
Artikel Seri-1 silahkan lihat link: http://ferizalramli.wordpress.com/2010/01/01/kajian-kritis-atas-tulisan-rimawan-pradiptya-tentang-psikologi-pasar/
Artikel Seri-2 ini, diskusi warung kopian tentang Teori Pasar Neo-Klasik dan Skandal Century
(Wahyu W. Basjir)
Feri, kita sedang melihat bagaimana orang (yang pro Bailout, red) berkilah, bukan berargumentasi. Dan, kilah bisa berbentuk apa saja.
(Ferizal Ramli)
@Kang Wey: Kasus Century itu unik (klo ndak mau dibilang ganjil) dan itu cuma terjadi di Indonesia.
Di Jerman juga ada kasus perbankan tapi ndak ada yang seperti Century. Century gagal karena kriminal dan bailout-nya terindikasi korupsi serta nasabah kecil (yang dilindungi UU) justru malah tidak dibayar.
Di UK yang kuikuiti perkembangannya juga ndak sama dengan Century. Barclay, Royal Scotland Bank dan termasuk Northern Rock, tidak ada indikasi kriminal disana.
Dan lebih dari itu, sampai saat ini tidak ada indikasi korupsi dalam bailout serta masalah dengan customer bank selesai. Lha bagaimana bisa menyamakan kasus Century dengan kasus-2 Bank di Eropa yang konservatif?
—
Di Amrik yang sama dengan Century adalah Madoff, dan kita tahu Madoff malah dibankrutkan oleh Amrik. Padahal resiko psikis Madoff bangkrut (lambaga keuangan salah satu yang yang terbesar di Amrik) jauh lebih “mengerikan” dari pada Century. Tapi toh dibiarkan bangkrut saat ternyata di Madoff ada kriminal.
Lha kok Century yang kecil dan ada kriminal malah dibiarkan hidup?
(Estananto 艾司天)
Bang, penggemar Perang Dunia II rupanya. Namun Kursk tahun 1943 itu memang Jerman kalah telak. Tentara Merah lewat jaringan mata-matanya sudah tahu bahwa akan ada serangan di Kursk dan benar2 sukses menahan laju Wehrmacht di semua lini. Jadi kayaknya kurang tepat masuk analogi sampeyan
(Ferizal Ramli)
@Kang Estanto: Jujur saja aku merasa terhormat Kang Estato memberikan komentar dan opini dalam diskusi ini.
Neng aku mohon baca lagi tentang contoh Jerman dan Nazi secara komprehensif dan hati-2. Jadi, sampeyan bisa pas menyampaikan pesan moralnya. Nyuwun pangamputen soalnya komentar sampeyan bisa merusak diskusi tentang faktor psikologis untuk mengambil keputusan.
—
Mohon baca lagi ini tulisan sdr Rimawan:
“Contoh klasik lain adalah apa yang terjadi pada perang Kurst, yang terjadi saat tentara Jerman menginvasi Uni Soviet saat Perang Dunia II, dan Perang Vietnam. Tidak dipungkiri bahwa pada kedua perang tersebut, baik tentara Nazi Jerman dan USA sama-sama menderita kehilangan korban jiwa yang jauh lebih sedikit dibandingkan lawan-lawan mereka. Namun pertanyaannya, mengapa justru kedua negara tersebut yang mundur dari medan peperangan?
Kalau saja rasionalitas ekonomi yang digunakan oleh pihak Nazi Jerman dan Amerika Serikat pada kedua perang tersebut, idealnya mereka tidak akan mundur dari medan perang. Perhitungan matematis menunjukkan lebih banyak tentara Uni Soviet yang gugur daripada tentara Nazi. Hal yang sama juga terjadi pada pihak Amerika Serikat relatif dibandingkan pihak Vietnam Utara”
dan bla, bla, bla…
—
Dan ini tangggapan saya untuk menyanggah sdr. Rimawan, yang prinsipnya menolak bahwa alasan psikis lah yang membuat Jerman mundur.
“…penggunaan contoh mundurnya Nazi dalam operasi Zitadel saat melawan Rusia atau Amrik saat perang Vietnam (seperti yang ditulis pada artikel sampeyan), sangat mungkin BUKAN karena pertimbangan psikis. Sangat mungkin itu adalah perhitungan rasional di lapangan.
Realitas di lapangan menunjukkan Nazi akan menderita kerugian lebih besar untuk melanjutkan perang makanya mereka mundur”
dan bla, bla, bla…
—
Kembali pada pernyataan sampeyan Kang Estanto.
Analisa sampeyan mengatakan bahwa keputusan Jerman mundur dalam perang Kursk akibat kalah telak. Jadi, justru itu menunjukkan bahwa alasan RASIONAL, bukan alasan IRASIONAL (baca: psikologi), yang menjadi dasar pertimbangan Jerman mundur.
Artinya, ini malah sesuai dengan sanggahan saya terhadap sdr. Rimawan bahwa Nazi mundur SANGAT mungkin bukan karena psikologis tapi hitungan rasional di lapangan.
(Sari Oktafiana)
@mas Ferizal: aq sepakat dgn analisis jenengan. problem psikis sangatlah naif bl menjadi alasan untk kasus century..inilah Indonesia. terlalu banyak keanehan. tetapi keanehan yg ada di negara ini bukan tidak bisa dijelaskan. tidaklah misterius. tugas dari para scholar seperti kita-lah yg harusnya bisa menjelaskan Invisible-invisible hands itu!
Best Regards!
(Estananto 艾司天)
Iya bang betul sekali. Maaf salah sasaran. Sebetulnya Century itu setara dengan Madoff di Amerika, yang oleh pemerintah Amerika malah dibiarkan bangkrut. Padahal jelas Madoff lebih sistemik.
Cuma kalau menurut saya Sri Mulyani seharusnya bukan sasaran utama, perhatikan bahwa dia dalam keterangan pertama menerangkan kehadiran Marsillam Simanjuntak sebagai wakil dari Presiden. Kemudian baru beberapa bulan setelahnya jubir istana Presiden membantah.
Saya curiga SBY mempunyai kebiasaan cuci tangan. Sri Mulyani orangnya bersih, bisa saja dia tersandung tetapi saya lebih tidak hormat lagi kepada pemimpin yang tidak memngambil alih tanggung jawab. Pengecut itu harus diadili.
Servus moin Freund!
Nano
(Anwar Sadat)
@ all : sy gak baca analisis Rimawan maupun Ferizal, pngen comment dsni aja brdasrkn diskusi yg ada. Dasar analisanya jauh amat, pdahal utk melihat bgmn psikilogis rakyat Indonsia, sngat mudah. Antrian di POM bensin mnjelang pengumuman BBM naik, antrian di salah satu Bank di Pasar Baru JKT krn isu keamanan safety box yg buruk, antrian di beberpa .BPR atau Koperasi Simpan Pinjam yg diterpa isu bangkrut, & msih bnyk lainnya ckup menggambrkan bgmn isu & rumor sngat cepat mempengaruhi rakyat kita. Belum lagi faktor politik medio November 2008 dmn sngat banyak yg berkepentingan agar muncul destabilisasi di masyrkt. Jdi ckup beralsan jika pertimbangan faktor psikis saat itu terkait penyelamatn Century, diambil dng sangat hati2. Perlu dicatat, pengambilan keputusan di level pengambil kebijakan memiliki spektrum pertimbangan yg lebih luas.
(George Subeno)
@Anwar: tidak mau bac analisa Rimawan dan Ferizal, tapi orang lain harus mendengar berkomentar anda yang tidak berkualitas itulah ciri orang tidak terdidik.
(Avicena Ibnu)
psikis menjadi pertimbangan bail out adalah alasan yag paling logis buat kondisi pasar indonesia untuk menutupi kebodohan decision maker menganalisa data atau menipu rakyat, karena alasan inilah yan paling tidak bisa dibuktikan secara real, btw selama ini goncangan atau rush yang terjadi di indonesia memang banyak terjadi karena isu yang bersifat psikologis, lihat kasus2 dana investasi semua kebangkrutan berantai banyak disebabkan goncangan psikis… Tapi apakah ini tetap akan menjadi alasan bagi pembuat keputusan untuk melakukan tindakan pembenaran atas century ? ini sama saja memelihara takhayul dan membodohkan rakyat….
(Ferizal Ramli)
@Jeng Sari, Kang Estanto dan Kang Ibnu:
Saya setuju dengan moral point tulisan sampeyan semua.
Adalah sulit dipahami jika manajemen sebuah negara yang mengelola asset tak ternilai dan jiwa 200 juta lebih, keputusannya didasarkan faktor psikis. Meminjam kalimat Ibnu “Management by Takhyul”. Sulit untuk mencari legitimasi logis dan rasional untuk pembenarnya.
Akhirnya yang dilakukan oleh SMI dan KSSK itu benar-2 childish. SMI dan KSSK melakukan aksi ganjil yang tidak lazim, ini hanya khas terjadi di Indonesia doang, untuk PEMBENAR keputusan bailoutnya.
Mereka (KSSK) buat iklan pembodohan masyarakat dimana-2 yang dananya milyaran untuk pembenar bailout, orang-2 Depkeu pakai pita lah mendukung integritas SMI dan cara-2 kanak-2 lainnya. Akal sehat saya jelas bilang, sulit untuk tidak mengatakan bahwa aksi yang dilakukan KSSK atau PNS Depkeu (yang harusnya mereka netral) ini tidak “direstui” SMI.
Saya ndak bilang bahwa fulitisi senayan juga tidak mbadut dalam berpolitik. Tapi klo politisi “membadut” saat berpolitik masih “bisa diterima” karena itulah ghalibnya politisi.
Tapi klo Menkeu untuk membenarkan kebijakannya dengan cara-2 “mbadut” seperti iklan pembodohan bailout atau karyawannya di depertemennya pake pita segala sehingga birokrasi berubah menjadi partisan, maka inilah ekses NEGATIF nyata jika menteri (seorang decision maker) ambil keputusan pake perasaan alias pakai faktor psikis. Akibatnya, proses pembenarnya pun TIDAK dengan logika rasional..
(Avicena Ibnu)
kang ferizal, saya tadi sebenarnya mau mengatakan bahwa hal seperti ini hanya bisa terjadi di Indonesia, saya jadi curiga kalau para menteri banyak menggunakan jasa dukun buat ambil keputusan (hihihi)….
Tapi atas dasar apapun tidak bisa diterima keputusan seperti ini…SMI yang notabene “pakar” di bidangnya bisa membuat keputusan seperti ini…diluar bicara politik dan komen serta tindakan badut2 senayan..akhirnya disimpulkan ada teori konspirasi disini…
lebih gila lagi ada tingkah badut2an di depkeu… negara kaya yang dikelola badut akan jadi panggung srimulat penuh adegan slapstick.
kita tidak boleh selalu berkaca dengan akibat yang terjadi apabila tindakan bailout tidak dilakukan akan seperti kasus bbm dll…. kita harus didik rakyat jadi lebih rasional menyikapi masalah yaitu based on data dan fakta yang terlihat..memang akibatnya mungkin akan sakit tapi ini jauh lebih mendidik… selanjutnya rakyat akan terbiasa..bahwa sentimen pasar bukan tergantung dari faktor psikis semata…psikis hanyalah dipakai sebagai pendorong untuk mengarahkan suatu keputusan yang diharapkan sesuai data analisis yang sudah dibuat…
(Ferizal Ramli)
@Kang Ibnu:
Ada 2 hambatan besar kenapa para pengambilan keputusan sangat suka pakai alasan psikis bukan data rasional logis.
Pertama, Banyak data yang ada saat memang dibuat tidak jujur. BPS (Biro Pusat Statistik) misalkan, percayakah sampeyan dengan data jumlah pengganggur atau jumlah orang miskis versi BPS?… See More
Jika semua data itu jujur maka transparasi akan terbuka lebar. Korupsi akan terlihat benderang. Performance kerja pemerintah akan bisa dievaluasi secara benar. Lha benarkan ini yang diingkat oleh rejim?
Kedua, bahkan data yang logis saja tetap tidak dipakai dalam pengambilan keputusan.
Lha Century itu sudah bermasalah 5 tahun terakhir. Masak sih BI tidak punya data akurat tentang hal itu? Klo pakai data logis mestinya dari dulu Century sudah dilikuidasi. Jadinya, ndak perlu juga ditunda-tunda lalu by accident ada krisis dunia sehingga dijadikan alasan Century disuntik 6,7 T.
Contoh lain dimana pejabat TIDAK mau berpikir logis rasional justru diteladani sendiri oleh SBY. Ingat kasus Blue Energy, dimana begitu lutjunya seorang SBY mau mencium asap knalpot ala blue energy? Padahal saat bersama UGM sudah menyatakan Blue energy itu palsu dan penipuan.
Atau ingat Padi Letoy? Padi yang sama sekali berkualitas sampah tapi dibilang SBY sebagai padi unggulan?
Padahal untuk mengecek kualitas padi Letoy seorang SBY bisa dengan mudah bertanya ke FP UGM, IPB atau LIPI? Tapi kenapa tidak dilakukan?
Ini adalah contoh telanjang pemipin negara ini tidak menggunakan data rasional yang nota bene itu begitu mudah mereka dapatkan.
“Management by takhyul”, sampeyan Kang Ibnu sangat tepat memberikan labelnya…
(Avicena Ibnu)
Hahahaahha…sorry kang harus ketawa duluan.. kedengarannya dan kelihatannya emang bodoh ya..? Tapi harus diingat ini adalah pembodohan..aku gak yakin sby dan tim itu bodoh…data2 di bps dan sejenisnya adalah disengaja…adalah sebuah kesengajaan ada blue energy padi letoy ….dll…ada konspirasi di balik ini… percaya gak kang …? century memang 5 thn lalu bermasalah… sedikt banyak saya ikut sedikit tersenggol nangani masalah ini di underground…waktu itu memang kodisinya harus ditutup..tapi gak tahu kenapa kok jalan terus..dan saya sudah lepas pantauan stelah hengkang dari republik ini…ada banyak kasus seperti ini sebenarnya..tapi belum tercium aja di publik….tengok kasus bank global.. BTW saya jadi ada prasangka..adakah skenario NWO dan salah satunya pemimpn kita dah teken kontrak karena keserakahan materi dan kuasa…?justru saya melihat kasus century hanya sebagai tempat untuk melancarkan konspirasi…dan semua pengamat terhasut dengan data2 dan pada akhirnya membuat pernyataan yang sangat mudah di counter…dan legalitas bail out jadi terlihat benar..tapi kita harus waspada..ada hal yang lebih besar akan terjadi..negara ini akan segera terbeli…
(Iving A. Chevny)
yang jelas, pada saat bulan november 2008, pasar pancing dibuat panik oleh situasi itu. seminggu harga dinaikkan 3 kali oleh importir. dan para nasabah bank di samarinda siap untuk rush pada hari senin. jika pada hari minggu tidak ada pengumuman dari LPS untuk menjamin uang nasabah hingga 2M. maaf lho ini suara wong bakulan. kalo buat intelektual atau pegawe ya mungkin gak ngerasain situasi november 2008. mekaten
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving ingkang minulya:
Jaminan uang 2 M itu kan jamin untuk usaha kecil toh? Iya itu benar. Dalam banyak negara memang nasabah kecil dilindungi. Yang salah itu mana ada usaha besar dijamin pemerintah. Itu ndak ada logikanya jika usaha besar dijamin pemerintah. Itu resiko bisnis kang.
Lihat itu saat Madoff Amrik ditutup karena kriminal, apakah nasabah besar yang rugi trilyunan dijamin pemerintah? Yang mboten-2 aja jika nasabah besar dijamin. Kok kepenak banget bisnisnya. Untung mah untung mereka, giliran rugi duit pajak kita yang disuruh nalangin? Dimana logikannya?… See More
Kembali ke Bailout 6,7 T. Jelas peraturan mengatakan bahwa nasabah kecil dijamin pemerintah. Yang terjadi saat ini malah justru nasabah kecil dari Bank Century yang belum dibayar? Nasabah besar malah secepat mungkin mengambil uangnya saat 6,7 itu turun.
Jadi, dimana relevansinya 6,7 T dengan perlidungan nasabah kecil?
Tolong dibedakan, aku tidak sedang mempersoalkan jaminan 2 M. Aku sedang mempersoalkan mana relevansinya 6,7 T dengan perlindungan nasabah kecil? Justru masalah yang belum selesai dari Bank Century adalah nasabah kecil toh?
(Anwar Sadat)
@ George: meminjam istilah alm. Gus Dur “sambil tiduran pun kita udah tahu arahnya”
Mencoba memahami alasan penggunaan faktor psikologis dlm bail-out Century, tnpa berusaha memahami kondisi sosial rakyat kita serta aspek sosio politis dalam konteks tahun 2008, ibarat pengamat di bumi yg mengatkn permukaan bulan sangat mulus. Contoh yg sy berikan baru menunjukkan respon masyrkt kebanykn kita terhadap kemungkinan jatuhnya nilai uang mereka, tentunya respon masyrkt kita yg menggunkn kekayaanya utk tujuan investasi akan lebih agresif, & yg terakhir ini mungkin menguasai 70% dari DPK di seluruh perbankan kita.
(Ferizal Ramli)
@Anwar: logika klaim seperti sampeyan memang mirip dengan iklan pembodohan bailout yang selama ini dilakukan. Semua bisa dipas-paskan Kang jika menggunakan asumsi perasaan anda. Itu sebabnya dibutuhkan sebuah analisa untuk memahami mana yang relevan dan mana yang tidak relevan untuk mengeluarkan 6,7 T.
Sayangnya saat bicara analisa yang serius anda malah ndak mau membaca. Tadinya tak pikir sampeyan seperti saya rakyat biasa yang realtif tidak berpihak.
Lha ternyata anda aktif dalam TIM PEMENANG SBY. Anda jelas partisan partai mas. Perasaan seorang Partisan Partai jelas bias dalam memahami persoalan. Untuk itulah karena perasaan itu bias maka diskusinya maka analisa rasional. Jangan pakai perasaan anda. Lha wong orang yang ndak partisan aja persaannya bisa bias apalagi orang yang partisan seperti sampeyan.
Jadi, sekali lagi diskusinya pakai analisa mas. Jangan pakai perasaan dan pakai klaim-2. Setelah anda baca baik-2 narasi Mas Rimawan dan narasi saya tentang diskusi ini maka saya tunggu komentar sampeyan…
(Iving A. Chevny)
sori bos ferizal, buat kita yang pedagang, suasana november 2008 memang mencekam. di samarinda lho yaa. dan kami sering kumpul dengan pedagang di samarinda mencermati suasana saat itu. saya gak ngerti soal bailout itu bener atau salah. yang jelas setelah itu suasana menjadi tenang. yang jadi konsen saat ini adalah pada 1 januari ini diberlakukan … See Morepakta perdagangan bebas ASEAN – CHina. kami di samarinda memprediksikan akan makin banyak pengangguran di pusat-pusat industri di jawa, dan akan banyak penduduk yang pindah, khususnya ke samarinda. jika sejak dini tidak diantisipasi, maka kecenderungan kejahatan akan meningkat. yang ribut soal bailout nggih monggo. tapi di depan udah ada masalah lagi yg lebih besar.
(Ferizal Ramli)
Sori Boss Iving,
Lantas saat yang sama bursa saham hancur tuh habis-2an. Korporasi sektor riil jelas terancam lebih parah. Salah satunya Bakrie Group (sekali lagi aku ndak ada hubungannya dengan Barkrie) hampr bangkrut. Itu menyangkut ratusan ribu nyawa jika PHK. Tapi pemerintah memutuskan membiarkan saja itu terjadi sesuai mekanisme pasar. Bakrie ndak diselamatkan pemerintah. Bursa saham dibiarkan terjun bebas.
Saat yang sama juga ada bank lain selain Century yang mengalami kesulitan likuiditas tapi dibiarkan tuh?… See More
Lha kenapa Century 6,7 T diselamatkan? Artinya, untuk memahami persoalan tersebut dibutuhkan sebuah analisa yang jernih. Apa yang dirasakan masyarakat adalah sebuah indikator yang terjadi saat itu.
Tapi apakah bener 6,7 T adalah untuk memenuhi kepentingan masyarakat kecil? Di titik inilah aku menggunggatnya.
Piye kang Iving ingkang minulya?
XXX
Untuk sektor riil yang terancam saat pakta perdangan itu amat betul sekali. Sekali lagi itu amat betul sekali. Dan ini semakin menguatkan saya bahwa pengambil kebijakan betul-2 ngawur memahami persoalan yang ada.
Nanti, aku akan bahas lebih detail. Sekarang mau jalan-2 dulu dengan putri kecilku
(Anwar Sadat)
@ Ferizal : yg sy sajikan adlh fakta2 sederhana yg dpt digunakan utk memahami psikologis masyrkt kita. Mengabaikan konteks ini dpt mengarhkn kpd ketidakcermatn penilaian.
Contoh sederhana adlh kurang cermatnya bbrpa orng dlm ‘membaca’ iklan bail-out, krn hanya melihat di permukaan sja. Jika mrk memahami konteks kondisi sosial masy terkini, tentunya ‘bacaan’ mrk trhdp iklan ini akn berbeda. (Bila ada kesempatan, mungkin bung Ferizal bisa lbih mencermati iklan tsb).
(Ferizal Ramli)
@Kang Anwar: konsep berpikir anda itu “hallo effect” sekali. Memaksakan sesuatu menurut perasaan anda.
Baiklah saya ikuti maunya pola pikir anda dalam diskusi ini.
Saya buat cerita ilusatrsi judulnya: PACEKLIK dan PENCURI. (Ini cuma ilustrasi, jadi mohon don’t take it personally).
Misalkan ada 3 orang Petani: Sadat, Chevy dan Ibnu.
Kang Sadat misalkan dari latar belakang keluarga suka Mencuri (hehehe, ini cuma ilustrasi). Meskipun profesi petani klo ada kesempatan yah mencuri. Jadilah, dia partisan para pencuri.
Kang Chevny Petani Pengusaha
Kang Ibnu petani biasa pekerja keras
Mereka semua punya anak dan istri. Suatu ketika terjadi PACEKLIK. Gagal panen. Anak istri mereka kelaperan. Tetangga sekitar mereka juga panik. Ada kemungkinan terjadi penggasakan barang-2 di toko.
Mari kita lihat apakah yang terjadi jika Panceklik dan ancaman kerusuhan dijadikan alasan untuk mengambil keputusan?
Sangat mungkin, Kang Sadat karena memang dari dulu punya kebiasaan mencuri maka ini dijadikan alasan untuk mencuri. Dari pada anak istri guwe kelaparan, begitu alasan si Sadat. Lha wong ndak ada panceklik aja klo ada kesempatan mencuri apalagi ini demi anak istri saat paceklik.
Sangat mungkin, Kang Chevny, karena pengusaha maka otaknya jalan, cepat dia cari pinjaman uang dari rekanannya. Lalu buat peluang usaha baru.
Sangat mungkin, Kang Ibnu, karena pekerja keras segera beralih profesi secepatnya jadi buruh angkut yang penting hari itu dan untuk beberapa hari kedepan dia dapet uang untuk anak istrinya.
—
Seorang Sadat akan berkeyakinan bahwa keputusannya mencuri itu adalah keputusan yang tepat. Lha wong tatanan nilai si Sadat dari dulunya sudah “partisan” berpihak pada pencuri.
Seorang Chevny dan Ibnu memutuskan sama sekali tidak mencuri.
Pertanyaannya sekarang, benarkah mencuri adalah keputusan yang TEPAT untuk mengatasi terjadinya panceklik yang terjadi?
Supaya jawabnya ndak serampangan maka untuk menilai tepat atau tidaknya keputusan mencuri itu perlu dianalisa dan diselidiki.
Setelah diselidiki ternyata duit hasil mencuri si Sadat cuma sebagian kecil saja dibeliin makan buat anak istri, sisanya malah untuk si “gokil party” dengan selingkuhannya, hehehe =))
Lantas, BISAKAH masyarakat menerima alasan si Sadat mencuri, dikarena paceklik dan demi memberi makan anak-istrinya yang kelaparan ???
—
Jawab sendiri, auh ah gelap ….Wakakakaka, hehehe =))
(Ferizal Ramli)
MORAL point yang ingin saya sampaikan dalam ilustrasi diatas:
Untuk menganalisa bener atau salah itu tidak bisa pake rasa. TIDAK bisa pake jargon sebagai pembenar seperti “Kita sedang krisis maka kita boleh bailout!”
Tetapi harus dijawab secara akurat: Benarkah bailout sesungguhnya untuk mengatasi kepanikan masyarakat yang berdampak efek domino sehingga membahayakan perekonomian?
Faktanya:
- Masyarakat yang harusnya dilindungi UU untuk dijamin malah tidak mendapatkan itu kucuran dana dari bailout.Masih ribuan nasabah Century yang tidak diganti dananya.
- BPK malah mengindikasikan korupsi pada bailout itu.
- Ada bank lain yang juga butuh likuidasi seperti Century juga ndak dibantu pemerintah tuh. Tapi toh ndak apa-2 tuh.
- Klo krisis dijadikan alasan ternyata sektor riil dan bursa saham juga saat itu hancur-2 tapi tetap dibiarkan aja tuh. Ndak dibantu seperti Century.
(Iving A. Chevny)
bos feri, soal suasana (sekali lagi di samarinda) itu bener2 sudah red alert pak. kita gak tahu itu urusan century, lagian pengamat dan politisi yang sekarang pada mencla mencle dulu juga ndorong pemerintah untuk buat kebijakan untuk mengatasi krisis. kalo buat saya gimana saat itu usaha dan karyawan saya selamat pak. oh yaa sekali lagi saya gak … See Morengerti apa itu bail out. tapi saya setuju sekali dengan tulisan rimawan soal psikologi pasar. lha individu aja gak bisa ditebak apalagi pasar ( berdasarkan pengalaman jual barang mikro banget ….pancing maksudnya). soal pakta perdagangan ASEAN-China sebaiknya jangan selalu buru2 menyalahkan pemerintah. buat saya yang penting langkah antisipasinya. kadang saya bertanya? lha kok dulu pada ndorong dan diem aja. setelah krisis lewat lha kok podo ngomong? jane ono opo tho?
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:
Ada 2 isu dari sampeyan.
1. Tentang panik saat bailout. Dimana-2 panik boss. Semua orang di dunia panik saat itu. Ndak perlu membual siapa yang lebih panik. Amrik amat panik. Eropa tidak kalah panik. Yang beda adalah di mereka ndak ada tuh Bank gurem yang terindikasi kriminal digelontorke duit sak sekatenan atas nama bailout? Dan bailout mereka sampai hari TIDAK terindikasi korupsi.
Klo dalam ilustrasiku: PENCURI dan PACEKLIK. Semua orang ketakuan dan panik dengan packellik saat itu tapi TIDAK semua orang menjadi pencuri. Have you got my point?
2. Tentang perdangangan bebas China-ASEAN, ketinggalan kreta jika sampeyan mengatakan orang diam-2 aja dan tidak ada kajian kritis. LHa kajian kritis dari perdagangan bebas itu karena memang saat ini antisipasinya belum jelas.
Sampeyan lihat saja, produk barang mainan ndak mutu (baca tanpa teknologi sama sekali) aja dari Cina. Anda lihat aja produk apa sih yang anda konsumsi sehari-2 itu produk hasil industri domestik? Kok yao, pasar industri dalam negeri saja belum kepegang ini malah perdagangan bebas dengan China.
Lha wong Eropa yang jauh lebih kuat aja memproteksi pasarnya sebisa mungkin dari China. Lha wong Amrik membuat berbagai aturan agar menghambat segala hal produk China masuk ke Indo, masak kita malah membiarkan masuk?
(Iving A. Chevny)
maksud saya saat krisis 2008 politisi dan intelektual pada ndorong dan ndukung agar pemerintah mengatasi. sudah diatasi dan krisis lewat, lha kok jadi main politikisasi kebijakan itu. gitu lho. jadi sama to psikologi politisi dan intelektual gak bisa ditebak. tapi ada. opo maneh psikologi pasar. piye?
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving: Aku sudah jawab teori tentang psikologi pasar itu “tidak ada”. Silahkan baca lagi tulisanku atas kritik tulisan Rimawan tentang Psikologi pasar. Masalah sampeyan mau percaya pendapatku atau ndak yah itu pilihan sampeyan.
Aku bicara sesuai dengan kompetensi ilmuku dan bagaimana aku melihat negara-2 yang kena krisis jauh lebih hebat dari Indonesia berperilaku dalam menyelesaikan masalah.
—
Di Jerman jutaan orang begitu ketakutan akan kehilangan kerjaan atas krisis ini. Jadi, tidak cuma sampeyan doang di Samarinda yang ketakutan.
Di Amrik, contoh paling dramatis adalah seorang profesional hebat dari PriceWaterhouseCooper membunuh seluruh anak-2nya dan kemudian bunuh diri karena begitu panik dengan krisis ini.
Klo mau jujur, jika di Indonesia kena PHK (smoga kita tidak terkena) anda masih bisa tidur di kolong jembatan. Klo disini tidur di jalan bisa membuat anda jadi es batu karena suhu minus!
Tahukah sampeyan krisis yang mendera dunia seperti ini, bagi Jepang mereka sudah mengalami selama 2 dekade terakhir ini. Selama 2 dekade ini, Jepang mengalami stagnasi, deflasi dan krisis yang tidak pernah berhenti. Jangan ditanya begitu banyak orang yang bunuh diri atas masalah ini?
Jadi, masihkan sampeyan pikir cuma sampeyan doang yang panik?
—
Mungkin yang membuat sampeyan jadi bingung adalah mencampuradukan antara apa yang harus dilakukan dengan bagaimana cara melakukannya.
Aku sudah kasih ilustrasi mudah: Paceklik dan Pencuri.
Saat packelik terjadi semua keluarga petani kelaparan dan butuh makan. Mencari cara agar dapat makanan buat keluarga petani itu adalah keharusan, it’s a must.
Tapi apakah caranya harus dengan mencuri? atau haruskah sang petani itu bunuh diri masal beserta seluruh keluarganya?
—
Menyelesaikan kasus Century dengan benar adalah a must. Tapi membuat bailout 6,7 T yang melanggar aturan yang ada (mengeluarkan uang negara tanpa landasan hukum) dan itu terindikasi korupsi oleh lembaga Auditor, Kang Iving pikir benarkah seperti itu solusinya?
Itulah yang aku TOLAK dari iklan pembodohan ala KSSK dan Sri Mulyani. Lha wong mereka yang ambil keputusan terindikasi korup, lah untuk pembenarnya masak kita diberi iklan-2 yang membodohkan!
(Iving A. Chevny)
wakakakakakakakkaka. kalo aku sangat setuju dengan rimawan, bahwa psikologi pasar itu sangat ada. berdasarkan pengalaman 7 th sebagai pedagang pancing. suruh jelasin? apa yang ditulis rimawan sudah sangat jelas menurutku.
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:
Monggo wae jika itu keyakinanmu. Ndak penting sampeyan setuju dengan siapa. Yang terpenting saat sampeyan memutuskan mana yang dianggap benar, itu karena pilihan sadar dan open minded.
Dan ndak penting berapa tahun kita semua punya pengalaman. Ilustrasi mudahnya, kenapa ada tentara yang puluhan kali perang sampai bangkotan dia hanya berpangkat Sersan dan cuma bertanggung jawab terhadap keselamatan 5 orang anak buah? Sementara yang lain dengan pengalaman yang sama punya pangkat bintang di bahunya yang dipercayai bertanggungjawab atas keselamatan seluruh divisi atau bahkan seluruh korps pasukan?
Jadi, yang terpenting adalah bisakah kita memaknai hikmah dari pengalaman kita dan berpikir “open minded” terhadap kebenaran sehingga tidak terjebak pada kesalahan karena kebodohan kita sendiri. Bagiku, itu yang terpenting yang harus kita maknai dan kearah sanalah proses belajar yang seharusnya kita lakukan.
Senang berdiskusi denganmu.
Salam
PS.
Khusus Century yang oleh BPK dinyatakan terindikasi korupsi, aku pribadi berhadap KPK menindaklanjuti…
(Defiyan Cori)
Maaf kalau boleh nyela..
kalau psikologi pasar tidak bisa ditebak..trus buat apa saya belajar ekonomi pasar yang rasional? bahwa ada yang tidak bisa ditebak itu soal lain lagi pak iving! tetapi indikasi bisa diperhatikan dengan cermat melalui data2, sy dulu belajar ini kalau tidak salah, malah ada ekonom muda UGM saat ini yg getol banget dengan … See Morestatistik sampai2 bilang kalau tdak pakai data statistik tidak ilmiah.
Selain itu, krisis yang terjadi pada tahun 1997 dan 2008 sangat berbeda sekali, apa pak rimawan yang punya kapasitas ilmu ekonomi jauh lebih baik dari saya tidak menelaah ini?
psikologi pasar tidak jelas…tapi setuju dengan ketidakjelasan..apa itu masuk di akal itu pak?
(Defiyan Cori)
Dan yang lebih parah adalah soal professional judment dan kompetensi…apa betul sdr boediono menggunakannya dan paham betul karakter pasar dan konsumen di RI? soal psikologi pasar kalau pun sy setuju tidak bs ditebak, terus apakah dampak century juga bisa ditebak? Klu melihat pernyataan jeng sri dan kang boed…dia tetap mendasarkan pada data dan fakta krisis yang terjadi pada tahun 1997 (yg menurut sy berbeda) dengan setting krisis 2008, jadi sebenarnya mereka juga bukan menggunakan professional judgement atau kompetensinya, kalau begitu saya yg tamatan SD juga bisa dong pak..? he..he…ya udah kita sdg krisis so…we will bailout! That’s it!
(Ferizal Ramli)
@all: dalam banyak hal saya setuju dengan opini Kang defi. Saya cuma meng-komplemen dan men-stabilo saja beberapa hal:
PERTAMA, Psikologi pasar itu menjadi variable nyata pada negara yang sistem statistik-nya penuh kebohongan, palsu, buble dan dengan variable hedonis. Nah, jika pada lingkungan seperti itu jelas faktor psikis dominan dalam pengambilan keputusan. Orang mudah panik dengan isu, rumor, klenik, dsb, dsb.
Tapi pada sistem yang statistiknya jujur, psikologi pasar itu cuma cerita “mitos”. Pengambilan keputusan yah harus berdasarkan data-2 statistik yang akurat.
KEDUA, taruh sekarang kita bersetuju dengan SMI dan Boediono ambil keputusan Century bailout karena ingin menenangkan pasar. Tapi kenapa pada saat yang sama (saat Century diselamatkan) kok SMI justru membiarkan terjadinya:
1. Bursa saham hancur-2an, terjun bebas. Tapi toh sama pemerintah dibiarkan saja tuh mekanisme pasar berjalan?
2. Sektor riil banyak yang tutup, apakah pemerintah membuat paket nyata Goverment Expenditure untuk merevitalisasi sektor riil? Ternyata pemerintah diam saj tuh.
3. Banyak orang di PHK dan kelaparan apakah pemerintah membuat sistem jaringan sosial buat orang-2 yang ter PHK karena krisis? Ternyata pemerintah diam aja tuh?
Bukankah jika psikologi pasar sebagai dasar pengambilan keputusan, dimana pemerintah ingin meredam kepanikan, seharusnya: Bursa Saham, Sektor Riil dan PHK adalah hal yang jauh lebih penting diselamatkan dari pada menyelamatkan Bank Gurem yang rusak karena perbuatan kriminal?
Jadi, motif penyelamatan Bank Gurem Century ini sebenarnya apa? Karena ingin meredam kepanikan masyarakat atau ada kepentingan lain seperti KORUPSI seperti yang dinyatakan dalam temuan BPK?
Ferizal Ramli
@All: sekarang mari kita bicara dalam dataran teori.
Cerita-2 tentang Invisible Hand atau psikologi pasar memang seperti nyata dalam mahzab-2 neo-klasik dan klasik (mahzab Kapitalis). Tapi klo dari Mahzab Sosialis seperti yang ditulis Elmar Elvater “Das Ende des Kapitalismus” ndak “percaya” itu kekuatan psikologi pasar.
Saya pun punya kritik penting ketidakonsistenan para neo-klasik tentang Invisible Hand dalam mekanisme pasar. Bagi saya pasar itu bisa di-prediksi dan dikelola. Tangan Misterius itu tidak ada. Yang ada itu adalah setan gundul Standard & Poors, Moody dan Fitch. Merekalah yang mengendalikan pasar dunia melalui informasi palsunya. Jadi, pasar itu BISA DIKENDALIKAN dan bisa DIPREDIKSI perilakuknya.
—
Supaya ilustrasinya lebih mengena lagi untuk menjelaskan bahwa invisible hand itu TIDAK ada maka kita tengok sebentar AMERIKA, negara yang begitu percaya pada pasar.
Kita tahu lah obligasi Pemerintah Amrik saat ini junk semua. Siapa yang mau beli itu obligasi? Yang terjadi pemerintah Amrik keluarkan surat hutang untuk dapat dana yang digunakan menstimulus perekonomiannya, tapi siapa yang mau beli surat hutang pemerintah Amrik? Ndak ada yang mau beli, logika akal sehat juga tahu itu junk alias rubbish!
Yang beli cuma The Fed (artinya dari Pemerintah oleh Pemerintah dan untuk pemerintah) dan China mua beli juga. China mau beli obligasi Amrik dengan pertimbangan melindungi pasarnya di Amrik.
Pertanyaanku, kenapa pemerintah Amrik yang produk-2 keuangannya sudah menjadi Junk, kok oleh Standard & Poors, Moody dan Fitch TIDAK diturunkan rating-nya, dari investment grade ke junk grade?
Dan mari bayangkan, jika ketiga setan Gundul anak kandung klasik dan neo-klasik itu secara jujur menurunkan rating Amrik ke Junk Grade maka detik itu juga pasar panik. Detik itu juga sangat mungkin ndak ada yang mau menerima transkasi US Dollar dan segala kemungkinan akan terjadi.
Pertanyaannya, dari ilustrasi itu benarkah pasar TIDAK bisa dikendalikan? Benarkah invisible Hand itu eksis? Jangan-2 sampeyan semua yang begitu “memuja” tentang psikologi pasar dan invisible hanf cuma diapusi wae. Ditakuti-2 bahwa itu tangan Tuhan, jebole cuma we-we gombel kerjaan si Standard & Poors, Moody dan Fitch
—
Moral point: jangan-2 keputusan bailout 6,7 T yang diyakini sebagai “tangan Tuhan” untuk menyelamatkan kepanikan, ternyata cuma perbuat wewe gombal setan Gundul untuk menyelamatkan para Koruptor!
(Defiyan Cori)
Paradigma ekonomi Amerika sdh habis…knapa kita harus memakai teori-teori nya yg telah usang..sementara dunia terus berubah dan berkembang…haruskah kita menjadi orang2 yang naif?
(Iving A. Chevny)
bung fer, saya hanya ingin menggaris bawahi kata-kata anda bahwa pengambilan keputusan yah harus berdasarkan data2 statistik yang akurat… berarti kalo mengambil keputusan tidak berdasar data2 statistik yang akurat berarti salah yaa? …maaf ini agak diluar konteks century. saya baca buku donald trump dan richard branson yang mengajarkan dalam mengambil keputusan ikuti intuisimu… piye? mereka termasuk penyumbang yang menggerakkan pasar… fokus ya khusus tentang pengambilan keputusan ..seperti yang anda tulis jgn merembet ke century lhooo..
(Defiyan Cori)
Kita juga harus bedakan pengambilan keputusan bisnis dan personal dengan pengambilan keputusan publik, tidak bisa digebyah uyah. Kalau saya berbisnis dampak keputusan saya hanya pada institusi saya, tetapi kalau menyangkut publik dampaknya tidak hanya satu institusi saja, tetapi orang banyak..itulah bedanya..mudah2an bisa lebih terang soal fokus pengambilan keputusan ini ya pak..?
(Iving A. Chevny)
sori bos defi… anda yang gebyah uyah coba baca pertanyaan saya….
(Iving A. Chevny)
apakah kalo pengambilan keputusan tidak berdasarkan data2 statistik yang akurat… berarti salah?
(Iving A. Chevny)
saya beri ilustrasiii yaaaa…. kasus gunung merapi yang mau meletus waktu itu.. secara data dan fakta geologis dan vulkanologis… gunung merapi dinyatakan akan meletus. kemudian dari data2 tersebut diputuskan untuk mengungsikan penduduk tentu dikeluarkanlah biaya. ternyata merapi tidak jadi meletus. salahkah pemerintah yang telah memutuskan untuk mengungsikan penduduk dan mengeluarkan anggaran untuk pengungsian? mohon pencerahannya
(Ferizal Ramli)
@ Kang Iving:
Sampeyan mencampuradukan antara (1) Kondisi psikis pada setiap individu dalam pengambilan keputusan, dengan (2) Data dan fakta ekonomi yang ada dimiliki oleh pelaku pasar.
Psikis individu memang mempengaruhi sesorang mengambil keputusan. Tapi data-2 statistik Ekonomi itu, (jika dia bukan data hasil berbohong) maka dia adalah fakta. Fakta ini tidak bisa dirubah oleh psikologi pasar atau invisible hand atau wewe gombel yang dengan cara ajaib, abrakadabra sehingga begitu abstrak untuk dipahami oleh akal manusia. … See More
Data dan fakta memang bisa dimanipulasi dibuat misleading seperti yang dilakukan oleh lembaga-2 ranking model Moody, Fitch, Standard and Poor. Hanya perbuatan itu semua bisa dianalisa secara rasional. Itu sebabnya, saya katakana invisible hand (seperti yang ditulis oleh Mas Rimawan) itu tidak ada. Itu mitos teori ekonomi neo klasik. (Silahkan baca lagi kajian kritis saya tentang mitos ini)
Jadi, kesimpulannya data yah data, fakta yah fakta, tapi sikap orang , kapabilias dan integritas seseorang terhadap data dan fakta itu memang berbeda2. Akibatnya memang keputusan yang satu bisa berbeda dengan lainnya. Tapi dasarnya harus sama yaitu data-2 akurat dan fakta.
Kapabilitas, apakah seseorang memiliki ilmu yang mumpuni atau karena pengalamannya sehingga instuisinya tajam, akan mempengaruhi seorang decision maker mengambil keputusan berdasarkan fakta.
Integritas, seperti nilai moral jujur yang terbebas dari vested interest, juga mempengaruhi decision maker mengambil keputusan sesuai fakta.
Tapi kapabilitas dan integritas (faktor PSIKIS) seseorang itu bisa DINILAI dan bisa DIEVALUASI.
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving (Lanjutin yah tulisanku)
Sekali lagi faktir Psikis dari decision maker itu bisa DINILAI dan bisa DIEVALUASI. Agar tulisan saya tidak abstrak maka mari kembali ke Century:
Secara kapabilitas bisa dinilai misalkan benar ndak sih sebuah Bank Gurem Century bisa membuat perekonomian sebuah bangsa hancur dalam kepanikan? Sementara saat bersamaan Bursa Saham terjun bebas dibiarkan. Sementara sektor riil hancur juga dibiarkan, pabrik-2 tutup dibiarkan. Sementara orang di PHK juga dibiarkan. Jadi, secara kapabilitas benarkan keputusan 6,7 T Century itu?
Secara integritas juga bisa dinilai. Caranya dengan audit investigasi oleh BPK. Kesimpulannya terindikasi korupsi. Berarti secara integritas keputusan Century itu mengalami cacat moral. Jika KPK misalkan menemukan bukti korupsi maka dipidana.
Kesimpulannya; bedakan antara (1) psikis individu yang mempengruhi pengambilan keputusan dengan (2) Data dan fakta pada pelaku pasar yang bisa secara ajaib pake invisible hand atau wewe gomble dirubah data dan fakta ekonominya, simsalabin akrobat, sehingga ndak bisa dianalisa.
Nomor (1) itu ada tapi nomor (2) adalah mitos. Kang Rimawan bicara pada konteks no (2). Kang Iving mendukung teori kang Rimawan dengan menggunakan konteks no (1). Padahal 1 dan 2 bukan sesuatu yang sama dan serupa.
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving: (klo ini intermeso, hehehe)
Sudah pernah tanya Ki Gedeng Pamungkas atau Mama Laurent atau tanya Ki Joko Bodo bagaimana mereka ambil keputusan? Pake apa mereka? Pake instiusi kah? Pake Wewe Gobelkah? atau pake apa? hehehe… =))
Setiap orang punya influence sendiri saat pengambilan keputusan. Donald Trumph pake instuisi. Si Gendeng Pamungkas pake wewe gombel. Tapi saat anda menjadi Pejabat publik maka anda harus pakai data untuk ambil keputusan publik dan dipertanggungjawabkan secara akuntabilitas ke publik.
Bisa ndak sampeyan bilang ke Auditor bahwa sampeyan ambil keputusan gelontorkan 6,7 T karena Wewe Gombel kepercayaan saya menyuruh demikian!
Atau seperti Mantan Menteri Agama Said Agil Al Munawar, yang gali harta karun di sebuah situs (peninggalan Bung Karno klo ndak salah) yang dapat wangsit bahwa disitu itu terpendam harta senilai trilyunan yang bisa membayar hutang seluruh rakyat Indonesia
)
Jadi, sudah jelaskan beda antara (1) psikis individu mengambil keputusan dengan (2) psikis pasar yang ajaib sehingga memberikan data-2 misterius yang ndak bisa dipahami?
Nomor (1) ada. Nomor (2) Mitos. Itu bedanya
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:
### Kang Iving bertanya: apakah kalo pengambilan keputusan tidak berdasarkan data2 statistik yang akurat… berarti salah?
+++Jawabanku: apakah Menteri Agama jaman Megawati yang membongkar dan merusak situs purbakala karena dari wangsit didalam situs itu ada harta karun yang tak ternilai itu salah?… See More
Apakah Ki Gedeng Pamungkas, semedi dulu untuk mengambil keputusan sehingga kesurupan Genderuwo juga salah?
Monggo, Kang Iving dijawab sendiri
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving: saya tanggapi yah tentang iilustrasi Gunung Merapi yang akan meletus.
Gunung Merepi mau meletus. Lalu pemerintah memindahkan orang-2 yang tinggal di Villa Mewah di Merapi View yang jaraknya 20 kilometer dari Puncak Gunung terlebih dahulu dari pada yang tinggal di Bukit Plawangan atau di Bukit Tlogo ang jaraknya cuma 1 km dari puncak.
Lalu ada yang mengkritisi bahwa tindakan itu kleru. Lalu pemerintah beralasan bahwa letusan Gunung Merapi itu tidak terduga. Jadi, kita harus memindahkan para penduduk segera. Coba klo merapi meletus mereka bisa jadi korban nanti Pemerintah lagi yang disalahkan.
Nah seperti itu Kang Iving ilustrasi yang lebih tepat untuk menggambarkan Century 6,7 T
(Iving A. Chevny)
he…hheee… saya memberi ilustrasi yang benar pak… tak ada itu pemerintah memimindahkan org2 yang tinggal di merapi view.. he hehehe. pemerintah telah membuat sistem ring pak di merapi….jadi jangan buat ilustrasi yang gak bener lah… saya hanya ingin diberi penjelasan sebelum masuk ke century, apakah pengambilan keputusan tanpa berdasarkan … See Moredata2 statistik yang akurat berarti salah? karena anda minta untuk urusan publik… ya anda jangan memberikan ilustrasi ttg ki gendeng dan menteri gendeng dong… nah saya beri ilustrasi lagi…nih… mbah marijan tetap bertahan waktu itu dan dia mengatakan tidak akan meletus… dan masyarakat sekitar ada yang mengikuti…. apakah pengambilan keputusan mbah marijan salah?apakah dia menggunakan data statistik yang akurat? mohon pencerahan… ini masih soal pengambilan keputusan pak.. dan itu tulisan anda…. nah sekarang soal century. perhatikan kalimat saya agar fokus dan inipun mohon pencerahan…. dari november 2008 hingga agustus 2009… kok gak ada yang ribut soal century kenapa? dan semua transparan di DPR waktu itu. lantas kenapa BPK pada februari 2009 (kalo tdak salah) mengeluarkan hasil audit terhadap LPS (tentu setelah LPS menggelontorkan uang 6,7T) dengan penilaian WAJAR. mohon pencerahan…
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:
Ilustrasi sampeyan tentang Merap mau meletus itu itu too general. Klo sampeyan pakai Jargon bahwa Merapi itu mau meletus lalu penduduk harus pindah, maka itu jargon bisa jadi pembenar.
Seperti itulah iklan pembodohan yang dilakukan oleh KSSK saat ini secara gencar. Bilang kita krisis maka Bailout itu benar.
Padahal, yang terjadi adalah (jika pakai ilustrasi Merapi sampeyan) yang dipindahkan bukan Penduduk Plawangan atau Tlogo tapi yang dipindahkan Penduduk Merapi View yang jauh dari ancaman Merapi.
Karena itulah Bailout Century menjadi bermasalah karena yang selamat adalah nasabah besar. Jadi, ilusttasi sampeyan too general tentang Merapi makanya kulengkapi agar ilustrasi fair
—
Salahkan mbah Maridjan dengan Wangsitnya? Klo tanya pada Ki Gendeng maka, ki Gendeng bilang bener. Tapi klo tanya pada Sri Sultan maka Sri Sultan sebagai pejabat publik suruh dia mengungsi. Dikarenakan Sri Sultan akan menggunakan data geologi yang benar untuk ambil keputusan. Saat data geologi pada posisi Awas atau apalah namanya dan ini berarti harus ngungsi maka Sri Sultan ambil decision yah berdasarkan data itu.
Data geologi itu yah seperti data ekonomi. Data geologi itu tidak terpengaruh psikologi dalam bentuk invisible hand. Pengaruh psikis itu terjadi pada decision maker-nya saat membaca data dan fakta.
Saya jelas menyamakan SMI dengan Ki Gedeng jika keputusan yang dibuat SMI saat Century 6,7 itu berdasarkan wangsit. Lah apa bedanya dengan Ki Gendeng Pamungkas saat dia memutuskan sesuatu?
—
Tentang Century, saya ndak lihat ada persetujuan 6,7 T dari DPR, persetuan apa? Malah dasar hukum pemerintah saat keluarkan 6,7 dipertanyakan. Ini pulakan salah satu masalah dari Century: karena tidak ada dasar hukum 6,7 T digelontorkan.
Sudah pastilah DPR atau siapapun akan bilang selesaikan Century segera. Tapi TIDAK berarti penyelesaiannya itu adalah 6,7 yang terindikasi korupsi.
—
Klo tentang BPK dan LPS aku pikir tinggal dibaca aja link beritanya…
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/12/15/brk,20091215-214058,id.html
http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2009/12/15/brk,20091215-214058,id.html
(Iving A. Chevny)
“Artinya, apa yg ditulis BPK dalam opini tersebut mengungkapkan tentang risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari jika tidak ditangani dengan baik,” kata Dwita dalam pesan pendeknya. “Dan benarkan itu terjadi?”
Saat didesak kenapa pengucuran dana talangan itu baru dipermasalahkan sekarang, Dwita menegaskan, tanyakan hal itu kepada yang mempermasalahkan. “Jangan tanya BPK.”
maksute piye?
resiko apa sebenarnya yang terjadi saat pemerintah membuat kebijakan menangani krisis fer? lha BPK yang ngaudit kok publik yang meraba2.
wakakakakakakakakakakaka
(Iving A. Chevny)
maksudnya BPK yang ngaudit kok publik disuruh meraba raba. lha wong wis cetho WAJAR TANPA PENGECUALIAN. wakakaka. sebenarnya ada apa sih? wakakakakakaka
(Ferizal Ramli)
@Kang Iving:
He,he,he kleru sampeyan memahaminya klo gitu. Kleru sekali. Yang bener iku:
1. BPK sudah kasih tahu bahwa penyertaan dana di Century itu adalah penyertaan dana beresiko.
Jadi, resiko yang dinyatakan pada Laporan Keuangan LPS itu bukan resiko terjadi krisis di Indonesia atau tidak kang. Tapi konteks resiko tentang penyertaan modal di Century. Sampeyan salah mendeterminsai terminalogi resiko kayaknya Kang :p
2. Audit Keuangan itu tidak bisa mendeteksi secara akurat apakah terjadi kesalahan atau tidak. Audit itu sudah benar. Laporan kuangan anda wajar tapi penyertaan modal anda berisiko.
3. Saat ternyata, DPR melihat ada indikasi pelanggaran hukum tentang penggelontoran 6,7 T (DPR mengatakan itu tidak berdasarkan hukum) maka DPR minta audit investigasi BPK. Nah, audit investigasi ini, salah satunya, menyelidiki resiko penyertaan modal yang telah di-”warning” pada audit keuangan sebelumnya.
4. Hasil dari audit investigasi ditemukan bahwa resiko yang telah dingatkan pada audit keuangan ternyata terjadi
Hehehe…, dimana bingungnya? :p
(Ferizal Ramli)
Nah, jika wartawan tanya ke BPK kenapa kok penyertaan modal baru sekarang dipermasalahkan? Jawaban BPK itu bener, itu bukan pertanyaan buat BPK. Itu pertanyaan buat DPR.
Klo, DPR mempersoalkan hal tsb karena adanya pelanggaran dasar hukum saat penggelontoran. Disisi lain KPK (sebagai lembaga penyidik) juga melihat ada indikasi korupsi. Berangkat dari kecurigaan itu, DPR minta ke BPK melakukan audit investigasi. Dan hasil audit investigasi menyatakan benar terjadi indikasi korupsi.
Knapa sekarang? Lha wong KPK kan sudah dari awal sudah bergerak kok. Dikriminalisasi lah. Lalu DPR juga tunggu hasil audit investigasi, dll. Yah, itu semua butuh waktu toh? Belum lagi ada masa transisi penggantian DPR dan BPK…
Ferizal Ramli
@Kang Iving: ono pertanyaan lagi kang? hehehe =))