marah tentang manusia Indonesia:
1. Hipokrit alias Munafik
2. Segan dan Enggan Bertanggung Jawab
3. Berjiwa Feodal
4. Masih Percaya Takhyul:
5. Artistik (ini penilai posistif dari Mochtar Lubis)
6. Watak yang Lemah:
7. Tidak Hemat, Dia Bukan “Economic Animal”
8. Lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa
9. Tukang Menggerutu di belakang
10. Sok
11. Cepat Cemburu dan Dengki
12. Tukang Tiru dan Plagiat
Klo sudah seperti ini siapa yang mau pulang ke tanah air? Tapi justru karena semua itu maka Indonesia itu SURGA DAKWAH yang amat menggiurkan untuk ditelateni. Jadi memang pulang ke tanah air sejatinya itu adalah sebuah “sunah muakkad” untuk tegakkan Amar Maruf Nahi Mungkar. Hanya untuk berhasil, ini semua butuh persiapan matang untuk menyesuaikan kehidupan yang sudah menjadi asing dalam tata nilai hidup kita selama di belasan tahun tidak di tanah air. Ndak usah minder dan kecil hati buat yang ingin pulang jika anda ragu dengan keputusan anda. Anda perlu siapkan semuanya secara matang. Mari kita kontemplasi sebentar, lihat lah:

Seorang hebat seperti Mohammad Hatta saja butuh 13 tahun sehingga dia putuskan balik pulang ke tanah air.

Seorang hebat seperti BJ Habbibie saja butuh 17 tahun sehingga dia putuskan balik ke tanah air.

Apalagi dengan orang-orang biasa saja dibandingkan kedua tokoh diatas? Jika anda ingin pulang maka siapkan secara matang sehingga tidak “hard landing” dan bisa berguna saat berkarya di tanah air. Jadi, akhirnya kembali pada pertanyaan penting: “Bagaimana dengan anda semua yang sudah belasan tahun di luar negeri, akankah anda pulang?” :)

***Pertanyaan yang sama untuk diri sendiri tentu saja :)

Dari Tepian Lembah Sungai Elbe

Pak Jokowi-JK, segera setelah pelantikan anda dan peresmian kabinet maka NAIKKAN BBM secepatnya!

30 Agu

bensin-130223b1

Cepat telankan PIL PAHIT kenaikan BBM itu sekarang juga.
Dengan catatan Penting:

1-3 bulan Pertama
Secepatnya, setelah itu segera SUBSIDI harga SEMBAKO untuk kepentingan jangka pendek agar jangan sampai terjadi inflasi besar-besaran. Gelontorkan dana dari alokasi BBM untuk menahan naiknya sembako saat BBM naik. Klo perlu buat harga Sembako TURUN sehingga akan terbangun trust masyarakat. Ini akan memberikan kejutan positif pada masyarakat bahwa meskipun BBM naik, anda bisa membuat sembako turun. Siapa bilang BBM naik sembako pasti juga naik? Jika anda bisa gelontorkan subsidi untuk tahan harga sembako selama 1-3 bulan pertama saja saat harga BBM naik maka trust masyarakat akan anda menangkan.

Tahap 3 bulan sampai selanjutnya…
Setelah masyarakat agak tenang, maka mulailah penuhi janji anda untuk mengalokasi keuntungan dana dari kenaikan BBM tersebut ke bidang Pendidikan dan Kesehatan. Ini adalah kekuatan dana besar plus lagi juga adanya alokasi APBN tahunan.

Program Kartu Sehat, Kartu Pintar, Bidikmisi atau BPJS, Askes, dll…dll… segera diintegrasikan secara benar dan dibuat memberi manfaat efektif ke masyarakat. Masyarakat pun mulai menikmati dampak dari sistem pendidikan dan kesehatan yang lebih baik dalam arti kata terjangkau.

Tahap 6 bulan sampai selanjutnya…
Jika alokasi dana untuk BBM itu menurut JK benar, yaitu 1 trilyun per hari maka jika BBM dinaikan akan masuk dana dari BBM ke kas APBN bisa 365 Trilyun per tahun. Itu dana raksasa.

Jika saja sebuah kota seperti Yogya, Bandung, Medan, Palembang, Makassar, misalkan dianggarkan 10 Trilyun per kota untuk bangun MRT (catatan menurut berita baru saja bahwa Kota Bandung mau buat MRT anggarannya 6 Trilyun), maka dengan dana 10 Trilyun, dalam 1 tahun sudah 36 Kota bisa dibangun MRT-nya. Dalam 5 tahun akan terbangun sistem MRT 158 kota kota di tanah air. Ini bener-2 pembangunan yang dahsyat!

Ini akan membuat orang Indonesia akan naik angkutan umum. Mereka akan tinggalkan mobil pribadi! Konsumsi BBM yang boros untuk mobil pribadi akan segera terhenti. Saat bersama karena MRT bersifat massal maka strata miskin kaya tidak terlihat lagi secara menyolok. Orang akan naik MRT dari berbagai starta sosial. Orang miskin dan kaya punya akses yang sama. Macet pun akan berkurang drastis. Kecelakaan lalu lintas pun akan berkurang drastis.

Jadi Pak Jokowi-JK mumpung kredit kredibilitas anda masih amat tinggi, segera naikkan BBM sekarang juga! :)


Saya yakin rakyat akan dukung anda naikkan BBM jika anda bertindak paling tidak seperti deskripsi diatas.

Tapi jika anda naikkan BBM dengan abai pada penderitaan rakyat maka siap-siap lah kami protes bersama :)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 195 pengikut lainnya.